
Hubungan mereka kembali terjalin, kini Seli mengajak Tian untuk menikah secara diam-diam, tanpa sepengatahuan Nada, rela terbagi waktu yang penting bisa menikah.
Seli ingin menjadi istri kedua karena tidak mau di gantung seperti ini, menjalin hubungan tanpa kepastian Seli tidak mau semua harus ada ujung nya sebuah pernikahan yang di janjikan Tian pada waktu itu.
Dua tahun yang lalu saat mereka menjalin hubungan pertama kali, sebelum ada balikan di antara mereka, suami orang tersebut pernah menjanjikan sebuah pernikahan kepada Seli.
"Aku ingin menikah sama kamu!" Ujar Seli kepada Tian.
"Maksud nya??" Tanya Tian tiba-tiba wanita itu membahas sebuah pernikahan.
"Pernikahan yang kamu janjikan pada waktu itu!!" Jawab Seli mengingatkan kembali Tian perjanjian pada waktu itu, menikahi Seli namun belum terwujud.
"Sayang, kamu tahu aku sudah punya istri dan anak-anak." Ucap Tian maunya menjalin tanpa menikah.
"Terus aku tidak ada kepastian begitu, kamu ngajak aku untuk pacaran saja!!" bentak Seli tetap ngotot.
"Bukan nya aku yang mau kita baikan, namun kamu yang memaksa aku untuk balik hingga buat aku nyaman!" Ucap Tian tak sadar diri merasa egois sendiri.
Tian merasa egois sendiri bahkan menyalahkan Seli seutuhnya, bahwa hubungan tersebut kembali terjalin karena paksaan dari Seli terhadap dirinya.
"Kamu mengapa menyalahkan aku sih!! ingat tidak pada saat pertama kali kamu merayu ku waktu pertemuan kita 3 tahun lalu!! Kalau seandainya pada waktu kamu tidak dekati aku mungkin hubungan kita tidak seperti ini sampai sejauh ini melibat kan perasaan di antara kita." Kata Seli merasa sangat di salahkan.
Seli tidak suka di salahkan seperti ini, namun dia juga sadar yang mengajak untuk balikan adalah dirinya, walau kadang dalam hati merasa capek sendiri bahwa cinta tidak berujung ke pelaminan dengan suami orang tersebut.
Rasanya sakit bagi Seli mengapa bisa jatuh terlalu dalam, dalam mencintai seseorang pria, pada hal dulu Seli adalah cewek matre dan play girls, banyak memanfaatkan pria demi uang.
Namun dengan Tian terlalu dalam mencintai pria itu, entah apa yang membuat Seli bisa senyaman ini pada hal sewaktu dulu banyak yang suka lebih dari Tian, namun hati tidak bisa di bohongi dan hati kalau sudah cinta bisa membuat perempuan nekat.
__ADS_1
"Jadi gimana, kalau cinta ini tidak ada berujung ke pelaminan, aku merasa rugi menyebut diriku sebagi pelakor!" Ucap Seli ingin di hargai sekali saja.
"Seli, bukan begitu bisa kah kita berteman saja dulu, nanti aku pikirkan kita akan menikah atau tidak." Jawab Tian dengan tenang.
"Enak ia jadi pria, tinggal gampang saja ngomong seperti itu! Pakai Nanti di pikirkan lagi menikah atau tidak!! Mikir dong kalau perempuan tidak menuntut pernikahan seenak nya saja kamu memberi tanpa kepastian seperti ini." Ucap Seli mendengar Tian mengatakan dengan santai seperti itu membuat Seli agak marah merasa rendah benget harga diri.
"Tetapi aku punya anak dan istri Seli!" Jawab Tian.
"Kamu tinggal memilih menjadikan aku istri kedua tanpa mencerai istri kamu atau menjadikan aku selamanya istri satu-satunya tapi ceraikan istri kamu," ujar Seli memberi dua pilihan.
