Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 37


__ADS_3

Mita semakin mempercepat langkahnya memasuki gedung Winata Group. Sementara Anjas mengekor di belakangnya. Sekilas tampak Mita seperti bawahan yang tidak menghormati atasan. Itu kesan yang terlihat oleh karyawan yang lain. Bahkan mereka saling bergosip dan mencibir Mita. Tetapi Anjas tidak peduli. Dia terus mengekor di belakang Mita sambil tersenyum - senyum sendiri.


Ya iyalah. Gimana hatinya Anjas tidak senang. Dia sudah menang banyak hari ini. Dia sudah berhasil meluapkan kerinduannya pada Mita. Meski Mita belum memberikan keputusan akan kembali padanya atau tidak. Tapi setidaknya dia sudah menang selangkah dari Elvano.


Begitu tiba, Mita langsung mengambil duduk di kursi kerjanya. Dan mulai menyibukkan diri dengan beberapa berkas yang tergeletak di mejanya itu. Sementara Anjas memasuki ruangannya masih dengan senyum yang terkembang di wajahnya.


Sejak kejadian di mobil tadi hingga detik ini, jantung Mita masih saja gaduh. Berdegup kencang tak karuan. Mita memegangi dadanya sembari memejamkan matanya. Apa yang Anjas lakukan di mobil tadi sungguh membuat hatinya berdebar - debar.


Dugaan Mita selama ini terhadap Anjas ternyata salah besar. Selama empat tahun Anjas masih menjaga hatinya untuk Mita. Bahkan Anjas masih mencintai Mita seperti dulu. Bagaimana Mita tidak baper coba. Ternyata ada juga pria yang mencintainya sedalam itu. Lamunan Mita pun semakin melambung tinggi.


Di tengah lamunannya yang kian melayang - layang jauh itu, tiba - tiba terdengar suara merdu nan imut tengah memanggil namanya.


"Bunda ... Bunda Mita ..." Panggil si pemilik suara imut itu. Mita pun akhirnya tersadar dari lamunan panjangnya. Dan terbelalak saat mendapati seorang anak kecil nan imut dan manis sedang berdiri di depan mejanya.


"Nara ..." Sapa Mita sumringah. "Nara kesini sama siapa?"


"Sama Oma dan Aunty. Tuh!" Nara menunjuk ke arah Oma Lidya dan Anjani yang sedang berdiri di depan pintu ruangan Anjas.


Melihat Mita, Oma Lidya seakan mengenalinya. Kemudian datang menghampiri dengan dahi mengerut.


"Selamat siang Bu ..." Sapa Mita sembari membungkukkan badannya.


"Siang. Loh, bukannya kamu ... Pacarnya Vano kan?" Tebak Oma Lidya. Mita hanya tersenyum. Kemudian Anjani pun datang menghampiri.


"Hai Mita ..." Sapa Anjani.


"Hai ..." Mita balas menyapa dengan ramah.


"Jadi kamu kerja disini? Kamu sekretarisnya Anjas?" Tanya Oma Lidya.


"Iya, Bu. Saya sekretarisnya Pak Anjas. Oh ya, Ibu mau bertemu Pak Anjas? Silahkan Bu, Pak Anjas ada di dalam."


"Kita ke dalam dulu ya Mit ..." Ucap Anjani kemudian menggandeng tangan Nara menuju ke ruangan Anjas.


"Nara ketemu Daddy dulu ya Bunda." Pamit Nara.


"Iya, Nara." Ucap Mita dengan senyum terkembang.


"Tante ke dalam dulu ya?" Pamit Oma Lidya kemudian menyusul Anjani dan Nara yang telah lebih dulu memasuki ruangan Anjas. Mita pun kembali duduk sambil mengelus dadanya.


.


.


Di ruangannya, Anjas terlihat sedang melakukan panggilan telepon. Melihat Anjani, Nara, dan mamanya datang, Anjas pun mengakhiri panggilan teleponnya.


"Daddy ..." Nara berlari dan langsung menghambur ke pangkuan Anjas.


"Hai sayang ... Anak Daddy yang imut. Tumben datang kesini?"


"Nara kangen sama kamu. Katanya kamu sibuk melulu, sampai kamu tidak punya waktu bermain dengannya." Ucap Oma Lidya sembari mengambil duduk di depan meja Anjas.


