
Di depan pintu UGD, suasana masih terlihat tegang, mimik muka gusar bercampur cemas dan gelisah tak bisa di sembunyikan lagi oleh mereka bertiga.
Ting…
Lampu Merah pada pintu UGD telah berubah yang tadinya merah kini telah berganti menjadi warna hijau.
cekrek….
"Keluarga pasien?" tanya Seorang Dokter yang baru saja keluar dari ruang UGD.
"I ya saya Dok" jawabnya Jarwo dengan cepat.
"Ke ruangan saya pak, ada sesuatu yang harus kita bicarakan" titahnya pada Jarwo dengan wajah serius.
"Baik Dok" jawabnya sambil mengikuti langkah sang Dokter dari belakang.
"Silahkan duduk pak" titahnya pada Jarwo.
"Jadi begini pak….. " ucap Dokter pada Jarwo.
Sang Dokter yang menangani Minem, menjelaskan panjang lebar kepada Jarwo, bahwasanya Jarwo harus memilih di antara dua pilihan penting dalam hidupnya.
Bagai memakan buah simalakama, Jarwo terlihat bingung dengan kedua pilihan yang ditujukan sang Dokter padanya, bagaimana Jarwo tidak bingung pemirsa.
Pilihan pertama adalah istrinya selamat tapi rahim akan tetap di angkat, dan itu jelas akan membuat si pasien tidak akan memiliki keturunan.
Pilihan kedua Sang anak bisa selamat tetapi sang Ibu mungkin tidak akan tertolong.
Dan sang Dokter meminta agar Jarwo mengambil keputusan dengan cepat karena waktu yang di milikinya sangat tipis.
Jarwo meninggalkan ruangan Dokter tersebut menuju mertuanya sambil menangis daun berlari.
"Wo… gimana minem?" tanya lagi Minah dan Dirmo pada Jarwo.
Bukanya menjawab Jarwo malah menarik kedua tangan mertuanya sambil berlari menuju ruangan Dokter yang menangani Minem tersebut.
Jarwo menjelaskan kepada kedua mertuanya yang dibantu oleh sang Dokter agar tidak terjadi kesalah pahaman dalam mengambil keputusan.
Tak berselang lama kedua mertuanya menyarankan Jarwo agar lebih memilih cucunya, mereka mengikhlaskan Minem.
Semua keputusan ini bukan berdasar tega atau bagaimana anggapan reader kepada mertua Jarwo, tetapi keputusan ini berdasar pada hal lain yang lebih parah yang akan terjadi pada Minem di masa depannya jika mereka memilih Minem yang di selamatkan.
__ADS_1
Dengan berat hati dan tangisan kecil yang sangat perih dan mendalam, akhirnya Jarwo menanda tangani dokumen yang berisi perjanjian tidak akan adanya tuntutan keluarga pasien kepada pihak Dokter di kemudian hari dengan keputusannya yang di ambil saat ini.
Setelah Selesai mereka kembali duduk di ruang tunggu.
"Wo, ini ibu bawakan baju ganti buat kamu" ucapnya sambil memberikan kantong kresek hitam berisi pakaian Jarwo.
"Kesuwun Bu, Jarwo sekalian mau ke mushola dulu pak"pamitnya sambil berlalu pergi.
Di toilet Rumah sakit Jarwo segera membersihkan dirinya dari darah dan keringat yang telah mengering di badan dan bajunya.
Setelah selesai dengan acara mandinya Jarwo bergegas mensucikan dirinya dengan air wudlu, dia terlihat beranjak menuju mushola yang tersedia di Rumah Sakit tersebut.
Di mushola Jarwo terlihat khusyu dengan Sholatnya, di setiap sujudnya Jarwo terlihat menangis pedih meminta keputusan terbaik dan kemurahan hati dari sang kholik pencipta langit dan bumi.
Setelah selesai dengan sholatnya Jarwo terlihat bersujud kembali sambil menangis, tapi entah kenapa mungkin karena lelah Jarwo tak sadar hingga ia tertidur dalam sujudnya.
Dalam tidurnya Jarwo bermimpi Minem datang menghampirinya dengan style ihrom dan menuntun seorang anak laki-laki yang masih kecil dengan tangan kanannya.
"Dek… beneran ini kamu?" tanya Jarwo pada minem sambil mengucek ngucek matanya.
