
Setelah saling melepas rindu dengan penuh haru, kini Mita harus pergi ke rumah mertuanya. Meninggalkan mamanya sendirian. Sungguh, betapa berat hati Mita meninggalkan mamanya. Tapi, Mita pun tak boleh egois. Sekarang dia sudah menjadi Nyonya Anjas Winata. Dan sudah seharusnya dia berbakti kepada suaminya. Dengan ikut kemanapun suaminya pergi.
Di kediaman keluarga Winata, saat keduanya melangkahkan kaki memasuki rumah itu, untuk pertamakalinya sebagai pasangan yang sah. Siapa yang menyangka justru akan mendapatkan sambutan hangat dari anggota keluarga itu.
Mita melangkah dengan hati berdebar-debar. Dengan saling bergandengan tangan, bersama mereka menuju ruang tengah. Dimana telah menunggu Oma Lidya, Anjani, Nara, beserta para asisten rumah tangganya. Yang dipanggil kembali bekerja di rumah itu, setelah sebelumnya, dengan sangat terpaksa mereka harus di berhentikan karena situasi yang tidak terduga.
"Bunda ..." Seru Nara girang, sembari berlari kecil menghambur ke pelukan Mita.
Mita membungkukkan badannya, membalas pelukan gadis kecil itu.
"Daddy ..." Nara kini berpindah memeluk Anjas. Anjas pun membungkuk, membalas pelukan Nara.
"Daddy kangen sama anak Daddy yang cantik dan imut ini. Kangennya selangit." Ujar Anjas sembari mencubit gemas kedua pipi Nara. Saat gadis kecil itu melepas pelukannya.
"Nara juga kangen Daddy dan Bunda. Semalam Nara susah tidur." Rengek Nara dengan wajah cemberutnya.
"Loh, kenapa?"
"Nara ingin tidur bareng Daddy dan Bunda."
"Nara ... Nara kan tidurnya bareng Aunty." Ujar Anjani agar gadis kecil itu tidak merengek meminta tidur bersama Anjas dan Mita. Kan bisa ribet urusannya. Mana mereka pengantin baru lagi. Masih hot hot nya kata orang.
"Tapi Nara kangen Daddy." Rengek Nara lagi.
"Nara ... Nara boleh kok tidur bareng Daddy dan Bunda." Ucap Mita sembari mengulum senyum hangatnya.
"Benar Bunda?"
Mita mengangguk. Gadis kecil itu pun bersorak kegirangan. Lalu kembali menghambur memeluk bundanya.
Sementara Anjas, garuk-garuk kepala yang entah sejak kapan mulai terasa gatal. Anjas hanya bisa mendesah pasrah. Begini nih jadinya kalau dia pulang ke rumah. Untung saja semalam mereka tidur di rumah Mama Retno. Jadi, gangguan kecil seperti ini bisa dihindari. Kalau ditanya, Anjas sebenarnya masih ingin berlama-lama di rumah mertuanya. Pasalnya, jika di rumah itu, mereka punya banyak waktu berdua. Aman tanpa gangguan.
"Anjas ... Mita ..." Seru Oma Lidya sembari melangkah perlahan menghampiri.
"Mama ucapkan selamat untuk kalian berdua. Mama senang, akhirnya Anjas bisa menemukan pasangan hidup yang tepat. Mama minta maaf, sebelumnya Mama meragukan cinta kalian. Tapi sekarang Mama lega. Tidak ada yang lebih penting bagi Mama, selain kebahagiaan anak-anak Mama."
"Makasih, Ma." Ucap Anjas.
"Makasih, Tan_" kalimat Mita terhenti.
"Jangan panggil Tante lagi dong. Mulai sekarang, panggil Mama. Dan Mama ucapkan selamat datang di rumah ini. Mama harap kamu betah ya?" Sela Oma Lidya cepat.
"Makasih, Ma."
"Ayo, kemari menantu Mama." Oma Lidya pun meraih Mita dalam pelukannya. Kemudian di susul oleh Anjani.
"Selamat datang Kakak iparku." Sembari memeluk Mita.
