Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 64


__ADS_3

Hari pun silih berganti. Kini Anjas tengah melangkah panjang menyusuri setiap ruangan, setiap deretan kubikel yang ada, untuk sampai ke ruangannya. Dengan di dampingi Chandra, asistennya.


Akhirnya, suatu kehormatan, Anjas bisa kembali menempati posisinya yang sempat terenggut darinya. Berkat Elvano, sahabatnya, kini Anjas tidak perlu lagi berhutang budi pada keluarga Sasha. Hingga Anjas pun bisa membuat keputusan seperti yang diinginkannya, tanpa beban.


Anjas mendudukkan diri di kursi kehormatannya. Menghembuskan napas lega, sembari menyapukan pandangannya ke seisi ruangan itu. Masih sama, tidak ada yang berubah. Hanya saja Anjas merasa seperti ada yang kurang.


"Sekertarisku sudah datang?" Tanya Anjas sembari menadahkan pandangan pada Chandra yang berdiri di sisi mejanya.


"Belum, Pak. Tapi saya sudah menghubunginya."


"Tolong kamu periksa apa saja jadwalku seminggu ke depan ini. Dan jika ada rapat, tolong di tunda dulu. Sepertinya aku akan sedikit sibuk dalam seminggu ini."


"Baik, Pak!"


Cklek


Pucuk dicinta, ulam pun tiba.


Baru saja Anjas merindukannya, kini Mita sudah berdiri di ambang pintu. Memandanginya dengan senyum merekah, terukir indah di wajahnya.


Dengan tingkah malu-malu kucing, perlahan Mita pun melenggang masuk, menghampiri Anjas.


Anjas pun bangun dari duduknya.


"Tolong tinggalkan kami sebentar. Dan tolong, jangan biarkan siapapun masuk tanpa seijinku." Titah Anjas.


"Baik, Pak!" Chandra patuh, lalu bergegas keluar dari ruangan itu.


Anjas mengitari sisi mejanya, untuk kemudian menyandarkan diri di sisi meja itu. Dengan cepat tangannya meraih pergelangan Mita, lalu merangkul pinggangnya begitu Mita berada sangat dekat dengannya. Anjas mulai nakal lagi nih sekarang. Setan cabul pun mulai menggodanya.


"Anjas, lepas. Nanti kalau ada yang lihat, gimana?" Pinta Mita dengan manjanya.


"Tidak akan ada yang berani masuk tanpa seijinku." Anjas malah semakin mengeratkan rangkulannya.


"Iya, tapi_"


Ucapan Mita terpotong karena Anjas malah membungkam bibir Mita dengan sapuan hangat dan lembut bibirnya.


Nah, kan? Setan cabul sudah berhasil menggoda Anjas. Masih pagi loh ini Anjas. Di kantor pula. Wah, wah, waaah, Anjas memang tidak pandang situasi dan kondisi. Entah kenapa, melihat Mita membuatnya selalu saja tertarik. Seakan ada medan magnet yang begitu besar dalam diri Mita. Sehingga membuat Anjas tak mampu untuk tidak berada dekat dengannya. Medan magnet itu, ibarat pesona Mita, yang selalu menariknya untuk berada lebih dekat. Anjas selalu saja tergoda dengan pesona wanitanya.


"Malam ini, kamu jangan kemana-mana ya?" Pinta Anjas saat mengakhiri ciumannya. Namun masih merangkul erat pinggang Mita.


"Memangnya aku mau kemana? Kalaupun kemana-mana, sudah pasti sama kamu." Mita mulai pandai merayu nih.


"Aku punya kejutan kecil untukmu."


"Oh ya? Kejutan apa?"


"Kalau aku beritahu sekarang, itu namanya bukan kejutan lagi."


Hap!


Anjas mengangkat tubuh Mita dan mendudukkannya di meja itu. Sementara Anjas berdiri dihadapan Mita sembari kedua tangannya menopang disisi meja itu.


"Kamu tau, selama ini aku berpikir, kalau aku telah kehilangan kamu. Hingga hari-hari ku pun, aku jalani dengan hampa. Tanpa arah, tanpa tujuan, tanpa harapan. Selama empat tahun, bayanganmu selalu saja menggangguku. Saat itu semua jadi terasa sulit bagiku. Aku sangat menyesal telah menyia-nyiakanmu, Mit. Tapi sekarang ..." Anjas menjeda ucapannya sejenak.


Sementara Mita menatapnya lekat, menunggu apa yang ingin diutarakan Anjas.


"Aku adalah orang yang paling bahagia di dunia ini. Dan kamu adalah kebahagiaanku. Kamu adalah seluruh hidupku. Mit ..." Anjas mulai membawa jemarinya menyentuh lembut wajah Mita.


"Aku sangat merindukanmu. Makasih ya, kamu mau menerimaku kembali. Mulai sekarang, aku janji, aku akan membahagiakan kamu." Lirih Anjas disela napasnya yang terasa semakin berat. Tatapannya yang kian sendu. Membuat Mita terhanyut dan tenggelam dalam tatapan itu.


