LUSIANA MENCARI CINTA

LUSIANA MENCARI CINTA
ROBERT PDKT


__ADS_3

Apa aku tidak salah dengar, ibu manggil Om Robert dengan sebutan 'mas'.


Wah ada yang tidak beres ini, aku harus menyelidikinya sendiri.


Lusiana menghampiri Robert dan ibunya.


"Bu, maafkan mas John yang tidak langsung menjemput ibu ya." Lusiana yang baru saja datang.


"I ya, tidak apa apa, Lusi." Jumira memberikan Juna pada Lusi.


"Terima kasih Om Robert, sudah repot repot mengantarkan Ibu dan anak saya." Lusi yang merasa tidak enak.


"Tidak apa apa, santai saja. Lagian saya juga tidak begitu di repotkan kok." Robert tersenyum memandang Lusi.


"Mas Robert, ayo mampir dulu. Katanya tadi bilang ada sedikit keperluan bertemu nak John." ajak Jumira.


"I ya, Jum." Robert sedikit gugup.


"Ya sudah, ayo kita masuk ke dalam." Lusiana mengajak mereka masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah, Lusiana segera menghampiri John yang terlihat masih asik dengan pekerjaan kantornya.


"Mas, ada Pak Robert di ruang tamu. Katanya beliau ada perlu sama mas." jelas Lusi.


"Pak Robert?" tanya lagi John.


"I ya, Pak Robert, yang katanya punya kawasan sawit itu." jelas Lusi.


"Baiklah, aku akan menemuinya. Tolong kamu buatkan minuman untuk beliau." John mencium kening Lusi dan berlalu menuju ruang tamu menemui Robert.


Lusi menggendong Arjuna membawanya ke dapur.


"Selamat siang Om," John baru masuk ruang tamu menyambut kedatangan Robert.


"Siang juga nak John. Bagaimana kabarnya hari ini." Robert bangun dari duduknya.


John mencium punggung tangan Robert.


"Alhamdulillah, Om. Saya baik baik saja. Bagaimana kabar Om Robert sendiri?" tanya John sambil mempersilahkan kembali Robert untuk duduk.


"Ya, begitu lah nak John. Om selalu berusaha untuk baik." Robert sedikit mengeluh dengan keadaanya.


"Kenapa lagi Om?, kenapa terlihat tidak bersemangat seperti itu?"

__ADS_1


"Tidak apa apa, nak John. Tak usah kau hiraukan keadaan Om." jawab Robert yang terlihat murung.


"Ceritakan pada John, Om. Siapa tahu John bisa sedikit membantu." pinta John.


"Aku hanya merasa kesepian saja John, sudah belasan tahun Om hidup sendiri membesarkan Dyah, anak semata wayang Om." Jelas Robert.


"Bersabarlah Om," John tersenyum menenangkan Robert.


Tak berselang lama, datanglah Lusiana yang membawa nampan yang berisi 2 gelas kopi dan sepiring cemilan untuk di suguhkan pada dua lelaki yang terlihat serius dalam obrolannya.


"Di minum kopinya, Om." Lusi yang sudah meletakan kopi dan cemilanya di meja.


"Maaf, merepotkan saja. Saya jadi tidak enak." Ucap Robert.


"Tenang saja Om, kaya sama siapa saja Om ini." jawab John yang di iringi tawa mereka.


Lusi duduk di sebelah John, dengan tangan yang memegang nampan.


"Begini nak John dan Lusi," Robert memulai obrolan seriusnya.


"Kedatangan Om kesini, tiada lain dan tiada bukan. Ingin sekali meminta maaf, atas kejadian tempo kemarin." ucap Robert dengan serius.


Lusi dan John saling memandang dan mengangguk.


"Sudahlah Om, jangan di pikirkan lagi. Kami berdua tidak pernah memasukkanya ke dalam hati, i ya kan, Lusi." John memandang Lusi dan mendapat anggukan darinya.


