
Di ruang rawat VIP itu, masih ada Anjas dan Mita. Yang sengaja datang menjenguk Elvano setelah mereka selesai dengan sarapannya dan check out dari hotel tempat mereka menginap semalam.
Dan kini, tampak di sofa ruangan itu, Mita dan Lyra tengah asik dengan obrolannya. Sementara Anjas dan Elvano pun sama. Dua pria rupawan itu tampak serius dengan obrolannya.
"Aku sudah meminta Chandra untuk mencaritahu siapa dalang dari semua ini. Aku sungguh penasaran siapa orang yang berusaha mencelakai aku." Ucap Anjas serius.
"Anjas ...sebaiknya kamu tidak usah mencaritahu siapa pelakunya."
"Loh, kenapa Van? Kamu bahkan hampir saja kehilangan nyawa. Jelas orang itu harus bertanggung jawab dengan keadaan kamu. Kalau perlu, aku akan menjebloskannya ke penjara."
"Tidak perlu. Lagipula aku baik-baik saja. Hanya luka kecil, tidak perlu dipermasalahkan."
"Tidak bisa Van. Aku harus membuat perhitungan dengan orang itu."
"Anjas ..." Elvano tampak menghela napas sebentar. Sedangkan Anjas, menatapnya dengan kernyitan di dahinya.
"Aku rasa kamu tau siapa orangnya." Ucap Elvano kemudian.
"Maksud kamu?" Anjas semakin mengerut. Masih belum memahami arah omongan Elvano. Anjas justru dibuat penasaran. Kenapa Elvano terlihat seperti ingin melindungi pelakunya.
"Aku sendiri yang menabrakkan mobilku sampai terjadi kecelakaan. Aku hanya ingin menghentikan orang itu mencelakai sahabatku. Yang bisa saja justru akan merusak nama baik keluargaku." Ucap Elvano hati-hati.
"Aku tidak mengerti."
"Kamu tentu tau, aku melakukan ini untuk menjaga nama baik keluargaku. Aku tidak ingin nama baik keluarga Abraham tercemar hanya karena perbuatan satu orang."
Anjas sebenarnya sudah bisa menebak siapa pelakunya. Tapi Anjas harus memastikannya.
"Jadi sejak awal kamu sudah tau?"
Elvano mengangguk, "Aku sudah tau. Sasha melakukan itu karena cemburu. Dia sakit hati dan tidak bisa menerima kamu menikahi wanita lain."
"Jadi dugaanku benar."
"Tolong maafkan dia. Lupakan saja kejadian ini. Kalian adalah pengantin baru, jadi nikmatilah kebahagiaan kalian. Soal Sasha, biar itu jadi urusanku."
Akh!
Pengantin baru.
Nikmati kebahagiaan kalian.
Meski Elvano sudah ikhlas menerima kenyataan itu, tapi tetap saja, ada sedikit rasa sakit di hatinya. Namun, melihat Mita dan Anjas bahagia, sedikitnya membuat Elvano bisa melupakan rasa sakitnya. Bukankah persahabatan itu lebih penting? Persahabatan yang sudah terjalin sejak lama dengan Anjas, Elvano tidak ingin merusaknya. Sahabat tidak bisa digantikan dengan apapun.
"Sekali lagi, aku mengucapkan terima kasih yang sebanyak-banyaknya, Van. Berkat kamu, aku dan Mita bisa menikah. Jika bukan karena kamu, seharusnya akulah yang terbaring di tempat tidur ini." Ucap Anjas tulus.
Elvano mengurai senyumnya, "Tidak perlu berterima kasih. Kalian adalah temanku. Sesama teman, bukankah kita harus saling membantu?"
"Makasih, Van. Kamu memang teman terbaik."
Sekali lagi Elvano mengurai senyumnya. Lalu menoleh, memandangi Mita dan Lyra yang tengah asik dengan obrolannya. Bahkan sambil tertawa-tawa.
Namun ada satu pemandangan yang cukup menggodanya. Paras Lyra yang selalu tak ramah di depannya, kini terlihat berbeda. Elvano hanya bisa tertegun memandanginya.
