
Jumira yang kaget dengan sesuatu yang mengeras di bagian bawah Robert dan menempel di bagian pahanya, dia langsung memutuskan mundur dan melepaskan pelukanya.
"Maaf, Jum. Saya tidak sengaja." ucap Robert yang menyadari kesalahannya pada Jumira.
"I ya, mas." Jumira menunduk malu.
"Jum, apa kamu tidak ingin membuatkan mas Robert segelaa kopi?" Robert berbasa basi menghilangkan kecanggungan antara mereka.
Jumira mendongak dan terkekeh memandang wajah polos Robert.
"Maaf, aku lupa mas. Ayo kita ke rumah." ajak Jumira yang langsung menggandeng tangan Robert.
"Rumah?" Robert menahan langkah Jumira.
"I ya, mas. Rumah aku lah dan bukan rumah kontrakan." jawab Jumira sambil melangkah menggandeng Robert.
Robert tersenyum merasa senang hari ini, dan itu bisa rasakan Jumira sendiri.
"Memang mas Robert pikir rumah apa tadi?" tanya Jumira yang melihat Robert selalu tersenyum sendiri.
Robert menghentikan langkah dan kembali memeluk Jumira.
"Mas Robert pikir, tadinya itu Rumah ... tangga kita berdua." jawab Robert yang sukses membuat Jumira meleleh.
"Ah, mas Robert bisa saja." Jumira membalas pelukan Robert.
"Ya sudah, yuk buruan kita ke rumah." ajak Jumira yang melihat suasana kini berubah menjadi sore yang gelap karena mendung.
Robert mengangguk dan berjalan dari samping sambil bergandengan dengan Jumira.
Di depan toko Agen pupuknya, Jumira melepas genggaman tangan Robert, dia tak mau pamer kemesraaan di depan kedua karyawanya.
"O ya, Tokonya di tutup saja." titah Jumira pada kedua karyawanya.
Kedua karyawan langsung mengerjakan apa yang di perintahkan Jumira pada mereka. Dan setelah selesai mereka memohon izin pamit pulang.
"Masuk, mas." ajak Jumira pada Robert.
Robert mengangguk dan mengikuti Jumira dari belakang masuk ke rumahnya.
Di dalam ruang tamu Jumira mempersilahkan Robert untuk duduk dan menunggu dirinya membuatka kopi hitam kesukaan Robert.
Sambil menunggu Jumira selesai dengan membuat kopinya, Robert memilih berdiri dan melihat lihat foto yang terpajang di dinding ruang tamu.
"lucu sekali." Robert tersenyum melihat foto Lusiana semasa kecil dengan pipinya yang tembem.
"Mas, kopinya." Jumira yang baru datang di menyimpan kopi di meja ruang tamunya.
Robert berbalik dan memandang Jumira sambil tersenyum.
"Terima kasih." Robert kembali duduk di kursi ruang tamu.
"Memang tadi Lihat apa, mas?" tanya Jumira sambil melihat Robert yang menikmati kopinya.
Robert sejenak menyimpan gelas kopi sebelum menjawab pertanyaan Jumira.
"Itu foto Lusiana umur berapa?" tanya Robert dengan yang menunjuk ke arah foto Lusiana.
Jumira memandang mengikuti kemana arah Robert menunjuk.
"Ouwh, itu mas. Itu kurang lebih Lusiana ketika berumur 4 tahunan lah." jawab Jumira dengan raut muka yang tiba tiba berubah menjadi sedih.
"Kamu kenapa Jum, kok wajahmu tiba tiba bersedih?" tanya Robert yang merasa heran.
__ADS_1
"Karena di usia Lusi itulah, Ayahnya mulai sakit sakitan dan dan akhirnya meninggal." Jumira mengupas sedikit masa lalunya.
Jumira menceritakan kehidupan pahitnya, berjuang menghidupi dirinya dan Lusiana yang masih kecil hingga memutuskan dirinya untuk tidak akan menikah lagi.
"Apaaa ..., jadi selama itu kah kau hidup tanpa bantuan seorang lelaki?" Robert yang kaget sekaligus kagum pada Jumira.
Lama berbincang akhirnya waktu telah masuk maghrib. Dan Robert memutuskan untuk pamit pulang.
