
"Kamu mau kemana Lusi?" John menarik tangan Lusi agar tidak mengikuti ibunya.
"Aku mau bantu Ibu mas." jawabnya.
"berangkatnya kan masih lama, temani aku ngopi sebentar disini!" John tersenyum licik menatap Lusi.
"Tapi...," Lusi menghentikan ucapannya.
"Tidak ada tapi tapian!, duduk manis disini dan temani aku sebentar." titahnya yang tak mau di bantah.
Tak berselang lama, datang security mengantarkan sebuah kiriman kepada John.
"Maaf, Bos, Nona. Ada kiriman baru saja sampai." Security itu menyerahkanya pada John.
"Baiklah, kau bisa kembali bertugas." jawab John.
"Apa itu mas?" Lusi yang merasa penasaran dengan paket kiriman di tangan John.
"Kita lihat sama sama aja ya." John menepuk sofa di sebelahnya.
Lusi berpindah tempat duduk, kini ia duduk tepat di sebelah John melihat John yang sedang membuka paket kiriman yang di terimanya.
Setelah di buka, ternyata isi paket tersebut adalah sebuah majalah yang berisikan model dan price list gaun pengantin keluaran terbaru.
Mereka berdua melihat lihat gaun pengantin yang beraneka ria model dan variasinya.
__ADS_1
"Kamu suka yang mana? John memperhatikan Lusi yang fokus melihat lihat model gaunya.
"semuanya bagus, dan aku suka." Lusi tersenyum.
Lusi tak menyadari, bahwasanya John terus memperhatikan bibir tipisnya yang manis dan sexy.
"Kalau yang ini, bagaimana menurut mas." Lusi menunjuk dengan jarinya.
"Pasti dirimu suka, i ya kan, mas John?" Lusi masih tersenyum dan fokus melihat majalahnya, sedangkan John masih terfokus dengan bibir Lusiana.
Merasa pendapatnya tak mendapat gubrisan, Lusiana akhirnya memalingkan pandangannya ke arah John.
Cups...
Lagi, dan lagi. Kini Lusiana terbuai kembali. Dengan ciuman kasih sayang John Abdillah.
Sementara, Jumira kaget dengan tak adanya Lusi di belakang dia.
"Kemana dia?, bukanya tadi bilang mau bantuin?" Jumira yang merasa heran.
Jumira memutuskan mencari Lusi, ia berjalan dari keluar dari kamar menuju dapur.
Kok tidak ada di dapur, apa jangan jangan dia ke kamar menemani cucuku?, baik. Aku coba cek kesana.
Jumira berjalan menaiki tangga, hingga ia tak sengaja melihat pemandangan yang luar biasa Epic. Dia kembali menuruni tangga dan menghampiri Lusi yang sedang di mangsa lebah berwajah Oppa.
__ADS_1
John dan Lusi tak nenyadari bahwa Jumira, sudah berdiri di belakang sofa. Menyaksikan dua insan yang sedang bertukar saliva.
Jumira melipat tanganya di dada, dan terus menyaksikan kedua insan yang telah lupa daratan.
John masih asyik mengunci kepala Lusi dengan tangan, yang menahan tengkuknya.
Begitu pun Lusi terlihat merem melek, menikmati kelihaian John dalam bermain goyang lidah di dalam mulutnya.
Wah bisa kebablasan ini kalau di biarkan.
"Ehem.. Ehem." Jumira berdehem.
John sontak kaget langsung melepas kuncianya pada tengkuk Lusi. Sedang Lusi tak kalah malu lagi, ia langsung berpura-pura mengambil dan membaca pricelist wedingnya.
"Lusi, bantu ibu di dalam cepat." Jumira menatap tajam pada John yang masih menundukkan kepalanya.
Lusi bangun dari tempat duduk dnegan tangan masih memegang pricelistnya,Dan menghampiri Jumira.
"Ayo, cepetan bantu Ibu mempersiapkan segala sesuatunya." Jumira berlalu meninggalkan John
"I.. I.. I ya, Bu." Lusi mengaangguk dan mengikuti ibunya dari belakang.
Ah, sial. Kenapa mesti ketahuan sih. Malu gue rasanya. Mau di taruh dimana ni muka.
John mengumpat dan merutuki kebodohan atas apa yang menimpa dirinya.
__ADS_1