
Anjas melangkah lesu memasuki rumahnya. Di ruang tengah, Anjas menghempaskan tubuhnya di sofa sembari menghembuskan napasnya panjang.
Besok mungkin akan menjadi hari yang berat untuknya. Bekerja sebagai OB sebenarnya tidaklah sulit. Hanya saja, apakah dia bisa bertahan melewati semua ini. Masalahnya, gajinya sebagai OB sudah pasti tidak akan cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka.
"Daddy ..." Nara datang dan langsung menghambur ke pelukan Daddy nya.
"Nara kok senang banget hari ini?"
"Iya, dong Daddy."
"Boleh Daddy tau, apa yang membuat Nara senang."
"Mommy beliin Nara boneka yang banyak."
Anjas pun mengernyit. Sasha? Untuk apa dia datang kemari? Andai saja Anjas bisa mengatakan pada Nara bahwa Sasha itu bukan Mommy nya. Tapi Anjas takut hal itu akan menyakiti Nara. Nara hanyalah seorang anak kecil yang tidak tahu apa - apa.
"Itu Mommy ..."
Anjas pun menoleh.
Sasha datang menghampiri dengan senyum manis terukir di wajahnya. Spontan, Anjas pun bangun dari duduknya.
"Maaf aku datang tanpa memberitahu kamu dulu." Ucap Sasha.
"Nara ... Nara sama Oma yuk. Kita main boneka barunya Nara." Ajak Oma Lidya, yang tiba - tiba datang dari arah dapur.
"Nara sama Oma dulu ya, Daddy mau bicara dengan Mommy." Titah Anjas.
Nara pun menurutinya.
"Mulai sekarang, aku minta sama kamu, tolong jauhi Nara." Tegas Anjas. Sambil menatap tajam Sasha.
"Aku Mommy nya. Kamu lihat sendiri kan gimana senangnya Nara saat aku datang."
"Berhenti berpura - pura. Kamu bukan ibunya. Jadi tolong jauhi Nara, jauhi keluargaku mulai detik ini. Dan jangan pernah datang ke rumah ini lagi. Urusan kita sudah selesai."
"Anjas, tolong pikirkan ini baik - baik. Jika Nara tahu kebenaran tentang kita, kalau aku bukan ibunya, dan kamu juga bukan ayahnya. Apa yang akan terjadi pada Nara nanti."
Nah, loh ya ... Apa tuh maksud omongan Sasha. Apa Sasha akan menggunakan anak kecil itu untuk mengancam Anjas? Wah, parah. Segitu cintanya Sasha pada Anjas. Sampai - sampai dia memanfaatkan kedekatannya dengan anak kecil itu untuk mendapatkan Anjas. Setelah uang nya gagal membuat Anjas jatuh ke pelukannya.
"Itu bukan urusanmu. Aku sendiri yang akan mengatakan itu padanya nanti."
"Aku kemari cuma mau bilang, aku akan membantu kamu mendapatkan kembali yang menjadi milikmu. Dan aku juga sudah bicara dengan Vano, dia bersedia mengembalikan semua, tapi dengan satu syarat."
Anjas menyeringai tipis, "Tidak perlu. Aku tidak butuh bantuan kalian."
"Pikirkan sekali lagi. Demi masa depan keluarga kamu. Vano bersedia mengembalikannya padamu. Dan kamu hanya perlu melepaskan Mita."
What?
Melepaskan Mita?
Anjas menatap tajam Sasha. Begitu tajam dan penuh kebencian. Tatapan itu cukup membuat Sasha gentar. Apa mereka pikir, mereka bisa membeli segalanya dengan uang? Anjas tidak akan mengorbankan Mita hanya demi mendapatkan kembali Winata Group. Tidak akan pernah. Walau apapun yang akan terjadi.
Orang tuanya Sasha memang sudah membantunya dengan jumlah yang fantastis diinvestasikan di Winata Group. Dan orang tua Sasha satu-satunya pemegang saham tertinggi. Sewaktu-waktu mereka bisa menarik kembali investasinya. Konsekuensinya, jika Anjas tidak bisa mengembalikannya, Winata Group akan jatuh ke tangan mereka. Dan Elvano menggantinya dua kali lipat. Hingga Elvano pun berhak menguasainya.