"Mas, Om. Lusi ke belakang sebentar ya." Lusiana pamit dan berlalu meninggalkan mereka berdua.


"O ya, Om. Saya ingin memberitahukan kabar gembira kami," John memulai lagi percakapanya.


"Kabar gembira apa itu, nak John?" Robert dengan antusiasnya.


"Seminggu lagi dari hari ini, kami berdua akan melangsungkan pernikahan sederhana disini." jelas John.


"Bagus, Om ikut senang mendengarnya." Robert tersenyum gembira.


"Saya berharap, Om Robert untuk bersedia hadir nanti." pinta John penuh harap.


"Tentu, tentu Om akan hadir dengam senang hati nak John." Robert mengangguk meng i yakan.


Sejenak, obrolan terhenti sesaat. Terlihat Robert yang kini sedikit gusar dengan pandangan yang mengedar, seperti kurang nyaman.


"Nak John, bisakah kita berbicara sebagi seorang laki laki?" Robert merubah topik pembicaraan.

__ADS_1


"Maksud, Om Robert?" John yang masih belum paham kemana arah pembicaraan Robert.


"Bisakah, kita berbicara serius. Tapi jangan disini." pinta Robert.


John mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan mengangguk memandang Robert.


"Baik, Om. Bagaimana kalau kita ngobrol di taman saja, tenang di sana aman." usul John yang di terima Robert dengan anggukan.


John membawa kopi dan cemilanya pindah ke taman halaman rumah, yang ada tempat duduknya.


Di taman depan rumah yang terlihat nyaman itu, Robert langsung tidak berbasa basi lagi.


"Nak John, sebenarnya Om Robert, mempunyai keseriusan tapi... " Robert menghentikan ucapan sambil melirik pada Jumira yang terlihat sedang menjemur pakaian jauh di sana.


" Tapi apa, Om?" John mengikuti arah pandang Robert.


"Entah, kenapa John. Walaupun baru bertemu denganya, tapi Om merasakan kenyamanan yang sama, dengan alm. Ibunya Dyah." Robert menunduk.


John sejenak mencerna apa yang Robert telah paparkan padanya. Dan John hanya bisa tersenyum, memandang Robert yang terlihat seperti sedang puber seventeen.


"Om Robert, serius?" John yang sudah mengerti, kemana arah obrolan Robert.


Robert mendongak memandang John.


"Maksudmu, Nak John. Om benar benar tidak tahu." Robert bertanya balik.


"Om, setiap lelaki atau perempuan, biasanya akan mengalami puber kedua di usianya yang telah menginjak 40 atau kadang, bisa juga lebih." John menjelaskan.


"Berarti, Om. Sedang mengalami Puber, begitu maksudnya?" Robert yang belum yakin pada dirinya.


"I ya, Om Robert itu, sedang mengalami Puber. Dan Om jangan pernah menyangkalnya." jelas dengan menunjuk pada dadanya Robert.


Robert terdiam memandang tangan John, yang menunjuk dan mengarah pada hatinya. Dan itu membuat Robert kini tersenyum.


"I ya, Om mengerti sekarang." Robert mengangguk yang di balas senyum keyakinan John.


"Apa Om, menyukai Ibunya Lusi?" pertanyaan itu lolos dari mulut John.


"Suttttt, jangan keras keras." Robert memberi Isyarat telunjuk pada mulutnya.


"Tenang saja Om, kalau Om serius dan tak ada niat bermain perasaan, John insya alloh bantu." John memberi lampu hijau pada Robert, hingga membuatnya tak sadar berjingkrak seperti anak kecil.


"Bhua..ha.ha." John tertawa puas melihat kelucuan pada Robert.

__ADS_1


Robert yang melihat John tertawa, dirinya langsung berhenti dan duduk seperti semula.


"Maafkan Om, nak John. Om hanya terbawa suasana.


__ADS_2