LUSIANA MENCARI CINTA

LUSIANA MENCARI CINTA
BONUS CHAPTER


__ADS_3

Tiga bulan berlalu setelah resepsi pernikahan John dan Lusi selesai. Jumira kini tidak tinggal bersama lagi bersama Lusi dan John.


Jumira lebih memilih pulang kampung, karena tanggung jawab sebagai orang tua untuk selalu menjaga anaknya, kini telah beralih pada John menantu tampanya.


Di kampung halaman, Jumira menghabiskan waktunya dengan cara menyibukan diri bidang usaha jual penjualan perlengkapan pertanian, dari mulai bibit, pupuk beserta obat penanggulangan hamanya.


Permintaan konsumen yang padat, membuat Jumira jarang berkomunikasi dengan Robert.


Dan jelas, itu semua membuat Robert galau tingkat dewa.


Tidak seperti biasanya. Kini Robert sering marah marah tak jelas pada karyawanya. Masalah sepele pun, bisa meledak jika sampai terdengar d telinganya.


"Bos, ini kopinya." ucap karyawan yang baru saja datang membawakan kopi untuk Robert.


"Simpan saja disitu." jawabnya dengan ketus.


Karyawan tersebut mengangguk dia berbalik dan meninggalkan Robert sendirian.


Robert merenung dengan tatapan kosong memandang Roti dan kopi yang sudah tersedia di hadapanya.


Robert mengambil roti tersebut dan memakanya.


Seketika mata Robert membulat, dirinya kaget dan melemparkan roti tersebut. Robert beralih memandang gelas kopi hitan panas dan nikmat yang masih ada di hadapanya.


Dia mengambil gelas kopi tersebut dan mulai menikmatinya, namun. Suatu ke anehan terjadi lagi.


"Cuah." Robert menyemburkan kopi dari mulutnya.


Kenapa Roti yang ku makan terasa batu


Dan kenapa kopi ku minum terasa duri.


Robert mengeluarkan ponselnya, dia berkutat mencari kontak nama Jumira di handphonenya.


Setelah di temukan, Robert mencoba langsung menghubunginya.


Namun nihil, sudah seminggu lebih Jumira tak pernah menjawab telepon darinya. Robert terduduk sambil memeluk lututnya.


"Jum, kamu dimana?, mas Robert kangen." Robert menitiskan air matanya.


Kesedihan Robert sudah tidak bisa di sembunyikan lagi. Hingga salah satu karyawan yang sering Robert anggap sebagai penasehat. Kini telah datang dan duduk di sebelah Robert.


"Bos, ada apa?, mbok yo cerita gitu loh kalau ada masalah." ucap Sobirin penasehat bisnis.


Robert melepas pelukan lututnya, dan beralih memandang Sobirin.


"Aku bingung, Rin. Separuh nyawaku rasanya hilang begitu saja." ucap Robert


Sobirin mengangguk memandang wajah Robert yang kini tak memiliki gairah kehidupan.


"Kenapa mas Bos tidak coba mengejarnya?" tanya Birin yang terlihat ingin membantu Robert.


"Aku tidak dia tahu dia sekarang ada dimana, Rin?" ucap Robert dengan wajah lesunya.


"Bos, kan bos bisa tanya kerabat terdekatnya." Sobirin memberitahukan.


Robert serasa mendapat angin segar.


"I ya, ya. Kenapa gak pernah kepikiran kesitu?" Robert menggaruk kepala dan kini meraih handphonenya.

__ADS_1


Robert kembali berkutat dengan ponselnya, mencari nama kontak John, dan setelah ketemu dia langsung menghubunginya.


Dan setelah tersambung, Robert dan John akhirnya berbincang seputar kabar setelah pernikahan, dan dan tak lupa ia juga menyampaikan maksud sebenarnya dia menghubungi John.


John dan Lusi tidak pernah menyangka, bahwasanya Robert lost kontak dengan Jumira.


Robert meminta John memberitahukan dimana posisi kampung halamanya.


Robert mengaku kepada John, bahwa dirinya kini serasa hampa dan tak berarti hidup tanpa adanya Jumira di sisinya.


"Baiklah Om, John akan share loc tempat dimana Ibu tingga sekarang," John mengakhiri panggilan teleponya.


Dan tidak berselang lama, handphone Robert pun bergetar memberi notifnya pada si pemilik handphone itu sendiri.


Robert dengan cepat mengklik tautan lokasi yang di share John padanya.


Senyum yang sudah lama hilang, kini telah kembali pada diri Robert.


Pokoknya hari ini juga, aku harus menemuimu Jum. Tunggu mas Robert Jum.


Robert berpamitan pada Sobirin, mengambil kunci mobil dan jaket kulitnya, berlari kecil menuju mobilnya.


Di perjalanan menuju kampung halaman Jumira. Robert menyempatkan menghubungi Diyah anaknya.


Dia memberitahukan bahwa ada keperluan mendadak yang mengharuskan dirinya keluar kota.


Empat jam berlalu, Robert yang mengikuti GPS share dari John. Kini dirinya telah sampai masuk area pemukiman warga yang terlihat asri.


Dia memulai memacu mobilnya dengan perlahan menuju kediaman Jumira.


Jum, mas Robert sudah kangen pengen ketemu kamu. Aku harap kamu juga merasakan hal yang sama denganku.


Di kebun mawar milik Jumira. Terlihat Jumira sedang asik melihat lihat bunga mawarnya yang kini sudah terlihat mengembang berwarna merah.


Dirinya selalu tersenyum, walau terkadang dia selalu termenung teringat Robert yang kini mengisi ruang hatinya.


