Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 77 (END)


__ADS_3

Bias cahaya mentari menyembul dari ufuk timur. Perlahan mulai merangkak naik, menerangi hari, memberi warna dan semangat baru.


Pagi itu, keluarga Winata sedang sarapan bersama. Sebagai isteri, Mita menyiapkan sarapan Anjas. Dengan penuh cinta, Mita mengisi piring kosong Anjas dengan sarapan lalu menuangkan jus ke dalam gelas. Setelahnya, Mita membantu Nara mengolesi roti tawarnya dengan selai.


Sarapan pagi itu berlangsung khidmat. Sejak hadirnya Mita di rumah itu, terasa ada yang berbeda. Rumah itu seakan memiliki warna dan suasana yang baru. Hari-hari pun terasa berbeda. Jika dulu, yang sering terlihat adalah wajah datar Anjas. Kini yang terlihat hanyalah rona bahagianya. Tak bisa dipungkiri, Mita memberi kebahagiaan terbesar dalam hidup Anjas.


Dan untuk Nara, hingga saatnya tiba nanti, saat gadis kecil itu dewasa nanti, mereka akan memberitahu kebenaran tentang jati dirinya. Untuk saat ini, biarlah gadis kecil itu menganggap Anjas dan Mita sebagai ayah ibundanya. Mereka hanya tidak ingin merusak kebahagiaan yang telah susah payah mereka dapatkan.


"Aku berangkat dulu ya?" Pamit Anjas sembari memberikan satu kecupan hangat di kening Mita sebelum melenggang ke mobilnya yang terparkir di depan rumah.


"Hati-hati di jalan ya sayang." Balas Mita pun dengan memberi kecupan hangat di pipi Anjas. Lalu melambaikan tangannya saat Anjas hendak naik ke mobilnya.


Namun, belum sempat Anjas membuka pintu mobil, sebuah mobil lain tiba dan berhenti tepat di sebelah mobil Anjas. Pemilik mobil itu sudah jelas adalah orang yang tidak asing lagi bagi mereka.


Elvano.


Pria itu turun dari mobil dengan wajah tersenyum manis. Kemudian menghampiri Anjas yang masih berdiri di sisi mobilnya. Melihat kedatangan Elvano, Mita pun datang menghampiri.


"Ada apa, Van? Tumben kamu datang sepagi ini?" Tanya Anjas penasaran.


"Maaf aku datang tanpa memberitahu. Ada yang ingin aku sampaikan."


"Oh ya? Apa itu?"


"Ada kabar baik dan kabar buruk. Yang mana dulu nih, yang ingin kalian dengar?" Elvano malah tampak seperti sedang bercanda.


"Maksud kamu apa sih, Van?" Tanya Mita semakin penasaran.


"Terserah kamu deh, Van. Yang mana yang ingin kamu sampaikan lebih dulu." Ucap Anjas menimpali.


Elvano tampak menghela napas panjang, "Sasha sudah siuman."


"Syukurlah. Itu berarti kabar bagus. Lalu kabar buruknya?"


"Sasha kehilangan ingatannya. Akibat kecelakaan itu, kepalanya mengalami benturan keras yang mengakibatkan dia kehilangan ingatannya."


Sungguh miris nasib Sasha. Anjas dan Mita hanya bisa saling memandang. Tak bisa berbuat apa-apa atas musibah yang menimpa Sasha.


"Kami turut prihatin atas apa yang menimpa Sasha. Tapi maaf, kami tidak membantu."


"It's okey. Anggap saja ini sudah takdirnya. Sebenarnya ada satu kabar baik lagi yang ingin aku sampaikan."


"Oh ya? Apa itu?" Mita tampak antusias.


"Aku ingin meminta waktu kalian malam ini. Keluargaku mengundang kalian makan malam di rumah. Hanya makan malam antar keluarga. Dan aku juga sebenarnya butuh dukungan kalian."


