
Bertahun tahun berlalu dengan begitu cepatnya, Kini Jono tumbuh besar bersama Adien, tak terasa kini mereka berdua melewati ujian nasional Sekolah menengah pertamanya.
"Jon, aku dah gak sabar pengen tahu hasil ujian kita, " ucap Adien pada Jono selepas keluar dari ruangan kelasnya.
"I ya, sama aku juga Dien. " jawabnya sambil tertawa renyah.
Sesaat, Adien terdiam memandang sahabatnya yang sedang tertawa lepasnya itu.
"Jon, apa kau serius akan melanjutkan sekolahmu di Arab?" tanya Adien.
"I ya, Dien. " jawabnya sambil tertunduk.
Sebenarnya berat bagi Jon untuk berpisah dengan orang-orang yang sangat di sayanginya. Tapi apa boleh buat ini semua di lakukannya demi kesuksesanya juga di masa depan.
"Dien, aku mau mampir ke warung Mak Ijah dulu untuk membeli kembang, " ucap pada Adien.
"Baik, aku ikut. Ibu akan memarahiku jika kau pergi sendiri ke makam. "
"Okelah kalau begitu. " jawabnya sambil tersenyum simpul.
Mereka berdua berjalan menyusuri jalan menuju warung Mak Ijah sang penjual perlengkapan sesajen.
Selesai dari warung Mak Ijah, Jon dan Adien melanjutkan perjalananya menuju makam orang tua Jon.
Di depan gerbang makam kuburan, tepatnya di sebuah pos yang terbuat dari bambu dengan atap welit, terlihat seorang lelaki paruh baya, dengan celana kolor dan sarung yang masih melingkar di leher sambil menghisap sebatang rokok kretek.
I ya, siapa lagi kalau bukan kuncen yang selalu setia menunggu makam tersebut, Dia lah Kemed, lelaki paruh baya yang tak pernah bosan menjaga situasi dan kondisi makam tersebut.
"Siang, Mang Kemed, " sapa Jon dan Adien pada sang Kuncen.
"Siang juga Adek adek. " jawabnya sambil tersenyum memandang Adien dan Jon.
"lagi santai Mang kemed,?" tanya Jon pada Kemed.
"I ya, nih lagi ngopi. " jawabnya sambil menghabiskan tetes terakhir kopi di gelasnya.
"Mau ngembang ya Dek,?" tanya Kemed pada mereka berdua.
"I ya, Mang. Mang apa boleh saya meminjam aritnya?, untuk membersihkan rumput makam orang tua saya, " pinta Jon pada Kemed.
"Tentu boleh, sebentar. " jawabnya Kemed sambil memutar badannya ke belakang, mengambil arit, yang terselip di bilik posnya.
Setelah mendapatkan arit, Adien dan Jon segera melanjutkan perjalananya menuju makam kedua orang tuanya yang bersebelahan.
__ADS_1
Sebelum melakukan pembersihan rumput, mereka berdua menggantungkan tas dan seragam sekolahnya pada pohon semboja sebelah makamnya.
Bras.. Bress. ..Bras… Bress..
Pekerjaan membersihkan rumput liar terasa ringan, karena mereka melakukannya sambil ngobrol dan tertawa.
Kini makam kedua orang tuanya Jon telah terlihat, walaupun tanah yang sudah rata karena terkikis usia. Tapi Jon dan Adien tak pernah lupa akan posisi kuburan tersebut.
Keringat bercucuran dari muka dan punggung mereka berdua, karena di rasa telah selesai akhirnya mereka berdua duduk beralaskan sepatu sekolahnya.
"Minum dulu lah, " ucap Adien sambil membuka kresek putih dan mengambil minuman kaleng yang di belinya di indomaret sebelum menuju ke makam.
"I ya, aku juga haus Dien. " jawabnya sambil menerima minuman kaleng yang di beri Adien.
"Ahhh, Segarnya. " ucap mereka bersamaan yang di sertai tawa karena merasa lucu bisa berucap bersama tanpa beda.
sambil menunggu keringat mengering dan stamina full kembali, mereka berbincang bincang seputar kesulitan ketika Ujian Nasional.
"Sudah selesai, bersih bersihnya,?" tanya Kemed yang mengagetkan mereka berdua.
"Ya elah, Busyettt Mang. Bikin kaget saja. "
"Ha.. ha.. ha, maaf, " ucapnya Kemed Sambil duduk nimbrung.
"Mang, ini ada minuman dingin, " ucap Adien.
"Mang, tunggu sebentar. " ucap Jon.
