
Di sudut lain kota.
Lidya Butik Collection.
Oma Lidya merapikan gaun yang baru saja dipakaikannya pada sebuah manekin. Sampai sebuah suara yang terdengar menyapa, menghentikan kesibukannya.
"Kelihatannya makin hari, butik ini makin sepi." Ucap seorang wanita paruh baya sembari menyapukan pandangannya.
Oma Lidya menoleh. Sebab suara yang terdengar itu sudah sangat familiar dalam indera pendengarannya.
Seorang wanita paruh baya dengan tampilan rapi, cantik, gaya up to date, dan elegan. Tengah berjalan menghampiri. Wanita itu melepas kacamata hitamnya, lalu mengulas senyum tipisnya.
"Bu Ambar? Waaah ... Tumben datang ke butik saya. Mari Bu Ambar, kita duduk dulu." Ajak Oma Lidya sopan. Bu Ambar adalah mamanya Sasha. Tentu saja Oma Lidya harus bersikap sebaik mungkin.
"Tidak perlu Bu Lidya. Saya tidak akan lama. Oh ya, saya perhatikan, tampaknya akhir - akhir ini butik Bu Lidya makin sepi aja."
"Belakangan ini memang lagi sepi, Bu Ambar. Tapi, kami sedang mencoba membuat rancangan terbaru. Siapa tau, bisa kembali menarik minat pembeli." Oma Lidya tampak keki.
"Mungkin sebaiknya dikelola oleh orang yang lebih berpengalaman."
"Maksud Bu Ambar?" Oma Lidya mengerutkan dahinya.
Bu Ambar terlihat menghela napas sebentar.
"Saya langsung saja. Ini tentang Anjas. Apakah dia punya wanita lain?" Tanya Bu Ambar.
Oma Lidya pun terhenyak. Tidak menyangka Bu Ambar akan menanyakan hal itu. Memang, selama ini Oma Lidya tidak pernah menceritakan tentang masa lalu Anjas, yang hampir menikahi seorang gadis. Keluarga Sandy Abraham hanya tahu bahwa Anjas belum pernah menjalin hubungan dengan wanita manapun.
Sementara Bu Ambar, wajar dia menanyakan hal itu. Pasalnya, malam itu, tanpa sengaja dia melihat putrinya pulang dalam keadaan kacau. Bahkan sambil menangis. Dan hal itu pun membuatnya penasaran. Setiap dia bertanya, Sasha tidak mengatakan apapun.
Sehingga, di satu kesempatan, saat Sasha sedang mandi, Bu Ambar memeriksa ponselnya. Berharap bisa menemukan jawaban atas penyebab putrinya menangis. Dan tanpa sengaja, dia malah menemukan beberapa foto yang membuat amarahnya tersulut. Tidak lain adalah foto Anjas yang sedang berciuman dengan wanita lain.
"Ma_maksud Bu Ambar Anjas punya ke_ke_" Oma Lidya sampai tergagap saking gugupnya. Sudah bisa dipastikan, akan seperti apa hidup mereka nanti jika suami Bu Ambar, Sandy Abraham menarik kembali investasinya dari Winata Group.
"Jadi mungkin itu alasannya kenapa sampai saat ini Anjas tidak pernah terlihat serius dengan Sasha. Sekarang saya sudah tau, Anjas tidak pernah mencintai Sasha. Selama ini, Sasha lah yang terus mengejar Anjas."
"Begini, Bu Ambar. Bu Ambar sudah salah paham. Anjas itu tid__"
"Sudahlah, Bu Lidya. Kedatangan saya kemari hanya untuk menanyakan hal itu. Meskipun saya tidak mendapatkan jawabannya, tapi saya sudah bisa menebaknya. Saya permisi dulu." Sembari memakai kembali kacamata hitamnya, kemudian berlalu meninggalkan Oma Lidya yang terbengong - bengong sendiri.
Itulah kenapa Oma Lidya terus mendesak Anjas untuk segera menikahi Sasha. Kedua suami isteri itu bagai singa yang sedang tidur. Jika terusik, sudah pasti akan menyerang mangsanya.