"Boleh. Dengan senang hati kami akan hadir dan akan memberimu dukungan. Tapi, dukungan untuk apa dulu nih?"


Elvano menghela napas panjang. Kemudian mulai mengutarakan niatnya pada Anjas dan Mita.


"Baiklah. Tapi secepatnya ya Van, sebelum kami berangkat bulan madu. Awas, jangan sampai gagal loh." Celetuk Anjas atas niatan Elvano.


"Makanya bantu aku dong." Kekeh Elvano.


Entah apa yang direncanakan Elvano. Tapi raut wajahnya tampak begitu bahagia.


.


.


Malam hari pun menjelang.


Tampak, di taman belakang rumah itu ramai dengan tamu undangan meski hanya terbatas. Ada keluarga Elvano dan keluarga Anjas berkumpul untuk makan malam sederhana. Bagi sebagian orang makan malam itu mungkin sudah termasuk mewah jika dilihat dari dekorasi taman dan hidangannya. Tapi bagi keluarga Abraham, itu hanyalah makan malam keluarga yang sederhana.


Dan acara keluarga malam ini tidak dihadiri oleh keluarga Sandy Abraham. Dikarenakan puteri mereka tercinta masih dalam keadaan sakit. Bahkan dalam kondisi miris saat ini, yaitu kehilangan ingatannya.


Untuk acara keluarga malam itu, tak lupa pula Mama Retno datang dengan berdus-dus kue buatannya khusus untuk sahabat lama tercintanya itu. Bersama Mama Retno, ada seorang gadis cantik dalam balutan dress pink tampak malu-malu saat menghampiri Mama Maria di taman belakang rumah itu.


"Makasih banyak loh Retno. Kuenya enak-enak semua. Aku sampai bingung mau makan yang mana dulu." Ujar Mama Maria dengan sumringah.


Mama Retno dilawan. Urusan kue mah, Mama Retno ahlinya.


"Aku membuatnya spesial untuk kamu. Semua itu kue kesukaan kamu loh, Mar." Balas Mama Retno tak kalah sumringahnya.


"Eh, ada Lyly. Tante sampe pangling. Hampir tidak bisa mengenali kamu. Kamu sangat cantik malam ini." Puji Mama Maria mengalihkan pandangannya pada Lyra yang berdiri di samping Mama Retno.

__ADS_1


Lyra pun tersipu malu dalam senyum manisnya.


"Kamu masih ingat Lyra, Mar?" Tanya Mama Retno.


"Tentu saja aku masih ingat, Retno. Aku belum setua itu juga kali. Jadi belum pikun-pikun amat. Oh ya, sudah ketemu Vano?" Kebiasaan Mama Maria nih. Kalau ada gadis cantik, baik-baik, pasti deh nawar-nawarin buat ketemu Elvano. Maklum lah, mencari gadis baik-baik dan tulus di jaman sekarang itu sudah agak-agak susah. Apalagi Elvano bukan dari keluarga sembarangan. Sudah pasti banyak yang mendekatinya karena modus semata. Dengan berdalihkan tulus.


Lyra tak menggubris pertanyaan Mama Maria. Sebab dia malah semakin tersipu malu. Mama Maria belum tahu saja, kalau mereka sudah jadian loh. Yah, walaupun belum secara resmi.


Panjang umur. Baru saja Mama Maria hendak memanggil putera kesayangannya itu, malah Elvano sendiri yang datang menghampiri.


"Ma ..." Panggil Elvano. Namun pandangannya justru tertuju pada Lyra.


"Eh, Van. Mama baru aja mau manggil kamu."


"Tante, datang bersama siapa,?" Tanya Elvano berpura-pura belum mengenal Lyra.


"Oh iya, kenalkan, ini ponakan Tante, sepupu Mita. Namanya Lyra. Dan Lyra, ini Vano, temannya Anjas dan Mita." Ujar Mama Retno memperkenalkan.


"Hai ..." Sapa Elvano dengan senyum khasnya.


"Hai ..." Balas Lyra sambil malu-malu kucing.