Betapa bahagianya Anjas menyaksikan pemandangan itu. Hal yang seharusnya terjadi sejak dulu. Jika saja Anjas memperjuangkannya. Namun kini, impiannya telah menjadi kenyataan. Tidak ada kata terlambat untuk berjuang. Jika itu demi kebahagiaanmu, berjuanglah meski terasa sulit. Berjuanglah meski sejuta aral menghadang. Kebahagiaan tidak datang dengan sendirinya. Karena kebahagiaan sejatinya terlahir dari sebuah perjuangan. Bahkan pengorbanan.
.
.
Malam hari menjelang. Di kamarnya, Anjas dan Mita tengah bercengkrama, sambil bersenda gurau di atas tempat tidur. Maklum lah ya, pengantin baru. Jadi bawaannya tidak bisa jauh-jauh dari tempat tidur. Kalau perlu tempat tidurnya dibawa kemana-mana. Canda kali.
Anjas duduk dengan bersandar di kepala tempat tidur. Sementara Mita, menyandarkan kepalanya di dada bidang Anjas. Sambil tangannya mengelus lembut tangan Anjas yang mendekapnya.
"Kamu yakin tidak ingin pergi berbulan madu?" Tanya Anjas.
__ADS_1
"Kalau kita pergi, lalu gimana dengan Nara? Pasti Nara juga ingin ikut bersama kita."
"Kalau begitu, kita ajak saja Mama dan Anjani. Jadi, biar mereka yang menjaga Nara nanti."
"Kamu yakin mau mengajak Mama dan adik kamu?" Mita menengadah, menatap Anjas yang kini pun menurunkan pandangannya. Menatap Mita begitu dekat.
"Kenapa? Apa itu mengganggu buat kamu? Kamu tidak nyaman kalau mereka ikut?"
"Emmm ..." Mita berlagak berpikir keras. Sambil matanya mengerling.
"Menurut kamu?" Mita malah balik bertanya dengan mimik menggoda. Kemudian bangun dari sandaran, dan duduk berhadapan dengan Anjas.
"Kamu sendiri gimana? Apa kamu tidak akan merasa terganggu?" Tanya Mita lagi.
Anjas pun terkekeh. Anjas mengerti maksud Mita. Isteri tercintanya itu hanya ingin punya lebih banyak waktu berdua tanpa gangguan.
"Kalau kita ajak Nara, gimana ceritanya kalau kita ..." Sembari perlahan Mita mulai mendekat. Dengan senyum genitnya.
Masih dengan genitnya, tangan Mita mulai terulur membuka satu per satu kancing piyama Anjas.
Mengerti dengan maksud Mita, Anjas pun mendorong tubuh Mita hingga terbaring dengan posisi terlentang. Dalam sekejap, Mita pun berada di bawah kungkungan Anjas.
"Ini maksud kamu kan?" Dengan cepat Anjas meraup bibir Mita dan menyesapnya dalam-dalam.
Mita membalas setiap lum*atan yang Anjas berikan. Berusaha mengimbangi permainannya. Masih dengan bibir saling beradu, jemari Anjas pun mulai membuka satu persatu kancing piyama Mita.
"Eummm ..." Terdengar suara lenguhan lembut Mita saat perlahan Anjas mulai menyusuri leher jenjangnya.
Anjas pun sudah bersiap melanjutkan aksinya. Dengan mulai membuka kancing piyamanya sendiri. Sampai tiba-tiba ...
Tok Tok Tok ...
Cklek
Pintu di buka Nara dari luar.
Gelagapan Anjas dan Mita pun bangun, lalu menautkan kembali kancing piyamanya masing-masing.
"Sejak tadi pintunya tidak dikunci?" Desis Mita setengah berbisik dengan tatapan kesal pada Anjas.
"Maaf. Aku pikir sudah dikunci."
Mita mendengus kesal. Huh, hampir saja. Untung mereka belum terlalu jauh.
"Daddy dan Bunda belum tidur?" Tanya Nara dengan polosnya.
"Belum. Ada apa Nara? Ayo kemari ..." Mita melambaikan tangannya. Mengajak Nara naik ke tempat tidurnya.
Nara pun menurutinya.
"Kenapa Nara belum tidur?" Tanya Anjas.
"Nara tidur disini boleh ya?"
"Boleh, tentu saja boleh sayang." Ucap Mita sembari meraih gadis kecil itu. Dan membaringkannya di tengah. Memisahkan jarak antara dirinya dan suaminya.
