
Acara makan di restoran berjalan dengan khidmat, setelah selesai mereka memutuskan kembali pulang kerumah.
Sepanjang perjalanan pulang, tak henti hentinya Syu'eb tersenyum. Ia bersyukur, akhirnya kebahagiaan akan datang dan menjemput Lusiana.
Terima kasih Tuhan, engkau telah mengirimkan orang yang baik, untuk menjadi pendamping dan sekaligus penjaga Lusiana dan Arjuna.
Setelah penderitaan panjang yang kau alami, kau pantas untuk mendapatkanya Lusiana.
Dalam perjalanan pulang, tak ada obrolan atau pembicaraan diantara mereka. Karena John, Lusi dan Juna tertidur lelap di dalam mobil.
"Sampai juga akhirnya." Syu'eb mengarahkan kemudinya menuju Area rumah John.
Gerbang, dengan otomatis telah terbuka dan mobil yang mereka tumpangi kini telah masuk melewati gerbang.
"Alhamdulillah, juga" Syu'eb mematikan mesin mobilnya.
Sejenak Syu'eb melihat ke belakang, di lihatnya Lusi, John dan Juna, masih terlihat lelap dengan tidurnya.
Mereka tidak menyadari, bahwa mobil yang mereka tumpangi telah sampai di rumah.
"Lusi," Syu'eb mencoba membangunkan Lusi yang masih tertidur sambil memeluk tangan John.
Lusi tersadar dan bangun setelah Syu'eb membangunkanya.
"I.. I ya paman. Dimana kita?" tanya Lusi yang masih merasa pusing terbangun dari tidurnya.
"Kita sudah sampai." Syu'eb terkekeh melihat kelinglungan Lusi.
Lusi menggosok gosok mata dengan punggung tanganya.
"Lusi, tolong kau bangunkan calon suamimu yang masih terlelap!" pinta Syu'eb yang merasa tidak enak.
Lusi mengangguk, dan mengguncang guncang tangan John.
"Mas John bangun," Lusi terus menerus mengguncang bahu John.
Syu'eb keluar dari mobil dan menuju ke belakang rumah. Sedangkan Lusi masih terlihat terus membangunkan John masih terlena di alam bawah sadarnya.
John mengerjapkan matanya, ia melihat di dalam mobil hanya ada mereka bertiga selain Syu'eb yang telah keluar terlebih dahulu.
__ADS_1
"Hemm...," John kembali menutup matanya yang masih terasa berat.
"Mas John, kok malah tidur lagi sih. Cepetan bangun!" Lusi yang mulai merasa jengkel karena John tak kunjung mau bangun dari tidurnya.
"Inilah kesempatanku." batin John.
John menarik tengkuk Lusi, hingga adegan orang dewasa pun tak bisa di elakan. Sedangkan Lusi terbelalak kaget, dan tak sempat menghindar dari serangan John, yang di rasanya sangat tiba tiba tanpa memberi aba aba.
Dengan mata yang masih tertutup, John mengunci tengkuk Lusi dengan tangan kirinya. Ia melahap habis bibir tipis Lusiana dan menikmatiya.
Lusi hanya terdiam dan menikmati alur permainan John yang sangat piawai dan lihai dalam bermain goyang lidahnya.
"Sudah," Lusi melepas paksa karena merasakan oksigen di dalam paru parunya telah menipis."
"Dasar kamu itu mas!" Lusi mencubit perut John.
"Auwww, ampun sayang." John tertawa dan bangun dari dari sandiwara tidurnya.
"Lagian, maen nyosor aja gak kasih aba aba dulu." Lusi memanyunkan mulutnya.
"I ya, maaf. Ya udah kita ulang, gimana?" John menggoda Lusi.
Tangan kecil arjuna, melayang di pipi John. Walau tak kencang, tapi membuat Lusi tertawa melihatnya.
"Ha.. Ha.. Ha, rasain, emang enak." Lusi menggendong Juna dan keluar dari mobil.
John memegang pipinya, dan tersenyum sendiri.
"Haduh, kecolongan gua." John merutuki kebodohanya.
John keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumahnya. Di kamar John langsung melepas dasi dan bajunya. Ia mengambil handuk dan melepas celananya.
Sementara, Lusi terlihat sedang memandikan anak kesayanganya.
"coba angkat tanganya ke atas sayang." Lusi menggosok lembut ketiak dan tangan anaknya dengan sabun.
"mama lihat lehernya sayang." berlanjut Lusi membersihkan area leher arjuna.
"Mama lupa sayang." Lusi membersihkan belalay kecil dan sela pada paha anaknya.
__ADS_1
Setelah di rasa selesai, Lusi menyiram anaknya menggunakan shower. Dan itu membuat Arjuna benar benar senang kegirangan.
Cipratan air yang mengenai baju lusiana, membuat pemandangan jadi semakin jelas saja.
"Sudah yuk," Lusi memakaikan handuk, dan membawa Arjuna keluar dari kamar mandinya.
Kasih sayang Ibu yang sangat tulus, dan saking tulusnya. Lusi tak memperhatikan lagi keadaan dirinya yang telah terlihat basah. Ia hanya terfokus dan mendahulukan anaknya.
"Selesai deh sayang." Lusi selesai memakaikan baju Arjuna, dan membawanya untuk di titipkan sementara pada ibunya.
"Bu," Lusi yang melihat ibunya sedang duduk di kursi dapur.
"I ya, Lusi ada apa nak?" tanya Jumira yang sedang membaca buku resep.
"Aku titip Juna ya bentar, Lusi mau mandi dulu." pinta Lusi setelah menurunkan anaknya.
Lusi berlalu meninggalkan ibu dan anaknya di dapur. John yang telah berpenampilan rapi di sore itu, terlihat sedang menuruni tangga.
"Lusi," panggil John yang melihat lusi telah membuka pintu, akan memasuki kamarnya.
"I ya, mas John." Lusi berbalik dan tak menutup kembali pintu kamarnya.
John menghampiri Lusi yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.
"Maaf, bisakah kau buatkan aku segelas Kopi?"
John memperhatikan Lusi dengan Bajunya yang basah.
Seketika pandanganya terhenti, dan fokus pada dada Lusi yang terlihat jelas karena bajunya yang basah.
"Susu." ucapan itu lolos dari mulut John yang terlihat gagal fokus dan menelan ludahnya.
"Kopi, apa susu mas?" Lusi belum menyadari akan mata mesum John, yang memandangnya sampai tak berkedip.
"Mas," Lusi menggerakkan tanganya di depan muka John berharap ia sadar.
Sejenak Lusi memperhatikan kemana arah mata John memandang.
"Dasar mesum." Lusi seketika berbalik, dan menutup dadanya dengan kedua tanganya.
__ADS_1