LUSIANA MENCARI CINTA

LUSIANA MENCARI CINTA
KEMATIAN SUJARWO


__ADS_3

Setelah mendengar apa yang telah di sampaikan sang Dokter, Suminah tak henti hentinya menangis sambil memeluk Jono.


"Sing sabar Bu. " ucap Dirmo sambil mengusap pundak Suminah.


Sang Kepala sekolah perlahan menghampiri Dirmo yang masih terlihat murung dan sedih.


"Pak Dirmo, maaf kami tidak bisa lama lama, kami undur pamit, " ucapnya Kepsek.


"I ya, Pak. Terima kasih sudah bersedia datang kesini menengok anak saya. " jawabnya pada kedua orang tersebut.


Beberapa jam kemudian Syarifah dan Dul Hamid pun pamit undur diri untuk pulang, kini hanya menyisakan Dirmo seorang, karena Suminah dan Jono ikut pulang bersama Dul Hamid dan Syarifah.


Di keheningannya, Dirmo teringat akan memori masa lampau, masa dimana Jarwo datang dengan nyali dan keberanian besar. Laksana marcopolo yang pemberani dan tangguh datang melamar putrinya minem, yang pada saat itu adalah seorang primadona atau kembang desa.


Kadang Dia tersenyum dalam tangis, kadang dia menangis di dalam senyuman.


"Ya alloh ya Tuhanku, berikanlah jalan yang terbaik untuk menantu terbaiku, jangan biarkan rasa sakit terus bersarang padanya. " ucap Dirmo dengan tetesan air mata yang terlihat jatuh kembali di pipinya.


Tak berselang lama munculah Dokter, memberitahukan bahwa keadaan Jarwo belum begitu membaik atau masih kritis. Dokter menyuruh agar Dirmo menunggu di dalam ruangan tanpa mengganggunya.


Beberapa jam kemudian Dirmo yang tadinya masih terlihat stand by menjaga Jarwo, kini sudah tertidur. Rasa lelah dan kantuk yang mendera sudah benar benar membuatnya tak berdaya.


"Pak, Bapak. " ucap seseorang sambil menggoyangkan badan Dirmo.


Tak berselang lama, Dirmo membuka matanya dan mencoba ingin mengetahui siapa gerangan yang membangunkan tidurnya.


"Nem, ini beneran kamu Nem?" tanya Dirmo yang masih sedikit tidak percaya dengan apa yang telah di lihatnya.


Dirmo masih mengucek ngucek matanya, sesekali dia menepuk nepuk pipinya, mencoba meyakinkan bahwa semua yang di lihatnya ini bukanlah mimpi belaka.


"I ya, ini aku Minem pak" tegasnya pada Dirmo.


Dirmo masih terdiam seribu bahasa, dengan teliti Dirmo memperhatikan anaknya yang kini terlihat berpakain dengan style ihrom laksana orang yang sedang beribadah haji.


"Pak, Minem minta maaf ya. Selama ini Minem dan mas Jarwo selalu bikin Bapak sama Ibu repot, " ucap Minem sambil memegang tangan Dirmo.


"Jangan bilang begitu Nem, kalian adalah anak bapak. " jawabnya pada Minem.


Tak hanya itu, kini Dirmo di kagetkan oleh sesosok pria tampan dengan muka berbinar dan mengeluarkan aura putih menyilaukan bagi siapa saja yang melihatnya.


Pria itu kini terlihat membungkukan dirinya tepat di depan Dirmo yang sedang duduk.


"Pak, maafkan Jarwo Pak. " ucapnya sambil melakukan sungkem pada Dirmo.


Jarwo meminta maaf bahwasannya, dia tak bisa memenuhi Janjinya untuk merawat Jono sampai dia besar dan sukses kelak.


"Pak, kita titip Jono, " ucapnya sambil menangis.


"I ya, nak. Bapak janji, bapak akan merawat Jono sampai besar nanti. "


Tak berselang lama Jarwo melihat Minem pergi terlebih dahulu meninggalkan Jarwo, sedang Jarwo kini kembali pada tempat tidurnya.


"Maaf pak, " ucap seorang suster yang mencoba membangunkan Dirmo yang tertidur.


Sontak Dirmo terkesiap dan bangun dari mimpi yang membuatnya terlena.