"Sorry ya, akhir - akhir ini pekerjaan Daddy semakin menumpuk. Daddy jadi semakin sibuk deh."

__ADS_1


"Oh ya, Anjas. Itu pacarnya Vano kerja sama kamu? Sudah berapa lama?" Tanya Oma Lidya.


"Pacarnya Vano?" Anjas mengernyit. Sebetulnya Anjas tahu siapa maksud mamanya.


"Mita Kak." Sahut Anjani.


"Mama kenal Mita?" Anjas semakin mengernyit.


"Kemarin malam datang ke butik bareng Kak Vano." Sahut Anjani lagi.


"Oh ya? Ngapain mereka ke butik Mama?"


"Beli gaun lah. Mama loh yang sudah mendandani pacarnya Vano malam itu. Pacarnya Vano cantik ya? Semoga saja mereka berjodoh. Mereka itu terlihat sangat cocok." Ucap Oma Lidya tanpa basa - basi. Dan Anjas hanya bisa menelan salivanya kasar.


Ealah ... Kok mamanya malah mendoakan Mita berjodoh dengan orang lain sih. Tuh lihat, raut wajah Anjas suram seketika. Dan Anjani tahu benar seperti apa perasaan kakaknya saat ini. Oma Lidya tidak tahu kalau Mita adalah wanita di masa lalu Anjas. Wanita yang sempat ingin Anjas nikahi dulu. Namun terhalang oleh tragedi.


Tok Tok Tok !


Terdengar suara pintu di ketuk dari luar.


"Masuk." Seru Anjas. Nara pun turun dari pangkuannya dan berganti duduk di pangkuan Anjani yang duduk di samping mamanya, di depan meja kerja Anjas.


Pintu pun terbuka. Dari pintu itu, tampak Mita tengah melangkah masuk dengan sebuah map di tangannya. Anjani memandanginya dan kakaknya bergantian. Kemudian tersenyum. Membuat Anjas jadi bingung.


Anjani pun menaikturunkan kedua alisnya untuk menggoda kakaknya itu. Tapi Anjas malah kebingungan. Ya jelaslah, karena Anjas tidak tahu kalau adiknya itu sebenarnya sudah mengetahui siapa Mita.


"Maaf, Pak. Ini laporan mingguan yang harus bapak periksa dan tanda tangani." Ucap Mita sembari menaruh map itu di depan Anjas.


"Oh ya Anjas. Mama minta supaya kamu cepat - cepat melamar Sasha. Jangan terlalu lama menundanya. Pamali." Ucap Oma Lidya tiba - tiba. Hingga membuat Anjas menghentikan kegiatannya.


"O Ow ..." Anjani melirik Anjas dan Mita bergantian. Raut wajah keduanya mendadak berubah drastis.


"Ma ... Tolong jangan bahas soal itu disini." Pinta Anjas.


"Melamar itu apa Oma?" Tanya Nara polos.


"Melamar itu artinya ... Daddy sama Mommy nya Nara akan segera menikah."


"Menikah? Berarti Mommy akan tinggal bareng kita dong. Mommy akan tidur bareng Nara sama Daddy kan ya?"


"Iya, Nara sayang. Tapi kalau Daddy sama Mommy udah nikah, Nara tidurnya sama Oma aja. Ya? Biar Daddy sama Mommy tidurnya berdua." Oma Lidya nih makin nyerocos aja. Mulutnya suka jujur kalo ngomong.


Dan Mita? Wajahnya mendadak mendung. Mita semakin menundukkan wajahnya untuk menutupi perubahan raut wajahnya itu. Namun sempat terlihat oleh Anjas.


Uugh ... Ibu - ibu rempong yang satu ini. Rasanya pengen di gembokin aja tuh bibirnya. Bibir udah merah begitu. Mana lipstiknya over lips lagi? Mungkin maksudnya biar bibirnya tuh seksi ya? Biar mirip sama Kyle Jenner gitu kali ya? Tapi itu jatohnya malah kayak habis makan cabe sekebon. Bukan seksi lagi, tapi dower.


"Ma ... Please. Jangan bahas itu disini. Kalau Mama masih mau bahas itu, lebih baik Mama pulang saja." Anjas jadi kesal dengan mulut ember mamanya sendiri.