Sementara Robert yang baru saja sampai dan menepikan mobilnya di pinggir jalan di depan rumah Jumira, dirinya tak langsung turun dari mobilnya. Dia melihat rumah dan menyamakan dengan gambar rumah yang di kirimkan John padanya.


"Aku yakin, ini pasti rumah Jumira. Tidak salah lagi." gumam Robert. Seraya turun dari mobil menghampiri toko Agen pertanian milik Jumira yang berada di halaman rumahnya.


Di depan toko agen, Robert mencari cari keberadaan Jumira yang tak kunjung di temukanya, hingga membuat salah satu karyawan Jumira langsung menghampirinya.


"Maaf, Pak. Cari perlengkapan apa ya?, disini kami menyediakan perlengkapan pertanian, dan Bapak boleh melihat lihat terlebih dahulu." sapa salah satu karyawan Jumira.


Robert memandang papan nama Toko Agen yang bertuliskan nama Jumira, senyum pun mengembang di wajahnya.


"Maaf, saya cari si pemilik Toko agen ini." ucap Robert yang baru selesai membaca papan nama toko dan beralih memandang karyawan Jumira.


"Pemilik toko?, maksud Bapak, Bu Jum?" tanya lagi karyawan tersebut.


"I ya, dimana sekarang beliau?" tanya Robert yang sudah berkaca kaca.


"Kalau sudah sore seperti ini, Bu Jum biasanya beliau berada di kebun mawar 🌹 nya Pak." jelas karyawan tersebut pada Robert.


"Ouwh, apakah letaknya jauh dari sini?" tanya lagi Robert.


"Tidak, Pak. Bapak cukup lurus aja dari gang samping rumah ini, nanti di pertigaan Bapak tingga belok kanan saja." jelasnya pada Robert.


Robert mengangguk paham, dia mengeluarkan dompet dan mengambil 3 lembar uang seratus ribuan dan memberikannya pada karyawan ramah tersebut.

__ADS_1


"Buat beli Rokok sama kopi." Robert memasukan uangnya ke saku baju karyawan Jumira.


"Tidak usah, Pak." karyawan tersebut mencoba menolak, akan tetapi Robert tidak memperdulikanya.


Robert berlari menuju gang samping rumah Jumira. Rasa kangen yang tak tertahankan membuat dirinya tak ingin berlama lama diam dan menunggu.


Robert terus menyusuri Jalan yang yang telah diberitahukan karyawan Jumira pada Robert sebelumnya. Hingga di pertigaan, Robert kini mulai berjalan melihat kebun mawar yang sudah terlihat jelas di matanya.


Sementara, Jumira masih terlihat asik dengan kegiatanya merawat mawar. Dari mulai memotong dan merapikan bagian bunga mawar yang harus di bersihkan.


Saking asiknya, Jumira tak sengaja menyentuh duri dari tangkai mawarnya, ia segera menarik tangan dan mencoba melihat tanganya yang terluka.


"Duh," Jumira meringis menahan tanganya yang kini berdarah akibat tusukan duri.


Cup..


Robert yang baru saja datang, dirinya langsung menarik tangan Jumira yang terluka, lalu dengan cepat menghisap telunjuk Jumira dengan mulutnya.


Jumira terdiam tak percaya melihat kang mas Robert yang kini berada di hadapanya.


"Mas Robert." ucap Jumira dengan senyum yang berbinar.


Robert masih serius menghisap luka di tangan Jumira. Dan setelah di rasa lukanya tidak berdarah lagi, kini Robert beralih memandang Jumira.


"Jum, kamu kemana saja?" tanya Robert dengan mimik muka sedihnya.


"Aku selalu disini mas, menunggumu." ucap Jumira yang langsung berhambur memeluk Robert.


Mereka berdua saling mengunci dalam pelukan.


Robert perlahan melepas pelukan dan memandang wajah Jumira pujaan hatinya.


"Jum, kenapa kamu gak pernah menjawab telepon dariku." tanya Robert.


Jumira menggeleng kepalanya di depan wajah Robert.


"Kenapa, Jum?" tanya lagi Robert


"Aku tak bisa mas, suaramu selalu membuat aku jadi gila dalam merindu." jawab Jumira.


Robert kembali memeluk Jumira dengan erat.


"Jum, aku mohon. Menikahlah dengan mas Robert, kamu mau kan jadi teman yang selalu menemaniku?" ajak Robert penuh dengan harapan.


Jumira melepas pelukan dan kembali menggelengkan kepalanya pada Robert.


"Aku gak mau mas." jawab Jumira dengan pandangan yang ia palingkan.


"Tapi kenapa Jum?" Robert terlihat lesu mendengar jawaban Jumira.


Jumira tertawa lepas melihat wajah Robert yang kini berubah menjadi lesu dan tidak bergairah.


"Kenapa kamu tertawa Jum?" Robert bertanya dengan kepala menunduk.


Jumira menangkup wajah Robert dengan kedua tangan dan menempelkan hidungnya pada hidung Robert.


"Maksud aku itu, aku gak mau nolak, mas." Jumira tersenyum di depan wajah Robert yang kini berjarak hanya beberapa inchi saja dari wajahnyanya.


Robert yang merasa greget, dia memberanikan diri membenamkan bibirnya pada bibir Jumiran.

__ADS_1


Mereka berdua saling menyesap kenikmatan, beradu lidah dan bertukar saliva. Hingga tak di sadari sebuah benda mengeras di bagian bawah dan membuat Jumira mundur di buatnya.


__ADS_2