Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 52


__ADS_3

"Titip Nara ya?" Ucap Anjas pada Mita, sebelum akhirnya naik ke mobilnya. Kemudian mulai memacu mobilnya meninggalkan pekarangan rumah.


Sembari mengulas senyum, Mita melambaikan tangannya melepas kepergian Anjas. Dan hal itu pun, lagi - lagi tanpa sengaja disaksikan oleh Memey.


Bingung dan heran? Sudah pasti. Bahkan ART kepo itu dibuat penasaran. Melihat majikannya saling melempar senyum dengan Mita. Bahkan Mita, melambaikan tangannya pada Anjas. Sekilas, dari yang terlihat, mereka mirip sepasang kekasih.


Dahi Memey pun mengerut. Membanding - bandingkan sikap Anjas terhadap Mita dan Sasha.


"Kalau sama Non Sasha, Den Anjas tidak secerah itu wajahnya. Bahkan terlihat murung. Tapi kalau sama pengasuh itu, raut wajah Den Anjas terlihat seperti seseorang yang sedang berbahagia. Aku jadi penasaran, ada hubungan apa diantara mereka berdua." Gumam Memey sambil terus memperhatikan Mita. Yang masih berdiri di ambang pintu sambil tersenyum - senyum memandang ke arah gerbang. Sekilas gaya Memey bak seorang detektif.


"Ayo, ngapain." Seru Anjani tiba - tiba sembari menepuk keras pundak Memey. Hingga ART kepo itu terlonjak kaget.


"Eh, Non. Mau ke kampus Non?" Memey jadi salah tingkah.


"Ya iyalah Memey. Kenapa tingkah kamu seperti tadi? Kenapa kamu memperhatikan Mita?" Selidik Anjani.


"Non, jangan suka menuduh sembarangan Non. Memey cuma heran saja melihat sikap Den Anjas ke pengasuh itu. Kok berbeda ya dengan sikap Den Anjas ke Non Sasha. Aneh aja Non."


"Awas, jangan suka menyebar hoaks ya. Itu fitnah namanya. Jaman skarang, ada undang - undangnya loh Mey. Kamu bisa kena pidana kalau kamu suka menyebar hoaks. Kamu mau di penjara?" Anjani mencoba menakut - nakuti Memey agar mulutnya nanti tidak bocor kemana - mana. Apalagi kalau sampai ke telinga Oma Lidya. Bisa gawat kan?


"Memey mana mau di penjara Non."


"Makanya, kunci rapat tuh mulut. Jangan suka menebar hoaks." Kemudian Anjani melenggang meninggalkan Memey yang masih kebingungan.


Pasalnya, bukan hanya sekali Memey melihat keanehan diantara keduanya. Pertama, Memey melihat Anjas mengajak Mita ke lantai dua. Kedua, Memey sempat melihat Mita keluar dari kamar Anjas. Dan ketiga, Memey melihat keduanya saling melempar senyum. Jelas saja Memey merasa ada yang aneh.


"Mit, aku ke kampus dulu ya. Titip Nara." Ucap Anjani sembari berlalu.


Mita tersenyum sembari memandangi kepergian Anjani.


Belum sempat Anjani keluar dari pintu gerbang, tiba - tiba sebuah mobil datang dan membunyikan klakson. Satpam yang berjaga pun segera membukakan gerbang itu.


Sebuah mobil yang tampak familiar. Dan Anjani tahu betul siapa pemilik mobil itu.


Elvano Abraham.


Buru - buru Anjani mengambil ponselnya. Lalu menuliskan sebuah pesan chat untuk Anjas.


.


.


.


Saat ini Anjas tengah berada di sebuah kafe bersama seseorang yang mengajaknya untuk bertemu. Chandra menelponnya tadi untuk memberitahukan hal itu.


Pria paruh baya dengan setelan rapi itu menatapnya dengan seksama. Sementara Anjas, wajahnya tertunduk.


"Saya tidak akan lagi bertanya soal hubungan kamu dengan Sasha." Ucap Sandy Abraham dengan gaya formal. Tidak lagi seperti biasanya, yang tampak santai jika mengobrol dengan Anjas.


"Kamu tau sendiri, Sasha adalah putri saya satu - satunya. Sebagai orang tua, tentu saja saya ingin yang terbaik untuk putri saya. Dan kamu tau sendiri, apa yang bisa saya lakukan jika ada orang yang menyakiti putri saya." Tambah Pak Sandy.


"Terus terang, saya kecewa dengan kamu." Tambahnya lagi.


