
Setelah mendapatkan apa yang di carinya, John kini memutuskan untuk kembali kerumah dan menyiapkan segala sesuatunya untuk di bawa kembali ke tanah air.
"Hufffff." John mengbuang nafas dengan kasar sambil menyenderkan diri di sofa rumah.
"Gila bener tu cewek, hampir saja aku tewas di buatnya." seraya mengusap mukanya dengan kasar.
Karena saking lelahnya dari acara belanja oleh olehnya, John kini tertidur di kamarnya.
Sementara itu di lain tempat dan di negara yang berbeda, Suminah terlihat sedang mengkompres kepala Dirmo. I ya, sudah beberapa bulan terakhir ini, Dirmo sering mondar mandir keluar masuk Rumah sakit di karenakan kesehatanya yang kurang stabil.
"Bu, bagaimana kabar Jono, Bapak kangen cucu Bapak," ucapnya sambil terbatuk batuk.
"Jono baik baik saja Pak, kemarin dia nelpon." jawabnya sambil memeras handuk yang sudah di celupkanya dalam air hangat.
"terus, apa ibu bilang kabar Bapak seperti pada Jono?" tanya Dirmo yang mulai bangkit dan mencoba duduk di tempat tidurnya.
"Ya enggak lah Pak, kemarin yang angkat telp Adien." jawab Suminah sambil memijat mijat kaki Dirmo.
"Bagus Bu, Bapak tidak mau konsentrasi Jono terganggu akibat mengetahui dan memikirkan keadaan Bapak." ucapnya sambil kembali menidurkan badanya pada posisi semula.
"Tapi jujur Pak, Ibu kangen sekali dengan Jono. Sepuluh tahun sudah dia hanya memberi kabar tanpa pulang bertemu kita." ucap Suminah sambil meneteskan air matanya.
"I ya, Bu. Bapak paham dan mengerti perasaan Ibu saat ini." ucap Dirmo mencoba menenangkan hati Suminah yang seorang bersedih.
Jon, pulang kesini nak, nenek kangen sekali padamu. Kakekmu sekarang sudah tua dan sering sakit sakitan.
__ADS_1
"Bu, kenapa melamun?" tanya Dirmo pada Suminah.
Suminah segera mengusap airmata yang jatuh di pipi dengan telapak tanganya.
"Gak apa apa Pak, Ibu cuma kepikiran Jono saja." seraya bangun dari tempat tidurnya dan mengambil baskom yang berisi air hangat dan membawanya ke belakang.
Sejenak Dirmo terdiam melihat Suminah yang berlalu pergi dan menundukan kepalanya.
"Ya Alloh, janganlah kau cabut nyawaku terlalu cepat. Izinkanlah hamba bertemu dengan cucu hamba." Doanya yang terucap pada lubuk hatinya yang paling dalam.
Krinkk.. krinkk…
Suara alarm berbunyi, memecah keheningan di sebuah rumah yang begitu besar.
John terkesiap dan melihat Jam yang berada pada nakasnya menunjukan tepat jam 7 malam.
Di kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang terlilit di pingganya, John bercermin dan memperhatikan mukanya yang merah tepat pada bagian pipi kiri dan kanannya.
"Dasar emak emak genit, pipiku jadi merah seperti ini." seraya mengusap pipinya yang terlihat merah, bekas cubitan cubitan kaum hawa yang merasa gemas padanya ketika berbelanja tadi siang.
"Mandi lah." ucapnya sambil bergegas masuk dan menyalakan showernya.
Setelah acara mandinya selesai, John langsung menggunakan costume yang telah ia siapkan sebelumnya.
Dengan sedikit semprotan bodyspray aroma maskulin, John memutar tubuhnya di depan cermin, sambil bernyanyi kecil John mengunakan costume yang telah ia pilih sebelumnya.
__ADS_1
"Taraaaaa… ," John kembali berputar di depan cermin.
Di rasa telah rapih dan wangi, kini John siap berangkat untuk meluncur ke bandara. Tapi sebelum berangkat, terdiam sambil menatap barang barang yang akan di bawanya.
"Hp udah, baju udah juga, oleh oleh sudah juga." pikirnya Sejenak sambil mendekat ke arah cermin.
Sejenak John kembali memperhatikan mukanya yang ganteng tingkat Max.Sambil merapikan rambutnya John tersenyum di depan cermin.
"Gak nyangka, ternyata gua emang ganteng brayyy, ganteng level dewa, dan tidak tertolong lagi ha.. ha.. ha." ucapnya sambil tertawa di depan cermin.
Pantas, emak emak di mall tadi ampe rela gulet ma gadis gadis, cuma untuk nyubit pipi gua. Dah lah bisa telat gua ntar.
John berlalu keluar dari kamarnya dan menuju luar rumahnya. Di luar rumah John sudah di sambut oleh Sultan dan beberapa utusan dari sang Raja Arab.
"John, berhati-hatilah. Jaga dirimu baik-baik disana." ucap sang Sultan sambil memeluk John.
"I ya, jaga dirimu juga. Aku akan selalu merindukanmu." jawabnya sambil melepas pelukan sang Sultan.
"Tentunya." ucap sang Sultan sambil memegang pundak John.
"O ya, sampaikan salamku pada Baginda Raja." ucap John sambil masuk ke dalam mobilnya.
"Baiklah, aku akan sampaikan salammu padanya." Seraya melakukan salam panco.
"Supir, antarkan John sampai bandara dan jangan kau pulang sebelum ia terbang dengan pesawatnya. Dan kalian pengawal jaga keamanan John, dan jangan biarkan lalat kecil pun mendekat padanya. Kalian paham!" titah sang Sultan yang tak bisa di bantah
__ADS_1
"Siap, Sultan. Laksanakan." jawabnya secara bersamaan dengan menundukan kepalanya pada Sultan.