"Kalian benar - benar gila."
Anjas pun berbalik, hendak meninggalkan Sasha.
Namun langkahnya terhenti. Dan kembali memutar tubuhnya, menatap tajam Sasha.
__ADS_1
"Kalau sampai terjadi apa - apa pada Mita, kamu adalah orang pertama yang aku cari." Tegas Anjas penuh penekanan. Kemudian beranjak meninggalkan Sasha yang masih berdiri mematung dengan raut wajah penuh kebencian.
Bukan tanpa alasan Anjas berkata seperti itu. Bukan juga bermaksud mengancam. Dia hanya mencemaskan keadaan Mita. Apalagi sejak kejadian tadi, Mita hampir saja tertabrak mobil. Dan mobil yang hampir menabrak Mita itu adalah mobilnya Sasha. Itu artinya, Sasha memang sengaja ingin menabrak Mita.
Hiii ... Serem juga ya si Sasha. Sifat aslinya semakin muncul ke permukaan. Demi ambisinya untuk mendapatkan Anjas, dia bahkan rela melakukan apapun. Bahkan hingga harus merenggut nyawa orang lain.
"Lihat saja nanti Anjas. Kamu sendiri yang akan meninggalkan Mita." Gumam Sasha sinis.
.
.
.
Malam hari menjelang.
Di sebuah kafe, di deretan meja yang terletak di luar ruangan, dengan cahaya temaram, Sasha tampak tenang menunggu kedatangan seseorang. Sesekali diliriknya jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.
Sasha masih nampak tenang, saat tiba - tiba seorang pria muda berpotongan rapi datang dan langsung mengambil duduk di depannya.
"Jangan melebihi dosis. Bahaya. Nyawa taruhannya." Ujar pria itu sembari menyodorkan sesuatu yang terkemas rapi dalam kantong plastik kecil kepada Sasha.
Dengan cepat Sasha meraihnya dan memasukkannya ke dalam tasnya.
"Yang kamu minta, sudah ku siapkan. Aku jamin tidak akan ada yang tau." Ujar pria itu lagi.
Sasha memasang senyum sinisnya. Kemudian mengambil sebuah amplop cokelat dari dalam tasnya, menyodorkannya pada pria itu.
"Itu baru setengahnya. Sisanya nanti. Kalau rencana ini berhasil." Ucap Sasha begitu amplop berpindah tangan.
"Oke. Jangan ingkar janji. Aku bisa dipecat kalau sampai ketahuan."
Pria itu pun bergegas pergi.
Beberapa menit berselang, orang yang ditunggunya pun datang. Seorang gadis, berparas cantik nan ayu. Langsung mengambil duduk di depannya. Siapa lagi gadis itu kalau bukan Mita.
Kira - kira, apalagi yang direncanakan Sasha kali ini. Setelah gagal menabrak Mita. Dih, Sasha benar - benar nekat ya?
"Apa yang mau kamu bicarakan denganku? Maaf ya, aku tidak bisa lama - lama." Ucap Mita.
Sasha menyunggingkan senyum manisnya. Seakan hatinya saat ini sedang baik - baik saja. Melihat Mita saja sudah cukup membuat amarah dan cemburunya kembali membara.
"Kamu mau minum apa?" Tanya Sasha.
"Tidak perlu. Makasih."
"Jangan gitu dong. Biar aku saja yang pesan. Kan aku yang meminta kamu datang kemari." Tawar Sasha sok mengakrabkan diri dengan Mita.
Mita pun tidak berkata apa - apa lagi. Dan membiarkan Sasha yang memesan minum untuknya.
Hanya dengan mengangkat satu tangannya, seorang pelayan pun datang dengan membawa daftar menu.
"Silahkan Mbak," sembari menyodorkan daftar menu itu ke tangan Sasha, "Mau pesan apa?"
"Saya pesan yang ini dan yang ini untuk teman saya." Sasha menunjuk minuman yang diinginkannya. Pelan, tanpa sepengetahuan Mita tangannya mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan menyelipkannya di daftar menu itu. Lalu menyerahkannya kembali pada pelayan itu.
Pelayan itu mengerti dengan apa yang dilakukan Sasha. Karena sebelumnya Sasha sudah menyogok pelayan itu.
"Baik, Mba. Mohon tunggu sebentar." Kemudian pelayan itu pun pergi.
