
Keajaiban memang selalu datang tak terduga.
Menjelang hari istimewa Anjas dan Mita, yang sengaja dipercepat, kedua emak-emak rempong itu, Oma Lidya dan Mama Retno tampak sibuk mempersiapkan segalanya. Mulai dari undangan pernikahan, gedung, catering, dekorasi, hingga urusan MUA pengantin. Siapa sangka kedua emak-emak itu justru klop saat bekerjasama. Bahkan bisa dibilang mereka semakin akrab sebagai calon besan. Dan tak disangka pula, mereka ternyata mempunyai selera yang sama.
Ceileeeh, Mama Retno biar dikata dari kalangan ibu-ibu komplek, tapi dia memiliki selera seperti Oma Lidya yang dari kalangan sosialita itu. Akan tetapi seleranya hanya sampai dibatas angan-angan saja. Tanpa bisa mewujudkannya.🤭
Sementara, kedua calon pengantin, kini tengah sibuk melakukan fitting gaun pengantin. Sebenarnya Oma Lidya bisa membuatkan gaun pengantin khusus untuk calon menantunya itu. Namun, mengingat waktu yang singkat, hingga mereka pun memilih desainer lain yang terpercaya.
Satu per satu gaun telah dicoba, tapi belum satupun yang mantap, nyantol di hati.
Anjas dengan setia menunggu Mita selesai dengan fitting nya, sembari bermain ponsel. Sementara sore hari pun mulai menjelang. Akhirnya, satu gaun terakhir dari desainer ternama, Ivan Gunadi, telah Mita kenakan. Dan siap menunjukkannya ke hadapan Anjas, calon suaminya.
"Anjas ..." Panggil Mita saat telah berdiri di depan Anjas.
Anjas pun mengalihkan pandangan dari layar ponsel ke arah Mita, yang tengah berdiri di hadapannya dengan wajah tersenyum manis. Dalam balutan gaun pengantin terindah dari yang pernah di cobanya terdahulu.
"Ini gaun yang terakhir, Pak. Skarang, bagaimana tanggapan Bapak?" Tanya Ivan, sang desainer kondang.
Seketika Anjas bangun dari duduknya. Anjas tak bisa menutupi kekagumannya terhadap tampilan Mita dalam balutan gaun pengantin itu. Gaun pengantin berwarna putih, dengan lengan terbuka, hingga membuat pundak putih mulus Mita terekspos begitu anggunnya. Di tambah lagi, rambut panjangnya di cepol ke atas hingga menampakkan punggung Mita. Anjas pun benar-benar takjub dibuatnya.
Hingga tanpa sadar, Anjas pun mulai melangkah maju perlahan. Menelisik tampilan anggun Mita dari ujung kaki hingga ke ujung kepala. Seketika itu juga mampu membangkitkan hasratnya. Jika saja mereka tidak sedang fitting, mana mungkin Anjas akan melewatkan momen yang satu ini.
"Yang ini bagus tidak?" Tanya Mita penasaran.
Namun Anjas masih terdiam menatapnya begitu dalam. Seakan dia ingin menelan Mita hidup-hidup saat itu juga.
"Gimana Pak? Ini gaun terakhir loh." Tanya Ivan lagi.
"Anjas? Yang ini bagus tidak?" Tanya Mita lagi, sebab Anjas masih diam terpaku. Bagai tersihir di tempat.
Anjas menelan salivanya dalam-dalam. Sulit mengendalikan diri melihat Mita dalam tampilan seperti itu. Anjas bahkan harus melonggarkan dasinya dan membuka dua kancing teratas kemejanya. Mendadak Anjas merasa gerah. Hasrat dalam dirinya kian menggebu.
Oh God! Kenapa Mita begitu anggun dalam balutan gaun pengantin itu. Anjas bahkan jadi kesulitan bernapas dibuatnya. Gejolak dalam dirinya terus mendesaknya untuk mendapatkan realisasinya.
Sabar Anjas! Tahan dulu! Yang kuat ya, godaan memang selalu datang mengganggu tak kenal waktu dan tempat. Menggoda iman hingga menghilangkan akal sehat.
"Anjas." Seru Mita sedikit lantang.
Anjas pun tersentak, "I_Iya. Bagus. Cantik. Gaun ini sangat cocok untuk kamu." Anjas bahkan tergagap saking terpesonanya melihat keanggunan Mita.
__ADS_1
"Kita pilih yang ini saja? Aku suka gaun ini." Ucap Mita sembari memutar-mutar tubuhnya di depan cermin yang ada di sampingnya.
"Iya. Aku juga suka. Kita pilih yang ini saja." Sembari menelan salivanya susah payah saat melihat punggung mulus Mita.
"Gaun ini memang sangat cocok dipakai calon istri Bapak. Dalam sekejap calon istri Bapak menjelma menjadi bidadari. Memang tidak salah saya memilihkan gaun ini. Bapak saja sampai tidak berkedip melihatnya." Celetuk Ivan sambil tersenyum-senyum sendiri.
"Oh ya, mengenai pembayarannya__"
"Bu Lidya sudah menyelesaikannya. Sudah beres. Jadi gaun ini, secepatnya akan saya kirim ke alamat calon istri Bapak." Sela Ivan.
Setelah beberapa jam melakukan fitting, Anjas dan Mita memilih kembali ke kantor. Sebab ada beberapa urusan kantor yang harus diselesaikan Anjas. Serta memberi Chandra pengarahan untuk mengambil alih sementara segala urusannya.