Seraya bangun dari duduknya, menuju tasnya yang menggantung di pohon, dan mengambil sesuatu di dalamnya.
"Mang, ini buat enak enak nongkrong, " ucap Jon sambil memberikan sebungkus rokok kretek pada Kemed.
"Terima kasih, selain tampan. Kalian baik sekali. " puji kemed pada mereka berdua.
"Bisa aja Mamang ini. " ucap mereka berdua kompak sambil tertawa dan melanjutkan obrolanya.
Tak terasa waktu telah sore, akhirnya Jon dan Adien memutuskan untuk kembali pulang.
Tiga minggu berlalu, kini hasil ujian akhir nasional akan segera dibagikan, waktu yang di tunggu2 oleh seluruh siswa. waktu paling mendebarkan, karena pada hari itu hasil perjuangan mereka selama tiga tahun akan menentukan kemana arah tujuan pendidikan mereka akan berlanjut.
"Jon, gimana ini,?" tanya Adien yang merasa gugup akan hasil UAN yang akan di terimanya.
"Tenang Dien, kita pasrah saja. Yang penting kita sudah berusaha. " jawabnya dengan tenang.
__ADS_1
Tak berselang lama, Wali Kelas 3E yang bernama Pak Guru Zaenal, menyuruh anak muridnya untuk kumpul di dalam kelas.
Setelah semua berkumpul Pak Guru Zaenal memberikan wejangan kepada anak didiknya, beliau berharap kepada siapa saja yang yang lulus. Agar selalu berjuang dan pantang menyerah, karena perjalanan dalam menempuh pendidikan masihlah panjang dan penuh tantangan.
Tibalah saatnya, Pak Guru Zaenal membagikan amplop yang isinya merupakan informasi, yang menyatakan Lulus atau tidaknya seorang siswa pada UAN kemaren.
Semua siswa berwajah pucat, tak ada suara apapun yang keluar dari mulut kelas 3E ketika hasil ujian di bagikan oleh sang Wali Kelas.
"Horeeee……" ucap itu lolos dari mulut Jon.
Seraya langsung berlari ke depan dan bersujud mencium tanah, sebagai ungkapan rasa syukur.
Dan adien merampas amplop dari tangan Jon yang telah terbuka, matanya terkesiap setelah melihat hasil yang di dapatkan sahaba kentalnya.
"Wah, kamu lulus Jon, Hebat. " Adien berdecak kagum sahabatnya lulus.
"Mochtadien, " Zaenal memanggil adien.
"I ya, saya pak. " jawab Adien.
Seraya berjalan menghampiri Pak zaenal, dan mengambil amplop yang telah di sodorkan kepadanya.
Adien berlalu pergi ke meja paling belakang sambil memeluk amplop yang telah di terimanya.
Dengan perlahan dia membuka amplopnya, sedikit demi sedikit sambil menutup sebelah matanya.Sesaat dirinya terdiam sambil memandangi isi dalam amplopnya tersebut.
Wajah Adien mendadak lesu, tak ada gairah kehidupan setelah dia melihat isi amplopnya tersebut. Sedangkan Jon yang melihat sahabatnya kecewa hanya bisa merangkul pundak sambil menepuk nepuk pelan.
"Sabar Dien, aku mengerti dan memahami, apa yang yang kau rasakan saat ini. " ucap Jon sambil mengusap kepala Adien.
Adien hanya diam seribu bahasa, tanganya terlihat meremas kertas hasil Ujian Nasional.
Jon yang masih mencoba menenangkan hati Adien, seketika pandangannya tertuju pada kertas yang di remas sahabatnya itu.
"Boleh aku lihat hasil ujianmu Dien,?" tanya Jon pada Adien yang di balas anggukan oleh Adien.
Seraya mengambil kertas yang sudah terlihat kusut karena remasan, dan coba merapikan untuk sekedar melihat dan memastikannya.
"Sialan loh, Dien. Asem loh. " ucapnya yang merasa di bohongi mentah mentah oleh Adien.
Seraya mencekik kendor leher sahabatnya karena merasa di permainkan oleh aktingnya yang berpura-pura sedih karena tidak lulus.
"Lagian, siapa juga yang nyuruh lo percaya ma akting gua, hayo, " ucapnya sambil mengelak gelitikan yang di lakukan Jon.
__ADS_1
"Tetep aja gua jengkel dan gak terima. " jawabnya sambil terus menggelitiki perut Adien.
"Bhua… ha..ha. Kena deh. " ucapnya yang merasa puas mengerjai sahabatnya habis habisan.