
Elvano melangkahkan kakinya menyusuri lorong, melewati setiap deretan kamar untuk sampai di salah satu kamar hotel malam itu.
Elvano mendorong pelan daun pintu kamar hotel itu. Dilihatnya Sasha tengah duduk di sofa sambil menatap layar ponselnya. Sementara di seberang, di tempat tidur kamar hotel itu, seseorang sedang terbaring. Entah tertidur ataupun tak sadarkan diri, Elvano tidak tahu.
Namun mata Elvano seketika terbelalak, sebab seseorang yang terbaring di tempat tidur itu adalah Mita.
"Mita ..." Seru Elvano sembari melangkah cepat mendekati tempat tidur itu.
"Mit ... Mita ... Mita kamu kenapa Mit." Elvano berusaha membangunkan Mita. Namun tak ada respon sama sekali.
"Dia tidak akan bangun, Van. Percuma, meski kamu berteriak sekalipun." Ujar Sasha sembari bangkit dari tempat duduknya. Dan menghampiri Elvano.
"Kamu apakan dia? Kenapa dia bisa ada di kamar hotel ini? Dengar, Sha ... Jangan coba - coba menyakitinya."
"Van, aku sudah pernah bilang kan, kalau aku akan membantu kamu mendapatkan Mita. Dia akan jadi milik kamu seutuhnya."
"Maksud kamu?" Elvano mengernyit.
"Aku sudah melakukan langkah awalnya. Untuk selanjutnya, terserah kamu."
"Kamu apakan dia? Apa yang kamu lakukan padanya?"
"Tenang, Van. Dia hanya tertidur sebentar. Nanti juga dia bangun sendiri."
"Kamu beri dia obat tidur?"
Sasha mengangguk.
"Kamu sudah gila. Kalau terjadi apa - apa pada Mita gimana? Dengar ya Sasha ... Aku memang sangat ingin mendapatkan Mita. Aku ingin dia jadi milikku. Tapi bukan begini caranya." Geram Elvano. Apa yang Sasha lakukan sudah sangat keterlaluan.
"Aku sudah kasih kamu kesempatan. Van, kesempatan tidak akan datang untuk kedua kalinya."
Elvano terdiam. Dipandanginya lagi Mita yang tertidur lelap.
Apa yang dikatakan Sasha ada benarnya juga. Kapan lagi dia bisa mendapatkan kesempatan seperti ini. Setelah malam ini, Mita pasti akan menjadi miliknya.
"Jangan menyia - nyiakan kesempatan. Dan jangan berbuat hal bodoh lagi." Sembari melirik pergelangan tangan Elvano yang masih terbalut perban.
"Lakukan saja tugas kamu dengan baik. Enjoy your self. Nikmatilah." Sasha pun berlalu meninggalkan Elvano dan Mita di kamar hotel itu.
Kini, tinggallah mereka berdua.
Mita masih terlelap dalam tidurnya. Sementara Elvano tengah memandanginya. Elvano mengambil duduk di tepian tempat tidur itu. Perlahan tangannya mulai terulur. Jemarinya mengusap lembut wajah Mita, menyibak sebagian rambut yang menutupi wajahnya. Lalu mengecup keningnya. Dan perlahan, jemari itu pun mulai menyusuri setiap lekuk paras cantik Mita.
Jujur, Elvano adalah pria normal. Sudah banyak wanita yang ditidurinya. Saat melihat Mita dalam keadaan seperti itu pun sudah cukup membangkitkan hasrat lelakinya. Apalagi Mita adalah wanita yang dicintainya. Bukan tidak mungkin, dia ingin melakukan hal itu dengan Mita.
Tapi ...
Jemarinya pun terhenti saat hendak membuka kancing baju Mita. Ditariknya kembali tangannya yang terulur.
Tidak!
Bukan seperti ini caranya.
Laki - laki seperti kamu tidak pantas mendapatkan cinta tulus seorang wanita.
Ucapan Mita kala itu yang terasa menusuk hatinya. Menyentuh perasaannya sebagai laki - laki.
Memang benar dia sangat mencintai Mita. Tapi menggunakan cara seperti ini untuk mendapatkannya, jelas ini salah. Benar - benar salah.
Jika dia melakukan hal itu saat Mita dalam kondisi tidak sadarkan diri, itu artinya dia tidak lebih dari seorang laki - laki pengecut. Baj*ingan. Dan hal itu akan menyakiti Mita. Bukannya dia akan mendapatkan Mita, melainkan Mita justru akan semakin membencinya.
