LUSIANA MENCARI CINTA

LUSIANA MENCARI CINTA
JARWO SAKIT


__ADS_3

Enam 6 tahun berlalu usaha tani melon Jarwo kini semakin berkembang pesat, tak sedikit beberapa negara tetangga di asia bahkan negara eropa sekitarnya banyak sekali merequest buah melon yng rasanya manis dari pertanian Jarwo.


Banyaknya permintaan tersebut, jelas membuat Jarwo dan teamnya mau tidak mau harus memperluas lahan yang di garapnya tersebut.


Saking sibuknya dengan pertanian melonnya, Jarwo terkadang kurang memperhatikan akan kesehatanya, dia selalu menganggap batuk dan rasa dingin yang sering menerpa tubuhnya hanyalah sekedar masuk angin biasa.


Dan tibalah pada suatu masa di mana Jarwo mendapat sebuah undangan pertemuan, sebuah undangan yang sangat terhormat dari seorang raja arab, semua ini di lakukan sang raja arab karena merasa puas akan permintaanya yang telah di penuhi oleh seorang petani milenial seperti Jarwo.


"Wo, apa benar raja Arab mengundang kamu untuk melakukan pertemuan? " tanya Suminah yang masih belum percaya dengan semua ini.


"I ya Bu, Jarwo saja masih setengah tidak percaya dengan semua ini" jawabnya pada sang ibu mertua sambil tersenyum.


"Syukurlah Wo, bapak ikut senang kalau kamu sudah sukses, apalagi sekarang raja Arab ingin ketemu sama kamu" ucap Dirmo yang tiba tiba datang menghampiri Jarwo.


"Kapan Wo, kalian akan melakukan pertemuan itu? " tanya Dirmo dan Suminah secara bersamaan.


"Minggu depan Pak, Bu. " jawab singkat Jarwo pada kedua mertuanya.

__ADS_1


Tibalah waktunya hari dimana Jarwo akan bertemu dengan tamu spesialnya dari negeri arab.


Pada pertemuanya, Jarwo membawa Jono yang masih berusia 6 tahun, semua di lakukan agar sang raja juga bisa mengenali anak dari seorang Jarwo sang petani milenial tersebut.


Acara pertemuanya di lakukan di Jakarta, di sebuah hotel bintang lima, di sana Jarwo di jamu dan di manjakan oleh seorang raja Arab.


Setelah acara makan makan selesai, sang raja Arab yang di bantu oleh translator atau penerjemah kini berbincang bincang seputar dunia pertanian yang di geluti Jarwo.


Perbincangannya sempat terhenti, karena sang raja Arab ingin mengenalkan putra pangeranya yang bernama Sultan abdullah yang baru berusia 11 tahun pada Jarwo dan Jono.


Setelah acara selesai Jarwo memutuskan langsung kembali ke rumahnya, walaupun jaraknya sangat Jauh, tapi Jarwo tetap melakukannya.


Dua minggu berlalu setelah selesainya acara pertemuan, Jarwo kini terlihat sering sakit sakitan, penyakit yang selama ini dia anggap angin lalu kini benar benar menguras fisiknya.


Selepas sholat maghrib, Jarwo merasa pinggangnya teramat sakit, sakit yang tidak bisa di bayangkan sebelumnya, dengan posisi terduduk Jarwo meneteskan air mata menahan rasa sakitnya.


"Bapak kenapa?, kenapa bapak menangis? " tanya Jono yang baru masuk ke dalam kamar dan mendapati ayahnya jatuh tersungkur.

__ADS_1


Melihat semua itu Jono berlari mencari kakek dan neneknya, dia berlari ke segala arah mencari dan mencari keberadaan kakek dan neneknya.


Setelah sampai di teras depan rumah, Jono melihat kakek dan neneknya yang baru membuka gerbang rumahnya.


"Kakek… Nenek… tolongin bapak Jono! " ucap Jono sambil berlari berhambur memeluk kakek dan neneknya yang baru datang.


"Memang bapakmu kenapa Le? " tanya Suminah pada Jono sambil mengusap kepalanya.


"Bapak… bapak… " jawabnya menggantung


Dirmo yang merasakan perasaan yang tidak enak segera berlari menuju kamar Jarwo.


"Wo..Wo. " panggil Dirmo sambil mengetuk pintu kamar Jarwo.


Merasa tak ada sahutan, Dirmo memutuskan untuk langsung memasuki kamar Jarwo.


Alangkah kagetnya Dirmo setelah masuk dan mendapati sang menantu sudah dalam posisi tergeletak di lantai dengan wajah yang sangat pucat sambil meringis menahan kesakitan.

__ADS_1


__ADS_2