Anjas masih tertunduk. Dia tahu kemana arah pembicaraan Pak Sandy. Dan untuk soal itu, Anjas sudah mempersiapkan dirinya.


"Kapan saja saya bisa menarik kembali_"


"Silahkan Om." Sela Anjas cepat sebelum Pak Sandy menyelesaikan kalimatnya. Anjas pun mengangkat wajahnya.


"Om bisa melakukan itu kapanpun Om mau. Aku minta maaf sudah mengecewakan Om." Sambungnya.


Kalimat yang membuat seorang Sandy Abraham cukup terkejut mendengarnya. Anjas sudah mulai menunjukkan keberaniannya.


Bip!


Tiba - tiba terdengar bunyi pesan chat masuk di ponsel Anjas. Anjas pun merogoh ponselnya dari saku celananya.


Sebuah pesan dari Anjani.

__ADS_1


Di rumah ada Kak Vano.


Begitulah isi pesan Anjani. Yang membuat Anjas tidak bisa berlama - lama melayani pria paruh baya itu. Cepat Anjas bangkit dari duduknya.


"Selama ini aku tidak pernah memberitahu hal ini. Aku selalu diam saja seperti seorang pengecut. Tapi kali ini, tidak lagi." Anjas menghela napas sebentar. Lalu melanjutkan kembali kalimatnya.


"Ada wanita lain yang aku cintai. Dia adalah seluruh hidupku. Demi dia, aku rela kehilangan segalanya. Sekali lagi, maafkan aku Om. Permisi!"


Anjas bergegas pergi meninggalkan Pak Sandy yang tampak geram mendengar ucapannya.


Jadi, selama ini, inilah alasan kenapa sampai detik ini Anjas tidak memberikan kepastian perihal hubungannya dengan Sasha. Bahkan terkesan mengulur - ngulur waktu jika berkaitan dengan pertunangannya.


Hal ini tidak bisa diterima. Pak Sandy mengepal tinjunya kuat. Wajahnya menegang, menahan amarah yang perlahan memuncak. Ini seperti penghinaan baginya. Baginya, Anjas sudah sangat keterlaluan.


.


.


.


"Kenapa kamu tidak beritahu aku kalau Anjas sudah memecat kamu." Ucap Elvano. Diambang pintu rumah itu, Mita dan Elvano masih berdiri.


Mita enggan mempersilahkan Elvano masuk, karena dia bukan tuan rumah. Sebenarnya Mita cukup terkejut dengan kedatangan Elvano.


"Untuk apa aku memberitahu kamu soal itu. Toh kita bukan siapa - siapa."


"Tapi akulah penyebab kamu dipecat."


"Sudahlah, Van. Tidak perlu membahas soal itu. Lagian skarang aku sudah dapat pekerjaan baru."


"Di rumah ini?"


Mita mengangguk lesu.


"Berhenti sekarang juga."


"Aku bisa memberimu pekerjaan yang lebih layak."


"Jadi maksud kamu pekerjaan aku skarang ini tidak layak? Begitu? Atau rendahan maksud kamu?" Mita tampak mulai naik pitam.


Elvano mendesah panjang.


"Bukan begitu maksudku. Aku hanya tidak suka melihat kamu berada dekat dengan Anjas."


"Kenapa?"


"Ya aku cemburu lah Mit."


Mita terkekeh mendengarnya. Bahkan terdengar meremehkan Elvano.


"Sorry, Van. Sebaiknya kamu pulang. Aku harus menemani Nara. Dia sendirian menonton TV." Cepat Mita memutar tubuhnya. Kemudian melenggang meninggalkan Elvano.


Namun, baru beberapa langkah saja, Elvano menarik lengannya. Terpaksa Mita pun menghentikan langkahnya. Lalu memutar kembali tubuhnya menghadap Elvano.


"Apa lagi sih? Tolong lepaskan tanganku." Pinta Mita dengan wajah kesalnya.


"Please ... Pertimbangkan sekali lagi. Aku pikir kamu tidak suka berada dekat dengan Anjas. Bahkan selama ini kamu selalu menghindarinya. Apa kamu lupa?"


"Saat itu aku tidak tau apa - apa. Tapi sekarang, aku sudah tau kenapa Anjas meninggalkanku dulu."


"Lalu hubungan kita bagaimana?"


"Hubungan? Hubungan apanya?"


"Hubungan kita Mit. Please, kasih aku jawaban. Hubungan kita menjauh hanya karena kesalahpahaman kecil saja. Kasih aku kesempatan untuk menjelaskan semuanya."


