LUSIANA MENCARI CINTA

LUSIANA MENCARI CINTA
GAGAL


__ADS_3

John benar benar telah di kuasi jiwa mesumnya, sepanjang perjalanan pulang, mungkin reader setia sudah bisa membayangkan, apa yang sedang di bayangkanya selama perjalanan pulang.


Gerbang besar rumah John yang memiliki sensor pembaca khusus, otomatis terbuka sendirinya dengan cepat, setelah mendeteksi kedatangan John yang tinggal 10 meter lagi menuju area rumahnya.


Pokoknya aku harus menghukumu Lusi, kau telah berani membangunkan macan yang sedang tidur, maka kau harus menerima ganjaranya.


John yang baru saja sampai di depan garasi, langsung keluar dan membanting pintu mobilnya dengan kencang.


"Masukan mobilku ke dalam garasi!, dan pastikan jangan sampai lecet sedikit pun." titah John sambil melempar kunci mobilnya pada security penjaga rumahnya.


"Siap bos." security itu segera mengerjakannya.


John yang telah masuk ke dalam rumahnya, langsung melempar jasnya. Dia berlari kecil menaiki tangga dengan satu tujuan, yaitu masuk ke dalam kamar Lusi dan menghukumnya.


"Lusi! " John berteriak memanggil nama Lusi.


Duh, kenapa aku bisa bodoh?, jika aku berteriak teriak memanggil namanya, ibunya pasti akan mendengar suaraku dan otomatis, bisa kacau rencanaku menghukum Lusi.


" Ah, betapa bodohnya diriku ini." John merutuki kebodohanya.


Di depan kamar Lusi, John mengetuk pintu dengan pelan sekali, semua itu di lakukan agar Jumira tak mendengarnya.


Beberapa kali John mengetuk pintu, tetapi tetap tetap saja hasilnya nihil.


Apa dia sudah tidur ya?, perasaan perjalanan pulangku hanya memakan waktu 15 menit saja.


John memutuskan untuk memanggil nama Lusi dengan pelan dan perlahan.


"Lusi..., yu.. hu Lusi, apa kau sudah tidur sayang?" suara John di buat sehalus mungkin, agar hanya Lusi sajalah yang mendengarnya.


Di balik pintu, Lusi tertawa puas sekali, sambil menutup mulutnya agar tak terdengar oleh John yang memanggilnya.


"Lusi sayang, coba tebak mas John bawa paan hayo." John tersenyum, berharap trik tipu dayanya bisa mengelabui Lusi.

__ADS_1


"Oh.. Oh.. Oh, tidak bisa. Lo pikir gua bisa di tipu mentah mentah apa." jawab Lusi dengan lirih.


Sementara Jumira, yang sedang minum di malam itu karena haus. Dia mencari cari di mana arah suara seseorang yang di pikirnya mencurigakan malam malam.


"Suara siapa ya?, apa jangan jangan ada maling masuk." Jumira berjalan menaiki tangga dengan pelan dan perlahan.


Dan ia mendapati seseorang yang sedang berdiri dan dengan telinga yang menempel di pintu kamar Lusi.


Jumira perlahan mendekati untuk memastikan siapa gerangan lelaki tersebut.


"Nak John, sedang apa malam malam di depan pintu kamar Lusi?" tanya Jumira yang telah mengetahui sosok tersebut.


John terkesiap kaget, dia tak menyangka bahwa Jumira akan mengacaukan rencananya."


"A..a..nu..an..nu Bu." John bingung, alasan apa yang harus ia lontarkan pada Jumira.


Keringat bercucuran di sertai wajah yang kini berubah menjadi pucat pasi.


Apes.. apes. Kenapa harus muncul sih. Alasan apa coba yang harus bilang, agar beliau percaya.


"Nak John lapar atau mau di buatkan kopi?" tanya Jumira.


"Nah itu Bu, saya mau makan. Dan minta di buatkan kopi, makanya saya coba membangunkan Lusi malam malam begini.


"Ouwh, Ya sudah. Tunggu sebentar, ibu hangatkan dulu sayur dan lauk pauknya, setelah itu ibu langsung buatkan kopi.


Tanpa di sadari John, Lusi keluar dari kamarnya. Dia berlari cepat menyusul ibunya yang jaraknya belum begitu jauh dari pintu kamarnya.


" Ada apa ini rame rame?" Lusi bersandiwara bertanya pada ibunya.


"Itu, nak John baru pulang kerja. Katanya dia lapar dan ingin di buatkan kopi." Jumira menjelaskan sambil berjalan menuju dapur.


"Ouwh, seperti itu ya." Lusi berjalan sambil memeluk tangan ibunya.

__ADS_1


Di dapur mereka berbagi tugas, Lusi menghangatkan makanan, sedangkan Jumira membuatkan kopi.


"Lusi, ibu duluan ya, mengantarkan kopi." Jumira yang telah selesai mengaduk kopinya.


"Tunggu sebentar sih Bu, Lusi kan takut di tinggal sendirian, lagian ini juga cuma sebentar Kok," Rayunya kepada Jumira.


"Emang sejak kapan kamu berubah jadi penakut Lusi?" Jumira merasa aneh dan heran.


"Sejak malam ini Bu, Lusi tadi bermimpi ada serigala ganas akan memangsa Lusi." Lusi tersenyum melihat John yang berada di pintu dapur


Sialan gua di samakan dengan serigala, awas aja Lusi, ku buat lebih berat lagi hukuman untukmu.


Lusi mematikan kompor gasnya, dan memindahkan lauk Pauk yang telah hangat ke dalam wadah untuk di bawa ke ruang makan.


John segera berlari ke ruang makan, sebelum Jumira mengetahui keberadaan di pintu dapur.


Jumira dan Lusi datang membawa kopi dan lauk Pauk untuk di hidangkan kepada John.


"Ambilkan nasi ya nak, untuk nak John." titah Jumira.


"I ya, Bu." Lusiana dengan cepat mengambilnya nasi beserta lauk pauknya dan menyodorkanya di hadapan John.


"Nak John, tidak apa apa kan, Ibu tinggal tidur?" ucap Jumira pada John.


"I ya, Bu. Tidak apa apa. Lagian ini sudah malam, maafkan saya Bu." John tersenyum penuh kemenangan.


Bisa gawat ini, kalau ibu ninggalin aku berdua disini dengan mas John.


"Bu, tunggu, aku ikut!" Lusi bangun dari tempat duduknya menghampiri Jumira dan memeluk kembali tangannya.


"Manja sekali kamu Lusi," ucap Jumira


"Aku takut serigala Bu, he..he..he." Lusi terkekeh menatap ibunya dan berlanjut memandang John yang menatap tajam padanya.

__ADS_1


Melihat arah pandang Lusi, kini Jumira paham. Bahwa serigala yang di maksud anak wanitanya yang cantik itu adalah John.


__ADS_2