Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 27


__ADS_3

Sasha memperhatikan raut wajah Anjas dengan seksama. Sebenarnya, dia berbohong soal Elvano ingin melamar Mita. Sasha sengaja mengatakan itu untuk mengetahui perasaan Anjas. Dia masih ingat bagaimana Anjas memeluk Mita saat di depan restoran siang itu. Dan dia hanya ingin memastikan kecurigaannya terhadap hubungan Anjas dan Mita.


Dari raut wajah Anjas saat ini, Sasha bisa menebak kalau hubungan Anjas dan Mita dahulu lebih lebih dari sekedar teman.


"Menurut kamu, Mita itu orangnya seperti apa?" tanya Sasha ingin mengetes Anjas.


Anjas mendesah dan memalingkan wajahnya kemudian.


"Menurut yang aku lihat, Mita itu kayaknya orangnya baik. Dia cantik. Terlihat cocok dengan Vano." Tambah Sasha.


Anjas terlihat semakin tidak nyaman.


"Sasha ... Aku permisi ke kamar sebentar. Aku mau mencharger ponselku dulu. Aku tinggal kamu sebentar tidak apa - apa kan?" Anjas bangkit berdiri dan hendak meninggalkan Sasha.


"Tidak apa - apa. Tapi jangan lama - lama ya?"


Anjas melempar senyum tipisnya. Setidaknya dengan melihat senyum Anjas tidak akan mengecewakan Sasha. Anjas sampai harus berbohong hanya untuk menghindari Sasha.


Dan Anjas pun bergegas masuk ke dalam rumah. Dengan langkah terburu - buru menapaki anak tangga satu per satu. Sampai di kamarnya, Anjas langsung menghempaskan tubuhnya di ranjang empuknya.


Pikirannya kini mulai menerawang jauh. Memikirkan Mita yang kata Sasha akan di lamar Elvano.


Argh ... Lagi - lagi pria itu membuatnya pusing tujuh keliling. Bayangan saat Mita di cium Elvano kembali mengusik pikirannya. Apa Mita juga serius dengan Elvano?


Anjas mendesah berat. Kemudian bangun dari pembaringan. Memijit lembut pelipisnya yang mulai terasa berdenyut itu. Di raihnya ponselnya dari saku celananya. Lalu mulai menscroll daftar nama. Setelah menemukan satu nama yang di carinya, Anjas pun mulai menghubunginya.


Tuuut ... Tuuut ... Tuuut ...


Terdengar suara sambungan telepon. Tak berapa lama, terdengar suara seseorang yang menjawab teleponnya dari seberang.


"Halo ..." sapa sebuah suara renyah dari seberang.


Anjas menjauhkan ponselnya dari telinganya dan memastikan kembali kalau dia tidak salah memencet nomor.


Benar. Nomor ponselnya Mita. Tapi kenapa suara yang terdengar menyahuti malah cempreng begitu. Berbeda jauh dari suaranya Mita yang merdu. Bahkan semerdu lantunan lagu.


Anjas kembali menempelkan ponsel itu ke telinganya.


"Halo ..." terdengar lagi suara cempreng itu menyapa dari seberang.


"Halo ... Maaf, apa ini benar dengan Mita?" tanya Anjas hati - hati.


"Bukan. Ini mamanya. Ada apa? Ini siapa ya?"


Ooh ... pantas saja suaranya terdengar seperti bunyi kantong kresek. Ternyata mamanya Mita. Dari cara Mama Retno menyapa, sepertinya nomor ponsel Anjas tidak tersimpan dalam daftar kontaknya Mita. Wajar, karena Mita membencinya. Padahal Anjas masih menggunakan nomor yang sama dari empat tahun lalu. Dan nomor ponsel Mita Anjas dapatkan dari CV Mita saat melamar pekerjaan di kantornya.


"Maaf Tante, saya Anjas. Saya hanya ingin bicara sebentar dengan Mita. Boleh kan Tante?"


"Ooh ... Anjas. Mita tidak ada di rumah. Dia lagi pergi dengan Vano. Oh ya Anjas. Tante mau minta tolong sama kamu. Tolong jangan ganggu Mita lagi. Mita skarang sudah bahagia bersama Vano."


Tuuut !!! Mama Retno memutus sambungan telepon begitu saja.

__ADS_1


Aish ... Anjas mendesah berat. Dasar ibu - ibu rempong. Belum tahu saja dia kalau Elvano itu seorang playboy. Kalau Mama Retno tahu, sudah pasti dia tidak akan mengijinkan Mita menjalin hubungan dengan Elvano.


Sekarang Anjas harus bagaimana lagi? Aksesnya untuk mendekati Mita sudah tertutup rapat. Bukan hanya Mita, bahkan ibunya Mita pun membencinya saat ini. Anjas harus pakai cara apa lagi untuk bisa mendekati Mita.


.


.


Sementara itu, Mita dan Elvano baru saja kembali dari jalan - jalannya. Mita hendak melangkah memasuki rumahnya, saat Elvano tiba - tiba menahan lengannya.


Mita pun berbalik, menghadap Elvano dan menatap sorot matanya. Sorot mata Elvano yang begitu teduh membuat Mita terhanyut sesaat.


Dag Dig Dug ...