Melihat gelagat keduanya, timbul kecurigaan Mama Maria. Sembari berbisik, Mama Maria menarik pelan lengan Mama Retno. Mengajaknya menjauh, meninggalkan Elvano dan Lyra berdua.


"Sebaiknya kita tinggalkan saja mereka. Coba lihat deh," sembari menunjuk ke arah dua sejoli itu dengan dagunya, "ada yang berbeda kan dari gelagat mereka? Kamu bisa merasakan itu kan?"


Mama Retno pun memperhatikan keduanya dengan seksama, yang tampak tersipu-sipu malu.


"Iya juga sih ..." Gumam Mama Retno.


"Tampaknya mereka cocok ya Retno?"


"Kamu benar deh. Mereka terlihat serasi."


Begitulah obrolan dua emak-emak itu, sampai emak yang satunya lagi datang menghampiri.


"Sepertinya ada obrolan yang menarik nih." Celoteh Oma Lidya.


"Eh, Bu Lidya. Iya nih Bu. Saya hanya sedang memperhatikan anak saya, Vano. Tuh, lihat." Ucap Mama Maria kemudian menunjuk Elvano yang tengah saling bercanda dengan Lyra di seberang.


"Benarkah? Menurut Bu Lidya begitu?"


"Iya. Mereka sangat cocok."


"Berarti saya tidak salah. Akhirnya saya bisa menemukan wanita yang cocok untuk Vano. Itu sepupunya Mita loh, Bu Lidya. Ponakannya Bu Retno."


"Oh ya? Kalau begitu jodohkan saja mereka. Tunggu apa lagi?"


"Bu Lidya benar. Kelihatannya Vano tertarik dengan Lyly."


Emang dasar emak-emak rempong. Obrolannya pasti tidak jauh-jauh dari anak-anaknya. Dan obrolan emak-emak rempong itu pun mengundang rasa penasaran Samuel Abraham, ayahnya Elvano.


"Waaah ... Sepertinya ada yang seru nih. Boleh ikutan gabung kan?" Seloroh Papa Samuel di tengah obrolan trio emak rempong itu.


Sementara di seberang, Anjani dan Nara sedang bercanda sambil bermain game di ponselnya. Sedangkan Anjas dan Mita, ehem ... Jangan ditanya lagi. Pengantin baru itu sedang asik berduaan di bangku kecil di pinggiran kolam renang. Mita menyandarkan kepalanya di pundak Anjas. Sedang jemari keduanya saling bertaut. Sesekali tampak Anjas mengecup punggung jemari Mita.


Dan di seberangnya lagi, ada Elvano dan Lyra yang tampak mulai saling terbiasa. Bahkan keduanya tak canggung lagi untuk saling bercanda.


"Makasih ya kamu bersedia hadir malam ini." Ucap Elvano memulai obrolan keduanya.


"Sama. Makasih juga karena sudah mengundangku di acara keluarga kamu."


"Kamu sangat cantik malam ini. Aku sampai lupa kalau ada bidadari yang kedelapan yang turun dari kayangan." Celoteh Elvano.


Lyra pun terkekeh, "kamu bisa aja. Legenda hanya mengenal tujuh bidadari."


"Mereka salah. Seharusnya ada delapan bidadari. Salah satunya sedang berdiri di hadapanku. Bidadari yang Tuhan kirimkan untukku. Bidadari hatiku."


Aciyeee ... Gas pol Vano. Jangan sampai lepas lagi.


Lyra semakin tersipu malu di buatnya. Wajah putihnya bahkan bersemu merah. Ribuan bunga fatamorgana beterbangan mengelilinginya. Sungguh hatinya begitu berbunga-bunga mendengar gombalan Elvano.


"Lyra ..." Lirih Elvano memanggil namanya.


"Hm?"

__ADS_1


"Apa aku boleh jujur?"


"Boleh. Soal apa?"


"Jujur, aku lelah."


"Lelah merayu wanita?" Celetuk Lyra.