Oma Lidya pun menghembuskan napas panjang. Sembari memijit keningnya. Kalau begini jadinya, dia tidak bisa tinggal diam.
.
.
.
Kejadian tadi jelas membuat Anjas sangat khawatir. Elvano sudah sangat keterlaluan. Berani sekali dia melecehkan Mita dirumahnya sendiri.
Untung saja kejadian itu tidak sempat dilihat oleh Nara. Sebab anak kecil itu, sudah tertidur di sofa, di depan TV.
Setelah membawa Nara ke kamarnya, membaringkannya di atas tempat tidurnya, Anjas pun bergegas keluar dari kamar itu hendak menemui Mita.
"Nara masih tidur?" Tanya Mita yang tiba - tiba sudah berada di depan pintu kamar Nara.
Anjas tidak menjawab pertanyaan Mita. Melainkan langsung menarik pergelangan tangan Mita dan membawa Mita ke kamarnya yang tidak jauh dari kamar Nara.
__ADS_1
KLEK
Anjas kembali mengunci rapat pintu kamarnya. Kali ini Mita tidak memberontak. Dia diam saja. Dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh Anjas.
"Darimana Vano tau kamu ada di rumahku? Apa kamu masih berhubungan dengannya?" Tanya Anjas penuh selidik.
Mita menggeleng, "Aku tidak tau."
"Jangan bohong, Mit."
"Aku benar - benar tidak tau, Anjas."
Anjas menatap Mita serius. Mita malah merasa bahwa Anjas meragukannya.
"Lalu kenapa dia bisa sampai senekat itu? Apa kamu menggodanya?"
Mita memanyunkan bibirnya. Tuh kan? Dugaannya benar. Anjas meragukannya. Apa Mita segenit itu? Sampai berani menggoda pria segala, di rumah orang lagi.
Ekspresi cemberut Mita itu, sungguh membuat Anjas gemas dan tak bisa menahan diri.
Tanpa aba - aba Anjas langsung mengangkat tubuh Mita dan membaringkannya di tempat tidur. Kemudian Anjas pun naik ke tempat tidur itu, lalu melahap bibir ranum Mita yang sejak tadi menggodanya. Seakan itu adalah candu baginya.
Tak ada penolakan. Mita membiarkan Anjas melakukan apa yang dinginkannya. Bahkan saat mulai membuka kancing bajunya satu per satu. Lanjut dengan membuka pengait di belakang punggungnya hingga menampakkan dua aset putih mulus miliknya.
Mata Mita semakin terpejam, suara merdu terdengar dari mulutnya. Membuat Anjas semakin membenamkan wajahnya diantara dua aset itu. Menyesapnya lembut. Hingga Mita semakin terbuai. Getaran aneh mulai merambat di sekujur tubuhnya. Bahkan jika Anjas berbuat lebih pun, mungkin Mita tidak akan menolaknya.
Namun, beberapa saat kemudian, Anjas mengakhiri aksinya. Lalu menutup kembali dua aset itu, dan mengancingkan kembali baju Mita. Kemudian Anjas merebahkan diri di samping Mita dan membawa Mita kedalam pelukannya.
Mita bisa merasakan detak jantung Anjas yang masih berpacu. Napasnya yang masih memburu, dan tangannya yang sedikit gemetaran.
Anjas berusaha sebisa mungkin menahan gejolaknya sampai Mita benar - benar menjadi miliknya secara sah. Sebab Anjas sudah berjanji pada dirinya sendiri.
"Awww! Sakit, Mit." Pekik Anjas seketika saat Mita mencubit pinggangnya.
Mita menadahkan wajahnya, menatap Anjas begitu dekat. Lalu mengecup singkat bibir Anjas.
"Makanya, jangan suka usil."
"Aku sangat mencemaskan kamu, Mit. Aku tidak mau sesuatu yang buruk terjadi padamu. Mulai skarang, kamu harus memberitahuku apa yang kamu lakukan setiap sepuluh menit." Ucap Anjas.
"Kamu seperti penguntit dong. Hanya saja, beda versi. Apa aku terlihat seperti anak kecil yang tidak bisa menjaga diri?"
"Aku serius."
"Anjas ..."
