LUSIANA MENCARI CINTA

LUSIANA MENCARI CINTA
KELUARGA ROBERT CHANIAGO


__ADS_3

Kabar datangnya John, dengan cepat sampai di telinga Dyah, wanita yang selalu menanti nanti kedatangannya.


"Yang benar tante!, tante Welly gak lagi bohong kan, atau coba menghibur Welly gitu?" Dyah dengan antusiasnya.


"Ya ampun Dyah, buat apa tante Bohong!, Bu Ifah sendiri yang bilang di toko Bang Leo sama tante." tegasnya.


"Kita kesana yuk, Tante." ajak Dyah.


"Sabar, gak sabaran bener ponakan cantik Tante ini." ucap Welly.


Dyah bangun dan turun dari tempat tidurnya.


"Terus kapan dong tante?" Dyah memeluk tangan Welly.


"bagaimana kalau sore saja, tadi Ibu ifah bilang mau masak besar besaran, menyambut kedatangan John dan Adien." Welly memberi Usul.


"Apa bedanya sekarang dengan Sore tante?" Diah yang belum mengerti dengan maksud Tante nya.


"Aduh Dyah, kamu itu cantik, tapi procesor kamu masih kaya pentium 3 saja" Welly menggeleng kepala heran.


Sementara Dyah masih berpikir dan belum mengerti juga.


"Dyah, dengerin ya!, Kalau nanti sore, keluarganya kan pasti berkumpul sambil makan besar gitu." Welly menjelaskan lebih detail.


Dyah melepas pelukan dan kini bertolak pinggang memandang tantenya.


"Halahhh, bilang aja tante mau ikut makan besar disana, i ya, kan?" Dyah telah mengerti maksud terselubung Tantenya.


"Husss, kamu itu. Kalau ngomong suka bener saja, ha..ha..ha." Welly tertawa lepas,melihat Dyah yang sudah merasa jengkel.


"Ada apa ini rame rame?" Robert yang baru datang.


"Ini loh Bang, Dyah.." ucapannya terhenti karena Dyah langsung membungkamnya dengan tangan.

__ADS_1


Robert hanya merasa heran, melihat kekonyolan Adik dan anaknya itu.


"Dyah kenapa Welly?" tanya lagi Robert.


"Gak ada apa apa, Pi. Serius gak ada apa apa kok." Dyah yang merasa malu dan masih membungkam Welly dengan tanganya.


Welly berhasil melepas bungkaman Dyah, dan ia segera berlindung di belakang Robert.


"Ini loh Bang," Welly masih kucing kucingan mengelilingi Robert, menghindari Dyah yang akan menangkapnya.


"Sudah, sudah!, hentikan." Robert memegang kepalanya merasa pusing.


Akhirnya mereka berhenti setelah Robert memberikan peringatan.


"Ceritakan pada Papi sayang, ada apa?, kenapa mesti malu." Robert merangkul anak semata wayangnya.


"Anu Pi, anu." Dyah menunduk malu.


"Welly, ceritakan padaku sekarang!" titahnya.


"Ouwh itu," Robert mengangguk paham.


"Lantas, dimana puncak permasalahanya?" tanya lagi Robert.


Welly memberitahukan rahasia Dyah pada Robert, jika Dyah memang menyukai John.


"Sekarang Papi mengerti Dyah. Ternyata anak Papi sedang kasmaran." Robert menggoda Dyah.


"Apaan sih Papi ini." Dyah bergelayut manja memeluk tangan Robert.


"Apa perlu Papi lamarkan John untukmu?" tanya lagi Robert.


"Ahhhh, Papi ini." Dyah makin merasa malu dan menyembunyikan wajahnya di bahu Robert.

__ADS_1


"Ya sudah, Papi mau tidur siang sebentar dulu." Robert berlalu menuju kamarnya.


"Cie..cie." Welly kembali menggoda Dyah.


"Awas loh tante," Dyah kembali mengejar ngejar Welly seperti Tom and Jerry.


Di dalam kamar Robert, terlihat Robert sedang berdiri memandang foto mendiang istrinya, yah istri yang sudah 15 tahun meninggalkanya.


Ia mengambil dan mengusap wajah mendiang istri dengan telunjuknya.


Mah, anak kita kini sudah dewasa. Sesuai janji Papi, Papi akan selalu menjaga dan menyayangi anak kita.


Mam... Papi sangat merindukanmu...


Air mata menetes membasahi tangan Robert. Robert terlalu mencintainya. Saking setianya, sampai saat ini Robert tidak mencari pengganti istrinya. Karena baginya, istrinya masih hidup dan selalu bersemayam di hati.


Dyah yang merasa lelah mengejar Tantenya, memutuskan berhenti. Ia mencari Ayahnya untuk mengajaknya makan siang.


Tok.. Tok.. Tok..


"Pi," panggil Dyah sambil mengetuk pintu kamar.


Merasa tak ada sahutan, akhirnya Dyah masuk untuk mengajak Ayahnya.


Di dalam kamar Robert, Dyah melihat Robert tertidur dengan posisi miring sambil memeluk foto mendiang ibunya.


Air mata yang belum mengering di pipi Robert, terlihat oleh Dyah. Dyah mengambil figura yang di peluk Ayahnya secara pelan dan perlahan agar Robert tak terbangun.


Dyah kembali meletakanya di atas nakas.


"Pi, bangun."Dyah mengguncang pelan tangan Robert.


Robert terkesiap dan mengerjapkan mata.

__ADS_1


"Pi, ayo kita makan siang dulu." ajak Dyah.


Robert mengusap wajah dan bangun dari tempat tidurnya mengikuti ajakan Dyah anak semata wayangnya.


__ADS_2