"Bukan."


"Trus, lelah kenapa?"


"Aku lelah terus mengejarmu dalam mimpiku."


Lyra mengernyit, "maksud kamu?"


"Aku ingin kembali ke kenyataan. Aku ingin menjadikanmu teman dalam hidupku. Bukan hanya untuk saat ini, tapi untuk selamanya."


Kali ini Lyra terdiam, sambil menatap lekat Elvano yang juga menatapnya. Bahkan Elvano benar-benar terlihat serius.


"Lyra ... Maukah kamu menjadi teman hidupku? Maukah kamu menemaniku dalam suka maupun duka? Maukah kamu jadi bagian dari hidupku?" Tanya Elvano kemudian dengan sepenuh hati.


Lyra pun tertegun dibuatnya. Dia tak menyangka, baru saja saling mengenal, Elvano bahkan sudah berani melamarnya. Bagaiman kalau pria itu hanya main-main. Jujur saja, Lyra masih ragu.


Sampai tiba-tiba terdengar seruan serentak dari anggota keluarga yang lain sembari melangkah bersama menghampiri keduanya.


"Terima ... Terima ... Terima ..."


Seruan itu turut memberi semangat untuk Elvano. Dan perlahan mulai mengikis keraguan di hati Lyra. Jika Elvano hanya berniat main-main, untuk apa dia melamarnya di tengah-tengah keluarganya seperti ini.


"Lyra ... Aku masih menunggu jawaban kamu." Ucap Elvano.


Dan akhirnya, Lyra pun memberikan jawabannya.


"Iya. Aku mau jadi teman dalam hidupmu." Ucap Lyra mantap.


"Horeee ..."


Serentak semua yang ada di tempat itu pun bersorak kegirangan. Ikut merasakan kebahagiaan diantara dua sejoli yang sedang jatuh cinta.


Perlahan Elvano melangkah lebih mendekat. Kemudian meraih pundak Lyra dan membawa gadis itu kedalam dekapannya.


"Makasih, ya. Kamu sudah menerimaku dan membuatku sempurna menjadi seorang laki-laki." Lirih Elvano.


Elvano pun melepaskan dekapannya dan perlahan mulai mendekatkan wajahnya dengan wajah Lyra. Dan satu kecupan hangat pun mendarat di kening Lyra. Kemudian kecupan itu perlahan mulai turun, menyentuh lembut bibir merah merona Lyra. Menyesapnya lembut dan penuh cinta.


Serentak semua yang hadir menyaksikan kebahagiaan itu memutar tubuhnya membelakangi keduanya, untuk kemudian memilih menjauh. Meninggalkan dua sejoli yang sedang menikmati kebahagiaannya.


Akhirnya, Elvano menemukan tambatan hatinya yang akan menjadi teman hidupnya dalam suka maupun duka.


Selamat untuk Elvano dan Lyra. Ditunggu undangannya.


Alangkah indahnya hidup jika kita saling menghargai dan saling mencintai. Bahagia itu sederhana. Cukup ada cinta yang tulus dan saling menerima. Jika cinta sesederhana itu, kenapa harus dibuat rumit.


Untuk yang masih dalam perjuangannya menemukan cinta sejati, selamat berjuang. Semoga bahagia pun kau dapatkan.


.......


.......


.......


...END...


**Ucapan terima kasih untuk reader ter❤️ yang selalu setia mengikuti cerita receh ini dari awal. Bahkan harus menunggu lama update nya.


Ucapan terima kasih juga buat Author² yang selalu setia mendukung karya receh ini. Semoga kalian diberi kelancaran dan semoga sukses dengan karya² hebat kalian.


Sampai jumpa. Dan sampai ketemu di karya baru otor kawe, jika sudah dapat inspirasi, otor kawe akan kembali dengan karya baru.


Love❤️ You All


^^^Salam hangat^^^


^^^🌺Otor Kawe🌺**^^^

__ADS_1


__ADS_2