Paras cantik itu kini terlihat menawan dengan senyum indahnya.
Wah Waaah ... Elvano sepertinya mulai tertarik nih pada sepupunya Mita. Tuh, lihat saja tampangnya, sampai senyum - senyum sendiri begitu.
__ADS_1
Dan gelagatnya itu sempat tertangkap pandangan mata Anjas. Anjas pun menoleh, mengikuti arah pandang sahabatnya itu.
"Ehem ... Ehem ..." Deheman Anjas mengagetkan Elvano. Dan buru-buru menarik kembali pandangannya dari Lyra. Menoleh ke sembarang arah dengan salah tingkah.
Anjas pun hanya bisa tersenyum melihat tingkah sahabatnya itu.
.
.
.
Setelah menjenguk Elvano, Mita meminta agar mereka mampir sebentar ke rumah ibunya sebelum pergi ke rumah mertua.
Anjas menyapukan pandangannya ke seisi ruangan kecil yang dipenuhi foto seorang wanita cantik sembari mengambil duduk di tepian tempat tidur. Senyum terukir di wajahnya memandangi setiap deretan foto yang terpajang di dinding kamar itu. Yang tidak lain adalah kamar Mita, istrinya sendiri.
"Kenapa senyam-senyum sendiri? Ada yang lucu?" Mita datang dengan segelas jus di tangannya.
Sembari mengambil duduk di samping Anjas, disodorkannya segelas jus itu ke tangan Anjas. Anjas pun menerimanya dengan seulas senyum. Lalu segera meneguk jus buatan Mita hingga tak bersisa.
"Enak?" Tanya Mita dengan senyum menggoda tepat di depan wajah Anjas. Kemudian mengambil gelas itu, menaruhnya di meja kecil, lalu duduk kembali di sisi Anjas.
"Lumayan. Tapi masih lebih enak jus buatan Memey." Anjas malah mencandai Mita. Alhasil, bibir Mita pun monyong ke depan. Kesal dengan candaan Anjas yang meremehkannya.
"Padahal aku membuatnya dengan sepenuh hati dan segenap jiwaku. Itu jus spesial untuk orang yang paling spesial." Kesal Mita dengan wajah cemberutnya.
Namun Anjas malah semakin tersenyum lebar. Saking gemasnya dengan tingkah Mita, tanpa aba-aba Anjas pun meraih Mita dan mendorongnya pelan hingga Mita pun terbaring di tempat tidurnya. Berada di bawah kungkungan Anjas.
"Aku hanya bercanda." Lirih Anjas sembari mulai mendekatkan wajahnya.
"Kita mampir hanya sebentar, Mama kamu sedang menunggu kita di rumah." Mita mengingatkan Anjas. Agar Anjas tidak melakukan lebih.
Berada di dekat Mita membuat Anjas tidak bisa menahan diri. Anjas tak mampu menolak ataupun mengabaikan gejolak dalam diri yang begitu menggelora.
Sama halnya bagi Mita, yang tak mampu menolak sentuhan lembut Anjas yang kini telah menjadi suaminya. Sentuhan Anjas seakan telah menjadi candu baginya.
Keduanya pun semakin terbawa arus suasana. Semakin hanyut dan terbuai. Masih dengan bibir saling bertaut, perlahan tangan Anjas mulai menjelajah masuk melalui celah baju Mita.
Lenguhan lembut Mita pun terdengar di heningnya suasana, yang semakin membuat Anjas bersemangat. Gejolak di jiwa pun kian menggebu. Tangannya kini sudah bersiap hendak menanggalkan pakaian yang melekat di tubuh Mita. Saat tiba - tiba ...
Drrrttt Drrrttt Drrrttt
Suara getar yang disusul dering ponselnya kemudian, menghentikan aksi Anjas seketika. Anjas pun membuang napas kasar. Kesal, kenapa harus di saat-saat seperti ini ada saja gangguan yang datang.
Dan lagi-lagi, justru Nara lah pengganggu itu. Duh, sudah bisa dibayangkan akan seperti apa keadaannya nanti jika mereka pulang ke rumah Anjas. Sudah pasti Nara adalah gangguan terbesar baginya.
