
Adien telah sampai di rumahnya, kini ia terlihat sedang berbincang dengan Syarifah ibunya.
"Bagaimana dengan pekerjaanmu Dien?" Syarifah memulai percakapannya.
"Ya seperti itu lah Bu, sangat membosankan sekali." Jawabnya sambil bersandar kepala di paha Syarifah.
Adien bangun dari posisinya bersandar dari ibunya, wajahnya kini terlihat sedikit serius.
"Bu, apa benar Dyah sudah kembali dari kuliahnya di luar negeri?" Adien terlihat antusias.
"Sudah nak, sudah seminggu dia berada disini." jawabnya dengan santai.
"Bu, Adien sangat menyayangi Dyah. Bapak sama ibu, mau kan melamar dia untuk Adien." pintanya penuh harap.
"Bapak sama Ibu sudah tentu mau Dien." Dul Hamid yang baru datang dan duduk di sebelah Adien.
"Yang benar Pak, Bu." Adien terlihat bersemangat sekali.
Kedua orang tua Adien tersenyum senang melihat anaknya sperti itu.
"Tapi kalau boleh ibu tahu, memang kalian sedang berhubungan kah?" pertanyaan itu lolos dari mulut Syarifah.
Adien sejenak terdiam, setelah mendengar pertanyaan yang benar benar menusuk hatinya.
"Pak, Bu. Dulu memang Dyah menolak berpacaran denganku karena...," Adien tidak melanjutkan ucapannya.
"Karena apa Adien?, Bapak sama Ibu pasti akan membantumu nak. Tapi ibu sama Bapak minta kejelasan terlebih dahulu antara hubungan kalian. Bukan begitu kan Bu." Dul Hamid memandang istrinya.
"Betul dengan apa yang di katakan Bapakmu nak!, yang ibu takutkan, jika tidak ada kejelasan. Penolakan lah yang akan kamu dapatkan." Syarifah menasihati Adien.
__ADS_1
"Sudah, sudah!. Kamu pulang sendiri apa sama John? Dul Hamid bertanya.
"Kita berlima Pak, Bu." Adien menatap Dul Hamid dan beralih pada Syarifah.
"Berlima?, siapa saja Dien?" Syarifah yang merasa penasaran.
"Tentunya, aku, John dan calon istri bersama anak dan calon mertuanya.
"Istri bersama anak? Dul Hamid yang belum paham.
"I ya, Pak. Calon istrinya John telah memilik satu anak laki laki." jelasnya.
"Terus, kapan mereka akan kesini Dien." tanya Syarifah.
Ponsel bergetar menjeda pembicaraan ketiga orang dewasa tersebut.
"Sebentar, Pak, Bu." Adien membuka pesan di ponsel dan membacanya.
Adien menggangguk setelah membaca isi pesan tersebut.
"Ini Pak, Bu." Adien memperlihatkan isi pesan di ponselnya kepada kedua orang tuanya.
Mereka berdua mengangguk paham dengan isi pesan yang tertulisnya.
"Bu, tolong. Siapkan masakan yang enak untuk menyambut mereka!" titahnya pada Syarifah.
"I ya, Pak." Syarifah bangun dari tempat duduknya dan berlalu pergi.
"Bapak, mau mandi dulu Dien." Dul Hamid berlalu pergi.
__ADS_1
Sedangkan Adien lebih memilih tidur di kursi panjang, yang selama ini ia rindukan.
Sementara di lain tempat, Syarifah terlihat sedang berbelanja kebutuhan dapurnya, di warung Bang Leo yang terkenal akan paling lengkap di daerah tersebut.
"Bu Ifah tumben, belanja besar besaran." Leo memulai percakapanya.
"I ya, Bang Leo. Anak saya baru pulang, makannya saya sedikit melengkapi stock yang kurang." jawabnya.
"Anak Ibu yang tampan itu bukan?, John kan namanya." Ibu welly yang baru datang dan tak sengaja mendengar pembicaraanya.
Syarifah tertawa melihat Welly teman sekolahnya dulu.
"I ya, Bu Welly. Adien dan John baru sampai tadi pagi di sini." jawabnya.
"John ikut pulang bersama juga?" tanya Welly yang mendapat angin segar untuk keponakanya.
"I ya, Bu. Di sana mereka bekerja di tempat yang sama. Jadi, pulang pun sama sama." Syarifah asik tertawa sambil memilih milih barang yang akan di belinya.
Setelah semua di rasa lengkap, syarifah memberikan belanjaanya pada Bang Leo, untuk di hitung keseluruhanya.
"Jadi semuanya 500 ribu saja, Bu ifah." leo yang baru selesai berkutat dengan kalkulatornya.
Syarifah memberikan uang 5 lembar seratus ribuan kepada Bang Leo, tapi Bang Leo tiba tiba mengembalikanya satu lembar.
"Loh, katanya 500 ribu bang. Kenapa di kembalikan pada saya?" Syarifah yang bingung dengan cara hitung Bang Leo.
"Itu discount dari saya untuk Bu ifah." Leo menjelaskan.
"Tapi ini kebanyakan Bang." Syarifah yang merasa tidak enak.
__ADS_1
"Bu Syarifah lupa ya!, Babang Leo Horrranggg kaya." Leo merapikan penampilan dan membanggakan dirinya.
Syarifah dan Welly tertawa terbahak pada kebiasaan bang Leo yang selalu memuji dirinya sendiri.