
"Malam ini Ibu tidur di kamar Lusi ya, Lusi mohon. Please?" Lusi merayu ibunya.
"I ya, I ya," Jumira mengikuti kemauan anaknya.
Sementara John terlihat mengepalkan tangannya.
"Pandai sekali kau, menjadikan ibumu sebagai tameng pertahanan." John menghentikan aksi makan malamnya.
Dia menghabiskan kopi dan mengelap mulutnya dengan tissue dan berlanjut pergi beristirahat menuju kamarnya.
Keesokan harinya, Lusi kembali bekerja seperti biasa mengantar makan siang untuk bos yang sekaligus kekasih hatinya. Akan tetapi setelah kejadian semalam, Lusi memutar otaknya mencari ide untuk menghindar dari serangan kekasihnya yang sangat mematikan itu.
"Oh, aku punya ide." Lusi tersenyum dengan ide baru yang ia yakini bisa dijadikan tameng pertahanya.
Lusi segera menemui ibunya yang sedang mencuci piring di dapur.
"Bu, hari ini Lusi mau ajak Juna ke kantor. Tidak apa apa kan?" tanya Lusi pada Jumira.
"Tidak apa apa nak, memang kamu nanti tidak malu atau merasa gimana gitu?" tanya lagi Jumira yang selesai mencuci piringnya.
"mengapa Lusi harus malu Bu, memang pada kenyataannya Lusi itu... " Lusi tak melanjutkan perkataannya.
" Sudah, Lusi. Ibu sedih kalau teringat dengan kenangan pahit yang menimpamu." Jumira memeluk Lusi sambil mengusap punggungnya.
"Lusi gak sedih Bu, Lusi masih punya Ibu sama Arjuna yang selalu menemani ."Lusi melepas pelukan dan bersiap berganti baju untuk mengantar makan siang John.
Selesai dengan acara berdandan rianya, kini Lusi telah siap berangkat bersama anaknya.
Di antar oleh seorang supir pribadi, Lusi dan Arjuna kini mulai membelah jalanan ibu kota yang lumayan padat.
Sepanjang jalan Lusi merasa kualahan, melihat anaknya yang super aktif di dalam mobil, ia tak pernah mau diam dan duduk manis. Membuat Lusi benar-benar pusing di buatnya.
Hingga pada akhirnya mobil yang mengantarkan Lusi telah sampai pada tujuannya.
"Ayo nak, turun!, papa sudah menunggu disana." Lusi menurunkan Juna dari mobil yang ia tumpangi.
Tanpa ada apa lagi, Arjuna berlari tanpa kau menunggu ibunya yang sedang menutup pintu mobilnya.
__ADS_1
"Juna sayang, tunggu mama nak." Lusi coba mengejar anaknya.
**Brugh..
Arjuna terjatuh di depan receptionist, ketika menabrak seorang pria bertubuh tinggi dan kekar.
"Anak siapa ini?, kenapa ia bisa berlari lari di area kantor." David** membangunkan dan menggendongnya.
Fira yang baru saja kembali dari toilet terkejut melihat kedatangan David.
"Maaf Fira, ini anak siapa?" tanya David sambil menunjukkan Juna yang di gendongnya.
"Saya kurang tahu Pak, saya baru pertama kali melihatnya." Fira menjawab di sertai gelengan kepala.
"Maaf Tuan," Lusi yang baru saja datang langsung mengambil Juna yang di gendong David.
"Oh jadi ini anakmu." David mengangguk.
"Hi, tampan berapa umurmu sekarang?" David dengan gemas sambil menyentuh pipi gembul Arjuna dengan telunjuknya.
"Ukuran baru 3 tahun Om." Lusi menirukan suara anak kecil.
Sementara John yang baru saja mendapat informasi dari Fira, langsung mengepalkan tangannya.
"Sial, kenapa David datang lagi kesini. Mau apa dia sebenarnya." John mengusap muka dan membuang nafasnya dengan kasar.
Sementara, Lusi yang merasa tidak enak membuat John lama menunggu. Dirinya segera pamit pada David.
"OK, aku akan menemui John nanti, sepulang dari Cafe." David berlalu meninggalkan Lusi.
Dan Lusi pun melanjutkan kembali langkahnya menuju ruang kerja John.
Tak seperti biasanya, pintu ruang kerja John yang biasa tertutup kini di biarkan terbuka lebar. Dan Linda yang biasanya menyambut, kini tak terlihat batang hidungnya.
"Tumben," Lusi yang sedikit heran.
Lusi menghampiri pintu ruangan kerja John dan mengeetuknya.
__ADS_1
"Permisi, boleh saya masuk." ucap Lusi.
Tak ada Jawaban yang terdengar di telinga Lusi. Sedangkan John terlihat sedang duduk menghadap kaca ruang kerjanya membelakangi Lusi.
Merasa ingat akan tanggung jawab pekerjaanya. Lusi masuk dan menyimpan rantang makanan yang ia bawa dan menyimpannya di atas meja. Lusi kembali menutup pintunya dan coba menghampiri John yang masih terdiam seribu bahasa.
"Mas John, kamu tidak apa apa?" dengan ragu ia akan menyentuh pundak John.
John berbalik dan berdiri dari tempat duduk atau kursi kebesaranya.
"Apa kau puas hal!" John membentak Lusi dengan penuh emosi.
Lusi perlahan mundur ketakutan sedangkan John terus menghampirinya.
"Kau bilang kemarin menerima cintaku, tapi apa kenyataannya! Bullshit" John mengguncang guncang bahu Lusi, hingga membuat ia menangis.
Lusiana belum mengetahui dimana letak kesalahan yang ia lakukan pada John. Juna yang melihat ibunya menangis turun dari sofa dan berlari menghampiri John.
"Papapa.."Juna memukul mukul paha John dengan sekuat tenaganya.
John pun kembali tersadar, dan menyesali apa yang telah ia perbuat kepada Lusi.
Lusiana menggendong Juna,dan melangkahkan kakinya pergi, tapi John langsung menghentikan langkah Lusi, dengan memeluknya secara bersamaan.
"Maafkan aku Lusi, aku terlalu mencintaimu.Aku hanya tak ingin kau dekat dengan lelaki lain selain aku." John menangis sambil mencium kening Lusiana.
Lusi baru tersadar, mungkin Davidlah yang di maksud.
"I ya, aku janji mas John. Aku akan jauh jauh dari dia." Lusi menangis yang di ikuti Juna yang tiba tiba mencium pipi John dan Lusiana.
"O.. O..O, Bisakah kau lanjutkan Dramamu di rumah!, Profesional lah dalam bekerja bung." David yang berdiri di depan pintu ruang John sambil bertepuk tangan.
"Mau apa kau kesini hal?" John mengusap air mata dan segera menghampiri David untuk menghajarnya.
Tapi Lusi langsung menarik tangan John mencoba menghentikan.
"Jangan, aku mohon." Pinta Lusi pada John sambil menatap anaknya.
__ADS_1
Emosi John langsung mereka seketika, dan jatuh pada suhu di bawah nol derajat celcius