Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 58


__ADS_3

Maaf ya, aku masih ada urusan sebentar. Tapi aku janji akan segera menemui kamu begitu urusannya selesai. Love you.


Begitu isi pesan Mita. Hingga Anjas pun hanya bisa menghembuskan napasnya panjang.


Sepertinya Anjas harus pergi sendiri. Untung saja dia sudah membuat janji dengan temannya yang bekerja di salah satu perusahaan besar di kota ini. Temannya itu sudah merekomendasikan Anjas kepada atasannya. Beruntung, perusahaan itu sedang membuka lowongan saat ini. Dengan begitu, Anjas tidak perlu lagi berkeliling kota untuk mencari pekerjaan.


Sementara di ruang tengah rumahnya, Oma Lidya tampak seperti sedang menyidang para asisten rumah tangganya.


Dengan sangat terpaksa, dia harus memberhentikan satpam, sopir, serta Memey, si ART kepo itu. Mereka sudah tidak sanggup lagi membayar gaji para ART nya. Sehingga mereka harus mengambil langkah ini dengan sangat berat hati.


.


Di waktu yang sama, namun di lain tempat.


Mita tengah memandangi paras Elvano yang tertidur lelap. Terpaksa Mita menuruti permintaan Mama Maria untuk menjenguk Elvano.


Ditatapnya paras itu tanpa ekspresi. Pandangannya pun bergulir ke pergelangan tangan Elvano yang tampak terbalut perban. Apa benar pria itu berusaha bunuh diri? Kekanak - kanakan sekali.


Kata Mama Maria, saat Elvano dalam keadaan mabuk berat, dia memecahkan cermin yang ada di dalam kamarnya. Dan menggunakan pecahan cermin itu untuk menggores nadinya. Di sudut kamar itu, Mita pun bisa melihat, sebuah cermin meja rias dalam keadaan pecah. Tapi, apa memang benar?


Kini, Mita memutar tubuhnya hendak keluar dari kamar itu. Sampai tiba - tiba langkahnya pun terhenti.


"Mit ..." Panggil Elvano yang baru saja terjaga.


Mita pun kembali memutar tubuhnya. Tampak Elvano berusaha turun dari tempat tidurnya dan menghampiri Mita perlahan. Sorot matanya menatap sayu. Dengan wajah putih memucat.


"Aku datang karena Tante Maria yang minta. Aku sudah melihat keadaan kamu, dan kamu baik - baik saja. Jadi untuk apalagi aku ada disini? Permisi."


Mita hendak pergi, namun dengan cepat Elvano mencekal lengannya.


"Aku minta maaf soal kejadian di rumah Anjas. Aku sungguh tidak bisa mengendalikan diriku." Ucap Elvano.


"Sudah aku maafkan. Aku pergi skarang. Urusan kita sudah selesai kan?"


Mita pun berbalik dengan cepat dan bergegas keluar dari kamar Elvano.


"Mit, Mita ... Mita tunggu."


Elvano berusaha mengejar Mita yang kini sedang menuruni anak tangga satu per satu dengan langkah cepat. Begitu dekat, Elvano kembali mencekal lengannya dengan kuat. Hingga terpaksa Mita menghentikan langkahnya.


"Apa lagi sih Van?" Kesal Mita.


"Kasih aku kesempatan sekali lagi. Aku bisa membuktikan, kalau aku benar - benar serius denganmu." Pinta Elvano.


"Sorry Vano. Aku tidak bisa memberi kamu kesempatan."


"Kenapa tidak? Kamu bisa memberi Anjas kesempatan, kenapa aku tidak bisa? Kamu tidak adil Mit."


"Karna aku mencintai Anjas."


Elvano terdiam sejenak.


Apa yang Elvano lakukan terhadap Anjas, benar - benar membuat Mita membencinya. Elvano sudah keterlaluan, dengan membuat hidup Anjas sengsara hanya karena rasa cemburunya. Dan Mita tidak bisa menerima hal itu.


Dimana - mana, orang kaya sama saja. Mentang - mentang punya uang yang banyak, seenaknya saja mempermainkan hidup orang lain dengan mengandalkan harta mereka.


"Aku mencintaimu Mit. Tidak bisakah kamu memikirkan perasaanku juga? Anjas sudah pernah mencampakkan kamu. Tapi kamu__"


"Anjas tidak pernah mencampakkan aku. Dia hanya berada dalam situasi yang sulit. Aku sangat mengerti itu."