Ketika Dirmo bangun, dia di kagetkan dengan datangnya seorang baginda Raja Arab, yang telah duduk di samping Jarwo.


Sang Raja masih terlihat bersedih dengan keadaan yang menimpa Jarwo saat ini

__ADS_1


Perlahan Dirmo menghampiri Sang Baginda, dengan rasa ragu bercampur segan, dia memberanikan diri untuk mengawali percapakan.


"Asalamu alaikum ya Baginda Raja, " ucap Dirmo pada sang baginda.


"Wa'alaikum salam. " jawabnya pada Dirmo.


Sambil menunggu keadaan Jarwo membaik, mereka melakukan obrolan yang terlihat serius dan itu semua jelas terlihat, dari raut muka Dirmo sedikit tercengang dengan apa yang telah di katakan sang baginda raja.


Keadaan Jarwo yang semakin down membuat Dokter tdak berani melakukan washing blood atau yang biasa kita dengar cuci darah.Sehingga membuat tim medis hanya bisa berharap akan keadaan Jarwo makin membaik.


Rumah Sakit telah menyediakan tempat khusus untuk sang Baginda Raja beristirahat sambil menunggu kabar perkembangan Jarwo.


Walaupun keadaan Rumah sakit telah di sulap menjadi seperti sebuah hotel bintang lima, semua itu sepertinya terlihat sia sia karena sang baginda Raja tidak benar benar bisa menikmati, di kala sang kawan sedang sakit parah seperti itu.


Sebenarnya pihak Rumah Sakit sudah benar benar berupaya keras, tetapi semua itu kembali pada keputusan sang pencipta.


Di sepertiga malam sang baginda melakukan Tahajud, berdoa dan berharap kepada Alloh agar kawanya segera di angkat penyakitnya.


Ke esokan harinya, Jarwo telah sadar dan kondisinya lumayan membaik dari sebelumnya.


"Pak, pak. " panggilnya dengan lirih pada Dirmo.


Dirmo yang sudah terbangun ketika waktu subuh segera menghampiri Jarwo dan mendekatkan telinganya pada mulut Jarwo.


"Ada apa nak,?" tanya Dirmo pada Jarwo.


"Pak, saya ingin bertemu Jono sekarang. " pintanya kepada Dirmo.


"Baiklah, tunggu sebentar. Bapak akan menghubungi Ibumu sekarang. " jawabnya sambil mengeluarkan benda pipih dari dalam saku celananya.


Sementara sang Baginda Raja yang baru saja mendengar kabar bahwa sahabatnya telah sadar dengan kondisinya lumayan membaik, segera berlari keluar dari ruangan dan menuju ruangan di mana Jarwo berada.


"Wa.. wa'alaikum salam. " jawab Jarwo dengan suara terbata dan lirih.


Rasa persahabatan yang terikat begitu kuat, membuat sang Baginda langsung memeluk Jarwo yang posisi terduduk, bagai seorang saudara yang sudah lama sekali tak pernah bertemu.


"Wo, ente kudu kuat. Ana yaqin kamu pasti sembuh. "


Jarwo hanya bisa tersenyum dan dan bersyukur karena Alloh telah mengirim orang yang sangat baik untuk menjadi sahabat yang memiliki rasa saudara kandung.


Sementara di luar ruangan, Dirmo masih terlihat mondar mandir menunggu cucu dan istri yang telah di hubunginya.


Dirmo, masih mengingat mimpi yang rasanya begitu nyata itu, akan terjadi pada menantunya.


Tak berselang lama, akhirnya Suminah terlihat datang dengan cucunya menghampiri Dirmo yang sudah terlihat tak sabaranya itu.


"Ayo, Bu. Jon! " titahnya mengajak mereka agar segera menemui Jarwo di dalam.


Tak ingin membuang waktu, mereka segera bergegas, menuju ruangan Jarwo.


""Asalamu alaikum, " seru Dirmo dan Suminah ketika membuka pintu ruangannya Jarwo.


"Wa'alaikum salam. " Jawab sang baginda.


"Kebetulan ente ada disini semua, kemari! " titahnya pada Dirmo dan Suminah.


Setelah mereka benar benar duduk di samping Sang Baginda, akhirnya sang Baginda menjelaskan kembali akan niatnya mengambil atau mengadopsi Jono sebagai anak angkatnya untuk menemani putranya Sultan Abdullah.


