LUSIANA MENCARI CINTA

LUSIANA MENCARI CINTA
TAK ADA YANG SIA SIA


__ADS_3

Sepanjang acara makan, tak hentinya Dyah memandang kagum kepada John. Dan itu benar benar membuat hati Adien sakit bagai teriris sembilu.


Acara makan besar alhamdulillah berjalan khidmat, mereka semua terlihat puas dengan apa yang telah di suguhkan Dul Hamid dan istrinya.


"Hi John, bagaimana kabarmu?" Dyah mengawali percakapanya.


"Alhamdulillah aku baik," John menjawab dengan tersenyum.


"John bagaimana kalau malam ini kita jalan jalan?" Dyah terlihat bersemangat.


"Jalan jalan?" tanya lagi John pada Dyah.


"I ya, Jalan jalan. Kita berdua kan sudah lama tidak pernah jalan bersama lagi." Dyah mengingatkan John.


John memandang Adien yang terlihat kecewa terhadapnya, dan beralih memandang Lusi yang sudah mengerutkan wajah padanya.


"Maaf, Dyah. Sepertinya aku tidak bisa." John menolak secara halus.


"Oh ya Dyah, aku ingin memperkenalkan seseorang padamu." John menarik lembut tangan Lusi yang terlihat sedikit emosi.


"Siapa dia John?, tanya Dyah yang melihat John merangkul pinggang Lusi.


Dyah menutup mulutnya yang ternganga dengan tangan, dia menggeleng tak percaya.


"John jangan bilang, kalau dia kekasihmu." Dyah meminta kepasatian yang di balas anggukan positif oleh John.


Dyah seketika berlari keluar meninggalkan seluruh orang disitu. Dia menangsi tak percaya dengab semua ini.


"Maaf, maafkan anak saya Pak." Robert yang merasa tidak enak pada seluruh orang disitu.


"Kalau begitu saya permisi dulu." Robert dan Welly pamit, untuk mengejar Dyah.


"Dien, apakah kamu berdiam diri seperti patung disitu!, cepat kejar dia!" titah John pada Adien.


Adien mengangguk ia tersenyum penuh harapan baru.


Baru saja Adien melangkah, akan tetapi John langsung memegang pundaknya.

__ADS_1


"Apalagi sih John," Adien yang tidak sabaran.


"Inilah saatnya kau ambil hatinya!, Ayo kamu bisa." John melepas genggaman tanganya.


"Ok." Adien berlari keluar dari rumahnya mengejar ketertinggalanya.


Ia berlari sekencanng kencangnya. Melewati Welly dan Robert. Hingga Adien berhenti di sebuah pohon ambon yang besar.


Perlahan Adien menghampiri Dyah yang sedang menangis, dan ia coba memegang pundaknya.


Dyah berbalik memeluk Adien, dan menangis sekencanng kencangnya di pelukan orang yang selalu setia menunggu cintanya.


Adien membalas pelukanya sambil mengusap punggung Dyah.


"Adien melepas pelukan, memegang kedua bahu Dyah dan menatap wajahnya.


"Sudah Dyah, hentikan tangisanmu." Adien mengusap air mata dan kembali memeluknya.


"Dyah, apa kau tahu, betapa sakitnya aku ketika aku melihatmu menangis seperti ini." Adien mencium kening Dyah.


"Dyah, jangan menangis lagi!, kau berhak mendapat kebahagiaan lain untuk dirimu." Adien menarik tangan dan menempelkan pada dadanya.


Adien mengajak Diah duduk bersandar di bawah pohon ambon besar. Sejenak mereka terdiam dengan kejadian yang baru saja mereka alami.


"Dyah, bisakah kau lihat bintang itu." Adien menunjuk dengan tanganya.


"I ya, " Dyah yang telah melihat bintang yang di tunjuk Adien.


" Bintang itu cantik, tapi kecantikanya tetap kalah olehmu." Adien menggoda Dyah.


"Apaan sih kamu itu Dien." Dyah malu dan menyembunyikan wajah di tangan Adien.


Adien kembali mencium kening Dyah, dan memeluknya. Kali ini cinta Adien tidak bertepuk sebelah tangan.


Suasana dingin membuat Dyah makin mengeratkan pelukan di tubuh Adien, Adien membalas kembali pelukan Dyah.


"Terima kasih Dyah." ucap Adien.

__ADS_1


Dyah melepas pelukanya dan memandang wajah Adien.


"Terima kasih untuk apa?" tanya Dyah yang belum mengerti.


"Terima kasih, kau telah memberikan separuh nyawaku yang telah lama hilang." Adien tersenyum.


"ngomong apa sih kamu itu." Dyah mencubit perut Adien pelan.


Perlahan mereka saling beradu pandang, makin mendekat dan terus mendekat. Hingga hidung mereka saling bersentuhan.


Rona merah makin terlihat jelas di wajah mereka berdua. Entah setan mana yang telah merasuki mereka, Adien dengan cepat membenamkan bibirnya pada bibir Dyah.


Dyah terus memundurkan kepalanya, akan tetapi Adien langsung menahan tengkuk dan memperdalam ciumanya.


Mereka tak nenyadari bahwa Robert dan Welly baru saja sampai di tempat itu.


Welly merasa kaget telah di suguhkan tontonan romantis drama korea.


"Bang, bang Robert." Panggil Welly dengan melirihkan suara agar tak terdengar oleh Dyah dan adien.


Robert hanya memberikan isyarat tutup mulut pada Welly agar tetap fokus dan mengintip kedua pasangan yang sedang di mabuk asmara itu.


Dyah yang tidak begitu pandai dalam bidang goyang lidah, hanya menerima dan mengikuti kemana Adien membawa alur permainanya.


Adien semakin memperdalam permainanya, ia menarik ulur lidah Dyah dan mengabsen seluruh gigi putihnya. Berpindah pada serangan terakhir, Adien menyerang jenjang leher Dyah hingga membuat ia mekenguh, dan meninggalkan bekas kepemilikan di leher putihnya.


Adien menghentikan actionya, dia memeluk dan mengajak Dyah untuk segera pulang.


Robert dan Welly langsung menyembunyikan dirinya di balik batu besar, agar keberadaanya tidak di ketahui oleh Adien dan Dyah.


"Ayo kita pulang." Adien menggenggam tangan Dyah sambil berlalu pergi.


"Bang, gak nyangka Welly." Welly menggeleng kepala menatap Robert.


"Gak nyangka gimana maksudnya?" Robert yang belum paham.


"Ituloh, Dyah ha..ha.ha." Welly tertawa.

__ADS_1


"Udah ayo kita balik." ajak Robert.


Mereka berdua berlalu pergi


__ADS_2