Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 11


__ADS_3

Mita dan Nayla sudah bersiap untuk pulang. Nayla mulai menghidupkan mesin mobil.


Di seberang, mata Mita menangkap pemandangan yang membuat hatinya cenat - cenut. Anjas membukakan pintu mobil untuk Sasha dengan manisnya.


Dan Sasha tersenyum lebar menerima perlakuan manis Anjas seperti itu. Sekilas mereka terlihat layaknya pasangan. Ya, pasangan suami - isteri.


Eh, kok mendadak hati Mita jadi perih ya? Sekali lagi, Mita mengelus - elus dadanya yang terasa perih itu.


Tak mau berlama - lama, Nayla pun mulai menjalankan mobilnya meninggalkan parkiran coffeshop.


Mita membuang napasnya kasar. Berusaha melupakan sikap manis Anjas terhadap wanita lain. Sikap manis yang dulu selalu tertuju padanya. Iya. Dulu. Sekarang tidak lagi.


Eh, tunggu dulu. Jangan bilang Mita cemburu.


Tidak. Ini tidak boleh terjadi.


"Jangan membohongi diri sendiri. Kalau cemburu, ya cemburu aja." Celetuk Nayla sambil pandangannya lurus ke depan. Konsentrasi dengan jalanan yang sore itu mulai ramai.


"Cemburu apaan sih."


"Lah itu, muka kamu. Sangat jelas keliatan, kalo kamu itu cemburu. Itu tandanya ..."


"Jangan sembarangan aja ngomong. Cemburu, enak saja." Mita cemberut. Nayla ini kalau ngomong suka seenaknya. Tapi anehnya selalu saja ada benarnya.


Cemburu ? Apa iya Mita cemburu ?


Di tengah Mita kebingungan dengan perasaannya. Ponselnya berdenting. Bunyi tanda pesan masuk.


Hai sweety, besok kalau ada waktu, ketemuan yuk.


Isi pesan dari Elvano. Si playboy karatan.


Mita mengernyit. Dari mana Elvano tahu nomornya.


Tidak salah lagi, ini pasti kerjaannya Nayla.


"Ini ulah kamu kan?" tuduh Mita sambil melirik Nayla yang sedang berkonsentrasi dengan jalanan.


"Ulah apa?"


"Ngasih nomor aku ke Vano."


Nayla nyengir lebar. Tidak peduli kekesalan Mita.


"Habis, dianya maksa sih ..."


Mita membuang pandangannya kembali ke depan.


Tapi eh tapi, bayangan sikap manis Anjas terhadap Sasha kembali mengganggu pikirannya. Hatinya serasa cenat cenut tak karuan. Ada rasa yang tak biasa mendadak datang melanda.


Sesaat memori Mita kembali ke masa empat tahun silam. Masa - masa indahnya bersama Anjas. Di mana Anjas selalu bersikap manis padanya.


Namun rasa sakit akan perlakuan buruk Anjas mendadak membuyarkan lamunannya. Dan menghadirkan kembali kebencian itu. Mita benci Anjas.

__ADS_1


____


Di sore yang sama.


Anjas benar - benar mengantarkan Sasha pulang ke rumahnya.


Sasha turun dari mobil Anjas. Dan di ikuti oleh Anjas yang kini sudah berdiri di sampingnya.


Sasha memiringkan tubuhnya agar berhadapan dengan Anjas.


"Makasih ya, udah nganterin aku pulang." Ucap Sasha sambil tersenyum manis menatap Anjas. Pria tampan yang sudah membuatnya jatuh cinta bertahun - tahun lamanya. Namun belum ada kejelasan status di antara mereka hingga detik ini.


Anjas hanya menatap lurus Sasha. Berbeda dengan sikapnya tadi saat di coffeshop.


"Masuklah."


"Tidak mampir dulu? Aku bisa buatin kamu minum. Sambil kita ngobrol sebentar." Tawar Sasha. Tapi sepertinya akan di tolak mentah - mentah oleh Anjas.


"Lain kali saja. Aku masih ada urusan lain."


Tuh kan ? Benar ! Anjas ini selalu saja susah di tebak. Barusan di coffeshop sikapnya sangat manis. Nah, sekarang, malah menyebalkan. Padahal Sasha sangat ingin berlama - lama berduaan dengannya. Mumpung tidak ada Nara di antara mereka.


"Anjas ..."


"Hmm?


"Aku boleh tanya sesuatu?"


"Apa sebelumnya kalian sudah saling kenal?"


Anjas mengernyit. Belum paham arah pertanyaan Sasha.


"Mita. Gurunya Nara." Ucap Sasha hati - hati.


Anjas membuang pandangannya sebentar. Lalu menarik napas panjang, membuangnya perlahan. Dan kembali menatap lurus Sasha.


"Kemarin malam, di tempat yang sama. Saat dia bersama Vano." Sahut Anjas sekenanya. Mengenai masa lalunya dengan Mita, Sasha tidak perlu tahu.


