LUSIANA MENCARI CINTA

LUSIANA MENCARI CINTA
PERTEMUAN


__ADS_3

Perlahan mobil yang di kendarai John dan Syu'eb menyusuri perkampungan, dengan kecepatan rendah di pagi hari. John terlihat tersenyum melihat area di sekelilingnya yang telah lama ia tinggalkan.


Tibalah ia di sebuah Rumah dengan potongan khas Jawanya, yang memiliki halaman yang cukup luas. Di tambah rindangnya pohon mangga dan beberapa tanaman bunga yang tertanam dalam pot menghias indahnya suasana.


"Berhenti disini Pak, dan tunggu sebentar!" ucap John seraya membuka pintu mobil dan keluar meninggalkan semua bawaanya di dalam mobil.


Kira kira sedang apa ya mereka?, aku harus pelan pelan, agar kedatanganku tidak membuat mereka jantungan ha.. ha.. ha.


Dengan perlahan John membuka gerbang rumah Kakeknya dengan pelan, dan langkahnya pun di buat nyaris tak terdengar seperti maling yang mengendap ngendap.


Setelah tepat di depan pintu masuk rumahnya .John menarik nafasnya dalam dalam, dan menghembuskannya secara perlahan sambil memegang daun pintu.


Sementara Dirmo dengan keadaannya yang payah, terlihat baru terbangun dari tidurnya.


Dengan susah payah ia mencoba bangun dari tidurnya untuk sekedar mendudukan dirinya.


Tua sudah umurku, untuk bangun saja aku sudah kesulitan seperti ini.


Dengan kepala yang masih sedikit pusing, Dirmo mengucek ngucek matanya. Berharap rasa pusing di mata dan kepalanya akan segera hilang.


Sementara John yang sudah berdiri di depan pintu masuk rumahnya, kini sudah mantap untuk melangkahkan kakinya memasuki rumahnya.


"Asalamu alaikum, Kakek dan Nenek." batin John sambil tersenyum tampan.


Dengan perlahan tapi pasti, John mengendap ngendap laksana maling yang takut ketahuan sang pemilik rumah.


Rasa kangen yang teramat sangat dah tak tertahankan, membuat John memutuskan kamar Dirmo lah yang akan menjadi sasaran utamanya.


Di depan pintu kamar Dirmo, John kembali menarik nafas dan memantapkan keberaniannya membuat surprise untuk sang kakek.


Sementara di dalam kamar, Dirmo yang telah mengucek ngucek matanya, tiba tiba melamun dengan menatap pintu kamarnya dengan tatapan kosong.

__ADS_1


CKREKKK….


Dirmo terkesiap ketika melihat dua orang yang tidak asing dan sangat ia kenal berlari kecil menghampirinya.


"Asalamu alaikum pak," ucap Jarwo dan Minem bersamaan sambil memegang kaki dirmo dan memijat mijat kecil.


"Wa'alaikum salam, Anaku." jawab Dirmo seraya terlihat mengusap kepala Jarwo dan Minem yang berada di kiri dan kanannya.


Sesaat Dirmo menangis menitiskan air matanya melihat kedatangan anak dan menantunya yang telah lama meninggalkanya.


Apakah ini sebuah alamat, mungkin hidupku sudah tak akan lama lagi di dunia ini.


"Pak," ucap Jarwo yang memecah keheningan sesaatnya itu.


"I ya," jawab Dirmo sambil kepala tertunduk.


"Jangan sedih Pak, tiap manusia itu pasti akan mengalami yang namanya kematian." ucap Jarwo sambil memegang tangan Dirmo.


Dengan hati yang terasa teriris sembilu, Dirmo makin deras meneteskan air matanya.


"John, datanglah nak. Kakek kangen padamu."


Bersamaan dengan masuknya John kedalam kamar Dirmo, Jarwo dan Minem pun menghilang entah kemana.


John mengedarkan pandangannya ke seluruh area kamar, laksana seorang maling yang mencair barang berharganya.


pandangan John terhenti ketika melihat seorang Kakek yang dulu rambutnya hitam kini telah memutih, dan yang dulunya segar, kini terlihat layu.


Perlahan John menghampiri Dirmo, dia duduk di samping sang Kakek yang terlihat masih dengan keadaan tertunduk sambil menangis


"Kakek." sapa John pada Dirmo sambil memegang pundaknya.

__ADS_1


Suara yang memang terdengar tidak asing di telinga Dirmo, membuat Dirmo terkesiap kembali pada kesadaranya semula.


Di palingkannya pandangan Dirmo, kesamping tepat arah suara itu memanggilnya.


Sejenak Dirmo terdiam, dia masih terasa semua ini hanyalah mimpi belaka.


Untuk menghilangkan keraguannya, dan memastikan apa yang dilihatnya itu benar dan nyata, Dirmo mengusap ngusap pipi John, usapan tanganya berlanjut pada kepala dan rambutnya.


"Ini benar kamu nak? " tanya Dirmo sambil memperhatikan seluruh apa yang di lihatnya.


"I ya, Kek. Ini John, cucu Kakek." ucap John yang sudah tak kuasa menahan kerinduannya sambil meneteskan air matanya.


Seraya berhambur memeluk sang Kakek yang sudah lama tak di jumpainya. Di cium punggung tangan sang Kakek yang kini terlihat semakin keriput termakan usia.


"Maafkanlah John Kek, John berjanji tak akan pernah meninggalkan Kakek lagi." ucap John dengan posisi bersujud di depan Dirmo dan mencium kakinya.


"John, bangunlah nak. Jangan seperti itu." pinta Dirmo yang melihat John yang bersujud padanya.


Mereka berdua tak menyadari akan adanya sepasang mata yang telah memperhatikanya sedari tadi.


GDUMBRANKKKK….


Suara baskom terjatuh memecah suasana haru diantara Kakek dan cucunya. Dan sontak membuat Dirmo dan John memalingkan pandanganya ke arah drimana baskom itu terjatuh.


"Cucuku," Suminah berlari ke arah John yang kini posisi telah terduduk seperti sinden.


Di ciumnya seluruh area muka John oleh Suminah sang Nenek.


"Jon, beneran ini kamu nak?" tanya Suminah yang tak hentinya menghujani John dengan ciuman rasa kangen Nenek terhadap cucunya.


Dirmo hanya bisa tertawa terbahak melihat John yang tak bisa menjawab, karena sang nenek terus membombardir John dengan ciuman kangennya.

__ADS_1


__ADS_2