
Anjas melangkah panjang menyusuri setiap ruangan yang dilaluinya. Kepalanya celingukan ke kanan ke kiri. Netra matanya memindai setiap area yang dilaluinya. Hanya untuk mencari seorang Anamita.
Mita pasti tersinggung mendengar omongan Oma Lidya beberapa saat yang lalu. Entah kemana Mita pergi. Anjas kebingungan mencarinya. Sudah hampir di setiap penjuru gedung itu Anjas mencari keberadaan Mita. Tetapi hasilnya, tetap saja nihil. Mita tidak ada dimana - mana.
Anjas pun kemudian merogoh saku celananya, mengambil ponselnya dari sana. Lalu mulai menghubungi Mita. Tapi yang terdengar hanyalah suara operator. Nomor Mita sedang tidak aktif.
Argh, Anjas semakin cemas dibuatnya. Bagaimana kalau setelah ini Mita tidak mau bertemu dengannya lagi. Bagaimana kalau setelah ini Mita tidak mau bicara dengannya lagi. Bagaimana kalau setelah ini ...
Berbagai macam pikiran negatif pun bermunculan seketika di benaknya. Susah payah Anjas meraih perhatian Mita lagi. Dan kini, dalam sekejap mamanya malah mengacaukan segalanya.
Akhirnya, Anjas kembali ke ruangannya dengan wajah muram. Sepasang bola mata Anjani senantiasa mengawasi setiap gerik kakaknya yang terlihat lesu itu. Sampai Anjas kembali duduk di kursinya, Anjani masih saja memperhatikannya.
"Kenapa Kak?" Tanya Anjani sembari menelisik raut wajah kakaknya itu.
"Daddy kenapa?" Tanya Nara ikut - ikutan cemas melihat wajah Daddy nya muram.
"Kamu kenapa sih Anjas? Mama tidak mengerti dengan omongan kamu tadi. Maksud kamu Mama menghina Mita itu apa?" Tanya Oma Lidya tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Bukan apa - apa." Jawab Anjas lesu.
"Daddy ... Daddy kok sedih sih? Daddy kenapa?" Tanya Nara lagi.
"Tidak apa - apa. Daddy cuma capek."
"Kalau Daddy capek, Daddy istirahat dulu. Nanti kalau Daddy sakit, gimana?" Dih, anak kecil ini. Masih kecil tapi gayanya udah kayak orang dewasa aja.
Anjas hanya tersenyum. Kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Sambil memijit lembut keningnya. Sembari memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa menemui Mita dan meminta maaf padanya atas omongan mamanya yang sudah menyinggung perasaannya itu. Pasti akan kembali sulit bagi Anjas untuk bertemu kembali dengan Mita.
.
.
Tanpa berpikir panjang lagi, Mita memutuskan meninggalkan pekerjaannya dan pulang saja ke rumah. Omongan Oma Lidya yang meremehkannya itu sangat menyinggung perasaan Mita.
Gila ya. Masih ada aja orang seperti Oma Lidya itu. Yang suka memandang seseorang dari status sosialnya saja. Yang menilai seseorang dari materinya semata. Mita memang tidak seperti Sasha, yang terlahir dari keluarga kaya. Tapi Mita masih punya harga diri.
Ya wajar sih, jika Oma Lidya mengidamkan menantu seperti Sasha. Yang lebih pantas bersanding dengan keluarga mereka. Yang sederajat. Wajar juga Oma Lidya bicara seperti itu di depan Anjas. Lah orang dia gak tau kalau Mita adalah wanita di masa lalunya Anjas. Tapi tetap saja, perasaan Mita tersentil saat mendengar itu.
Mita tengah berjalan menyusuri trotoar jalan saat itu. Sampai tiba - tiba terdengar suara nan merdu memanggil namanya.
"Mita ..."
Langkah Mita pun terhenti lalu menoleh ke arah sumber suara. Seorang wanita paruh baya nan cantik dan anggun turun dari sebuah mobil mewah yang berhenti di tepi jalan. Diikuti oleh seorang bodyguard, datang menghampirinya. Mita pun mengernyit. Mencoba mengenali siapa gerangan wanita paruh baya itu.
