LUSIANA MENCARI CINTA

LUSIANA MENCARI CINTA
KEPULANGAN SULTAN


__ADS_3

BACK TO TRULLY STORY.


Setelah mendengar paparan kisah yang telah di ceritakan John, Jumira dan Lusiana tak menyadari telah membuat Area taman dimana mereka terduduk, telah penuh sampah tissue bekas mengelap air mata mereka.


Sang Sultan pun hanya bisa tertawa, melihat kelucuan dari kedua wanita dewasa tersebut.


Karena waktu yang tidak memungkinkan, Sang Sultan pun bangun dari tempat duduknya, setelah cukup lama terduduk sambil mendengarkan kisah cerita kehidupan John.


"John, maafkan aku. Sebenarnya aku masih merindukan tanah Indonesia, tetapi pekerjaan telah menantiku disana." ucap Sultan sambil menepuk pundak John.


John pun memeluk Kakak angkatnya, berat rasanya harus berpisah kembali dengan orang yang sangat di sayanginya.


"Baiklah, jaga dirimu baik-baik disana ya Sultan." ucap John di sela sela perpisahannya dengan sang Sultan.


"Jaga juga kesehatanmu disini John, segerakanlah pernikahanmu dengan Lusiana." saran sang Sultan padanya.


Lusiana yang mendengarnya wajahnya kini memerah seperti kepiting rebus. John yang menyadari akan hal itu hanya tersenyum.


"Baiklah, akan aku usahakan itu." jawabnya.


Sultan pun berlalu pergi meninggalkan mereka, hanya John dan Adien yang ikut mengantarkanya ke bandara.


"Hallo," sapa John pada seorang via ponselnya.


"I ya, Bos." jawab lawan bicaranya.


"Segera, kau siapkan Jet pribadi untuk mengantar Sultan ke Arab!" titahnya yang tidak bisa di bantah pada lawan bicaranya.


"Siap Bos, laksanakan." jawab tegasnya.


"Good, pastikan Sultan selamat sampai tujuan!, pastikan tak ada satu lalat pun yang mengganggu perjalanannya!" tandas John padanya sambil menutup pembicaraanya.


Setelah mendapat tugasnya, sang anak buah pun sibuk, menyiapkan jet pribadi untuk mengantarkan sang Sultan sampai pada kediamannya.


"Go..Go..Go.." titah Conan yang tiada lain dan tiada bukan sebagai orang terpercaya kedua setelah Adien.


Tak butuh waktu lama, Kini Jet pribadi milik seorang pemuda berwajah tampan itu pun kini telah siap pada posisi siap meluncur di bandara.

__ADS_1


Sementara di lain tempat Adien hanya menggelengkan kepalanya, melihat John yang kini wibawanya berimbang dengan ketampanannya.


Di lain tempat, tepatnya di kediaman John. Lusiana sedang sibuk membereskan bekas acara penyambutan sang Sultan.


"Nyonya, nyonya sudah duduk manis saja.!" saran halus dari ketua pelayan.


"Tidak apa-apa, ini tugas kita bersama. Betulkan." ucap Lusiana dengan sedikit penekanan.


"I ya nyonya, tapi..tapi." ucapnya sambil meragu.


"Kenapa, takut di pecat?, tak akan ada yang memecatmu. Jadi kau tak usah takut!" tandas Lusiana.


Sang pelayan pun bingung, jurus apalagi yang harus di gunakanya untuk menghentikan Lusiana dalam pekerjaannya.


Terlihat Juna berlari lari kecil sambil menangis mencari keberadaan Ibunya, ketua Pelayan yang mengetahui akan hal itu pun, segera memanfaatkan moment tersebut.


"Nyonya, sepertinya tuan muda Juna menangis, lihat itu." ucap pelayan. Seraya menunjuk ke arah Juna yang sedang berlari ke arah Lusiana.


"Baiklah, kau lanjutkan pekerjaannya." titah Lusi, sambil menghampiri Juna yang sedang menangis.


Akhirnya sang ketua pelayan tersebut bisa bernafas dengan lega.


"Mamama...papapa" celoteh Juna sambil mencium pipi Lusiana.


"Papanya belum datang sayang," jawabnya terus menghujani Juna dengan ciuman.


Seketika Juna memukul mukul kecil muka Lusiana dengan wajah yang memerah dan akan menangis kembali.


Waduh, gimana ini?, apa aku harus menghubungi John, oh tidak, nanti yang ada malah mengganggu lagi.


PLEK..


Satu tamparan kecil dari Juna menyadarkan Lusiana yang termenung sesaat.


"I ya, sebentar lagi papa pulang ya. Jadi Juna tunggu ya." rayu Lusiana.


Pemikiran anak kecil, mungkin tak bisa di samakan dengan pemikiran orang dewasa. Ketika dia minta sesuatu, Pastilah harus saat itu juga kabulkan. Begitu pun dengan Juna, dia tak henti-hentinya merengek sambil menangis ingin bertemu dengan calon ayahnya.

__ADS_1


Suara ponsel pun memecah dan menghentikan tangisan Juna, setelah di lihatnya ternyata itu sebuah panggilan video call dari John kepada Lusi.


"Papa nelpon, Juna jangan nangis lagi ya." ucap Lusi sambil mengusap air mata anaknya.


Lusi pun segera menggeserkan menu hijau pada layar ponselnya.


"Hallo," sapa Lusi sambil melambaikan tangan Juna agar terlihat oleh John.


"Hei, anak tampan. Sudah bangun Bobonya?" tanya John pada Juna.


"Sudah papa, Juna sudah bangun." ucap Lusi yang menirukan suara anak kecilnya.


"Ha..ha..ha," John tertawa mendengar Lusi menirukan suara anaknya.


"Kenapa, lucu ya?," tanya Lusi pada John.


"Tidak, aku hanya kangen saja padamu." ucap John sambil tersenyum menggoda Lusi.


Wajah Lusi pun memerah mendengar John mengungkap rasa kangennya.


"I ya, aku dengan Juna juga kangen." jawab Lusi.


"Nanti malam aku minta ya." rayu John.


"Minta apa?" tanya Lusi yang masih belum mengerti.


"Minta, itu..tu." jawab John sambil menyentuh ujung jarinya pada mulutnya.


"Gak..gak..gak, pokoknya nggak." tolak Lusi dengan mimik muka makin memerah.


"Kok, gitu sih. Galak amat, orang cantik gak boleh marah loh." tandas John.


"Lagian dusun ngomongnya, sudah tahu ada Juna di sampingku." jawab Lusi sambil mencium pipi kiri Juna.


John hanya terdiam, greget di hatinya makin menggebu.


Kenapa Juna doang yang dapat ciumannya, aku juga kan pengen

__ADS_1


"Baiklah, aku akan segera sampai 30 menit lagi." ucap John mengakhiri obrolannya.


"Ok, sayang hati hati." jawab Lusi sambil melambai lambaikan tangan Juna mengakhiri panggilan video call ya.


__ADS_2