Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 67


__ADS_3

Hari demi hari berlalu. Tanpa terasa, hari teristimewa bagi Anjas dan Mita pun telah tiba.


Sebuah gedung pernikahan pun telah siap menjadi saksi bisu akan cinta mereka. Gedung itu telah disulap sedemikian rupa oleh tangan-tangan terampil dengan dekorasi nan indah dan mewah, untuk serangkaian acara pernikahan nanti. Dimulai dari prosesi akad nikah siang ini hingga ke resepsi pernikahan malam nanti.


Tampak para tamu undangan mulai berdatangan. Oma Lidya dan Mama Retno terlihat tengah menyambut tamu mereka. Dua emak-emak rempong itu memang klop, cocok, saling melengkapi. Sebagai calon besan mereka tampak semakin akrab saja.


Sementara itu, Mita, sang pengantin wanita, dengan ditemani Nayla, saat ini sedang mempersiapkan diri. Mulai dari proses make up yang memakan waktu hingga berjam-jam lamanya. Dan kini, Mita sudah tampil cantik dan anggun dalam balutan kebaya putih untuk prosesi akad nikahnya.


"Waaah ... Kamu cantik banget Mit. Sampe pangling aku." Puji Nayla.


Mita tersenyum sembari memandangi pantulan dirinya pada cermin di kamarnya.


Jujur, saat ini hatinya berdebar-debar, jantung berdegup kencang, bahkan Mita gugup. Hanya tinggal menghitung jam saja, statusnya akan berganti menjadi Nyonya Winata. Akh, betapa bahagianya Mita. Ternyata hari ini tiba juga. Hari yang paling ditunggu-tunggu. Hari yang sempat tertunda empat tahun lalu.


"Nay, aku takut." Lirih Mita sembari beralih memandangi Nayla yang berdiri di sampingnya sambil mengambil gambar dirinya dan Mita.


"Kenapa kamu malah takut Mit? Seharusnya kamu senang. Akhirnya, impian kamu selama ini jadi kenyataan. Yaitu menjadi Nyonya Anjas Winata. Kamu sangat beruntung. Calon suamimu itu sangat mencintaimu. Bukankah ini hal yang paling membahagiakan dalam hidup kamu." Ujar Nayla panjang lebar untuk menghibur dan menyemangati sahabatnya itu.


"Aku hanya takut, hal itu akan terulang kembali."


"Hal yang mana?"


"Anjas tiba-tiba membatalkan pernikahannya."


"Sudah, jangan berpikiran buruk seperti itu. Mana mungkin Anjas akan membatalkannya. Pernikahannya sudah di depan mata loh. Jadi, tidak mungkin hal itu akan terjadi."


Memang benar apa kata Nayla. Pernikahannya sudah di depan mata. Jadi untuk apa Mita takut hal yang pernah terjadi akan terulang kembali. Yang harus Mita lakukan adalah yakin dan percaya pada Anjas.


Brmmm


Di depan terdengar suara derum mobil yang baru saja tiba.


"Mit, mobil jemputan kamu sudah datang." Ujar Nayla.


Bersama-sama mereka bergegas ke depan. Memang benar, ada sebuah mobil yang baru saja tiba. Tapi bukan mobil jemputan untuk Mita, melainkan Elvano.


Mita dan Nayla pun terkejut dengan kedatangan Elvano.


Loh, kenapa Elvano malah datang menemui Mita? Bukankah seharusnya saat ini dia berada di gedung pernikahan. Atau paling tidak, seharusnya saat ini dia mendampingi Anjas, sahabatnya.


"Sorry Mit, aku datang tanpa memberitahu kamu dulu." Ucap Elvano.


"Tidak apa-apa. Oh ya, ada perlu apa kamu datang kemari?"


"Hari ini kamu sangat cantik." Puji Elvano sembari mengulum senyum manisnya. Sebab kagum melihat penampilan Mita yang begitu Anggun.


"Makasih."

__ADS_1


Elvano membuang napas panjang. Kembali mencoba menata hatinya. Melihat Mita dalam tampilan seperti itu, sejujurnya membuat hatinya pilu. Sebab wanita yang dicintainya akan bersanding dengan pria lain. Hati siapa yang tak sakit coba.


"Aku ..." Entah Elvano harus menjawab apa. Tidak mungkin juga dia mengatakan yang sebenarnya kepada Mita. Bahwa dia begitu mencemaskan Mita.


Pasalnya, sejak kemarin perasaannya menjadi tak enak. Sejak melihat Sasha berbincang dengan seorang preman, Elvano jadi berfirasat buruk. Terlebih lagi, saat tanpa sengaja dia melihat preman itu sedang mengendarai sebuah mobil hitam. Dan mobil yang dikendarainya searah dengan alamat rumah Mita. Maka tanpa berpikir panjang lagi, Elvano langsung membuntutinya. Namun sayangnya, Elvano malah kehilangan jejak preman itu.


Alhasil, disinilah Elvano berada saat ini. Hanya untuk memastikan keadaan Mita. Yang seharusnya saat ini dia sudah berada di gedung pernikahan.


"Van ... Ada apa?" Tanya Mita sekali lagi.


"Aku hanya ingin melihat keadaan kamu saja."


"Aku baik-baik saja. Memangnya ada apa?"


Elvano menggeleng, "Tidak. Tidak ada apa-apa." Sembari mengulas senyum hambar.


Tak berapa lama, mobil jemputan Mita pun tiba.


"Mobil jemputan kamu Mit." Seru Nayla sembari menunjuk ke depan rumah.


"Sorry ya Van. Aku harus pergi."