"Mita kan?" Tanya wanita paruh baya itu memastikan.
"Iya, Tante."
"Ya ampun. Padahal Tante baru aja mau menelpon kamu. Eh, malah ketemu di jalan begini. Jodoh kali ya?"
Mita semakin mengernyit. Masih belum mengenali wanita paruh baya itu.
"Masih ingat Tante kan? Tante Maria. Yang kamu tolong waktu itu di depan restoran." Ooh Tante Maria toh. Ibu - ibu kece badai yang ramah dan baik hati itu.
"Oh, iya saya ingat. Maaf ya Tante."
"Kamu mau ke mana? Ikut sama Tante aja yuk."
__ADS_1
"Saya mau pulang Tante. Biar saya naik angkot aja Tante. Nanti malah ngerepotin Tante lagi. Tapi makasih sebelumnya."
"Tante tidak merasa direpotin sama kamu kok. Tante malah senang kalau kamu ikut Tante."
"Waaah makasih loh Tante."
"Ayo." Ajak Mama Maria kemudian berjalan lebih dulu ke arah mobilnya yang terparkir. Bodyguard Mama Maria pun sigap membukakan pintu mobil untuk majikannya itu. Sejurus kemudian mobil mewah itu pun melaju menyusuri jalanan ibukota dengan kecepatan sedang.
"Oh ya, Mita. Nanti malam kamu ada rencana tidak, mau kemana gitu misalnya?" Tanya Mama Maria saat dalam perjalanan.
"Tidak Tante. Soalnya saya suka malas keluar rumah. Kenapa ya Tante?"
"Tante mau ngundang kamu makan malam di rumah Tante. Ya ... Hitung - hitung sebagai ucapan terima kasih Tante waktu kamu nolongin Tante."
"Ya ampun ... Itu saya ikhlas kok nolongin Tante."
"Pokoknya Tante tunggu nanti malam ya? Oh iya ..." Sembari membuka tas branded nya dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas itu. Dan menyodorkannya pada Mita dan langsung disambut Mita dengan senyum ramahnya.
"Itu kartu nama Tante. Disitu ada alamat Tante kan? Atau kamu bisa kasih tau Tante alamat kamu. Nanti biar Tante minta supir Tante jemput kamu di rumah." Ucap Mama Maria setelah kartu namanya berpindah tangan.
"Tidak perlu Tante. Tapi akan saya usahakan untuk datang."
"Pokoknya harus. Ya?" Mama Maria tersenyum puas memandangi Mita.
Sejak pertama kali bertemu Mita, Mama Maria sudah menaruh simpati padanya. Sudah cantik, baik, sopan, ramah pula. Begitu kesan yang didapat Mama Maria saat bertemu Mita pertamakali.
.
.
Malam hari pun tiba. Sesuai janji, Mita akan pergi ke rumah Mama Maria untuk memenuhi undangan makan malamnya. Mita sudah memesan ojek online. Dan ojek online yang telah di pesan Mita itu sudah menunggu di depan rumah.
"Tante Maria Ma, namanya."
"Iya, Tante Maria. Oh ya, jangan lupa, ini kasih ke Tante Maria. Brownies buatan Mama. Yang ini spesial." Sembari menyerahkan paper bag yang berisi brownies buatannya ke tangan Mita.
"Ya udah Ma. Aku jalan dulu." Kemudian bergegas naik ke boncengan ojek yang sudah menunggunya sejak tadi.
"Jalan Pak." Titah Mita.
"Sesuai aplikasi ya Neng." Ojek itu pun mulai melaju meninggalkan rumah Mama Retno.
Sesampainya di alamat yang dituju. Mita begitu terpukau melihat rumah megah itu. Mita mengecek kembali alamatnya di kartu nama Mama Maria. Mungkin saja dia salah alamat. Rumah itu lebih mewah dan megah dari rumah Sasha. Mita bahkan sampai berdecak kagum. Rumah itu bak istana yang berdiri kokoh di tengah - tengah kompleks.