"Anjas. Mama ngomong begini itu demi kebaikan kamu dan Sasha. Secepatnya kalian harus memiliki kejelasan hubungan diantara kalian. Biar tidak jadi omongan orang."


"Iya. Tapi ini di kantor Ma. Kalau Mama mau bahas soal itu bukan disini tempatnya." Loh kok malah jadi berdebat sih?


"Mama tidak mau kamu selalu menundanya. Apalagi kalau sampe kamu masih mencari wanita masa lalu kamu itu. Mama tidak suka. Dan Mama tidak setuju kalau dia yang jadi menantu Mama." Asli, Oma Lidya to the point. Omongannya gak di filter lagi.

__ADS_1


Dan Mita, semakin tak nyaman berada diantara mereka. Sekali lagi, Anjas melirik Mita yang masih menunduk. Matanya tampak mulai berkaca - kaca. Jujur, Mita tersinggung mendengar itu.


"Ma ... Pelan - pelan dong ngomongnya." Tegur Anjani yang tahu betul seperti apa perasaan kakaknya dan Mita saat ini.


Namun Oma Lidya, mulut dowernya itu malah semakin tak terkendali. Remote kontrolnya kehabisan baterai kali ya.


"Wanita yang tidak jelas asal - usulnya itu, Mama tidak suka. Apalagi kalau sampe dia itu cuma dari keluarga rendahan, keluarga menengah ke bawah. Mama sangat tidak setuju. Cocoknya Sasha yang jadi menantu Mama. Yang jelas bibit, bebet, bobot nya. Dari keluarga yang sederajat lagi." Tandasnya lagi. Dih, Oma Lidya kebangetan.


Ambyar deh hati Mita. Sakit, teriris, tersayat - sayat, bagai di remas - remas. Sangat perih. Omongan ibu - ibu kece badai itu teramat sangat menyinggung perasaan Mita.


"Ma, kalau ngomong di filter dulu napa sih?" Tegur Anjani lagi. Dilihatnya raut wajah Anjas semakin tak enak di pandang mata. Amarah yang tertahan tersirat jelas dari raut wajah itu.


"Mama cuma ngomong apa adanya aja. Mama tidak suka menantu Mama cuma dari kalangan rendah."


Brakkk !!!


Anjas memukul mejanya sangat keras. Hingga membuat semua yang berada di ruangan itu pun tersentak kaget. Wajah Anjas terlihat merah padam. Amarah kini semakin menguasainya. Apalagi saat dilihatnya Mita mulai menitikkan air mata.


"Maaf, Pak. Saya permisi dulu." Mita pun bergegas keluar dari ruangan Anjas dengan wajah yang terus menunduk. Dan air matanya pun tumpah ruah seiring dengan menutupnya daun pintu ruangan itu.


"Kamu kenapa sih, Anjas. Nara sampe kaget loh." Oma Lidya mengerutkan dahinya. Tidak mengerti dengan sikap Anjas.


Mungkin hanya Anjani yang tahu benar kenapa Anjas sampai berbuat seperti itu. Jelas saja Anjas marah. Karena mamanya sudah menghina Mita tanpa disadarinya.


"Aku tidak suka cara Mama yang seperti ini." Kemudian Anjas bangkit dari duduknya.


"Aku tidak suka ada orang yang menghina Mita di depanku. Termasuk Mama." Anjas pun berlalu. Keluar dari ruangannya dan hendak menyusul Mita yang entah sudah pergi ke mana.


"Mita? Mama menghina Mita? Apa maksudnya itu?" Oma Lidya benar - benar tidak mengerti maksud Anjas. Kapan dia menghina Mita. Padahal, baru saja dia memuji Mita. Anjas makin aneh deh.


"Daddy kenapa Oma?" Tanya Nara.


"Oma tidak tau sayang."


.......


.......


.......


...Bersambung...


Mohon maaf untuk jadwal updatenya yang tidak menentu 🙏


Maklum lah ya 🤗 otor cuma bu ibu rempong.


But thankyou so much udah mampir di cerita receh otor kawe ini.


Always saranghae readers ❤️


salam hangat


Otor Kawe

__ADS_1


__ADS_2