LUSIANA MENCARI CINTA

LUSIANA MENCARI CINTA
BELUM HOKI


__ADS_3

Terlepas dari acara canda tawanya di taman. John dan Lusi kini beranjak pulang. Ia tak ingin pangeran kecilnya bangun, dan mencari cari dimana keberadaan ibunya.


Sepanjang perjalanan Lusi terus menatap wajah John yang sedang fokus menyetir, sambil tersenyum senyum sendiri.


Tampan sekali kamu John, UwUw banget deh pokoknya.


"Apakah wajahku terlalu tampan sayang, hingga membuatmu tersenyum bahagia seperti itu.


Lusi terkesiap kaget dan memalingkan pandangannya keluar jendela mobil.


"Yee, PD bener sih loh, siapa juga yang manda gin kamu, aku hanya melihat pemandangan saja kok." Lusi mencari cari alasan menutupi dirinya yang malu.


Lusi... Lusi, orang lain mungkin bisa saja kau bohongi, tapi tidak untuk aku.


John berbelok memasuki area rumahnya.


Dret.. Dret..


Ponsel John bergetar, tepat ketika dia mematikan mesin mobilnya.


"Panggilan dari siapa sayang?" Lusi kepo dan ingin mengetahui, siapa yang menelepon John yang statusnya kini telah menjadi kekasihnya.


John mengecek ponselnya dan mengabaikan pertanyaan Lusi.


"Di tanya malah diam saja." Lusi membuka pintu dengan wajah yang terlihat ketus.


Belum sempat Lusi keluar dari mobilnya, John langsung menarik tangan Lusiana hingga kini Lusi berada di dalam pelukanya.


"Kamu marah padaku sayang?" John menatap dalam ke dalam mata Lusiana hingga menembus relung hatinya.


"Tidak, aku tid..." Lusi tak bisa melanjutkan lagi kata katanya, karena John kembali membungkam bibir merah Lusi dengan bibirnya.


Keduanya saling bertukar saliva, dan di akhiri karena oksigen yang mulai menipis.


"Ini panggilan dari Adien," John memperlihatkan panggilan ponselnya kepada Lusi.


"I ya, aku percaya sayang. Jawab dulu panggilan telponmu, mungkin itu penting." Lusi merasa puas dan percaya.


John menggeser tombol hijau pada smartphonenya dan menempelkan pada telinga.


Tak berselang lama John pun mengakhiri panggilan telponya.


"Maafkan aku sayang, ada beberapa file dan dokumen yang harus aku cek dan tanda tangani." John mengecup kening Lusi.


"Baik, berhati hatilah di jalan, jangan ngebut, jangan melamun, jangan... " John yang merasa Lusi cerewet, kembali menghukumnya dengan bungkaman kasih sayang.


John yang merasa puas telah menghukum Lusi, kini melepaskan bibirnya sambil tersenyum.

__ADS_1


" Kaburrrr. " Lusi keluar karena takut, John akan menghukumnya kembali.


Di dalam mobil, John tertawa puas melihat Lusi yang melarikan diri darinya. Setelah Lusi memasuki rumah, John menghidupkan kembali mesin mobilnya, berlalu meninggalkan rumah menuju kembali kantornya.


"Darimana saja Lusi ?, tumben telat." tanya Jumatan sambil menggendong cucunya.


"Maaf Bu, tadi jalanan sedikit macet. Jadi Lusi terlambat pulangnya." Lusiana mengambil juna dari gendongan ibunya.


"Sayang, kangen ya sama mama." Lusi pergi meninggalkan Jumira menuju kamarnya.


Di dalam kamar, Lusi bercanda ria dengan arjuna. Begitu pun arjuna, dia tak henti hentinya menghujani wajah Lusi dengan ciuman kangen.


Sementara di lain tempat, John baru saja sampai di dalam ruanganya. Setumpuk kerjaan telah menantinya di atas meja.


"Sial, yang benar saja. Bisa bisa aku pulang malam kalau seperti ini." John merasa kesal melihat pekerjaan yang akan menguras waktunya.


"Daripada kau mengeluh, lebih baik kau cepat kerjakan!, pekerjaan itu tak akan selesai jika kau hanya memandanginya." ucap Adien yang baru saja masuk ke dalam ruangan John.


"Dasar sial." John mengambil kertas yang di remaja kemudian Melemparkanya pada Adien.


"Ha.. Ha.. Ha, tidak kena we, we." Adien menghindar dan kabur menuju pintu keluar.


