
Dengan modal bibit, obat, dan di dukung dengan peralatan yang lengkap, Jarwo semakin leluasa dan bersemangat dalam usaha bertani melon.
Dalam usahanya bertani melon, Jarwo di bantu 3 orang yang memiliki skill dan kemampuan yang mumpuni di bidang bercocok tanam yang tentunya pilihan siapa lagi kalau bukan pilihan sang ayahanda mertua.
Jarwo yang memiliki kecerdasan lebih, sangat cepat menyerap apa yang di sampaikan oleh 3 orang tersebut.
Hingga mulai dari pengolahan tanah yang memerlukan waktu kurang lebih 2 minggu sampai pembibitan sebelum penanaman Jarwo benar benar telah memahaminya.
Dua minggu berlalu, kini bibit yang telah disemai Jarwo, telah siap di tanam di atas tanah gula/bedeng yang sebagaimana telah di bentuk dengan berbagai campuran pupuk organik dan kapur domit.
Untuk penanaman perdananya, tak tanggung tanggung Jarwo menanam bibit melon yang author sendiri tidak tau berapa banyaknya, pokoknya banyak deh he.. he.. he.
Setiap hari di pagi dan sore, Jarwo selalu mengontrol perkembangan bibit tanaman yang ia tanam, berharap suatu saat usahanya akan berhasil dan meraup untung yang besar.
Dua bulan berlalu semenjak masa penanamana bibit melonya, kini tanaman melon yang sedang di gelutinya telah memperlihatkan hasilnya.
"Alhamdulillah mas Jarwo, sekarang tanaman melonnya sudah berbuah. " Ucap rekan taninya Jarwo yang selalu setia membantunya.
"I ya pak, kita tinggal nunggu buah 70%matang. " jawabnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Sambil bersenandung campur sarian, Jarwo berkeliling mengontrol tanaman melonnya, sesekali dia memegang megang buah melonnya yang sudah terlihat agak besar ukurannya.
Tiga bulan kurang dua minggu kini tanaman melon yang di geluti Jarwo sudah siap panen.
Sebuah mobil truk yang berukuran besar sudah terlihat siap mengangkut hasil jerih payah yang Jarwo lakukan.
Dirmo yang membantu Jarwo dalam pendistribusian, tertawa dan salut pada kemampuan hebat menantunya itu.
"Wo… hebat kamu, bapak gak nyangka panen kita akan meledak seperti ini" Ucapnya pada Jarwo sambil menepuk pundak sang menantu.
"I ya pak, alhamdulilah. Ini juga berkat Doa dan dukungan dari bapak juga" Jawabnya sambil tersenyum.
Selain itu pihak penerima dari negara arab pun merasa puas akan kesegaran dan rasa manis dari buah melon yang di tanam Jarwo.
Lima tahun berlalu Jarwo kini di kenal sebagai petani milenial di eranya, tak hanya negara arab saja, kini usaha bertani melonnya telah merambah ke beberapa negeri di eropa dan asia sekitarnya.
Seiring berjalannya waktu, kini Jono kecil tumbuh besar, di usianya yang menginjak lima tahunan, Juna telah mengerti akan kesibukan ayahnya yang sering pergi pagi dan pulang sore bahkan pulang malam.
Selain tampan Jono adalah anak yang tidak rewel, dia tak pernah meminta sesuatu yang lebih layaknya anak anak seusianya yang gila akan permintaan mainan pada orang tuanya.
__ADS_1
Selepas Isya Jarwo terlihat baru pulang, Jono kecil sudah menunggunya di ruang tamu.
"Horeeee bapak pulang…" Ucap Jono sambil berjingkrak riang menyambut Jarwo yang baru saja masuk rumahnya.
"Anak bapak nungguin ya" jawab Jarwo yang membungkukan dirinya agar sejajar dengan Jono.
"Bapak capek ya" tanya Jono sambil membelai pipi Jarwo.
"Nggak, Bapak sudah tidak capek lagi kok" jawabnya sambil memperhatikan wajah Jono kecil yang imut dan tampan.
Tak terasa air mata Jarwo jatuh menetes, melihat wajah Jono mengingatkannya pada mendiang istrinya yang sudah lama meninggalkannya.
"Bapak Kenapa menangis? " tanya Jono sambil mengusap air mata Jarwo.
"Nggak apa apa nak, Bapak... " jawabnya yang tiba tiba menggantung.
"Bapak jangan sedih, kalau bapak sedih Jono ikutan sedih" ucapnya sambil memeluk ayah tercintanya.
"Bapak janji nak, bapak gak bakal bersedih lagi" ucapnya sambil membalas pelukan Jono kecil tercintanya.
__ADS_1