
Sepanjang Anjas dan Elvano mendiskusikan tentang bisnis mereka, sepanjang itu pula Mita diam seribu bahasa. Hanya senyumnya yang sesekali terlihat kala Elvano menatapnya mesra. Seolah mereka benar-benar sepasang kekasih.
Sementara Anjas, sesekali melirik Mita yang terlihat kikuk. Amarah di wajahnya pun sesekali terlihat kala Elvano melingkarkan lengannya di pundak Mita.
Anjas tahu betul seperti apa Elvano. Playboy yang tidak akan betah hanya dengan satu wanita. Seperti itulah seorang Elvano Abraham.
"Sayang ... pulangnya aku antar ya? Aku khawatir kalau kamu pulang sendiri." Kata Elvano saat perbincangannya dengan Anjas berakhir.
"Emm ... tidak usah. Aku pulang bareng teman. Tuh dia lagi nu__" Mita hendak menunjuk Nayla di meja sebelah. Tapi Nayla sudah tidak ada lagi di tempatnya.
"Kayaknya teman kamu sudah pulang. Jadi aku antar ya?" tawar Elvano lagi.
Mita pun jadi bingung sendiri. Kalau dia menolak, Anjas sudah pasti akan curiga. Kalau dia menerima, sejujurnya dia khawatir. Pria yang bernama Elvano ini, Mita sama sekali tidak mengenalnya.
Mata Anjas masih setia mengawasi gerak-gerik Mita. Sejak tadi dia terus menatap tajam ke arah Mita. Hingga membuat Mita jadi gugup. Terkadang salah tingkah.
Mita serasa mati kutu saat ini. Mau pamit pulang serba salah. Mau bertahan lebih salah lagi. Apalagi sejak tadi tatapan Anjas tidak pernah lepas darinya. Seolah Anjas akan menelannya bulat-bulat.
Benar-benar sudah masuk perangkap kamu Mita. Sekarang, apa yang harus kamu lakukan.
Mita memutar otaknya, berpikir keras mencari cara agar bisa terlepas dari dua alien ini.
"Sayang ... aku ke toilet sebentar ya?" sebuah alasan klise untuk menghindar akhirnya Mita lancarkan.
Dan tanpa di duga, itu justru berhasil.
"Jangan lama-lama ya sayang." Si Elvano ini, makin menjadi. Seakan dia nyaman dengan sandiwara ini.
Tanpa berlama-lama lagi, Mita pun segera bergegas menuju toilet coffeshop. Namun, bukannya masuk ke dalam toilet, Mita malah sibuk mencari pintu keluar lain agar dia bisa melarikan diri dari perangkapnya sendiri.
.
Akhirnya, dengan susah payah, Mita pun berhasil keluar dari coffeshop itu.
Dan kini dia tengah menunggu taksi yang sudah dia pesan via aplikasi online.
Beberapa menit menunggu taksi itu belum juga datang. Sampai akhirnya, terdengar suara bass seorang pria menyapanya. Hingga Mita pun terkaget dan langsung menoleh ke arah suara.
Anjas !
"Kenapa tidak pulang bersama pacar kamu ? Dari tadi dia menunggu kamu di dalam, tapi kamu malah melarikan diri seperti ini." Kata Anjas sembari mensejajarkan diri di samping Mita.
Otomatis Mita membuang muka.
"Sebenarnya kalian benar-benar pacaran atau hanya pu__"
"Bukan urusan kamu." Sela Mita cepat dengan kesalnya.
"Taksinya kenapa lama sekali sih?" gerutu Mita dalam hatinya.
Seakan tahu isi pikiran Mita, Anjas pun mencoba menawarkan bantuannya. Meskipun sebenarnya dia tahu, Mita pasti akan menolaknya.
"Aku antar pulang kamu."
"Tidak usah sok baik." Mita menyahuti dengan ketus.
"Mita, banyak hal yang kamu tidak tahu. Kayaknya kita harus bicara."
"Tidak usah membahas masa lalu. Itu sudah berakhir. Di antara kita sudah tidak ada apa-apa lagi. Buat aku, skarang kamu itu tidak lebih dari orang asing."
Anjas mengembuskan napasnya panjang. Pernyataan Mita membuatnya jadi merasa bersalah atas perlakuannya dulu. Mita sekarang sudah sangat membencinya.
__ADS_1
Sudah tidak ada jalan lagi bagi Anjas untuk bisa kembali mendekatinya.
"Mit, soal waktu itu, aku ..."
"Sudahlah Anjas. Itu sudah berlalu."
Kemudian Mita mulai melangkahkan kakinya hendak meninggalkan Anjas. Namun Anjas malah menghentikannya dengan menarik pergelangan tangannya kuat. Hingga Mita pun harus meronta, meminta Anjas melepaskan cengkeramannya dari pergelangan tangannya.
"Lepasin Anjas." Pekik Mita sambil berusaha menarik-narik lengannya.
"Mit, kamu sudah salah paham. Banyak hal yang harus kamu tahu. Empat tahun, empat tahun aku menahan rasa rinduku sama kamu Mit. Banyak hal yang ingin aku ceritakan sama kamu."
"Lepasin ! Kalau tidak, aku teriak nih." Bentak Mita.
Akhirnya Anjas pun melepaskan cengkeraman tangannya dari pergelangan Mita.
Mita kini terlihat sangat kesal. Bahkan dia enggan menatap Anjas.