Tian semakin bimbang dengan pilihan itu namun ada benarnya juga, tidak mungkin Tian menjalin pacaran terus dengan Seli, tanpa menikahi janda anak satu itu pada hal hubungan ini telah lama berjalan.
Hubungan mereka selalu begitu terkadang baikan dan terkadang pisah sampai lama namun kemudian keduanya bertemu kembali namun dipertemukan kembali tanpa sengaja.
"Sabar lah aku pasti akan menikahi kamu! Namun bukan dalam waktu dekat ini aku menikahi kamu!" Jawab Tian agak kesal sendiri jika Seli sudah membahas hal itu.
Namun sebagai istri Nada tidak mau mengambil pusing, takut bahwa ponsel itu nanti terhapus data penting mengenai pekerjaan.
Nada juga sering merasakan kebingungan dulu hampir setiap mau tidur suaminya mau memeluk dirinya, namun sekarang menjadi jarang-jarang, bahkan untuk anak pun waktu tidak ada lagi.
Bahkan Seli sudah mengambil kebahagiaan anak dan Nada, bahkan setengah waktu Tian banyak di habiskan dengan Seli, bahkan perempuan itu selalu mengajak ketemuan suami orang tersebut, kalau tidak di penuhi bisa mengancam Tian.
Setiap saat Seli selalu meminta Tian untuk jumpa, hingga terkendala dengan faktor pekerjaan dan rumah tangga, sengaja Seli ingin menghancurkan rumah tangga mereka.
Bahkan Seli harus menjadi yang pertama dalam hidup Tian, namun semua terasa mustahil, pada pertemuan kali ini juga Seli menuntut untuk segera Tian menikahi dirinya tersebut.
"Tian, kamu memang tidak ada rencana untuk menikahi diriku?" Ucap seli lagi berulang kali setiap ketemu itu saja di tanya Seli.
__ADS_1
Hingga membuat Tian muak dengan pertanyaan yang di ajukan oleh selingkuhan nya tersebut, bahkan tidak ada pertanyaan lain yang di ajuin kalau bukan itu.
"Seli, kita baru jalan kamu sudah mengajukan pertanyaan itu! Aku bosan tahu kamu mengajukan pertanyaan itu terus padaku."
Tian merasa Marah menyuruh Seli untuk keluar dari mobilnya tersebut.
"Astaga Tian, kamu langsung marah begitu dengan ku." Jawab Seli dengan terdiam.
Seli di keluarkan Tian dari mobil, menarik tangan gadis itu untuk keluar, tidak peduli lagi karena waktu itu juga mood Tian juga lagi tidak baik, masalah di toko miliknya di bawah ke tempat pekerjaan.
"Tian, kamu keluarkan saya dari mobil!! Kamu tidak punya hati nurani dengan ku." Jawab Seli menangis.
"Bukan aku tidak punya hati nurani, namun kamu membahas hal seperti itu terus dengan ku." Ucap Tian merasakan kecewa.
Mengapa setiap jalan harus ada pembahasan seperti itu, itu lah yang membuat Tian kecewa pada Seli, mengapa hal yang tidak penting bagi Tian di bahas.
Hal yang tidak penting bagi Tian, namun penting bagi Seli sebagai perempuan, harus mempertanyakan kejelasan tentang hubungan tersebut.
"Aku cuman membahas hal yang berkaitan dengan hak ku, mengapa kamu melarang ku untuk membahas hal seperti itu!" Kata Seli mempertahankan hal yang menjadi hak nya.
"Kamu membahas hal yang menjadi hak kamu, namun kamu lupa yang mengajak baikan siapa? Keluarlah! Aku tidak ingin melihat kamu untuk sementara waktu." Kata Tian menyuruh untuk keluar.
"Jadi apa yang harus di bahas kalau bukan hal seperti ini!"
"Kamu itu tidak bisa membuat pria nyaman ia dengan kamu." Ucap Tian makin menjadi marah nya.
"Terus menjadi kewajiban ku untuk membuat kamu nyaman setiap waktu."Kata Seli agak capek juga bergelut dengan Tian.
__ADS_1