Tak butuh waktu lama untuk menunggu, pesanan Sasha pun datang. Pelayan tadi menaruh minuman itu di depan para pemiliknya masing - masing.
__ADS_1
"Silahkan, Mbak. Permisi ..." Ucap pelayan itu sebelum akhirnya beranjak pergi.
"Silahkan minum Mit." Ucap Sasha.
Mita tidak langsung menanggapinya. Diliriknya saja minuman itu.
"Langsung saja, sebenarnya apa yang mau kamu bicarakan. Aku tidak bisa lama - lama."
"Aku tau, Anjas pasti sedang menunggumu kan? Tenang saja, aku tidak akan lama."
Sasha meraih minumannya dan meneguknya.
"Silahkan, Mit. Diminum dulu." Tawar Sasha sekali lagi.
Mita masih belum menanggapinya. Diliriknya saja minuman itu dan Sasha bergantian.
Sementara Sasha, masih bersikap tenang. Namun harap - harap cemas, jika rencananya kali ini gagal lagi.
"Kamu pasti sudah tau apa yang terjadi pada Anjas. Maaf, itu terjadi diluar kendaliku. Papaku yang mengambil keputusan. Dan aku tidak bisa berbuat apa - apa." Ucap Sasha kemudian.
Mita menatap Sasha dingin. Masih diam saja, menunggu kalimat Sasha selanjutnya.
"Aku bahkan kaget saat tau Vano dan Papa membuat kesepakatan. Vano bersedia membayar dua kali lipat asalkan Papa mau menjual sahamnya. Dan kamu tau kenapa Vano melakukan itu?"
"Aku masih belum mengerti apa maksud kamu. Dan maaf, aku tidak ingin membicarakan Vano." Mita pun akhirnya buka suara.
"Vano melakukan itu karna dia cemburu melihat kamu dan Anjas. Vano sangat mencintai kamu. Ini pertama kalinya dia serius dengan satu wanita."
"Langsung saja, apa maksud kamu. Aku sungguh tidak bisa berlama - lama. Kamu benar, Anjas sedang menungguku."
"Pertunangan ku dengan Anjas batal. Aku tidak menyalahkan siapa - siapa. Termasuk kamu. Anjas memang tidak menyukaiku sejak awal."
"Jadi hanya ini yang mau kamu bicarakan?"
Sasha tersenyum tipis, "Iya."
Mita pun menghembuskan napasnya kasar. Kemudian meraih minuman itu dengan kesalnya. Lalu meneguknya hingga menyisakan setengahnya saja. Jauh - jauh datang ke kafe itu, ternyata Sasha hanya membicarakan hal yang tidak penting. Mita kesal dibuatnya.
Melihat hal itu, senyum sinis pun terbit di wajahnya. Mita sudah meminumnya. Dan sekarang, hanya tinggal menunggu reaksinya saja.
Beberapa menit kemudian, obat yang ada dalam minuman Mita pun mulai bereaksi. Tampak Mita menguap berkali - kali. Kepalanya pun mulai terasa berat, pening, serasa seperti berputar - putar. Sampai akhirnya, Mita pun jatuh terkulai di meja itu. Hingga membuat sisa minumannya tertumpah.
Disaat yang bersamaan, Anjas yang tengah menyetir di jalanan yang padat, hampir saja menabrak seorang pejalan kaki. Beruntung dengan cepat dia menghindarinya. Dengan cepat pula Anjas menginjak pedal rem, hingga mobilnya pun terhenti mendadak di sisi kiri jalan.
Seketika itu juga, perasaannya menjadi tak enak. Anjas hendak menemui Mita di rumahnya. Sejak tadi Anjas menunggunya, tapi Mita tak kunjung datang.
"Mita ..." Tanpa sadar nama itu terucap dari mulutnya.
Entah kenapa, mendadak hatinya cemas. Yang ada dalam benaknya saat ini hanyalah Mita.
Anjas pun meraih ponselnya dan mulai menghubungi Mita. Akan tetapi, berkali - kali, panggilannya selalu berakhir dengan panggilan tak terjawab.
"Mita, apa yang kamu lakukan?" Gumam Anjas lirih di tengah kecemasannya.
.......
.......
.......
...Bersambung...
__ADS_1