Sasha mengangguk kecil. Membuang napasnya lega. Padahal dia sempat berpikir kalau Anjas mengenal Mita jauh sebelumnya.


Masalahnya, tatapan Anjas terhadap Mita di coffeshop tadi, sangat mendalam. Tatapan mata Anjas itu penuh arti yang Sasha sendiri sulit untuk mengutarakannya.


"Dia cantik, terlihat cocok dengan Vano. Semoga saja Vano serius dengannya. Mungkin sudah saatnya Vano berubah."


Vano ? Ah, ya. Untung Sasha mengingatkan.


Bicara soal Vano, mendadak Anjas jadi khawatir. Bukan tanpa alasan kekhawatirannya itu. Masalahnya, Elvano adalah seorang playboy. Anjas hanya tidak ingin Mita menjadi korban pria itu selanjutnya.


Sudah banyak gadis yang berhasil jatuh ke dalam jeratannya. Lalu di tinggalkan begitu saja setelah pria itu berhasil mendapatkan apa yang dia inginkan.


Elvano tipe pria yang tidak akan puas hanya dengan satu wanita. Dan hal itulah yang membuat Anjas khawatir. Khawatir dengan Mita. Dia hanya tidak ingin hal yang sama terjadi pada Mita.


Anjas rupanya tidak benar - benar punya urusan lain. Buktinya, kini dia malah mendudukkan diri sejenak di sofa ruang tengah rumahnya. Setelah mandi dan berganti pakaian dengan pakaian yang lebih santai.

__ADS_1


Sesaat setelah dia duduk, dari belakang muncul Anjani dan Nara yang berjalan sambil bergandengan. Kelihatannya mereka habis main di taman belakang.


Dan kini mereka pun ikut duduk di sofa di samping Anjas. Tapi Nara langsung menghambur ke pangkuan Anjas


"Daddy ... besok daddy sama mommy jemput Nara lagi kan? Nara senang kalau daddy sama mommy bareng - bareng terus. Nara jadi sama kayak teman - teman Nara yang lain." Ucap Nara dengan manjanya.


Anjas mengerutkan dahinya. Mencerna maksud kalimat Nara.


"Complete parents (orang tua yang lengkap)" sahut Anjani seolah menyindir Anjas.


Ya ampun, anak kecil ini. Belum tahu aja, uncle nya ini masih jomblo.


"Daddy tidak janji ya? itu kebetulan saja mommy dan daddy ada waktu." Anjas tidak ingin menyakiti hati Nara.


Walau bagaimanapun Nara ini adalah seorang anak kecil. Hal yang wajar jika dia juga ingin seperti teman - temannya yang lain. Punya orang tua yang lengkap. Tapi sayangnya, tragedi naas empat tahun silam itu telah merenggut kedua orangtuanya dari sisinya.


Alhasil, uncle nya yang masih jomblo ini di sangkanya sebagai ayahnya. Dan Sasha teman uncle nya, di sangkanya sebagai ibunya.


Tidak ada yang patut di persalahkan untuk masalah ini. Nara hanyalah seorang anak kecil. Anak kecil yang begitu polos.


"Kenapa daddy tidak ajak mommy tinggal di sini saja bareng kita. Biar kita bisa tidur bareng." Ucap Nara dengan polosnya.


Membuat Anjas harus menelan ludah dan bingung harus menjawab apa.


Sementara di sebelah, Anjani senyum - senyum sendiri sambil menatapnya. Seolah adiknya itu sedang menggodanya.


"Di jawab Kak. Keinginan Nara simpel." Celetuk Anjani.


Bukan tanpa alasan Anjani berkata seperti itu. Anjani tahu betul seperti apa perasaan Sasha kepada Anjas. Namun Anjas tidak pernah sekalipun membahas perihal Sasha.


Anjani sempat tahu, dulu ada seseorang yang begitu di cintai kakaknya. Tapi Anjani tidak tahu menahu tentang gadis yang sempat mengisi hati kakaknya itu.


"Tinggal bawa Sasha ke rumah ini, trus ganti status. Udah, beres." Celetuk Anjani lagi.


"Nara pengen sama mommy terus." Pinta Nara manja.


"Mmm ... Nara, daddy ..." asli, Anjas bingung mau bilang apa. Permintaan Nara secara tidak langsung meminta dia untuk segera menikahi Sasha. Sementara Anjas sendiri tidak memiliki perasaan apa - apa terhadap Sasha. Selain teman saja.


"Ikuti saja keinginan Nara Anjas ..."


Tiba - tiba Oma Lidya ikut menyahuti dari arah ruang tamu. Dan mengambil duduk di samping Anjas.


"Secepatnya kamu lamar Sasha. Kalau kamu malu, biar Mama yang ngomong langsung ke Sasha. Gimana?" Oma Lidya to the point. Tanpa basa - basi lagi.


Dan Anjas, hanya bisa tercengang.


...*...


...*...


...*...


...-Bersambung-...

__ADS_1


__ADS_2