Deg Deg Deg


Degupan jantung Mita semakin kencang terasa. Napasnya pun mulai terasa berat. Seakan susah untuk bernapas lega. Tanpa sadar, Mita pun melingkarkan kedua lengannya di pundak Anjas. Menatap lekat sorot mata Anjas yang menatapnya sayu.


"Aku sangat mencintaimu." Lirih Anjas, hampir tak terdengar.


"Aku tau. Sudah berulang kali kamu mengatakan itu."

__ADS_1


Dengan cepat, sebelum Anjas berkata, kali ini Mita yang telah lebih dulu membungkam bibir Anjas dengan bibirnya. Dengan berani Mita memberikan pagutan lembut, di bibir atas dan bawah secara bergantian.


Dan Anjas? Diam saja menerimanya?


Oh, tentu saja tidak. Tentu saja Anjas tidak ingin berdiam diri begitu saja. Membiarkan wanitanya yang bermain. Dengan cepat Anjas pun mengambil alih permainan itu. Memagut lembut bibir ranum Mita. Semakin lama semakin dalam Anjas menyesapnya. Hasrat yang menggelora dalam dirinya pun kian menggebu. Namun Anjas tetap berusaha menguasai diri.


Meski hasrat itu kian menuntut untuk segera terealisasi, tapi Mita sangat berharga baginya. Anjas hanya ingin memperlakukannya selayaknya wanita terhormat. Biarlah semua itu akan terasa indah di waktu yang tepat nanti.


Untuk saat ini, biarlah seperti ini. Hanya sampai kerinduan dan perasaan mendalam keduanya terobati.


Tapi eh tapi. Jangan kelamaan dong. Kalau tiba - tiba ada yang datang gimana? Kelabakan kan nantinya.


.


.


.


Malam hari pun tiba.


Anjas tengah berdiri di ambang pintu rumahnya. Dengan tampilan terbaiknya malam ini. Dengan gelisah dia menunggu Anjani dan Nara untuk ikut bersamanya bertandang ke rumah orang yang paling spesial di hatinya. Sesekali matanya melirik arloji yang melingkar di pergelangan tangan kirinya.


"Daddy ..." Seru Nara melenggang menghampiri Anjas.


"Kak, kita sudah siap." Ujar Anjani.


Anjas memandangi keduanya dengan seksama. Sejurus kemudian sebuah senyuman terukir di wajahnya. Anjani dan Nara tampak anggun dengan pakaian terbaiknya. Tentu saja atas permintaan Anjas, sebab malam ini adalah malam yang spesial untuknya.


"Ayo, kita berangkat. Tunggu apalagi?" Ajak Anjas sembari melangkah lebih dulu.


Namun tiba - tiba saja terdengar seruan dari dalam rumah yang menghentikan langkah ketiganya.


"Tunggu." Pemilik suara itu, yang tidak lain adalah Oma Lidya, datang menghampiri. Sama halnya dengan mereka bertiga, Oma Lidya pun terlihat rapi dan anggun, tapi tetap kece badai. Dengan bulu mata anti badai dan gincu semerah saos tomat. Oma Lidya gitu loh. Pantang terlihat tua.


Anjas, Anjani, dan Nara pun saling berpandangan. Merasa ada yang aneh dengan Oma Lidya malam ini.


"Kalian tega sekali mau meninggalkan Mama sendirian. Mama juga kan ingin ikut bersama kalian." Ujar Oma Lidya sembari merapikan rambutnya yang tergerai.


"Yaaa ... Mama kurang tau sih. Tapi kemana pun kalian pergi, Mama ikut." Kilah Oma Lidya, yang sebetulnya dia tahu Anjas ingin melamar Mita secara resmi malam ini. Dengan membawa serta keluarganya. Untuk kebahagiaan Anjas, mau tidak mau, Oma Lidya pun terpaksa harus mengalah. Dan melupakan angannya untuk memiliki menantu putri seorang pengusaha kaya raya, seperti Sasha. Duh, Oma Lidya, matre amat sih?


"Mama serius nih? Mama habis kepentok pintu ya kepalanya?" Celetuk Anjani lagi.


"Terserah kalian. Pokoknya Mama ikut."


"Oma aneh." Seloroh Nara pula.


Tanpa menghiraukan celetukan Anjani dan tatapan aneh Anjas, Oma Lidya melenggang begitu saja. Melewati mereka begitu saja, lalu lebih dulu naik ke mobil Anjas yang terparkir di depan rumah.


Anjas pun tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Secara tidak langsung, sikap Oma Lidya mengatakan bahwa dia sudah menyetujui hubungan Anjas dan Mita. Hanya saja, mungkin dia gengsi untuk mengatakannya secara langsung.


Anjas tersenyum tipis, kemudian melenggang menuju mobilnya. Diikuti oleh Anjani dan Nara. Sejurus kemudian mobil itu pun mulai bergerak meninggalkan pekarangan rumah.


Rupanya inilah kejutan kecil Anjas untuk Mita. Yaitu melamar Mita secara resmi. Hal yang dulu sempat terlewati. Dan kini, Anjas ingin melakukan hal itu.


.


.


.


Anjas memberi salam berkali-kali, hingga akhirnya penghuni rumah itu pun datang menyambutnya.


