
Sesuai dengan apa yang telah di rencanakan John,semua berjalan mulus dan lancar.
Semua itu terlihat dari Robert yang bersungguh dengan Jumira. Pertemuan demi pertemuan yang telah di atur John dengan begitu cantik kini membuahkan hasil untuk Robert.
Satu hari sebelum acara pernikahan sederhana John di dan Lusi di mulai. Semua halaman kini telah di sulap menjadi sebuah tempat yang indah dan sesuai dengan tema pernikahan mereka yang sederhana.
Sementara, John masih terlihat fokus memegang sebuah kertas yang isinya text ijab Qabul dan menghafalkanya.
"Saya terima nikah dan kawinya, Lusiana safara bin alm. Bapak Hambali dengan.... di bayar tunai." John yang melafalkan sambil menutup kertas hafalanya.
"Sudah hafal," Dul Hamid yang baru saja masuk ke dalam kamar John.
"Sedikit lagi Pak, John grogi banget." John mengutarakan isi hatinya.
"Tenang saja, John. Semua orang juga pasti seperti itu. Malah Bapakmu juga dulu sampai mengulanginya lagi karena dia grogi." Dul Hamid meyakinkan John.
__ADS_1
"Benar Pak?, alm. Bapak dulu seperti itu." John yang terlihat penasaran.
Dul Hamid tersenyum dan membalas dengan anggukan.
"Ya sudah, ayo, katanya kamu mau makam Ibu dan Bapakmu lagi, sebelum acara ijab qobulmu di mulai." Dul Hamid kembali mengingatkan John.
Semua orang kini telah bersiap berangkat ziarah kubur. Dul Hamid dan istrinya ikut bersama mobil Adien, sedangkan John, Lusi dan Jumira bergabung dengan Syu'eb yang semalam baru datang ke tempatnya.
Sesampainya di makam kedua orang tua John, mereka semua berdoa yang di pimpin langsung oleh Dul Hamid, dan mereka meminta kepada sang maha kuasa, agar kedua orangtua John beserta kakek neneknya mendapat ampunan dan kebaikan disisinya.
Acara ziarah kubur, alhamdulillah telah selesai dengan khidmahnya. Mereka semua memutuskan untuk kembali pulang dan membantu segala persiapan pernikahan John.
"Om, maaf membuat Om menunggu lama." John yang merasa tidak enak.
"Tidak apa apa nak John, Om kesini hanya mengantarkan beberapa bahan makanan saja untuk persiapan besok, I ya, kan. Dyah?" ucap Robert sambil menatap Diyah dan mendapat anggukanya.
__ADS_1
"Terima kasih, Om. John tidak tahu harus berkata apa lagi." John yang merasa tidak enak hati, ia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Santai saja, nak John. Sebentar lagi kan kita akan menjadi keluarga." ucapan itu tak sengaja lolos dari mulut Robert dan membuat Jumira menjadi salah tingkah di buatnya.
Untuk menghindari kegugupanya. Jumira lebih memilih pergi menuju dapur untuk sekedar membuatkan minuman.
"Cie.. Cie, yang bakal nyusul Lusi sebentar lagi." Lusi yang baru datang dan menggoda ibunya sendiri.
"Apaan sih kamu itu, Lusi." Jumira menutupi kegugupanya dengan wajah yang sudah merona.
Lusi memeluk ibunya dari belakang.
"Bu, dengan siapapun itu. Asalkan dia sayang dan mau menerima ibu, Lusi senang dan tidak pernah merasa keberatan." ucap Lusi yang memeluk manja ibunya.
"Sebenarnya Ibu tak pernah memikirkan hal ini, Lusi. Tapi entah kenapa mas Robert selalu membuat Ibu merasa tenang dan nyaman." jelas Jumira.
__ADS_1
"Itu namanya cinta, Bu." Lusi menegaskan ucapannya.
Lusi melepas pelukanya dan membawa nampan yang berisi kopi dan camilanya, Yang sebagaimana telah di siapkan Jumira tadi dan membawanya untuk di suguhkan di luar.