Pintu terbuka kembali, muncul kepala Adien dan John pun melihat padanya.


"Selamat lembur Bos." Adien tertawa penuh kemenangan.


Dengan berat hati John tetap mengerjakan semua pekerjaanya.


Beberapa jam telah berlalu, John masih berkutat dengan pena dan komputernya. Dilihatnya jam telah menunjukan jam 8 malam.Sedangakan pekerjaan baru berkurang setengah dari semula.


"Bisa bisa aku stress kalau seperti ini." John membuang nafasnya dengan kasar dan mengusap wajahnya dengan kasar pula.


Dret.. Dret.. Dret..


Ponsel John yang terletak di meja, menunjukan sebuah Video call masuk untuknya.


Di ambilnya ponsel tersebut, dan di pandangnya sesaat. Senyum manis disertai lesung pipi yang indah, terlihat dari wajah John.


John menggeser menu hijau pada layar ponselnya, menerima panggilan video tersebut.


"Hi sayang, kenapa belum pulang?" Lusi bertanya sambil mengusap ngusap kepala Juna yang telah tidur.


"Bagaimana aku bisa pulang, lihat itu." John memperlihatkan Setumpuk sisa pekerjaan pada Lusi dengan ponselnya.


"Banyak sekali yank, apa akan selesai malam ini?" tanya Lusi yang kaget melihat pekerjaan John yang masih menumpuk.


"Entahlah, aku sendiri tidak tahu sayang." John menjawab penuh kepasrahan.

__ADS_1


"Mau aku temani, tidak?" Lusi bertanya sekaligus menawarkan jasa menemani.


"Caranya?" John balik bertanya.


"Gampang, jangan kamu matikan ponselnya, dan kamu letakan jangan jauh darimu. Maka aku akan menyemangatimu dari sini.


Merasa ide yang di keluarkan Lusi bagus, John segera mencari posisi dan meletakkan ponselnya dengan sebaik mungkin, dan jelas untuk di lihat dia dan Lusi tanpa mengganggu pekerjaanya.


"Cukup jelas yang?" tanya John memastikan pada Lusi yang di balas dengan anggukan Lusi.


John memulai kembali pekerjaan yang sempat terhenti, dan lebih cepat dari sebelumnya.


Pertama mereka berdua masih mengobrol, walaupun pandangan John tetap pada pekerjaannya.


Hingga terlintas ide nakal dari kepala Lusiana, untuk membooster kecepatan John menjadi berlipat ganda dalam mengerjakan pekerjaannya.


Apa aku kerjain aja ya...


Perlahan Lusi, membuka kencing bajunya tanpa John menyadari karena ia tetap ******* pada pekerjaan yang harus di selesaikan.


"Duh, aku kok merasa gerah ya?" Lusi memancing perhatian John yang masih berkutat dan tidak meliriknya.


"Kenapa kamu tidak menyalakan ACnya yank?" John bertanya tapi Lusi tak menjawabnya.


Setelah satu menit berlalu, John merasa heran walau masih berkutat dalam pekerjaannya.


Kenapa ia tak menjawab pertanyaan dariku?, apa AC dikamarnya rusak?"


John menunda pekerjaannya sejenak dan melirik pada layar ponselnya.


"Tuhan...!" John terkesiap dengan muka memerah.


"Lusi... Lusi, Oh... tidak.. " John menyaksikan Lusi membuka kencing piyamanya satu persatu, dengan tanpa membukanya di sertai goyang lidah yang menggoda siapa saja yang melihatnya.


Seketika John berbalik pada pekerjaannya, dan menyelesaikan semua itu dalam 5 menit saja.


" Lusi tunggu aku disitu!, aku benar benar akan menghukumu dengan berat." John mengakhiri video call nya.


John bangun dari tempat duduk, ia mengambil kunci mobil dan jasnya, bergegas meninggalkan ruanganya.


Setelah keluar dari lif, ia berlari secepat mungkin menuju mobilnya. Di dalam mobil John langsung memakai sabuk pengaman dan menangkap gas meninggalkan kantornya.


"Lusi, aku bersumpah akan benar benar menghukumu seberat mungkin." John tersenyum penuh kemenangan.


Di lain tempat, Lusi kembali mengkancingkan piyamanya, ia tertawa sepuasnya karena merasa berhasil mengerjai John.


"Emang enak gua kerjain, rasain loh." Lusi mengunci pintu kamarnya dan membiarkan kunci kamarnya tetap tergantung pada lubang kuncinya.

__ADS_1


__ADS_2