"Mas, apa tidak sebaikanya besok saja?" tanya Jumira yang merasa cemas bila Robert melakukan perjalanan malam.
Robert berpikir dengan apa yang di ucapkan Jumira padanya, memang ada benarnya juga.
"Jum, tapi kita berdua belum menikah. Mas Robert takut nanti warga menggrebek kita." ucap Robert.
"Bagaimana kalau kita lapor pada Pak RT terlebih dahulu?" saran Jumira.
"Ide bagus, tamu harus lapor 1x24jam, sekalian mas Robert juga pengen beli boxer, mas Robert gak bawa baju ganti." ucap Robert pada Jumira.
Tak ingin membuaang waktu lagi, Robert mengajak Jumira untuk mencari pakaian ganti di pasar tradisional, sekaligus mengisi perutnya yang masih kosong dan terasa lapar.
Selesai dari acara mencari pakaian gantinya, Jumira mengajak Robert untuk berbelanja Gula dan kopi berikut 2 bungkus rokok, untuk di bawa dan di berikan nanti ketika mereka menemui Pak RT.
Selesai belanja, mereka berdua lebih memilih berjalan kaki menuju rumah Pak RT dan meninggalkan mobilnya di depan rumah Jumira.
Sesampai di rumah Pak RT setempat, Jumira memperkenalkan Robert calon suaminya, dia menjelaskan pula bahwa calon suaminya tidak bisa pulang sekarang, di karenakan jarak yang sangat jauh di luar kota sana.
Sambil mengelus janggut, Pak RT memandang wajah Robert yang ia rasa, Robert tak mungkin berlaku macam seperti mencuri dan sebagainya.
"Baiklah, silahkan anda beristirahat di tempat Ibu Jumira, dengan catatan jangan tidur bersama." ucap Pak RT.
"Siap Pak RT." Robert mengangguk dengan mantap.
Setelah di rasa selesai, akhirnya Jumira menyerahkan gula kopi berikut rokoknya untuk sekedar ucapan terima kasihnya.
Terlintas di dalam pikiranya untuk keinginanya membuka lapangan pekerjaan untuk mengurangi pengangguran warga di daerah desa tersebut.
Di dalam rumah, Robert meminta izin pada Jumira untuk numpang mandi dan meminjam handuknya.
Jumira meminta pakaian kotor yang telah di pakai Robert agar langsung bisa di cuci dan di keringkan.
Dengan tubuh yang hanya berlilitkan handuk, Robert menyerahkan pakain kotornya pada jumira untuk di cuci.
Jumira sedikit terpukau melihat perut Robert yang seperti roti sobek dengan dada yang besar bak bina raga.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu, Jum?" goda Robert.
Jumira menunduk malu menatap tubuh kekar Robert.
"Tidak apa apa, mas." Jumira berlalu meninggalkan Robert.
Namun baru beberapa langkah, Robert langsung memeluk Jumira dari belakang sambil mencium lehernya.
Jelas sentuhan itu membuat Jumira merasa kaget dan merinding di buatnya.
Robert membalikan Jumira dan melempar baju kotor yang masih di pegang Jumira ke sembarang arah.
Robert memeluk dan membenamkan bibirnya di bibir Jumira. Jumira yang hanya diam dan pasrah menerima sentuhan lembut yang sudah lama ia inginkan.
Robert dengan lahap menyesap Bibir Jumira tanpa ampun dan meninggalkan bekas ke pemilikan di leher Jumira.
Robert melepas Jumira yang sudah melenguh dan tak melanjutkan nafsu birahinya.
"Maaf, Jum. Kau terlalu cantik, dan membuatku terbawa suasana." Robert pergi berlalu menuju kamar mandi.
__ADS_1
Jumira masih berdiri dengan kaki dan tubuh yang masih bergetar hebat akibat sentuhan sang kumbang yang buas mencercap dirinya.
Selesai dengan ritual mandinya, Robert kini sudah berganti, dengan baju dan kolor pendek yang ia beli di pasar bersama Jumira tadi.
Rumah yang hanya memiliki 2 kamar dan satu kamar pun telah di jadikan gudang tempat penyimpanan pupuk oleh Jumira.
Dan apa boleh buat, mau tidak mau. Robert harus tidur di sofa ruang tamu.