Alamatnya tidak salah. Itu rumah dari wanita yang dikenalnya di depan restoran waktu itu. Waaah ... Ternyata wanita itu hollang khayya ya? Mita hampir tidak percaya.
Di dalam rumah itu. Mama Maria sibuk menata meja makan dengan dibantu asisten rumah tangganya. Kesibukannya pun terhenti saat netra matanya menangkap sesosok familiar dalam keadaan rapi tengah melangkah perlahan sembari menatap layar ponselnya.
Elvano.
Langkahnya pun terhenti saat sang Mama memanggilnya.
"Van ..." Panggil Mama Maria.
Vano menoleh, "Ada apa Ma?"
"Udah rapi begitu mau kemana?" Sembari berjalan menghampiri.
__ADS_1
"Biasa Ma. Ketemu pacar."
"Liza ya?"
"Buk__"
"Udah, malam ini jangan kemana - mana. Mama ada tamu, kenalan Mama. Rencananya Mama mau ngenalin dia sama kamu." Sela Mama Maria cepat sebelum Elvano menyelesaikan kalimatnya.
"Siapa? Pasti Tante - Tante kan?"
"Enak aja. Yang ini cantik. Dia pernah menolong Mama waktu itu."
"Kalau itu kenalan Mama, sudah pasti Tante - Tante. Memangnya Mama pikir Mama masih muda apa."
"Terserah kamu deh. Awas kalau nanti kamu lihat dia, trus kamu naksir."
"Nyonya ... Di depan ada tamu." Kata seorang asisten rumah tangga yang lain. Yang datang dari arah ruang tamu.
"Bawa masuk aja Lun."
"Baik Nyonya." Asisten rumah tangga yang bernama Luna, yang usianya masih terbilang muda itu pun bergegas ke ruang tamu.
"Malas akh Ma kenalan sama Tante - Tante." Dengan cepat Elvano memutar tubuhnya dan hendak kembali ke kamarnya.
"Ini dia tamunya Nyonya." Kata Luna sebelum akhirnya kembali ke dapur untuk menyelesaikan pekerjaannya.
"Maaf ya Tante, agak telat." Ucap Mita begitu bertemu Mama Maria.
"Tidak apa - apa. Kamu pasti kesulitan menemukan alamat ini kan?"
"Iya sih. Sempat muter - muter tadi." Mita tersipu malu.
Elvano yang hendak melangkahkan kakinya kembali ke kamarnya pun, dengan cepat berbalik karena mendengar suara yang sangat familiar itu.
Seketika tatapannya pun terpaku. Pucuk di cinta ulam pun tiba. Padahal dia baru akan pergi untuk menemui Mita. Eh sekarang malah Mita nya sendiri yang datang ke rumahnya.
Sama halnya dengan Mita. Yang sangat terkejut saat melihat Elvano sedang berdiri di samping Mama Maria.
"Mita? Kamu ..." Elvano hampir tidak percaya Mita kini berdiri di hadapannya.
"Vano?" Mita pun sama.
Sementara Mama Maria memandangi Elvano dan Mita bergantian dengan dahi mengerut.
"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Mama Maria memastikan.
"Pacar aku Ma ..." Sahut Elvano cepat. Mita hanya bisa menyunggingkan senyumnya mendengar kalimat Elvano tanpa malu - malu mengatakan dia adalah pacarnya.
"Oh ya? Berarti Mama tidak perlu repot - repot lagi dong mau ngenalin kalian. Aduuuh ... Mama senang sekali kalau ternyata Mita ini adalah pacar kamu. Kenapa tidak dari dulu kamu kenalin ke Mama. Mama pasti akan langsung menikahkan kalian." Tutur Mama Maria panjang lebar. Hingga membuat Mita tercengang.
Asli. Mita berasa kayak ada di alam mimpi. Berbeda jauh dengan mamanya Anjas. Yang memandang segala sesuatunya dari segi materi. Mama Maria justru memiliki pemikiran yang sederhana tentang kriteria menantu idamannya. Cukuplah berhati mulia dan memiliki cinta yang tulus. Dan Mama Maria melihat itu ada dalam diri Mita.
.......
.......
.......
__ADS_1
...Bersambung...