Tidak!
Elvano, jangan terbujuk rayuan Sasha. Jangan termakan omongan Sasha.
__ADS_1
Elvano berusaha menguasai diri. Berusaha melawan godaan yang tersaji di depan matanya saat ini. Berusaha mengembalikan akal sehatnya. Elvano pun memalingkan wajahnya.
Beberapa jam sebelumnya.
"Cinta tidak harus saling memiliki. Kalau kamu benar mencintainya, biarkan dia bahagia dengan caranya sendiri." Ucap Mama Maria saat itu. Saat tanpa sengaja menyaksikan perdebatan Mita dan Elvano.
"Tadinya, Mama ingin menjodohkan kalian saat tau ternyata mamanya Mita itu adalah teman lama Mama. Tapi dari yang Mama lihat, sepertinya Mita tidak mencintai kamu."
Elvano terdiam saat itu. Mencerna setiap ucapan mamanya.
"Memang tidak mudah merelakan orang yang kita cintai hidup bahagia dengan orang lain. Tapi kamu juga harus tau, cinta tidak bisa dipaksakan. Jangan membuat dia semakin membenci kamu."
Ucapan bijak Mama Maria saat itu terngiang kembali di telinganya. Elvano menghela napas panjang dan menghembuskannya perlahan.
Benar apa yang dikatakan mamanya. Elvano pun mengambil ponselnya dari saku celananya. Lalu mulai menghubungi seseorang.
.
Setelah beberapa menit menunggu, seseorang yang di hubungi Elvano pun datang menemuinya di kamar hotel itu.
Anjas.
Sama seperti Elvano, Anjas pun panik saat melihat terbaring tak sadarkan diri di tempat tidur itu. Dengan cepat menghampirinya, dan berusaha membangunkannya.
"Mit, Mita ... Mita kamu kenapa?" Panik Anjas sembari mengusap lembut wajah Mita.
"Dia hanya pingsan." Ucap Elvano yang berdiri di sisi tempat tidur itu.
Mendengar jawaban enteng dari Elvano, seketika itu juga Anjas bangkit berdiri. Secepat kilat tangannya mencengkeram kuat kerah baju Elvano. Sambil menatap garang, penuh amarah. Wajahnya bahkan sampai merah padam bak kepiting rebus.
"Pingsan kamu bilang? Kamu apakan dia, hah?" Geram Anjas yang sudah terlanjur terbakar emosi.
Ya iyalah! Siapa yang tidak akan emosi melihat kekasihnya pingsan di kamar hotel. Bersama laki - laki pula.
"Tenang, Jas. Kita bicara baik - baik. Aku bisa jelaskan ini."
"Ini perbuatan Sasha."
Seketika itu juga cengkeraman Anjas terlepas.
"Sasha memberinya obat tidur. Seharusnya kamu berterima kasih padaku karna aku sudah menyelematkan Mita. Dan orang pertama yang aku hubungi adalah kamu." Elvano mana mungkin mau mengakui kalau dia sempat mau melecehkan Mita. Untung saja kata - kata bijak mamanya menyentuh hatinya.
"Bagaimana aku bisa mempercayaimu."
"Aku mencintai Mita. Dan aku tidak sepicik itu sampai mau melakukan hal buruk padanya."
Anjas masih menatap tajam Elvano. Jujur, Anjas ragu dengan ucapan Elvano. Tapi kenapa? Kenapa Elvano melakukan ini? Kenapa Elvano malah menghubunginya disaat kesempatan terbuka lebar untuknya. Elvano adalah pria bejat. Mana mungkin dia tidak berpikiran ingin melakukan hal yang sama pada Mita.
Oh astaga!
Apa Anjas meragukan kesucian Mita sekarang? Apa Anjas berpikir bahwa Elvano sudah menodainya?
Oh No Anjas. Please ... Tetaplah berpikir positif.
"Aku tidak melakukan apapun padanya. Percayalah." Ucap Elvano.
"Jauhi dia mulai detik ini." Tegas Anjas. Kemudian berbalik, mulai membungkuk, dan dalam hitungan ketiga Anjas pun mengangkat tubuh Mita. Hendak membawanya keluar dari kamar hotel itu.
"Jaga dia baik - baik. Tolong, jangan pernah menyakitinya, jangan pernah lagi meninggalkannya dalam keadaan apapun." Pinta Elvano sambil memandangi punggung Anjas. Sampai akhirnya menghilang dibalik pintu itu.
