
Dokter Reno tiba di rumah sakit, hendak memeriksa lebih jelas kondisi kesehatan anak Seli tersebut karena menderita dehidrasi dan demam tinggi.
Seli yang sudah panik, dalam kondisi hamil membawa berobat di tengah malam, jantung Seli berdebar kencang seakan berharap tidak terjadi sesuatu pada anaknya tersebut.
"Anakku bertahanlah!" Ucap Seli sambil terus memegang anaknya tersebut.
Bibi Sari yang merupakan selaku beby sister dan asisten rumah tangga, berusaha menenangkan bosnya tersebut berharap bosnya bisa tenang menghadapi semuanya.
"Nyonya bersabarlah, tolong tenangkan pikiran kamu Nyonya." Kata Bibi sari memegang pundak bosnya tersebut.
Sekuat tenaga Bibi Sari menenangkan bosnya tersebut, namun tidak bisa juga karena bosnya tersebut tidak bisa tenang menghadapi kenyataan.
Dokter Reno segera menghampiri ruangan pasien dan segera memeriksa Olive anak dari Seli tersebut, namun saat Dokter Reno memeriksa dalam kondisi sedang hamil besar Seli, jika Dokter Reno memberitahu bahwa anaknya Seli terkena kanker leukemia.
Saat selesai memeriksa anaknya Seli tersebut, segera Dokter Reno memanggil Seli keruangan untuk bicara empat mata kepada Seli, untuk membicarakan tentang penyakit anaknya yang telah di derita tersebut.
"Seli, maafkan aku sudah berjuang kuat untuk memeriksa kondisi kesehatan anak kamu." Ucap Dokter Reno.
Seli mendengar kata maaf, mulai rada-rada panik dengan kata-kata tersebut takut terjadi sesuatu kepada anaknya tersebut sudah takut duluan.
"Dokter, mengapa ada kata maaf? Maaf Dokter memang anak saya terkena sakit apa Dokter." Seli duduk dan menatap Dokter Reno dengan kesedihan.
"Begini Seli, jika saya memberitahu kamu apakah siap untuk mendengarkan semua? Bahwa dalam kondisi hamil besar begini?" Tanya Dokter Reno kepada Seli.
"Siap Dokter." Seli memejamkan mata dan menghela nafas sejenak akan siap menghadapi kenyataan akan omongan Dokter Reno.
"Begini Seli...." Dokter Reno terdiam sejenak lalu melanjutkan omongannya, "Anak kamu menderita kanker leukemia." Kata Dokter Reno tersebut.
__ADS_1
Begitu mendengar anaknya terkena kanker leukemia Seli lunglai dan lemas banget mendengar semuanya, cobaan datang silih berganti dalam hidup Seli bahkan di posisinya sekarang mungkin Seli tidak kuat menghadapi kenyataan yang sudah di depan mata.
Dokter Reno tahu bahwa Olive hanya akan bertahan setengah tahun lagi, jika berharap sembuh kecil kemungkinan untuk sembuh walau sudah di lakukan berapa kali perawatan dan metode penyembuhan.
"Apa Dok? Anak saya terkena kanker leukemia Dokter?" Tanya Seli lagi kepada Dokter Reno.
"Begitulah. Bahwa anak kamu Olive hanya bisa bertahan setengah tahun lagi, mungkin bisa sembuh namun kecil kemungkinan untuk sembuh sekarang ini." Jawab Dokter Reno.
Mendengar vonis Dokter, hati Seli merasa bergetar dan tidak kuat untuk menghadapi kenyataan atas vonis Dokter tersebut dan tidak mau kehilangan Olive untuk selamanya.
"Ahhhh Olive anak Mama." Seli menangis kencang seakan berat banget beban yang akan di tanggung Seli dalam hidup.
Selama ini jarang mendapatkan cobaan, sekali mendapatkan cobaan rasanya sakit banget berada di posisi yang sebenarnya Seli tidak inginkan selama ini.
Namun Seli berusaha tegar demi anak-anak, demi anak yang di dalam kandungan tersebut bahwa jika Seli banyak beban maka akan terjadi sesuatu kepada anak yang di dalam kandungan tersebut.