Sambil tersenyum menatap Jarwo, Minem menitipkan anak laki laki kecil tampan pada Jarwo.
"Dek… ini siapa?" tanya lagi Jarwo pada minem yang selalu tersenyum.
"Mas Jarwo saya titip Jono sama kamu ya mas!" titahnya sambil mencium pipi Jarwo dengan cepat.
"Memangnya kamu mau kemana toh Dek?" tanya Jarwo pada minem dengan mata yang sudah berkaca kaca.
"Mas, makasih udah menyayangi minem sepenuh hati, Minem harus pulang mas, Minem akan menunggu mas di sana"ucap Minem sambi menunjukan sebuah cahaya putih yang menyilaukan bagi siapa saja yang melihatnya.
Minem mencium punggung tangan Jarwo dan berlalu pergi meninggalkan Jarwo yang sedang menggendong anak kecil, menuju cahaya yang amat menyilaukan mata.
"Dek…. Dek… jangan pergi!!!"teriak Jarwo memanggil manggil minem yang meninggalkannya.
"Pak… pak…bangun pak"seru seseorang menepuk nepuk bahu Jarwo.
Seketika Jarwo terkesiap kaget dan tersadar dari mimpinya.
"Maaf pak, saya ketiduran"ucap Jarwo pada petugas kebersihan mushola tersebut.
Jarwo memutuskan mencuci muka dan kembali ke ruangan tunggu, menunggu hasil kerja Dokter.
__ADS_1
Sesampai di ruang tunggu Jarwo mendapati kedua mertuanya yang telah tertidur dengan posisi terduduk dengan kepala menunduk.
Pandangan Jarwo yang kini sudah tidak merasa ngantuk lagi terfokus ke pintu UGD, ruang dimana istrinya masih ditangani oleh para sang ahli.
Doa dan dzikir tak pernah terlepas dari mulut Jarwo, berharap akan adanya ke ajaiban alloh terjadi pada anak dan istrinya.
Dua jam berlalu kini waktu sudah mendekati waktu subuh, tetapi pandangan Jarwo masih tak terlepas pada pintu UGD.
Ting…
Lampu UGD kini kembali berubah warna menjadi hijau kembali, menandakan Para dokter telah menghentikan aktifitas oprasinya.
Ckrek…..
"Keluarga pasien Ibu Saminem" tanya seorang dokter sambil mengedarkan pandanganya mencari seseorang.
"I ya Dok, saya sendiri, bagaimana keadaan istri dan anak saya Dok?" tanya Jarwo dengan penuh antusiasnya.
Tanpa di sadari obrolan kedua orang dewasa itu terdengar dan membangunkan Dirmo dan minah yang tadinya terlelap tidur.
"Maaf pak, kami hanya bisa berusaha, tetap keputusan tuhan lah yang menentukan" jawabnya sang Dokter pada Jarwo.
Dirmo dan saminah berhambur mendekati kedua orang dewasa tersebut.
"Maksud Dokter?" tanya Dirmo dan minah bersamaan.
"Maaf pak, Bu, Alloh lebih menyayangi ibu Minem, Ibu minem….. " jawabnya menggantung karena tak tega melihat muka sedih dari keluarga pasien.
Seketika Jarwo menerobos masuk tanpa seizin Dokter, mencari kepastian dari jawaban sang Dokter yang menggantung tersebut.
Setelah di dalam ruangan Jarwo mendapati Minem yang sudah terbujur kaku dengan muka pucat seperti orang mayat.
Di tempelkanya jari telunjuk Jarwo pada hidung Minem, berharap akan adanya nafas kehidupan, tapi setelah beberapa lama hasilnya nihil.
Jarwo mengusap kening Minem dan menciumnya untuk yang terakhir kali, Jarwo telah menyadari akan mimpi yang muncul ketika dia bersujud di mushola adalah tanda pamit sang istri tercinta kepadanya.
Rasa sesak di dada kini sudah tak bisa di tahan lagi, tumpah ruah air mata Jarwo membasahi pipinya.
"Insya alloh Dek, mas sudah ikhlas akan kepergianmu" ucapan sedih Jarwo sambil setengah sujud memegang tangan Minem.
Dirmo dan minah yang telah mengerti dengan keadaan sebenarnya hanya bisa menatap dan menerima akan takdir Tuhan yang sebagaimana telah tertulis dalam kehidupan setiap insan masing masing.
__ADS_1