
Reno sudah mendengar berita duka dari Nada. Bahwa Olive sudah meninggal dunia dan akan menuju ke rumah duka.
Reno membayangkan bahwa kesedihan berlarut-larut di rasakan Seli, saat kehilangan dua buah hatinya yang menjadi tumpuan untuk hidup.
Reno dan Nada sama-sama menjenguk Seli untuk memberikan penghiburan. Mereka bertiga kini sudah seperti saudara yang saling menolong dikala ada kesedihan dan kesusahan.
Tian sudah mendengar kabar duka tersebut.
Bahwa anak sambungnya tersebut sudah meninggal dunia. Tian hendak memberikan ucapan berduka namun istrinya melarangnya untuk memberikan ucapan duka.
" Jangan kamu mendatangi rumah Seli! Jika aku mengetahui hal tersebut! Aku tak akan segan-segan menceraikan kamu dan membuat kamu menjadi orang yang paling menderita." Bella memberikan ancaman.
Suami takut istri, akhirnya Tian tidak pergi tetapi jauh di dalam hati nya, sebenarnya kasihan melihat Seli yang sekarang sedang di uji dengan banyaknya terpaan masalah.
" Sayang, dia itu mantan istriku dan aku sebagai mantan suami ingin memberi ucapan saja sebagai tanda bahwa aku juga berduka." Katanya pada istrinya.
" Tidak perlu ! Kamu bisa dekat dengan mantan istri kamu dan aku melarang kamu."
__ADS_1
Tian akhirnya di rumah saja dan tidak jadi pergi, tetapi Tian tahu saat ini tentang perasaan mantan istrinya tersebut pastilah belum stabil untuk kesehatannya dan mentalnya pun masih down.
" Pasti dia masih down." Gumam Tian hati.
Reno langsung memeluk Seli yang langsung menangis. Ketika melihat kehadiran Dokter Reno.
" Dokter, anak aku sudah meninggal, aku sudah tidak punya Olive lagi." Memeluk Dokter Reno dan berada dalam genggaman Dokter Reno.
" Seli... Yang sabar ya, kami tahu perasaan hati kamu untuk sekarang ini, untuk tersenyum pun pasti sulit sekarang." Toni memegang kedua bahu Seli yang sudah dianggapnya seperti saudara.
" Baik Dok aku akan sabar... Tetapi kondisiku sekarang, sedang tidak baik-baik saja Dokter, aku tahu hatiku Dokter." Seli menangis sejadi-jadinya.
" Bagaimana aku bisa kuat kak? Sedangkan aku sudah tidak bisa kuat untuk sekarang ini."
Berulang kali Seli mengucapkan bahwa dirinya kini frustasi. Tidak ada tujuan hidup untuk saat ini, hatinya masih terluka begitu mendalam kesedihan yang dia rasakan untuk sekarang ini.
Di hari pemakaman pun Seli tidak kuat lagi meratapi nasibnya, berulang kali Seli terjatuh dan jatuh pingsan karena tidak kuat dengan semua ujian yang telah terjadi.
__ADS_1
Hari ini adalah hari terakhirnya melihat wajah sang putri. Kini putrinya sudah tidak bisa di peluknya lagi atau di sentuh olehnya ketika sudah di makamkan.
" Oh tidak...Oh tidak...Oh tidak, aku tidak bisa melihat wajah anak aku lagi." Seli depresi dan menangis di pemakaman anaknya separuh raganya sudah sudah pergi untuk selamanya.
Saat para pelayat sudah pulang, namun ada dua orang yang masih berdiri di pemakaman untuk menemani nya yang masih meratapi kuburan sang putri, dua orang yang setia menemaninya adalah Dokter Reno dan Nada.
Mereka berdua berdiri di samping Seli.
Yang masih menangis, air matanya terus mengalir seakan tidak ihklas dengan kepergian sang putri yang sudah menemaninya bertahun-tahun.
Sang putri di makamkan di samping kuburan suaminya, di pemakaman Seli meminta maaf karena tidak bisa menjaga anaknya dengan baik.
Bersambung
Hy semuanya jangan lupa juga mampir.
Aku ada rekomendasi karya bagus dan keren.
__ADS_1