Mama Retno.


Wanita paruh baya itu hanya bisa terbengong-bengong melihat kedatangan Anjas bersama keluarganya.


"Maaf, Tante. Kedatangan saya mungkin sedikit mengganggu. Saya__"


"Tante sudah tau. Mita sudah cerita sama Tante, kalau malam ini kamu akan datang ke rumah. Tante pikir kamu datangnya sendiri. Kenapa tidak bilang-bilang kalau kamu datang bersama keluarga kamu. Jadi kan Tante bisa menyiapkan makan malam walau ala kadarnya saja." Sela Mama Retno sungkan.

__ADS_1


Anjas tersenyum.


"Mari, silahkan masuk." Ucap Mama Retno sopan mempersilahkan tamunya.


"Silahkan duduk." Tambahnya, begitu tamunya masuk.


Sembari mengambil duduk, Anjas mengedarkan pandangannya, mencari keberadaan Mita. Mata Anjas terasa gatal jika sehari saja tidak melihat pujaan hatinya itu. Alamak Anjas, kasmarannya kebangetan ya.


"Mita sedang ganti baju. Nanti juga dia keluar sendiri." Seloroh Mama Retno sebab melihat gelagat Anjas.


Anjas pun kembali tersenyum. Perasaan gugup mulai menguasainya. Sebelumnya dia begitu berani mengutarakan niatnya. Namun malam ini, entah kenapa, nyalinya seolah menciut.


"Bunda Mita kok belum keluar juga. Nara kan kangen." Ucap Nara polos dengan manjanya.


"Eh ... Ada anak cantik toh. Tante baru liat. Nama kamu pasti Nara kan?" Tanya Mama Retno sok akrab.


"Iya, Oma. Boleh kan Nara panggil Oma?"


"Boleh cantik."


"Tante, kenalkan, ini__" Kalimat Anjas terpotong sebab Mama Retno dengan cepat menyela.


"Tante tau. Mita sudah cerita."


Syukurlah kalau begitu. Jadi Anjas tidak perlu repot-repot lagi mencari cara untuk memperkenalkan Nara sebagai anaknya di depan Mama Retno. Padahal kenyataannya, Nara hanyalah keponakannya.


"Sebelumnya saya minta maaf Bu, kalau kedatangan keluarga saya sedikit mengganggu." Ucap Oma Lidya tiba-tiba, hingga Anjas pun terhenyak.


Kira-kira Oma Lidya mau ngomong apa tuh?


Mama Retno pun beralih menatap Oma Lidya yang tampak ingin menyampaikan sesuatu hal yang penting.


"Tidak apa-apa, Bu. Saya tidak merasa terganggu. Saya malah senang, Ibu dan keluarga mau berkunjung ke rumah saya yang sederhana ini." Ucap Mama Retno sungkan.


"Akh, Ibu ini bisa saja. Saya justru datang kemari karena saya ingin mewakili Anjas untuk mengutarakan niatnya. Bukan hanya Anjas, saya pun ingin meminta putri Ibu, Mita, untuk menjadi menantu saya. Jika Ibu tidak keberatan." Ujar Oma Lidya mantap. Lancar jaya tanpa hambatan.


Dan Anjas? Tentu saja sangat terkejut mendengar penuturan mamanya yang sungguh diluar dugaannya.


Disaat yang bersamaan, Mita sudah berdiri tidak di hadapan mereka. Sama halnya seperti Anjas, Mita pun sangat terkejut dibuatnya.


Sembari malu-malu, Mita mengambil duduk di sebelah Mama Retno.


"Bunda ..." Seru Nara sembari bangun dari duduknya dan menghambur ke pangkuan Mita.


"Nara ... Kamu cantik sekali malam ini." Puji Mita. Anak kecil itu pun tersenyum bahagia.


"Sama kayak Bunda. Bunda cantik malam ini."


"Mmmmm ... Makasih sayang." Sembari mencubit gemas pipi gembul Nara.


Melihat hal itu, mereka pun tersenyum bahagia.


"Gimana Bu? Pertanyaan saya belum dijawab." Seloroh Oma Lidya, hingga membuat Mama Retno tertawa kecil.


"Tentu saja saya setuju Bu."


"Terima kasih banyak, Bu. Sebaiknya pernikahan mereka cepat-cepat dilangsungkan. Mereka pasti sudah tidak sabar. Iya kan Anjas?"


Anjas pun tersipu malu, sembari mencuri pandang ke arah Mita. Yang juga memandangnya dengan malu-malu.


Malam itu, seakan keajaiban terjadi. Semuanya berjalan lancar tanpa hambatan. Dalam waktu singkat pun kedua emak-emak rempong itu, tiba-tiba saja menjadi akrab. Apalagi saat Mama Retno menyuguhkan brownies andalannya. Yang kata Oma Lidya, itu adalah brownies terenak yang pernah dicicipinya. Seakan kue itu turut menjembatani keakraban diantara dua keluarga itu.


Semoga saja akan terus diberi kelancaran hingga hari istimewa itu tiba.


.......


.......


.......

__ADS_1


...Bersambung...


__ADS_2