"Bukannya sudah jelas ya, diantara kita tidak ada apa - apa. Sejak awal memang sudah seperti itu."


Elvano mulai tampak kesal. Jika memang Mita masih mencintai Anjas, lalu kenapa Mita mau menjalin hubungan dengannya. Apa jangan - jangan sejak awal Mita hanya ...

__ADS_1


"Lepaskan tanganku." Pinta Mita sekali lagi.


Elvano pun melepaskannya.


"Jadi selama ini kamu hanya memanfaatkan aku untuk membuat Anjas cemburu?" Elvano mulai berpikiran buruk.


"Anggap saja seperti itu." Kemudian berbalik hendak meninggalkan Elvano.


Namun, lagi - lagi Elvano menarik kasar lengannya. Hingga Mita pun otomatis sampai berada begitu dekat dengan Elvano. Dan Elvano malah merangkul pinggangnya erat.


"Apa - apaan sih kamu, Van? Tolong jangan seperti ini. Aku hanya tamu di rumah ini." Panik Mita. Sembari berusaha lepas dari rangkulan Elvano.


"Kamu yang sudah bikin aku jadi seperti ini. Kamu sudah mempermainkan perasaanku."


"Sejak awal diantara kita memang tidak ada apa - apa. Bukankah tujuan kamu mendekati aku itu hanya main - main? Jadi sudah jelas kan, hubungan kita itu seperti apa?"


"Tapi aku mencintaimu. Aku tidak main - main dengan perasaanku."


"Itu urusan kamu. Skarang, tolong lepaskan."


"Tidak, sampai kamu memberi aku kejelasan."


"Aku tidak mencintai kamu. Sudah jelas kan, skarang? Tolong lepas." Mita masih berusaha lepas dari rangkulan Elvano. Tetapi rangkulan Elvano terlalu kuat, hingga Mita kesusahan membebaskan dirinya.


Bukannya melepaskan Mita, Elvano kini malah berusaha mencium Mita. Dengan sekuat tenaga Mita berusaha mengelak dan berusaha lepas dari Elvano.


Elvano benar - benar sudah kehilangan akal. Dia semakin dibutakan api cemburu. Jadi, seperti ini kelakuan Elvano yang sebenarnya.


"Lepaskan Van. Lepas ..." Mita masih berusaha lepas. Tapi Elvano tidak menghiraukannya. Dia masih berusaha mencumbu Mita. Sampai akhirnya ...


BUGH!!!


Seseorang menarik paksa Elvano lalu memberikan satu pukulan keras di wajahnya. Hingga Elvano pun terhuyung. Sembari meringis, Elvano mengusap wajahnya yang lebam akibat bogem dari Anjas.


"Berani - beraninya kamu berbuat hal tidak senonoh pada Mita. Apalagi di rumahku." Seru Anjas lantang.


Seruan lantang Anjas itu pun tanpa sengaja terdengar oleh Memey yang hendak ke warung. Memey pun menghentikan langkahnya. Lalu mengintip sebentar ke ruang tamu. Kira - kira apa yang terjadi sampai Anjas semarah itu.


"Jangan ikut campur, Jas. Ini urusan aku dengan Mita."


"Skarang kalian berada di rumahku, jelas ini juga menjadi urusanku."


Anjas pun maju beberapa langkah menghampiri Elvano. Lalu meraih kerah baju Elvano dan mencengkeramnya kuat. Tatapan Anjas sangat garang. Menampakkan amarah yang begitu besar terhadap kelakuan Elvano.


"Dengar, Van. Aku masih menghargai kamu sebagai teman. Jika bukan karena itu, aku akan membuatmu babak belur sampai kamu tidak akan bisa mengenali wajahmu sendiri. Mulai detik ini, jauhi Mita. Jangan pernah mendekatinya lagi."


"Dia itu milikku. Aku mencintainya."


Anjas tersenyum sinis, "Cinta? Kalau kamu benar mencintainya, kamu tidak akan memperlakukannya seperti ini. Kalau sampai hal seperti ini terjadi lagi, aku bisa berbuat hal yang lebih buruk dari ini. Bahkan bisa saja kamu kehilangan nyawamu."


Elvano terkekeh, "Memangnya kamu siapa? Apa kamu punya nyali sebesar itu?


"Aku calon suaminya."


"Apa?" Elvano terkejut mendengarnya.


Bukan hanya Elvano. Memey yang sedang menguping pun sangat terkejut mendengarnya.


.......


.......


.......


...Bersambung...


Thankyou so much udah mampir di karya receh otor kawe ini.


Saranghae ... 😘

__ADS_1


__ADS_2