
Dengan berat hati Mita pun akhirnya menuruti permintaan Elvano. Yang mengajaknya makan malam di luar.
Dan kini mereka tengah duduk berhadapan di salah satu meja sebuah restoran sederhana. Elvano hanya bisa menuruti keinginan Mita yang lebih suka makan di restoran sederhana. Bukan Elvano tidak mampu mentraktir Mita di restoran berbintang. Hanya saja tidak baik menolak keinginan wanita incarannya. Nantinya akan terkesan egois jika Elvano memaksakan kehendaknya.
"Kelihatannya, ini resto favorit kamu kan?" tanya Elvano di sela - sela mengunyah makanannya.
"Kurang lebih." Jawab Mita datar. Memang itu restoran favorit nya dulu saat bersama Anjas.
"Di makan dong. Nanti makanannya keburu dingin."
Tanpa bantahan apapun, Mita pun menuruti perkataan Elvano. Dan mulai menyantap hidangan yang tersaji di depannya.
Setelah selesai makan, Mita meminta Elvano segera mengantarkannya pulang. Elvano pun menuruti permintaan Mita. Meski sebenarnya dia masih ingin mengobrol lebih banyak lagi dengan Mita.
Mereka mulai berjalan keluar dari restoran, namun langkah mereka terhenti. Saat di pintu masuk tanpa sengaja bertemu dengan Anjas dan Sasha.
Sontak saja, Elvano langsung menggandeng lengan Mita. Membuat air muka Anjas berubah seketika.
Elvano pasti sengaja nih. Mau bikin Anjas cemburu, atau ingin memperlihatkan pada Anjas kalau dia dan Mita adalah pasangan serasi.
Sedangkan Sasha memandang mereka dengan senyum terkembang.
"Eh, kita ketemu lagi. Kalian mau kemana? Ikut makan bareng kita aja yuk." Tawar Sasha.
Dan langsung mendapat penolakan dari Mita.
"Kita baru saja selesai makan. Skarang sudah waktunya pulang. Maaf ya, kami harus menolak tawaran kamu." Ucap Mita ramah.
"Ayo Van, kita pulang." Mita berjalan lebih dulu, melewati Anjas begitu saja. Kemudian di susul oleh Elvano.
Namun sebelum Mita dan Elvano sampai ke seberang jalan dimana mobil Elvano terparkir, dengan cepat Anjas menyusul Mita. Lalu menarik pergelangan tangan Mita. Membuat Sasha terbengong - bengong melihat tingkah Anjas yang tiba - tiba itu.
"Mit, kita perlu bicara sebentar. Berdua." Ucap Anjas cepat.
Dengan kasar Mita menarik tangannya dari genggaman Anjas.
"Mau bicara apa lagi? Semuanya sudah jelas. Sudah empat tahun berlalu. Diantara kita sudah tidak ada apa - apa lagi. Apa kamu masih belum mengerti? Harus aku jelaskan berapa kali lagi." Ucap Mita dengan emosi yang tertahan.
"Tapi ini semua tidak seperti yang kamu kira. Aku bisa jelasin semuanya."
Mita membuang muka, sembari mengembuskan napasnya kasar.
"Sorry Jas, aku tidak tau apa yang terjadi di antara kalian dulu. Tapi skarang, Mita adalah pacarku. Dan kamu sudah punya Sasha." Elvano menyela pertengkaran kecil di antara Mita dan Anjas.
__ADS_1
Sementara Sasha yang memperhatikan mereka dari seberang, kini datang menghampiri dengan wajah penuh tanda tanya.
Melihat sikap Anjas terhadap Mita, Sasha bisa menyimpulkan. Bahwa dugaannya selama ini ternyata benar. Anjas sudah mengenal Mita jauh sebelumnya.
"Apa ada sesuatu yang tidak aku ketahui dari kalian? Anjas, kamu sudah kenal Mita sebelumnya?" tanya Sasha kebingungan.
Anjas melemparkan pandangannya asal. Tanpa menghiraukan pertanyaan Sasha.
"Kami dulu berteman. Itu saja, tidak lebih." Mita yang justru menyahuti pertanyaan Sasha.
"Oh ... pantas saja, aku sering merasa ada yang aneh di antara kalian. Ternyata kalian teman lama." Sambil menatap Mita dan Anjas bergantian.
"Maaf sekali lagi, permisi."
Mita melenggang meninggalkan Anjas, Sasha, dan Elvano begitu saja. Mita sudah tidak berminat pulang bersama Elvano. Hingga Mita pun malah berjalan ke arah yang berlawanan di mana mobilnya Elvano terparkir.