Anjas mengusap wajahnya kasar. Kenapa Mita malah mengijinkan Nara tidur bersama mereka. Rupanya benar apa yang dikatakan Mita. Jika mereka ingin pergi berbulan madu, sebaiknya tidak perlu membawa serta keluarga. Cukup hanya mereka berdua.
"Kenapa tidak tidur bareng Aunty atau Oma?" Pertanyaan Anjas seolah ingin mengusir Nara dari kamarnya. Hasratnya sudah sangat menuntut, tapi gadis kecil itu malah datang mengganggu.
__ADS_1
Sedangkan Mita, malah tersenyum-senyum memandangi suaminya. Lucu juga ekspresi Anjas kalau lagi kesal begitu.
"Nara kan kangen Daddy dan Bunda. Kata Daddy, kalau Daddy sudah pulang, kita boleh tidur bareng." Ujar Nara masih dengan polosnya.
Ah iya, benar juga.
Haaah ... Anjas menghembuskan napas panjang. Kalau sudah begini, mau bagaimana lagi. Dengan sangat terpaksa, dia harus menahan hasratnya malam ini.
"Ya sudah, ayo kita tidur." Anjas pun membaringkan dirinya di sebelah Nara dengan posisi miring. Anjas mengulurkan sebelah tangannya meraih jemari Mita dan menggenggamnya.
Mita tersenyum-senyum melihat raut kecewa suaminya. Sembari berbisik,
"Sabar sayang ..."
.
.
.
Anjas dan Mita kini sudah berbahagia menjadi pasangan yang sah. Baik secara agama maupun secara hukum. Dengan sebutan yang pantas, yaitu suami dan isteri. Dan hal itu yang membuat seseorang begitu frustasi. Bahkan stress mungkin.
Sasha
Setelah rencananya gagal membuat Mita ternoda, Sasha pun kembali dengan rencana yang lain. Yaitu membuat Anjas tidak bisa dimiliki oleh siapapun. Dengan mengirim Anjas ke alam baka, hatinya akan sedikit lega. Karena, baik dirinya maupun Mita, tidak akan bisa memiliki Anjas.
Namun siapa sangka, rencananya itu justru digagalkan oleh Elvano, sepupunya sendiri. Hal itu membuat Sasha sakit hati. Jika bukan karena Elvano, mungkin saat ini Anjas sudah berada di alam baka. Sudah tenang di alam sana. Dan pernikahannya dengan Mita gagal total.
"Brengsek!" Maki Sasha dalam keadaan mabuk di salah satu bar.
Sempoyongan Sasha berjalan keluar dari bar itu. Sampai di depan pintu, tiba-tiba seseorang datang dan langsung mencengkeram kerahnya dengan geram.
"Dasar ******. Gara-gara kamu aku hampir saja mati. Saat aku berada di rumah sakit pun, kamu sama sekali tidak datang menjengukku. Sekarang, ayo berikan sisa bayaranku." Ujar orang itu dengan berapi-api. Orang tidak lain adalah orang yang dibayarnya untuk menabrak Anjas.
Karena Sasha setengah sadar, dia tidak menghiraukan ucapan preman itu.
"Brengsek. Menjauh dariku. Pergi kamu, pergi!" Hardik Sasha setengah sadar.
"Dasar wanita gila." Dengan kasarnya preman itu mendorong Sasha hingga jatuh tersungkur. Lalu dengan cepat dia mengambil tas Sasha, dan mengambil apapun yang berharga dari dalam sana. Kemudian melempar tas itu ke wajah Sasha setelah mengambil apa yang diinginkannya. Preman itu pun pergi meninggalkan Sasha dengan membawa kabur mobilnya.
"Hei, mobilku ..." Teriak Sasha sebisa mungkin. Sambil berusaha bangkit. Lalu berlari hendak mengejar preman itu. Sampai akhirnya ...
Ckiiiit
Bugh!
Terdengar suara mobil yang mengerem mendadak. Kemudian disusul oleh suara dentuman keras. Seseorang terlempar jauh hingga ke seberang jalan. Tak lama, orang-orang yang menyaksikan tabrak lari itu mulai mengerumuni korban.
Sasha
Terbujur kaku dengan bersimbah darah di tengah jalan.
.......
.......
.......
...Bersambung...
__ADS_1