Seperti itu detak jantung Mita saat ini. Bagai bedug yang saling bersahutan. Ish ... sejak kapan Mita berdebar - debar aneh begini saat menatap Elvano. Jangan bilang kalau Mita sudah jatuh hati pada Elvano.


Elvano gitu loh. Cewek mana yang tidak akan terpikat padanya. Pria paket komplit, tertampan sejagad raya ini. Dengan kriteria wanita idaman sekelas Selena Gomes itu mampu meluluhkan hati wanita seperti Mita.


"Jangan lupa mimpi indah." Ucap Elvano sembari mengulum senyum lembutnya.


Mita tersenyum, "pasti. Siapa juga yang mau bermimpi buruk."


"Mimpikan aku juga ya?"


"Eum ... gimana ya?" Mita seakan tengah menggoda Elvano.


Cup !


Iiikh ... Elvano makin gemes melihat Mita malu - malu kucing seperti itu. Hingga kecupan kedua pun dengan cepat mendarat di pipi Mita yang sebelahnya lagi. Hingga membuat Mita semakin tersipu malu.


"Van, nanti Mama liat loh." Gerutu Mita sambil memegang pipinya.


"Biarim. Kalau dia marah kan bagus. Siapa tau dia langsung minta aku untuk menikahi kamu."


"Ikh, kamu ge er. Kepedean. Siapa juga yang mau menikah sama kamu." sembari memukul lembut lengan kekar Elvano.


"Kamu tidak ingin menikah denganku? Memangnya kamu tidak suka punya suami setampan ini?" canda Elvano.


"Mulai deh narsisnya ..."


"Becanda sayang. Tapi kalau soal menikah, aku cukup serius."


"Kamu berpikir sampai sejauh itu. Padahal hubungan kita ini baru seumur jagung."


"Why not? (kenapa tidak?). Aku sayang sama kamu. Wajar jika aku juga ingin menikah sama kamu."


"Iya, iya. Ngomong - ngomong, ini udah larut malam."


"Aku di usir nih?"


"Bukan gitu Van ..."

__ADS_1


"Bercanda. Aku tau kok. Ya udah, aku pamit pulang dulu ya?"


"Hati - hati."


Elvano pun akhirnya pamit pulang. Elvano sudah bersiap mengemudikan mobilnya saat tiba - tiba ponselnya berdering. Segera diraihnya ponsel itu.


Tampak Elvano mendesah berat saat melihat layar ponsel itu yang menampilkan sebuah nama. Liza. Seakan Elvano enggan menjawab panggilan dari yang bernama Liza. Untuk panggilan pertama sengaja dia abaikan. Tak berapa lama di susul panggilan kedua. Dengan sedikit kesal Elvano pun menjawab panggilan itu.


"Halo ..." sapa Elvano.


"Vano sayang ... aku ada di rumah kamu skarang." Sahut seseorang yang bernama Liza dari seberang.


"Buat apa kamu ke rumah? Dengar ya, diantara kita sudah tidak ada apa - apa lagi skarang. Sudah berakhir."


"Aku tunggu kamu. Cepat pulang. Dengar ya Van, aku tidak mau mendengar apalagi melihat kamu mendekati wanita lain. Jika tidak ingin wanita itu terluka, maka jangan coba - coba. Cepat pulang. Aku masih menunggumu."


Tuuut !!! Sambungan telepon terputus. Elvano mendengus.


"Dasar wanita gila. Aku tidak mengerti kenapa aku bisa berurusan dengannya." Gerutu Vano sembari mengacak kasar rambutnya.


.


.


Elvano melangkah panjang memasuki rumahnya yang bak istana itu. Di ruang tengah, didapatinya wanita yang bernama Liza itu tengah mengobrol dengan ibundanya.


"Van ... kamu sudah pulang," sapa Mama Maria sembari bangkit berdiri dan menghampiri Elvano.


"Liza menunggumu sejak tadi." Mama Maria melirik ke arah Liza dengan lirikan kurang suka.


Wanita paruh baya yang beda - beda tipis penampilannya dengan Oma Lidya itu memang selalu tidak menyukai setiap wanita yang dekat dengan puteranya. Untuk urusan yang satu ini, Mama Maria memang pemilih. Bukan mementingkan dari segi bibit bebet bobot. Yang terpenting baginya, wanita itu mencintai Elvano dengan tulus. Bukan sekedar mengejar hartanya saja. Sesimpel itu kriteria wanita pilihan Mama Maria untuk Elvano. Berbeda jauh dengan Oma Lidya ya?


"Dengar ya Van, Mama tidak suka kamu berurusan dengan wanita seperti Liza. Luarnya sih cantik, tapi dalemnya ... kita tidak tau kan? Ingat ya kata Mama?" kemudian Mama Maria meninggalkan Elvano dan Liza berdua di ruang tengah itu.


Setelah Mama Maria berlalu, Liza pun bangun dari duduknya dan langsung menghambur ke dalam pelukan Elvano.


"Aku kangeeen banget sama kamu Van."


Ealah ... kok main peluk - peluk sembarangan sih? Memangnya siapa sebenarnya Liza ini? Pacar Elvano kah? Tunangan, atau calon isteri? Tapi kok Mama Maria kurang suka ya?


.......


.......


.......


...Bersambung...


Alaway Saranghae readers ❤️❤️


Salam hangat

__ADS_1


Otor Kawe


__ADS_2