LUSIANA MENCARI CINTA

LUSIANA MENCARI CINTA
SITUASI KRITIS


__ADS_3

Tak ambil pusing, Dirmo segera mencoba mengangkat Sang menantu tercintanya, karena rasa sakitnya Jarwo terlihat memberontak dan membuat dirmo pusing di buatnya.


"Pak, sakit sekali pinggangku" ucap Jarwo yang masih terlihat menahan rasa sakitnya.


Sementara Suminah mencoba mencari bantuan warga sekitarnya untuk segera membawa Jarwo ke rumah sakit.


Salah seorang warga berinisiatif menelpon pihak Rumah Sakit agar mendatangkan ambulance, untuk mempercepat proses penyelamatan Jarwo.


Tak butuh waktunya banyak, kini beberapa warga telah masuk membantu Dirmo mengangkat Jarwo perlahan dengan penuh hati dan membawanya ke amben teras depan rumahnya untuk menunggu bantuan ambulance datang.


"Kamu kenapa Wo? " tanya Suminah sambil menangis.


Tak ada jawaban yang keluar dari mulut Jarwo, karena Jarwo masih terlihat mengerang menahan rasa sakit di pinggangnya.


Beberapa menit kemudian bantuan yang di harapkan kini telah datang menjemput Jarwo.


Warga antusias membantu mengangkat Jarwo ke dalam ambulance.


"Bu, bapak mau nemenin Jarwo dulu, Ibu nanti menyusul saja" titahnya kepada Suminah.


Setelah semua selesai Jarwo kini di larikan ke rumah sakit Sari Asih, Rumah Sakit yang termasuk elite, karena di dukung oleh para ahli medis dan alat alat canggih yang serba mumpuni.


"Nek, Bapak kenapa? " tanya Jono sambil memeluk Suminah.


"Nenek belum tau Le, mudah mudahan bapakmu tidak apa apa. " jawabnya sambil mengusap kepala Jono.


Rasa takut berkecamuk di kepala Suminah, karena telah dua jam berlalu tetapi masih belum ada kabar dari Dirmo.


Sementara itu datang lah orang tua muchtadien atau yang biasa kita panggil adien, orang tua muchtadien datang memastikan kabar akan Jarwo yang di bawa ke rumah sakit.


"Jadi benar Bu, mas Jarwo sekarang di Rumah sakit" tanya Syarifah ibunda muchtadien pada Suminah.


"I ya, ibu juga tidak tahu, tiba tiba Jarwo mengerang kesakitan di dalam kamarnya. " Jawabnya pada Syarifah.


"Bagaimana kalau kita menyusul saja kesana" ucap Dul Hamid bapaknya adien kepada Suminah.


"I ya Bu, kita nunggu di sana saja, biar lebih pasti. " timpal syarifah pada Suminah.


Tak ingin berpikir panjang lagi, Suminah segera membawa perlengkapan seadanya untuk di bawa ke Rumah Sakit.


Suminah mengajak Jono karena kebetulan Syarifah juga membawa Adien.Setelah semua selesai mereka segera masuk kedalam mobil angkot Dul Hamid,


Dul Hamid segera menyalakan mesin mobilnya dan bergerak menuju Rumah Sakit dimana Jarwo di rawat.


Di perjalanan menuju Rumah Sakit, Suminah tak sengaja tertidur karena saking lelahnya. Di dalam tidurnya Suminah di kagetkan dengan kedatangan mendiang anaknya yaitu Minem.


"Bu, pripun kabare(gimana kabarnya)? " tanya Minem pada Suminah.


"Alhamdulillah nduk, ibu sehat. " jawabnya pada Minem.

__ADS_1


Di dalam mimpinya Suminah melihat Minem berkostum ihrom, dengan tubuh atau badan yang memancarkan aura cahaya yang sedikit menyilaukan mata.


"Nduk, Bojomu sakit(suamimu sakit) " ucap Suminah pada Minem.


Bukanya kaget atau respon cemas yang di berikan Minem, tetapi Minem malah tersenyum manis melihat Suminah yang masih terlihat bingung.


"Kenapa kamu malah senyum nem" tanya Suminah pada Minem.


"Bu, Minem sudah tahu, insya alloh kalau memang ini waktunya, mas Jarwo akan menemani Minem disini. "Jawabnya pada Suminah


Suminah yang mendengar Jawaban sang anak tercinta, seketika kaget dan meneteskan air matanya.


"Terus nasib Jono bagaimana, Nem? " tanya lagi pada Minem.


"Maaf Bu, kalau Minem dan mas Jarwo selalu bikin ibu dan bapak repot" jawab Minem sambil memegang punggung tangan Suminah.


