
3 bulan telah berlalu. Kini status Robert telah berganti menjadi suami sah Jumira ibunda dari Lusiana Safara.
Acara pernikahan di lakukan secara sederhana. Dan di laksanakan di kediaman Jumira dengan mengundang sanak family dan beberapa kerabat dekat saja.
"Alhamdulilah Jum. Akhirnya aku bisa menjadi suami yang sah untuk dirimu." ucap Robert sambil mengelus kepala Jumira yang sedang bersandar pada dirinya.
"I ya, mas. Aku juga bersyukur dan senang. Akhirnya tuhan mempertemukan dan menjadikan kita pasangan hidup." Jumira mengecup pipi Robert dan mengeratkan pelukanya.
"Jum," panggil Robert dengan mesra sambil mengecup kening Jumira.
"I ya, mas. kenapa?" tanya Jumira sambil bergelayut manja pada Robert.
"Yuk," ajak Robert sambil mengedipkan mata pada Jumira.
"Ayo, siapa takut." jawab Jumira seraya mengalungkan tanganya ke leher Robert sambil mendaratkan ciuman ke pipinya.
Dengan cepat Robert langsung menarik dan mengungkung Jumira yang kini telah sah menjadi istrinya.
"Are you ready." Robert tersenyum penuh semangat.
"Hemmm ..." Jumira menganggukan kepalanya.
Dengan gaya santai dan tidak terburu buru seperti saat sebelumnya. Kini Robert mulai bergerilya menyentuh tubuh Jumira.
Dan dengan santai dan perlahan juga, Robert mulai melucuti semua pakain yang di kenakan Jumira hingga terlepas semua.
Tak hanya itu, Robert juga pandai dan piawai memancing dan membangkitkan api gairah Jumira.
Sentuhan lembut bibir Robert yang mendarat di bibir Jumira. Kini mulai menyapu dan mengabsen gigi rata Jumira, menarik lembut lidah Jumira dengan goyang lidahnya.
__ADS_1
15 menit role play atau warming up.Di rasakan cukup bagi Robert untuk menghangatkan suasana permainan malamnya.
Dan kini Robert sudah terlihat serius dalam memanjakan istri tercintanya.
Robert kini seperti harimau lapar yang baru saja menemukan mangsanya. Dia melahap dan berhasil membuat Jumira kelabakan dalam permainan malamnya.
Tak ingin membuang waktu lagi. Kini Robert melebarkan sedikit paha istrinya dan bersiap menenggelamkan senjata pamungkasnya ke area kewanita an Jumira.
SREEEEBBBBB ...
Jumira membulatkan mata merasakan kaget bercampur rasa sesak di dada dan bagian perutnya.
Bagaimana tidak pemirsa, senjata pamungkas yang di miliki Robert. Bisa kita bayangkan ukuranya dengan skala banding alat pukul security( pentungan) yang biasa kita temui dalam kehidulan kita sehari hari.
"Apa kau baik baik saja, Jumira sayang?" Robert kini terlihat cemas melihat keadaan istrinya yang terlihat lemah tak berdaya.
"Apa perlu kita menghentikanya." tanya lagi Robert yang tak mau menyakiti Jumira istrinya.
Jumira membelai wajah Robert dengan tangan kananya.
"Aku baik baik saja, sayang. Kau harus menyelesaikan apa yang telah kau mulai." pinta Jumira.
Robert kini terlihat memantapkan lagi semangat pacunya yang sempat terhenti.
Robert kini dengan pelan dan perlahan menggoyangkan kembali pinggung ke arah depan dan belakang secara bergantian.
Hujaman demi hujaman di lakukan Robert. Dan lama semakin lama Jumira terlihat bergetar hebat dengan kedua tangan yang mencengkram kedua pundak suaminya.
2 jam kemudian ...
__ADS_1
"I can't hold on anymore." ucap Robert yang berhasil melepas hasratnya.
"Uhhh ..." Jumira merasakan panas di area ke wanita anya seiring masuknya cream caramel cap Robert punya. Ke dalam rahimnya.
Keringat bercucuran dari kedua insan yang telah berhasil memadu kasih menjadi satu.
Jumira memeluk erat Robert yang masih dalam posisi mengungkung dirinya.
Hah ... hah ... hah ...
Suara hembusan nafas yang terhembus kasar karena saking lelahnya.
"Gurih, kau sungguh gurih gurih nyoy Bla'em bla'em sayang." puji Robert seraya mencium kening Jumira.
"Kau sangat buas sayang." Jumira yang salut dengan stamina Robert dengan title di geber 2 jam tanpa hentinya itu.
Tak ingin berakhir seperti itu saja. Jumira terus mengunci Robert dengan tangan memeluk dan kedua kaki yang melipat di atas pinggul Robert.
"Sampai kapan kau terus mengunciku seperti ini." bisik Robert di telinga Jumira.
"Aku tak akan pernah melepaskanmu sayang." Jumira mengancam manja.
"Ah ... yang benar?" Robert tersenyum licik.
"Hemmm ... Iya." Jumira kembali menekan pinggul Robert dengan kaki hingga Senjata pamungkas Robert pun tenggelam kembali hingga esok hari.
**Ha ... Ha ... Ha... udah ah. segitu aja.
Jangan lupa like dan rate. comment juga biar author belajar lagi**.
__ADS_1