Di ruangannya, Anjas tengah berbincang dengan Chandra. Sementara Mita tertidur di sofa ruangan itu karena kelelahan.
Setelah selesai menerima arahan dari atasannya, Chandra pun bergegas keluar dari ruangan itu.
Pernikahan Anjas dan Mita yang tinggal menghitung hari itu pun, bukan rahasia lagi. Seantero Winata Group sudah mengetahuinya. Dan suatu kehormatan, tanpa terkecuali, seluruh jajaran direksi dan karyawan di undang serta di hari spesial itu nanti.
Melihat Mita yang tertidur dengan keadaan polos seperti itu, membuat Anjas tidak bisa menghentikan langkahnya yang bergerak maju menghampiri.
Anjas mendudukkan dirinya di ujung kaki Mita yang meringkuk. Perlahan Anjas pun membawa jemarinya menyentuh lembut wajah Mita. Sedetik kemudian, Anjas mulai mendekat, dan melabuhkan satu kecupan hangat di kening Mita.
"Aku pikir kamu sudah tidur. Ternyata Kamu hanya pura-pura." Lirih Anjas.
Mita malah tersenyum. Seakan membenarkan ucapan Anjas.
Anjas pun mulai menjauhkan wajahnya perlahan. Namun, dengan cepat, tangan Mita menarik kerahnya. Hingga Anjas pun hampir saja terjatuh menimpa Mita.
"Aku tau apa yang ada dalam pikiran kamu saat kita di tempat fitting tadi." Goda Mita.
"Oh ya? Aku senang ternyata kamu bisa membaca pikiranku."
"Karna aku juga punya pikiran yang sama."
"Coba tebak. Aku sedang memikirkan apa saat itu."
Seakan merasa tertantang, Mita pun kembali menarik kerah Anjas. Dengan cepat menyergap bibir Anjas dengan bibirnya. Sementara tangannya mulai nakal membuka dasi dan kancing kemeja Anjas satu per satu.
Bukan Anjas tak menginginkan hal ini, tapi waktu dan tempat tidak tepat saat ini. Hingga Anjas pun menghentikan aksi Mita.
Mita terlihat kecewa. Padahal, sejak tadi dia menunggu Anjas datang menghampirinya. Mita tahu, sejak di tempat fitting tadi, Anjas berusaha menahan hasratnya.
__ADS_1
"Kamu tidak merindukan aku?" Tanya Mita kecewa. Padahal setiap hari mereka bertemu.
Anjas mengulum senyum sembari membelai lembut wajah Mita.
"Aku sangat merindukanmu. Tapi sekarang mungkin bukan waktu yang tepat. Lagi pula kita ada di kantor."
Mita pun bangun, dan menghambur memeluk Anjas.
"Aku tau apa yang kamu rasakan sejak tadi." Kemudian menempelkan telapak tangan kanannya di dada bidang Anjas. Sangat jelas terasa degup jantung Anjas yang masih bertalu. Sebab gejolak di jiwa yang tertahan.
"Apa salah jika aku juga menginginkan hal yang sama?" Mita menadahkan pandangan. Menatap Anjas yang kini pun menatapnya.
"Kamu ingin aku melakukannya tanpa ada ikatan suci diantara kita berdua?" Anjas malah balik bertanya.
"Memangnya kenapa? Sebentar lagi kita juga akan menikah."
Anjas pun terkekeh. Sembari menyentil gemas hidung Mita.
"Sejak kapan kamu jadi seagresif ini? Bersabarlah sedikit. Jika saatnya tiba nanti, mana mungkin aku akan mengabaikan kamu. Aku akan membuatmu tidak bisa tidur nyenyak."
Mita pun tersenyum. Kemudian menyandarkan kembali kepalanya di dada Anjas setelah mendapat satu kecupan kembali di keningnya.
Sementara Mita dan Anjas tengah berbahagia. Ada hati lain yang terluka, dan ada hati lain yang berusaha ikhlas menerimanya.
Elvano tengah memandangi surat undangan pernikahan Mita dengan senyum hambarnya. Sedih, sakit, sudah pasti ada. Namun Elvano berusaha ikhlas. Cinta tak harus saling memiliki. Melihat cinta dan sahabatnya berbahagia saja, itu sudah cukup baginya.
Berbeda dengan Sasha. Dia justru merobek - robek surat undangan itu dengan amarah yang menggebu-gebu. Lalu melempar kasar serpihan kertas itu hingga berserakan di lantai kamarnya.
"Tidak bisa. Aku tidak bisa menerima ini. Bertahun-tahun aku bersabar menantinya, mendampinginya, bahkan aku yang selalu ada disisinya saat dia dalam kesulitan. Dan skarang, ini balasan yang aku dapat?" Geram Sasha. Matanya nyalang menampakkan kilatan amarah. Kebencian yang mendalam.
"Jika kamu tidak bisa menjadi milikku, maka tidak ada satu pun yang boleh memilikimu. Kamu tidak boleh jadi milik siapapun." Sembari menyeringai sambil pandangan matanya tertuju pada foto Anjas yang terletak di nakas, di sisi tempat tidurnya.
.......
.......
.......
...Bersambung...
Thankyou so much buat jejak yang kalian tinggalkan. Salam hangat dari Otor Kawe buat reader ter❤️. Jangan lupa tetap jaga kesehatan ya☺️
__ADS_1