Diiin ... Diiin ... Diiin ...
Suara klakson mobil yang terdengar memekakkan telinga itu membuat Mita tidak bisa melanjutkan langkahnya. Mita terhenti di tengah jalan. Sementara sebuah mobil melaju dengan kecepatan tinggi ke arahnya. Bisa di pastikan Mita tidak akan bisa menghindar. Mobil yang melaju itu semakin mendekat. Mita hanya bisa tercengang, menyadari bahaya yang kini sudah di depan mata.
Bugh !
Dengan cepat, tangan kekar seseorang menarik tubuhnya dari tengah jalan itu. Begitu kuat tarikan itu hingga Mita pun terjatuh. Dan tubuhnya menimpa tubuh seseorang.
Aduh jantung aman kan? Kenapa jantung Mita mendadak deg degan begini. Berada di posisi PW seperti ini sejenak membuat Mita lupa diri. Tubuhnya berada di atas tubuh Elvano.
Eh iya, Elvano.
Ya ampun. Menatap Elvano sedekat ini kenapa malah membuat jantung Mita jadi tak karuan debarannya ya? Tatapan Elvano kali ini benar - benar berbeda seperti biasanya. Membuat Mita terhanyut sesaat. Tatapannya yang teduh namun menghujam jantung. Begitu dalam.
Astaga. Jangan bilang Mita sudah mulai punya rasa terhadap Elvano. Tampang Elvano yang katanya limited edition itu tidak membosankan di tatap terus seperti ini.
Oh Mita, jangan bilang kamu mulai menyukai Elvano. Terus jantungnya, kenapa mendadak berdebar - debar aneh seperti ini sih?
"Kamu tidak apa - apa kan?" tanya Elvano. Menyadarkan Mita dari angan panjangnya.
Mita segera bangun dan berdiri. Berlama - lama di posisi PW seperti itu bisa bahaya. Bisa membuat jantung Mita makin berdebar kencang. Lama - lama bisa copot tuh jantung.
"Makasih ya Van?" tidak menyangka ternyata Elvano sangat sigap menolong Mita yang hampir tertabrak mobil.
"Kalau nyebrang tuh liat - liat. Kalau kamu sampai ketabrak gimana? Masa secepat ini aku jadi duda." Kelakar Elvano.
Mita tertawa kecil mendengarnya. Ternyata Elvano ini cukup menyenangkan juga. Kenapa Mita baru menyadarinya. Tidak ada yang salah dengan Elvano. Pria ini cukup baik.
__ADS_1
"Sekali lagi makasih ya Van. Aku benar - benar ceroboh kali ini. Hanya karena ingin menghindari Anjas, aku hampir saja kena sial."
"Lagipula kenapa kamu malah pergi sih? Kan sudah aku bilang, aku akan mengantarkan kamu pulang."
"Iya juga ya?" sambil menggaruk tengkuknya.
Duh Mita. Bikin malu saja. Sikap kamu itu jelas memperlihatkan kalau kamu cemburu melihat Anjas bersama Sasha.
"Kamu cemburu ya?"
"Hah? Apa?" Mita terkaget mendengar pertanyaan Elvano.
"Cemburu. Kamu cemburu melihat Anjas dan Sasha kan?"
"Aku cemburu? Ikh, amit - amit. Orang seperti Anjas di cemburui? Sangat tidak pantas."
"Memangnya apa yang di lakukan Anjas dulu sampai kamu sebenci ini padanya."
"Tidak ada. Sudahlah, tidak usah di bahas lagi. Tidak penting."
"Ya sudah, aku antar pulang yuk. Mau kan?"
Mita mengangguk sambil tersenyum manis. Yang di balas dengan senyuman tak kalah manis pula oleh Elvano.
Mereka pun mulai berjalan menuju mobil Elvano yang terparkir di seberang jalan.
Sementara Anjas dan Sasha memandangi mereka dari kejauhan.
Sebenarnya Anjas ingin sekali menolong Mita. Namun entah kenapa langkahnya kalah cepat dari Elvano. Pria itu benar - benar sigap. Selalu tepat waktu untuk Mita.
Melihat mereka seperti itu membuat perasaan Anjas tak karuan jadinya. Ngilu hati Anjas rasanya. Mita benar - benar sudah melupakannya dan telah berpaling ke lain hati.
Empat tahun bukanlah waktu yang singkat untuk merubah perasaan seseorang. Apa Anjas harus merelakan Mita begitu saja dan mulai mencoba membuka hatinya untuk Sasha?
Mungkin, Anjas akan mempertimbangkannya.
...*...
...*...
...*...
...-Bersambung-...
__ADS_1