
Di jam makan siang itu, Adien terlihat tidak seperti biasanya. Ia sangat lahap sekali, entah lapar atau faktor menu makanan yang mendukung. Author sendiri tidak tahu kepastianya.
John yang melihat Adien makan dengan enaknya, ia pun menunda sendok dan garpunya. Ia mengikuti gaya makan Adien yang memang benar benar nikmat.
Dengan ikan kakap merah yang di goreng kering, di tambah lalapan lalapan hijau seperti daun singkong yang di rebus dan tak lupa dengan sambal terasi gorengnya.
Jumira dan Lusiana menatap lucu pada kedua lelaki yang sedang makan lahap dengan wajah bercampur keringat.
"Ayo tambah lagi nasinya." Lusi menambahkan nasi pada piring John, di ikuti Jumira yang membantu menambahkan nasi pada Adien.
"Ha.. Ha.. Ha." John tertawa melihat wajah Adien memerah berkeringat karena makannya.
"Terus John, jangan hentikan kenikmatan ini." Adien melanjutkan makanya kembali.
Acara makan berakhir dengan khidmat. Adien terlihat kesulitan berjalan karena saking kenyangnya.
Mereka berdua berpindah ke area taman rumahnya. Membuang rasa kecut dengan menghisap sebatang rokok.
"Itu semua benar benar luar biasa John," Adien berdecak kagum pada menu makan siangnya.
"Pastinya Bro," John tertawa puas.
"Kau harus segera mempersuntingnya, John." Adien menyarankan.
"Siap bro, laksanakan." John tersenyum siap.
__ADS_1
Beberapa menit mereka habiskan untuk menikmati acara merokoknya.
"Kita akan berangkat jam berapa John?" tanya Adien.
"Jam 2 siang, kita akan meluncur. Dan pastikan staminamu tetap fit Dien." jawab John.
"Kita kan gantian John nyetirnya." ucap Adien.
"Tidak, disini aku Bosnya!, seorang Bos harus duduk santai sampai perjalanan sampai tujuan." ucap John penuh penekanan.
"Sial, nasib..basib." Adien mengumpat, yang di balas tawaan renyah dari John.
Jam 2 siang waktunya mereka berangkat.
"Apa kalian sudah siap?" tanya John pada Lusi dan calon ibu mertuanya.
"Bagus, karena perjalanan kita lumayan lama dan membutuhkan waktu sampai belasan Jam." Ucap John memberi tahukan.
"Ayo semuanya masuk!" ajak Adien.
Mereka semua masuk ke dalam mobil, Adien menghidupkan mesin mobilnya, dan perlahan meninggalkan kediaman John.
Mengusir rasa sepinya, Adien memutar sebuah lagu dangdut. Telah 6 jam berlalu, akan tetapi tak ada obrolan antara mereka. Yah semua itu karena mereka semua tertidur, dan hanya Adien lah yang masih fokus menyetir dengan mobilnya.
Adien membelokan mobilnya, masuk ke area Starbucks, ia harus beristirahat dan mengisi kembali bahan bakar pada mobilnya.
__ADS_1
"John, bangun." Adien mengguncang lengan John.
John mengerjapkan matanya, ia mengedarkan pandangannya ke depan dan ke samping.
"Kita sudah sampai mana?" tanya John yang baru tersadar dari tidurnya.
"Kita di starbuck cileunyi John, kita harus beristirahat mengisi perut, dan mengisi bahan bakar mobil." jawab Adien.
John membangunkan Lusi dan calon ibu mertuanya.
"Ayo kita cuci muka dulu di sana." John mengajak Lusi dan jumira.
Sedangkan Adien, terlihat sedang mengantri membeli pertamax, untuk mengisi bahan bakarnya.
"Mas, Adien dimana?, kok tidak ikut kita kesini." tanya Lusi.
"Ia sedang mengisis bahan bakar mobilnya terlebih dahulu." jawabnya.
Sambil menunggu Adien datang, John memesan beberapa makanan untuk Orang orang di sayanginya.
"Kalian mau pesan apa?" tanya John sambil menatap Lusi dan Jumira.
"Aku ikut kamu aja mas," jawab Lusi yang ikuti anggukan Jumira yang sama akan pesananya.
"Baiklah, mas tolong 4 porsi yang ini. Dan minumnya yang ini." ucap John pada pelayanan.
__ADS_1
"I ya, Pak. Mohon tunggu sebentar." jawab pelayan sambil berlalu pergi.
Sementara Adien yang telah selesai dengan mengisi bahan bakar mobilnya, kini ia kembali ke tempat John berada.