Sebelum tidur Robert memasang alarm di handphonenya. Dia membetulkan posisi bantal dan menarik selimut yang telah di berikan Jumira sebelumnya.
Malam itu hujan deras bercampur angin yang kencang menyebabkan pihak PLN memutuskan jaringa listriknya, dan jelas itu membuat suasana desa menjadi gelap gulita.
Jumira merasa tidak nyaman dengan kipas anginya yang tiba tiba mati karena tak ada listrik. Dirinya memutuskan untuk keluar dari kamar untuk minum dan melihat Robert yang tidur di ruang tamu.
Selesai dengan minum, Jumira menghampiri Robert yang tidur dengan posisi menutup seluruh dirinya dengan selimut.
Jumira Menyibak sedikit selimut untuk sekedar melihat wajah Robert ketika tidur.
Namun naas, Jumira salah menebak posisi kepala Robert karena suasana gelap. Dirinya malah Menyibak selimut yang menutupi bagian bawah yang tadinya ia kira adalah bagian atas.
Jumira mencoba menyentuh dan merabanya, tapi sesuatu berbeda ia rasakan setelah ia memegang dan merabanya.
Jumira memalingkan pandangan ke meja, dan ia menemukan handphone Robert dan meraihnya.
Ponsel Robert kebetulan tidak dalam posisi terkunci password, dan itu memudahkan Jumira dalam mencari dan menghidupkan senter Hp Robert.
Setelah menyala, ia langsung mengarahkan cahaya handphonenya ke arah sesuatu yang tadi membuat ia penasaran.
"Oh, tuhan. Ini pentungan apa alat reproduksi?" ucapan itu terdengar jelas di telinga Robert yang sedari tadi sebenarnya sudah terbangun dan menahan tawanya.
Gede panjang dan warnanya hitam menakutkan , bahkan saking panjangnya, bagian kepalanya sampe muncul dari permukan kolor yang di gunakan mas Robert.
Jumira langsung mematikan senter dan membenarkan kembali selimutnya.
Baru saja ia berdiri berniat pergi, Robert dengan cepat membuka selimut yang menutupi wajahnya. Ia menarik tangan Jumira hingga ia terjatuh dalam pelukan Robert.
"Setelah kau membangunkan macan yang sedang tertidur, apa kau pikir kau bisa pergi begitu saja." Robert mengunci Jumira dalam pelukanya sambil tersenyum penuh kelicikan.
"Jangan mas," Jumira mencoba berontak ketika Robert terus menciumi lehernya.
Sebenarnya Jumira sudah memberontak sambil berteriak, namun hujan deras membuat semua itu tak berarti.
Robert kalaf, nafsu birahi sudah menguasai diri dan akal sehatnya. Dirinya terus menghujani Jumira dengan ciuman di sekujur tubuhnya.
Robert terus menghisap bukit kembar hingga membuat si pemilik melenguh glinjangan. Robert yang merasa Jumira sudah terbakar gelora asmara, seketika membuang celana bagian bawah dan melemparkanya ke sembarang Arah.
"Jangan mas, aku mohon." Jumira ketakutan melihat sesuatu yang menggantung diantara perut dan lutut Robert.
"Bhua..ha..ha, jangan apa?, jangan nolak maksudnya." Robert tertawa dan berhasil mengungkung Jumira.
Robert dengan perlahan membenamkan senjata pamungkasnya ke dalam area ke wanita an Jumira hingga menembus pangkalnya.
Dan itu semua sukses membuat Jumira membulatkan mata dan sedikit merasa engap di bagian pernapasanya.
Robert terus menggenjot dan memompanya, hingga Jumira terguncan dan bergetar hebat di buatnya.
Usia boleh tua tetapi tidak untuk semangat dan stamina Robert. Dia terus menghentak hentakan pinggulnya selama 45 menit tanpa jeda dan spasi. Membuat Jumira terbang melayang jauh ke alam nirwana.
Mendekati di season akhir, Robert bergetar hebat dengan volume yang semakin cepat.
Robert terkulai lemas sambil memeluk Jumira setelah sukses melakukan pelepasan dan penggabungan Vanila cream dan caramel di rahim Jumira.
HA.. HA.. HA,
__ADS_1
Soryy author pngen ngakak bayangin ekspresi kalian yang panas dingin dalam membacanya.