Luka masa lalunya masih belum terobati. Anjas meninggalkannya tanpa tahu alasan sebenarnya. Di tambah lagi kini dia mendapati kenyataan bahwa Anjas sudah mempunyai seorang anak.
Dari kenyataan itu, jelas saja Mita bisa mengambil kesimpulan. Alasan Anjas meninggalkannya dulu tidak lain karena ada wanita lain di hatinya Anjas.
Lalu kini Anjas mengakui bahwa dia memendam kerinduan padanya selama empat tahun ?
*Came on Anjas ...
(Ayolah Anjas) ...
Are you kidding ...
(Apa kamu bercanda*) ...
"Dengar Anjas. Aku bukan tipe wanita yang suka mengganggu rumah tangga orang lain. Kamu sudah berkeluarga. Jadi tolong, jangan dekati aku." Tegas Mita dengan memberanikan diri menatap Anjas.
"Stop ! Aku tidak ingin mendengar penjelasan apapun dari kamu. Semuanya sudah jelas. Dan tolong, jangan pernah dekati aku lagi."
Mita benar-benar tidak bisa menahan kekesalannya terhadap Anjas. Kehadiran Anjas membuka kembali luka lama yang bahkan belum mengering hingga kini.
Sakit hati ?
Jelas Mita masih sakit hati. Jangan harap Mita bisa melupakannya begitu saja. Dan jangan harap Mita bisa memaafkan Anjas dengan mudah.
Never ... Never ... And never ...
(Takkan pernah ... Takkan pernah ... Dan takkan pernah)
"Aku minta maaf." Ucap Anjas sambil melangkah perlahan menghampiri Mita.
"Ini taksinya kenapa lama sekali sih?" Mita menggerutu sembari mengedarkan pandangannya.
Namun pandangannya terhenti pada sesosok yang baru di kenalnya. Tengah berjalan menuju mobilnya yang terparkir.
Elvano.
Seperti sebuah keberuntungan, Elvano pun kini mengalihkan pandangannya pada Mita. Dan entah ada motivasi apa kini dia datang menghampiri Mita dan Anjas.
"Sayang ... aku cari kamu kemana-mana loh. Ternyata kamu ada disini." Ucap Elvano sambil tersenyum genit menatap Mita.
Elvano ini, memang selalu bisa di ajak bekerja sama. Untung saja ada dia. Jadi Mita bisa menghindari Anjas.
"Maaf ya sayang, kayaknya aku harus cepat-cepat pulang." Ucap Mita sembari menghampiri Elvano dan bergelayut manja di lengannya.
__ADS_1
Anjas hanya bisa menahan kekesalannya melihat tingkah Mita. Yang sok mesra dan sok manja di depannya.
"Ya sudah, kita pulang, yuk. Kita cabut dulu ya Jas. Kapan-kapan kita ketemu lagi. Kayaknya pacar aku kecapean. Iya kan sayang?"
"Iya sayang ... aku capek."
"Bye Anjas. Sampai ketemu lagi."
Mita dan Elvano pun bergegas ke mobil dan Elvano segera memacu mobilnya meninggalkan halaman parkir coffeshop itu.
Dan Anjas hanya bisa menatap kepergian mereka dengan hati mendongkol. Menahan kekesalannya setengah mati.
___
"Stop !!! Berhenti di sini." Pinta Mita pada Elvano.
Elvano pun menghentikan mobilnya dan menepi di bahu jalan.
"Loh, ini aku serius loh mau nganterin kamu pulang." Ucap Elvano sambil menatap heran pada Mita. Gadis cantik yang baru saja di kenalnya. Seketika jiwa playboy nya pun ingin segera beraksi.
"Sebelumnya, aku minta maaf karena sudah melibatkan kamu dalam sandiwaraku. Tapi makasih, karena kamu sangat pengertian. Aku turun di sini saja. Aku bisa pulang pake taksi atau ojol. Tinggal pesan pake aplikasi kok."
"Okey ... Aku mengerti. Kamu berusaha menghindari Anjas kan? Kalau boleh tau, ada hubungan apa kamu sama Anjas."
"Tidak ada hubungan apa-apa. Lagi pula kita tidak saling mengenal, buat apa aku cerita sama kamu."
"Eits, jutek amat sih. Aku sudah menolong kamu loh."
"Thank you so much. Puas?"
Mita pun bergegas keluar dari mobilnya Elvano. Pria tampan yang tidak jelas asal-usulnya.
"Boleh dong aku tahu nama kamu." Seru Elvano saat menurunkan kaca mobilnya.
Namun Mita tidak menanggapi. Dia justru tenggelam dalam layar ponselnya sebab sibuk memesan ojek dari aplikasi online.
Beberapa menit kemudian, ojek yang di pesannya pun datang. Dan Mita langsung saja bertengger di boncengan tanpa menghiraukan Elvano yang masih menunggu jawaban dari Mita.
Elvano hanya bisa terkekeh melihat tingkah Mita. Sudah berpura-pura menjadi pacarnya, dan sekarang pergi begitu saja. Tanpa memberitahu siapa namanya.
"Aku tertarik sama kamu. Aku harus tau siapa kamu. Dan kamu harus jadi milikku." Lirih Elvano ditengah seringai tipisnya.
...*...
...*...
...*...
...-Bersambung-...
**Hai 🤗 readers yang budiman ...
Boleh dong minta dukungannya ...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya 🤗
Agar otor kawe ini makin semangat update nya.
So love u all 🤗
Salam ...
__ADS_1
Fhatt