Benar kata mamanya. Merelakan orang yang kita cintai bahagia bersama orang lain itu rasanya sulit. Sakit, bahkan teramat sakit.
Benar kata mamanya. Cinta tidak bisa dipaksakan. Elvano tidak bisa memaksakan cintanya. Elvano tidak bisa memaksa Mita untuk mencintainya. Karena hal itu akan membuat Mita malah semakin menjauh darinya.
Mungkin Elvano akan merelakannya. Melihat Mita bahagia saja, itu sudah cukup baginya. Mita adalah orang pertama yang mengajarinya arti mencintai. Mita adalah orang pertama yang membuatnya mampu menghargai cinta. CINTA, sebuah kata sederhana yang tak pernah ada dalam hidupnya. Baginya, hubungan antara wanita dan pria hanyalah sebatas na*fsu belaka.
__ADS_1
Namun, sejak dia mengenal Mita. Untuk pertamakalinya, dia merasakan jatuh cinta. Untuk pertamakalinya dia ingin hidup bahagia bersama dengan orang yang dicintainya.
Tapi sekarang, impian itu hanya tinggal mimpi belaka. Impian itu tidak akan pernah terwujud.
Ternyata seperti ini rasanya merelakan. Sakit, perih, namun ada sedikit kelegaan. Ternyata ikhlas tak semudah itu.
Elvano bernapas panjang. Meluruhkan beban di hatinya. Diiringi derai air mata yang mulai membasahi pipinya.
Oh heart!
Sabar Elvano. Kamu pasti bisa menemukan cinta yang lain. Yang lebih tulus mencintaimu.
.
.
.
Perlahan Anjas membaringkan Mita di tempat tidurnya. Meski Mama Retno tidak menyukainya lagi, Anjas tetap harus mengantar Mita pulang ke rumahnya.
Dan kini, Anjas tengah mengobrol dengan Mama Retno di ruang tamu rumah itu.
Dari caranya menatap Anjas saja, sudah jelas kelihatan kalau Mama Retno masih merasakan kekecewaan atas sikap anjas empat tahun silam.
"Maaf, Tante. Saya membawa Mita pulang dalam keadaan seperti itu." Ucap Anjas lesu.
"Kenapa Mita bisa sampai pingsan?"
"Untuk soal itu, Tante tanyakan saja langsung pada Mita saat dia siuman nanti. Saya hanya membantu mengantarnya pulang."
"Maaf ya Anjas. Bukannya Tante tidak suka, tapi, sebaiknya kamu jangan mendekati Mita lagi. Empat tahun lalu kamu meninggalkan dia. Dan Tante sudah bisa menebak, keluarga kamu pasti tidak setuju dengan hubungan kamu dan Mita. Jadi sebaiknya biarkan Mita sendiri."
Anjas menghela napas sebentar. Untuk kemudian memberanikan diri mengutarakan isi hatinya.
"Saya masih mencintai Mita, Tante."
Mama Retno menatap dingin Anjas.
"Saya tau, Tante masih marah soal empat tahun lalu. Untuk itu, saya minta maaf Tante. Saya benar - benar minta maaf." Ucap Anjas tulus.
"Tante maafkan. Tapi maaf, Tante belum bisa memberi restu jika kalian menjalin hubungan kembali."
"Maaf jika saya harus mengatakan ini sekarang. Tante, tolong ijinkan saya dan Mita kembali bersama. Saya ingin melamar Mita."
Mama Retno tidak terkejut mendengar ucapan Anjas. Sebab hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Anjas datang melamarnya seorang diri. Bisa diakui, Anjas cukup berani melakukan hal itu.
Mama Retno terdiam sejenak, menatap dingin Anjas. Yang terlihat serius dengan omongannya.
"Saya bersungguh - sungguh ingin melamar Mita. Saya mencintai Mita, Tante."
Mama Retno menghela napas sebentar, "Kalau soal itu, Tante serahkan pada Mita. Biar Mita yang memutuskan."
YES!!!
Seperti mendapat angin segar, Anjas pun senang mendengarnya. Mama Retno kan belum tahu, kalau Mita dan Anjas sudah kembali bersama. Dia mengira Mita masih bersama Elvano. Ini ibarat jalan mulai terbuka untuk Anjas. Sekarang hanya tinggal bagaimana caranya meluluhkan hati mamanya.
.......
.......
.......
...Bersambung...
Thankyou so much atas kunjungannya.
__ADS_1
Saranghae readers🌺