"Apa yang harus aku lakukan agar kamu bisa memberiku kesempatan, sama seperti Anjas."


"Kamu gila. Kamu pikir aku perempuan murahan yang bisa menjalin hubungan dengan dua pria sekaligus? Aku tidak menyangka, kamu menilai aku serendah itu."


"Lalu apa? Apa yang harus aku lakukan?"

__ADS_1


Mita menatap tajam Elvano, "Kembalikan semua milik Anjas." Tegasnya dengan nada penuh penekanan.


Elvano menganggukkan kepalanya, "Baik, jika itu yang kamu mau. Jika aku melakukan itu, apa kamu mau kembali padaku?" Elvano tampak serius dengan ucapannya. Apapun akan dia lakukan untuk mendapatkan Mita kembali.


Mita terkekeh, "Dasar gila."


"Akan aku lakukan. Tapi dengan syarat, tinggalkan Anjas. Aku akan menikahi kamu."


Mita pun menarik kasar lengannya dari cengkeraman Elvano, "Kamu benar - benar gila."


Dengan langkah cepat Mita menuruni anak tangga. Kemudian pergi dari rumah itu.


Elvano hanya bisa menggeram, menahan kekesalannya. Sekeras apapun dia berusaha membujuk Mita, tetap saja hasilnya sama. Mita benar - benar keras kepala.


Di seberang, tanpa sengaja Mama Maria melihat dan mendengar obrolan mereka. Dari apa yang baru saja disaksikannya, Mama Maria sudah bisa menebak, apa yang menjadi penyebab Elvano pulang dalam keadaan mabuk berat. Bahkan hampir saja mengakhiri hidupnya. Ternyata penyebabnya adalah hubungannya dengan Mita yang sudah berakhir.


.


.


.


Atas rekomendasi dari temannya, kini Anjas tengah diinterview oleh atasannya langsung. Akan tetapi, ada sedikit masalah. Posisi yang cocok dan pantas untuk Anjas, telah terisi. Dan hanya ada satu lowongan yang tersisa.


Anjas pun berpikir sejenak. Untuk saat ini, Anjas tidak boleh memilih - milih pekerjaan. Kebutuhan hidup semakin menuntut. Apapun pekerjaan itu, asalkan halal, Anjas bersedia.


"Baik, Pak. Saya terima pekerjaannya." Akhirnya Anjas memberikan jawabannya.


"Besok kamu sudah bisa bekerja." Ucap pria paruh baya, atasan di perusahaan itu.


"Terima kasih, Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu." Sembari mengulurkan tangannya bersalaman dengan pria paruh baya itu.


"Iya, silahkan."


Anjas pun lantas keluar dari ruangan itu.


Rupanya Sandy Abraham sengaja membuat Anjas tidak bisa diterima bekerja di perusahaan manapun. Kalaupun ada pekerjaan untuknya di perusahaan besar, pekerjaan itu tidak lebih dari seorang Office Boy saja.


Anjas tengah duduk di sebuah taman, menunggu Mita datang. Anjas membuka dua kancing teratas kemejanya, menggulung lengan kemejanya kemudian. Sembari menyapukan pandangannya memastikan kedatangan Mita.


Di seberang jalan, Mita terlihat turun dari ojek online yang ditumpanginya. Melihat Anjas berdiri dan memandanginya dari jauh membuat Mita senang. Mita melambaikan tangannya sambil tersenyum lebar.


Anjas pun membalas lambaian tangan Mita.


Mita hendak menyeberang jalan. Di kejauhan, tampak sebuah mobil tengah melaju dengan kecepatan tinggi. Mita sudah berada di tengah jalan saat mobil itu mulai mendekat. Mita terus saja melangkah tanpa menyadari bahaya yang kini tengah mengintainya.


Mita masih menyeberangi jalan, hingga mobil yang tengah melaju itu pun semakin mendekat. Sampai akhirnya, suara mobil yang tengah melaju itu kini terdengar semakin mendekat. Mita pun menyadarinya. Namun tak ada waktu lagi untuknya menghindar.


Sampai tiba - tiba ...


Wussshhh ...


Mobil itu melesat dengan kecepatan tinggi. Dan Mita?


Beruntung, Anjas lebih dulu menyadari bahaya itu. Secepat kilat dia berlari dan menarik Mita sekuat tenaga. Hingga Mita pun jatuh ke dalam pelukannya.


Oh my God!


