
Setelah asik ketawa ketiwi,Syarifah yang sedari tadi menonton sinetron. Kini matanya tertuju pada sebuah kunci kontak yang tergeletak di di atas meja.
"Pak,ini kunci kontak motor siapa?" tanya Syarifah pada Dul Hamid.
"Bapak juga tidak tahu Bu." jawabnya sambil menggeleng kepalanya.
"Itu kunci motor baru Adien Bu." Jawab Adien yang baru keluar dari kamarnya.
"Motor baru? tanya lagi Syarifah untuk memastikan apa ia yang ia dengar.
"I ya,Bu. Motor baru,hadiah dari John." tegas Adien.
"Kamu gak lagi bohong kan?" tanya lagi Dul Hamid yang hatinya masih merasa ragu.
"Ya tidak lah Pak, Bu." jawab Adien mencoba meyakinkan kedua orang tuanya.
Adien pun menjelaskan pada kedua orangtuanya, bahwasanya, John mengajak dirinya untuk bersama-sama membangun dan menjalankan usaha yang telah di amanahkan sang Raja Arab sebagai modal atau aset pertamanya merintis karirnya.
Dan sebagai orang tua, tak ada yang bisa mereka lakukan untuk mencegah niat baik,dan memang sedari dari dulu cita cita John dan Adien ingin menjadi orang sukses.
Sebulan telah berlalu, John dan Adien kini telah menjalani bisnis yang telah di amanahkan sang Raja Arab untuk cabang Asia tenggara tepatnya.
__ADS_1
Sulit memang sulit, kemerosotan harga saham tak membuat mereka patah arang, dan pada kenyataannya mereka berdua bisa melewatinya bersama sama.
Semakin berjalannya waktu,bisnis yang di kelola John dan kini semakin berkembang pesat.
Tak sedikit perusahaan perusahaan besar telah menjalin kerja sama dan menikmati atau merasa puas dengan hasil kerja samanya.
Selain tampan dan cerdas, para pemegang saham sangat puas dengan cara penyampaian ide atau gagasan brilian John di kala meeting atau saat agenda tahunan.
Lima tahun berlalu dalam pengembangan usaha bisnisnya, kini perusahaan yang John geluti telah melebarkan sayapnya,hingga ke penjuru Eropa dan sekitarnya.
Dan kini usia John telah genap 27 tahun, di rumahnya yang besar. John hanya tinggal sendiri di temani Pak Syu'eb seorang yang profesinya sebagai supir pribadinya.
Melihat sang majikan yang terduduk lelah, Syu'eb berinisiatif membuatkan segelas kopi untuk menenangkan suasana hati majikanya yang terlihat sedikit kalut.
"I ya, terima kasih Pak Syu'eb." jawab John memijit pelipisnya.
"Maaf Bos, ada apa?, kok kelihatanya sedang ada masalah." tanya Syu'eb pada John.
"Tidak ada apa apa Pak Syu'eb. Aku hanya merasa kesepian saja." ucap John sambil menyenderkan kepalanya melihat langit langit rumahnya.
"Bos John,kesepian?" tanya lagi Syu'eb untuk memastikan apa yang telah ia dengar.
__ADS_1
"I ya,pak Syu'eb. Aku kesepian." tegas lagi John.
Dan pada akhirnya, John sedikit bercerita pada Syu'eb. Tentang cita citanya yang ingin menjadi orang sukses,dan bisa membuat rumah yang megah, dan membawa kakek dan neneknya untuk tinggal bersama.
Dan semua itu kini hanya jadi harapan yang tak pernah menjadi nyata. Karena sebelum rumahnya kadi, Dirmo dan Suminah telah meninggal dunia.
Mendengar sedikit cerita dari John, Syu'eb hanya bisa menundukkan kepalanya dan mencoba menahami kegalauan dalam hati sang majikanya.
Terlintas ide cemerlang dalam hati Syu'eb, untuk membuat rumah majikannya agar tidak menjadi sepi.
"Bos, bagaimana kalau Bos rekrut orang saja." ucap Syu'eb pada John.
"Maksudnya?" tanya John.
"Keponakan saya kebetulan lagi cari kerjaan Bos, bagaimana kalau mas Bos jadiin dia kerja disini."
"Memang dia mau?" tanya lagi John.
"Pasti mau Bos." jawab Syu'eb.
"Oke, bawa dia kesini!, kalau dia bersedia. Beri gaji dia 10 juta/bulan." ucap John. Seraya bangun dan meninggalkan Syu'eb yang terlihat tersenyum.
__ADS_1
Dari sini Reader bisa connect storynya back to episode 1( agar nyambung)