"Siapa yang menelpon?" Tanya Mita menatap Anjas yang tertunduk menatap layar ponselnya.
"Nara." Jawab Anjas lesu.
"Apa sebaiknya kita pulang saja sekarang? Kasihan Nara. Dia pasti sangat merindukan kamu."
"Kita pulang besok."
"Kenapa?" Sembari bangun, duduk kembali.
"Malam ini kita tidur disini saja. Lagipula kasihan Mama kamu sendirian di rumah."
__ADS_1
"Tapi Anjas ..." Belum sempat Mita menyelesaikan kalimatnya, Anjas telah mendorongnya hingga merebah. Dan kembali mengungkungnya.
"Apa kamu tidak ingin kita punya lebih banyak waktu berdua?" Lirih Anjas mulai menggoda.
Mita pun tersenyum. Dia mengerti apa maksud Anjas. Dan tak bisa menolak ketika Anjas melanjutkan kembali kegiatannya yang sempat tertunda, membawa Mita merasakan kenikmatan yang tiada tara.
.
.
.
Mendengar Elvano kecelakaan, Sasha pun datang menjenguknya. Meskipun dia tahu Elvano kecelakaan demi menghentikan preman bayarannya untuk mencelakai Anjas.
"Kamu terlalu nekat, Van. Untuk apa kamu membahayakan diri kamu sendiri hanya demi orang yang tidak pernah menghargai kamu." Kesal Sasha. Sebab lagi-lagi Elvano menggagalkan rencananya.
"Seharusnya kamu berterima kasih padaku. Kamu ingin merusak nama baik Abraham. Dan aku tidak bisa membiarkan itu terjadi. Kalau kamu ingin mendapatkan cinta, bukan begini caranya. Apa kamu mau jadi pembunuh? Apa kamu mau orang-orang mengenal bahwa keluarga Abraham adalah pembunuh? Kamu sudah gila Sha."
Sasha mendengus kesal.
Menjadi pembunuh?
Ya. Jika itu bisa membalas sakit hatinya atas perlakuan Anjas selama ini terhadapnya. Empat tahun setia berada di sisinya, setia menanti cintanya, namun hal itu nyatanya tak membuatnya mendapatkan apa yang diinginkannya.
Sasha merasakan kekecewaan yang teramat dalam. Sakit yang yang tiada tara. Kehadiran Mita dalam sekejap membuat Anjas melupakannya. Wanita mana yang tidak akan sakit hati, empat tahun lamanya bagaikan makhluk yang tak berarti dimata pria itu.
Jika Anjas tidak bisa menjadi miliknya, maka siapapun tidak boleh memilikinya. Hal itulah yang mendorong Sasha melakukan rencananya untuk mencelakai Anjas. Tapi sayangnya, saudaranya sendirilah yang justru menggagalkannya.
"Sekarang, yang harus kamu lakukan adalah menerima kenyataan. Sama seperti aku. Anjas tidak ditakdirkan untukmu."
Sasha kembali mendengus.
"Sejak kapan kamu jadi sebijak ini?"
"Sejak takdir tidak berpihak padaku." Lirih Elvano sambil menatap kosong.
"Itu artinya sama saja kamu belum bisa menerima kenyataan. Aku benar kan?"
"Melihat Mita bahagia saja, itu sudah cukup bagiku. Lagipula, Anjas bukan orang lain. Dia adalah sahabatku. Dan Anjas adalah pria yang tepat untuk Mita."
"Jangan membohongi diri sendiri. Aku tau kamu seperti apa."
"Aku ini Elvano Abraham. Jatuh cinta kembali itu mudah bagiku. Lagipula, di dunia ini ada banyak wanita cantik. Dan aku__"
Cklek
Bunyi decitan pintu terbuka menghentikan kalimatnya dan mengalihkan perhatian mereka serentak ke arah pintu.
Dari pintu itu tampak seorang suster cantik datang dengan nampan di tangannya.
"Waktunya minum obat." Ucap suster itu sembari melangkah menghampiri.
Elvano pun mengurai senyumnya begitu suster itu, Lyra, menatapnya.
.......
.......
__ADS_1
.......
...Bersambung...