Mita dan Nayla pun bergegas naik ke mobil jemputannya. Setelah mengunci pintu rumahnya. Diikuti oleh Elvano, bergegas naik ke mobilnya.


Dalam perjalanan, mobil mereka melaju beriringan. Elvano sengaja mengikuti mereka dari belakang, hanya untuk berjaga-jaga. Sebab sejak tadi, entah kenapa mendadak perasaannya menjadi tak enak. Firasatnya selalu mengatakan, bahwa Sasha sedang berniat buruk terhadap Mita.


Elvano pun kembali berpikir. Apa sebenarnya rencana Sasha. Pagi tadi, Elvano sempat menghubungi ponsel Sasha, hanya untuk menanyakan apakah Sasha akan hadir di pernikahannya Anjas. Meskipun Elvano tahu tidak mungkin Sasha akan menghadiri pernikahan itu. Namun ponsel Sasha saat itu sedang tidak aktif. Hingga Elvano pun menelfon mamanya Sasha. Dan mamanya Sasha berkata kalau Sasha sudah keluar sejak tadi. Dan segala firasat buruk pun mulai memenuhi benaknya. Wajar jika saat ini Elvano merasa cemas.


Elvano masih berusaha mencari jawaban atas kecemasannya. Dengan memaksa otaknya berpikir keras. Sampai tiba-tiba ...


Ckiiiiiittt


Elvano mengerem mendadak mobilnya di bahu jalan. Tiba-tiba saja ingatannya tertuju pada Anjas. Jika bukan Mita, lalu apakah Sasha ...


Oh tidak!


Elvano pun meraih ponselnya, lalu mulai menghubungi sahabatnya itu. Anjas pun memberitahu Elvano saat ini dia sedang dalam perjalanan menuju gedung pernikahan.


.


.


Sementara itu, di gedung pernikahan itu, segala sesuatunya telah siap. Hanya tinggal menunggu kedatangan Anjas. Para tamu sudah berdatangan, begitu pula dengan penghulu yang akan menikahkan Mita dan Anjas. Namun, sudah tiga puluh menit berlalu, dari waktu yang telah ditentukan, Anjas belum juga datang.


Bukan hanya Oma Lidya, dan Mama Retno, Mita pun jadi cemas dibuatnya. Wajah cemas itu semakin jelas terlihat, saat Mita menghubungi ponsel Anjas. Akan tetapi ponsel Anjas malah nonaktif. Bermacam prasangka buruk pun mulai melintas di benak Mita.


"Gimana nih Bu Lidya, Anjas kok belum juga datang?" Cemas Mama Retno.

__ADS_1


"Katanya dia sedang ada urusan sebentar. Dia sudah berjanji akan datang tepat waktu." Ujar Oma Lidya.


"Ma, Kak Anjas kok belum juga nyampe sih?" Cemas Anjani pula, sembari menggandeng lengan Nara.


"Iya, kok Daddy belum juga datang sih Oma? Padahal Daddy tadi udah rapi." Ujar Nara menimpali.


Sementara Mita semakin cemas dibuatnya. Nayla, berusaha menghiburnya. Agar tidak berpikiran buruk dan percaya pada Anjas.


"Mama sudah berusaha menghubungi Kakak kamu, tapi henfonnya tidak aktif."


Beberapa jam sebelumnya, saat mereka akan pergi ke gedung pernikahan, tiba-tiba saja Anjas mendapatkan telefon. Entah siapa yang menelponnya dan entah kabar apa yang dia dapat hingga Anjas begitu tergesa-gesa. Bahkan Oma Lidya pun tidak sempat bertanya.


"Bu, apa mempelai prianya sudah datang? Ini sudah hampir satu jam. Berapa lama lagi saya harus menunggu. Saya ada jadwal di tempat lain Bu. Saya tidak bisa menunggu lebih lama lagi." Ujar seorang penghulu.


"Dia akan datang Pak. Saya mohon tunggu sebentar lagi." Pinta Oma Lidya.


Penghulu itu terlihat menghembuskan napas panjang sembari melirik arlojinya.


"Baiklah, Bu. Saya masih punya waktu satu jam lagi." Ujar penghulu itu.


Di seberang, Mita tampak mulai berkaca-kaca. Semakin lama perasaannya semakin tak enak saja. Hingga akhirnya, air mata itu pun mulai berjatuhan dari pelupuk matanya.


"Mit ... Aku yakin, Anjas pasti datang. Atau mungkin saja dia terkena macet. Jangan nangis dong, nanti makeup kamu luntur loh." Hibur Nayla sembari mengusap lembut pundak Mita.


Mita menyunggingkan senyum hambarnya. Lalu menghapus air matanya menggunakan tissue yang diberikan Nayla.


.


.


Di lain tempat, di waktu yang sama, terlihat di sebuah persimpangan jalan di padati oleh kerumunan warga yang tengah mengerumuni dua minibus berwarna hitam yang mengalami kecelakaan di jalanan tersebut. Menurut warga sekitar, dua minibus berwarna hitam tersebut kehilangan kendali hingga bertabrakan. Dan menyebabkan dua pengendara harus dilarikan ke rumah sakit.


Di koridor rumah sakit itu, tampak Chandra, asisten Anjas tengah melangkah panjang, bahkan berlari untuk sampai ke UGD. Raut wajahnya tampak cemas. Di depan UGD itu, seseorang sedang menunggunya.


.......


.......


.......


...Bersambung...


Mohon maaf baru bisa update🙏


Beberapa part lagi menuju ending.


Happy reading guys☺️

__ADS_1


__ADS_2