"Bu, Minem pamit dulu" ucapnya setelah sungkem pada Suminah.


"Nem… Nem… tunggu ibu nak! "ucap Suminah mencoba menghentikan langkah kepergianya.


Dul Hamid dan Syarifah saling menatap heran melihat Suminah yang mengigau memanggil manggil nama anaknya yang sudah meninggal.


"Bu, bu. " ucap Syarifah mencoba membangunkan Suminah.


Seketika Suminah terbangun dan kembali tersadar dari mimpinya.


"Bu, kita sudah sampai di Rumah sakit. " ucap Syarifah pada Suminah.


"I ya Bu, kita sudah sampai" jawab Dul Hamid pada Suminah.


Mereka bergegas keluar dari mobil dan menuju tempat dimana resepsionist berada.


Sementara Jono masih terlihat menguntit dari belakang bersama Adien.


"Maaf mba, mau nanya, ruangan pasien atas nama Bapak Sujarwo di mana ya? " tanya Dul Hamid pada petugas resepsionis.


Petugas resepsionis itu pun membuka buku laporan dan mencari data dimana ruangan Jarwo berada.


"Untuk Bapak Jarwo beliau ada di lantai 3 kamar 212 Pak. " jawabnya pada Dul Hamid.


"Terima kasih mba. " ucap Dul Hamid sambil berlalu meninggalkan resepsionis tersebut.


Setelah mendapat informasi dimana Jarwo di rawat, mereka kembali melanjutkan perjalanannya menuju kamar Jarwo.


Di lantai 3 Dul Hamid masih mengedarkan pandanganya mencari kamar yang bernomer 212.


Setelah menemukanya Dul Hamid yang tidak datang sendirian itu perlahan mengetuk pintu kamar tersebut.


Tak berselang lama, terlihat Dirmo membukakan pintunya, dengan muka kusut dan tak bergairah.

__ADS_1


Di dalam kamar Suminah bersedih melihat keadaan Jarwo yang terlihat pucat dengan tubuh yang di penuhi alat kedokteran.


"Pak Jarwo kenapa? " tanya Suminah pada Dirmo.


Dirmo hanya terdiam dan menangis tanpa menjawab pertanyaan yang di lontarkan Suminah.


Tak berselang lama datang seorang Suster mencari Dirmo.


"Dengan Bapak Dirmo? " tanya suster pada Dirmo.


"I ya, saya sendiri sus. " jawab Dirmo pada Suster.


"Baik pak, bapak di tunggu Dokter Reyhan di ruangannya, silahkan ikuti saya Pak. " titahnya dengan lembut pada Dirmo.


Dirmo meng iyakan permintaan apa yang telah di lontarkan suster tersebut dan pergi menuju ruangan Dokter Reyhan berada.


Tok... Tok... Tok..


"Silahkan masuk" seru sang Dokter dari dalam ruanganya.


"Terima kasih Dok, ini nampak Dirmo. " ucap sang Suster.


"Baik terima kasih Sus, anda sudah bisa kembali. " jawabnya pada Suster.


Setelah sang Suster berlalu pergi keheningan tercipta diantara Dirmo dan Dokter Reyhan.


"Silahkan duduk dulu pak" titahnya pada Dirmo.


"Terima kasih Dok. " jawab Dirmo.


Setelah Dirmo duduk, terlihat Dokter Reyhan membuka amplop kuning yang masih tersegel, perlahan Dokter Reyhan membuka amplop tersebut dan mengeluarkannya.


"Jadi begini pak. " ucap Dokter Reyhan kepada Dirmo.


Dokter Reyhan menjelaskan kepada Dirmo tentang penyakit yang di derita menantunya, sambil memperlihatkan hasil Scan yang tentunya membuat kaget Dirmo.


"Ini… ini apakah parah Dok? " tanya Dirmo pada sang Dokter.


"I ya pak. " Jawab sang Dokter.


Dokter Reyhan juga menjelaskan bahwa Jarwo harus menjalani cuci darah untuk menetralisir darah di tubuhnya.


Dirmo hanya terdiam dan menangis, dia berasumsi tiap orang yang melakukan cuci darah biasanya mariti (begitu mari langsung mati).


Dengan perasaan kalut Dirmo keluar dari ruangan Dokter Reyhan menuju ruangan di mana istri dan dan cucunya menunggu.


**TINGGALKAN JEJAK LIKE RATE AND COMMENT KARENA ITU GRATISSS…


SALAM AUTHOR**

__ADS_1


ARBY YINGJUN


__ADS_2