"Hmm ..." Gantian Anjas yang mengecup singkat bibir Mita.
"Aku takut kita tidak akan mendapatkan restu dari Mama kamu."
Anjas menghela napas panjang, menghembuskannya perlahan kemudian. Masalah itu, sejujurnya Anjas sudah tidak peduli lagi. Ibunya merestuinya atau tidak, itu tidak penting lagi baginya. Yang terpenting baginya sekarang adalah dia ingin hidup bahagia bersama dengan orang yang dicintainya.
"Itu tidak penting lagi bagiku skarang. Aku tidak peduli meski Mama tidak memberi kita restu." Ucap Anjas.
"Yang paling penting bagiku skarang, adalah kamu. Aku tidak ingin kehilangan kamu. Sudah cukup aku menahan sakit atas perpisahan kita selama empat tahun. Skarang, aku hanya ingin membahagiakan kamu." Tambahnya sembari membawa jari telunjuknya menyusuri bibir Mita.
"Bagaiman jika suatu hari nanti benar - benar ada hal buruk yang menimpaku. Apa yang akan kamu lakukan? Hmm?"
"Jangan pernah berkata seperti itu lagi. Aku bisa gila kalau sampai itu terjadi. Kehilanganmu saja sudah cukup membuat aku gila."
__ADS_1
"Sebesar apa cintamu padaku?"
Anjas diam sesaat, menatap mata Mita sayu. Tapi kemudian berkata ...
"Jika ada yang lebih besar dari dunia ini, cintaku bahkan lebih besar lagi dari itu."
"Gombal." Ledek Mita sembari cemberut. Anjas bisa saja menggombalinya seperti itu. Tapi sebenarnya, hati Mita senang mendengarnya.
"Aku serius. Jangan cemberut seperti itu."
"Kenapa memangnya?" Mita malah sengaja semakin cemberut manja.
"Itu selalu saja membuatku tergoda."
Tanpa aba - aba lagi, Anjas langsung mendaratkan bibirnya. Melahap bibir Mita dengan rakusnya. Menyesapnya semakin dalam.
Dua insan itu semakin larut dan terbuai dalam perasaan cintanya. Sampai - sampai mereka lupa dengan keadaan.
Sementara mereka asyik bercumbu, di luar Oma Lidya bari saja pulang dan sedang mencari keberadaan Anjas. Mobilnya sedang terparkir, berarti Anjas berada di rumah.
Tampak Oma Lidya mulai menaiki anak tangga satu per satu. Anjas mungkin ada di kamarnya. Dan Oma Lidya kini sedang menuju ke kamar Anjas. Sampai di depan kamar Anjas, Oma Lidya pun hendak mengetuk pintu. Namun tangannya justru terhenti di udara. Sebab terdengar suara lenguhan seorang wanita dari dalam kamar Anjas.
"Anjas?" Panggil Oma Lidya dengan wajah mulai menegang.
Sedangkan di dalam kamar itu, Mita dan Anjas pun tak kalah tegangnya.
Gawat!
Bagaimana ini?
Mita buru - buru turun dari tempat tidur, disusul oleh Anjas. Mungkin saat ini hanya Mita yang terlihat panik. sementara Anjas justru terlihat biasa saja. Karena dia sudah siap, walau apapun yang akan terjadi.
Krek Krek Krek ...
Oma Lidya memutar - mutar handel pintu. Disertai suara ketukan keras. Sambil memanggil - manggil Anjas.
"Anjas ... Buka pintunya. Mama mau bicara. Anjas ..."
Anjas pun hendak membuka pintu itu, tetapi Mita malah mencegahnya.
"Jangan. Aku belum siap. Setidaknya biarkan aku sembunyi dulu. Please ..." Mita memohon.
Namun Anjas tidak menghiraukan permohonannya. Anjas pun membuka pintu itu.
Refleks, dengan cepat Mita berlari ke belakang pintu dan bersembunyi di balik pintu itu.
Di ambang pintu sudah berdiri Oma Lidya dengan raut wajah penuh selidik.
"Dengan siapa kamu di dalam?"
Anjas menatap mamanya datar.
.......
.......
.......
...Bersambung...
__ADS_1