Untung saja Anjas secepat Iron Man dan segesit Spiderman. Kalau tidak, sudah jadi apa Mita saat ini. Mita bukan Wonder Woman, yang bisa menghentikan laju mobil itu. Mita hanyalah wanita lemah. Tapi Mita juga bisa jadi Cat Woman kalau sedang marah.


Ya sudahlah ya Mita. Kamu itu bukan Wonder Woman ataupun Cat Woman. Tapi kamu adalah Spesial Woman di hati Anjas.


"Kamu tidak apa - apa kan?" Panik Anjas sembari mengecek tubuh Mita dari kepala hingga ke kakinya. Anjas benar - benar takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada Mita. Beruntung, kali ini Anjas bisa menyelamatkannya.


"Aku tidak apa - apa, Anjas." Ucap Mita parau. Jujur, Mita juga takut. Hampir saja jantungnya copot gara - gara kejadian tadi.

__ADS_1


"Kenapa kamu bisa ceroboh begini sih? Kalau sampai terjadi apa - apa sama kamu, aku tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri. Jadi tolong, berhati - hatilah."


Mita pun mengangguk, "Maaf, aku membuat kamu cemas begini. Aku janji, lain kali aku akan lebih berhati - hati." Sembari mengulum senyum manisnya.


Anjas mengajak Mita duduk di bangku taman. Kejadian tadi sudah cukup membuat jantung Anjas hampir saja berhenti berdetak. Anjas benar - benar takut dan cemas. Pasalnya, mobil yang tadi hampir saja menabrak Mita adalah mobil yang tak asing lagi di matanya. Mobil itu adalah mobil seseorang yang dikenalnya. Jelas saja hal itu membuat Anjas benar - benar takut mencemaskan Mita.


"Kamu tadi kemana?" Tanya Anjas .


"Dari rumah teman."


"Kamu tidak bohong kan?"


Mita menggeleng sembari mengulum senyum.


"Oh ya, gimana tadi? Dapat pekerjaannya?" Tanya Mita.


Anjas mengangguk lesu.


"Selamat ya ..." Sembari memeluk Anjas, "Aku selalu yakin kamu pasti bisa melewati semua ini. Dan aku akan selalu bersamamu."


"Kamu tidak bertanya aku dapat pekerjaan apa?"


Mita pun melepaskan pelukannya. Dan menatap Anjas dengan seksama. Dari raut wajahnya, Anjas tampak kurang bersemangat.


"Kamu dapat pekerjaan apa?" Tanya Mita akhirnya.


"OB." Jawab Anjas singkat.


Mita terdiam sejenak, sambil terus menatap Anjas. Menelisik setiap lekuk parasnya.


"Office Boy?" Mita seakan tak percaya. Bukan karena Mita malu dengan pekerjaan kekasihnya saat ini. Akan tetapi, Mita merasa iba, dan juga merasa bersalah karena sudah menjadi penyebab semua ini. Karena Anjas memilih untuk bersamanya, hingga dia harus kehilangan segalanya.


"Kamu malu dengan pekerjaanku sekarang?" Tanya Anjas.


Mita menggeleng, "Tidak. Aku tidak malu. Untuk apa aku malu. Meski hanya OB, tapi itu adalah pekerjaan yang halal. Lagipula, mana ada OB setampan ini." Gombal Mita.


Anjas pun tersenyum mendengar gombalan receh Mita. Dan perlahan mulai mendekatkan wajahnya. Refleks, Mita langsung memejamkan matanya. Menunggu Anjas menciumnya dengan hati berdebar.


CUP


Satu kecupan singkat mendarat di keningnya. Mita pun membuka matanya. Menatap Anjas dengan wajah mulai cemberut.


Anjas terkekeh melihat ekspresi Mita, "Ini di tempat umum."


"Kita ke tempat lain yuk."


"Mau ngapain?"


"Anjas ..." Rengek Mita dengan wajah semakin cemberut.


"Mau kemana?"


"Pantai."


"Ha ha ha ..." Anjas tergelak. Dia tahu apa maksud Mita.


"Ya sudah kalau kamu tidak mau." Rajuk Mita yang semakin cemberut saja. Apa Anjas kurang peka atau memang sengaja mengerjainya? Padahal Mita hanya ingin berduaan saja dengan Anjas. Menghabiskan hari seperti biasanya.


Kalau ditanya, sungguh Anjas gemas melihat tingkah Mita. Tapi mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk mereka menghabiskan hari berdua.


.......


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2