"Ta.. pi.. tapi, " ucap Suminah.

__ADS_1


"Ini semua demi kebaikan Jono Bu" ucap Dirmo mencoba menimpalinya.


Jarwo masih terdiam, sesekali dia memalingkan pandanganya kepada Jono yang masih berada dekat dengan Suminah.


"Jon, kesini nak, Bapak kangen. " ucapnya pada Jono.


Jono seketika tersenyum tampan, dan melepas genggaman Suminah dan menghampiri Sujarwo.


"Sini, anak Bapak yang tampan. " ucapnya sambil mencoba menarik Jono untuk naik ke atas ranjangnya.


"Bapak, bapak. Lihat ini! " ucap Jono sambil memperlihatkan nilai raportnya kepada Jarwo.


"Wah… anak Bapak pinter sekali. " Jawab Jarwo sambil mencium pipi dan kencing anaknya.


Air mata terlihat jatuh tak tertahankan dari ketiga mata orang dewasa tersebut, suasana haru tercipta dari sebuah ikatan kuat antara Anak dan Bapaknya.


"Jon, nanti kamu ikut Papa raja ya!" titah Jarwo secara halus pada Jono.


"Jono masih pengen tinggal dengan Bapak, disini. " jawabnya tanpa pikir panjang.


"I ya, Jon. Nanti kalau Bapak sudah sembuh, Jon tinggal sama Bapak lagi disini, gimana?" rayunya kepada Jon.


Namun sebelum Jon menjawab permintaan Bapaknya, tiba tiba saja wajah Jarwo kembali memucat dengan keringat dingin memenuhi dahinya.


Cekrek….


Suara pintu terbuka dan masuklah seorang Dokter, yang terlihat akan memeriksa keadaan Jarwo.


Semua mata tertuju pada sang Dokter yang baru datang, akan tetapi beda dengan Jarwo. Dirinya malah melihat seseorang di belakang sang Dokter yang wajahnya terasa tidak asing baginya.


"Minem. " ucap Jarwo dengan pandangan tepat pada belakang Dokter.


Semua orang merasa heran pada Jarwo, karena pada kenyataanya sang Dokter yang masuk ke ruangannya itu sendirian tanpa di temani suster


Dirmo terdiam mencoba menganyam dengan mimpi yang semalam di alaminya, sambil meneteskan air mata kini Dirmo mulai memahami apa yang akan terjadi selanjutnya.


Dokter mencoba memeriksa keadaan mata Jarwo, akan tetapi Jarwo menolak dan meminta waktu sebentar pada sang Dokter untuk berbicara dengan seseorang di belakang Dokter yang hanya Jarwo saja yang bisa melihatnya.


Jarwo terlihat menggendong Jono dan berkomunikasi dengan seseorang yang tak bisa di lihat oleh orang-orang selain dirinya sendiri.


Setelah di rasa selesai dengan percakapanya, Jarwo kembali membaringkan tubuhnya. Dia meminta sang Baginda Raja Arab yang agung agar Sudi menuntunya membaca syahadat untuk yang terakhir kalinya.


Sang Raja langsung menuruti keinginan sahabatnya, dia berkali kali membaca kalimat syahadat pada telinga Jarwo.


Jarwo mulai menggenggam tangan Jono di sebelah kirinya, dan sang Raja di sebelah kananya.


Suara mengerang menahan sakit terdengar dari mulut Jarwo, Sesekali wajahnya tersenyum seakan Jarwo melihat sesuatu yang indah di depan matanya.


Sang Raja Arab tak bosan bosanya menuntun Jarwo agar mengucap syahadat.


"As.. as.. as.. ha.. du al la illa ha.. illa.. loh, " ucapnya denga kesulitan.


"Wa..as. hadu an.. na mu..hamada Rosululloh" ucap Jarwo sambil menghembuskan nafas yang terakhir.


Sang Dokter langsung memeriksa detak jantung dan urat nadi pada tanganya Jarwo.


"Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun" ucap sang Dokter sambil menundukan kepalanya.


Jono langsung berhambur dan memeluk sang Bapak, tak hentinya dia menciumi pipi dan kening Jarwo.

__ADS_1


"Bapak, bapak…. "teriak histeris Jono yang baru saja kehilangan Bapak tercintanya.


__ADS_2