"Dokter apa yang harus saya lakukan anak saya seperti ini, sedangkan saya dalam kondisi hamil besar." Seli curhat kepada Dokter Reno.
Dokter Reno tidak melihat Seli didampingi oleh Tian, hanya melihat Seli di temani oleh beby sister serta sopirnya, hingga Dokter Reno bertanya kepada dalam hati mengapa suaminya tidak mendampinginya sebagai Istri.
"Maaf, boleh saya bertanya? Bolehkah saya bertanya tentang suami kamu,dari tadi saya melihat tidak ada sosok suami kamu mendampingi di rumah sakit."Kata Dokter Reno.
"Suami saya tidak tahu entah kemana! Berada di mana karena yang saya perjuangin untuk sekarang ini anak." Seli sudah sadar walau pun sangat mencintai Tian.
Dalam kondisi seperti ini, bukan suami lagi yang Seli pikirkan namun kondisi kesehatan Olive bagaimana bisa sehat dan sembuh dari kanker leukemia yang di derita Olive tersebut.
Tidak ingin kehilangan sosok anak dalam hidup Seli tersebut, berusaha memberikan terbaik buat anaknya tersebut agar cepat sembuh.
__ADS_1
"Tolong anak kamu di rawat di sini saja, biar saya memberikan pelayanan dan penyembuhan sesuai dengan kesanggupan saya sebagai seorang Dokter."Kata Dokter Reno tersebut.
"Terimakasih Dokter, saya mempercayakan Dokter untuk kesembuhan anak saya, tolong tangani anak saya secepat mungkin Dokter, saya akan memberikan berapa pun biaya yang penting anak saya bisa sembuh dari kanker." Seli menangis di hadapan Reno tersebut.
"Sudah kamu jangan menangis! Saya akan tangani anak kamu cobalah untuk berusaha tenang dan jangan panik."Kaya Dokter Reno memegang pundak Seli.
"Baik Dokter saya akan mencoba untuk menenangkan diri saya dengan begitu banyak permasalahan yang datang dalam hidup ini." Kata Seli kepada Dokter Reno.
Sedangkan Tian masih bersama dengan Bela di rumah Bela, bahkan Bela mengajak Tian untuk menginap di rumah miliknya tersebut namun Tian menolak, bajingan ini tetap pulang kerumah walau pun sudah menyelingkuhi Nada.
Tetap pulang ke tempat Istri pertama, walau pun semulus dan bohay apa pun perempuan tetap istrinya yang paling di cintai adalah Nada, sebab bersama Nada lah mereka berjuang bersama saat Tian tidak ada orangtua lagi Nada lah yang bisa menerima kondisi Tian.
Bahkan sekarang ini anaknya Zion sering mempertanyakan kepada Mamanya, kemana Papanya pergi mengapa selalu pulang larut malam, sebab Zion sudah sering murung karena Papanya tidak seperti dulu lagi saat menjadi versi terbaik dalam hidupnya.
"Mama,kenapa sih Papa selalu pulang larut malam terus?" Tanya Zion kepada Mamanya tersebut.
Nada bingung dengan perkataan yang di lontarkan anak nya Zion tersebut, jika Papanya ada aneh pasti Zion akan langsung ngomong mengenai perubahan yang ada pada Papanya tersebut.
Zion berharap Papanya menjadi versi terbaik lagi, seperti mana Zion mengenal Papanya dulu dalam versi terbaik dirinya tersebut
"Mama sekarang Papa sudah berubah?" Ucap Zion kepada Mamanya.
"Berubah kenapa Nak?" Sebenarnya dalam hati Nada teriris akan kata-kata itu.
"Sudah berubah dong Ma, tidak sebaik yang dulu lagi saat dulu Papa selalu memanjakan kami dan peduli saat menjadi versi terbaik dalam hidupnya." Jawab Zion.
"Nak kamu mengapa bilang Papa kamu seperti itu! Tolong hargai Papa kamu bagaimana pun Papa kamu sifatnya dan sering pulang larut malam tetap itu Papa kamu selamanya." Kata Nada kepada putra sulungnya tersebut.
__ADS_1