
Kedua bola mata indah Mita membulat sempurna. Saat melihat sesosok familiar tengah berjalan memasuki coffeshop tempat dia dan Nayla bertemu saat ini.
"Anjas ???" gumam Mita lirih.
"Apa? Siapa?" tanya Nayla cepat saat melihat sahabatnya itu tengah terbelalak.
Nayla pun mengarahkan pandangannya mengikuti arah pandang Mita. Dia pun sukses terbelalak.
"Eternal enemy coming (musuh abadi datang) ... kayaknya kalian jodoh deh Mit. Di mana-mana ketemu mulu." Seloroh Nayla.
"Jodoh dari mananya. Orang dia udah punya anak kali." Sahut Mita kesal.
"Kamu masih kesal? Atau kamu cemburu?"
"Dia udah pisah sama istrinya. Itu yang aku tahu, dari anaknya."
"Duren dong."
"Duren, duren apanya. Kedondong kali. Luarnya mulus, tapi dalemnya ... ngeselin."
Nayla kembali cekikikan melihat kekesalan sahabatnya itu.
"Dari tampang kamu nih, kayaknya kamu masih suka sama dia. Ingat loh Mit, jangan terlalu sering membohongi diri sendiri. Pamali."
Mita mendengus kesal mendengar selorohan sahabatnya itu. Dia mengarahkan kembali pandangannya pada Anjas yang kini sudah menutup panggilan teleponnya sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Entah dia sedang mencari tempat duduk yang kosong, ataukah sedang mencari seseorang.
Namun pandangannya terhenti, saat mendapati sesosok familiar yang sedang duduk di pojok ruangan, dekat jendela itu tengah menatapnya.
Mita !
Seketika, Anjas tersenyum senang. Suatu kebetulan yang indah. perlahan Anjas pun mulai melangkahkan kakinya menghampiri Mita.
Sementara Mita, seperti sedang kebakaran jenggot saat melihat Anjas tengah berjalan menghampiri.
"Gawat!" seru Mita panik.
"Gawat apanya?" tanya Nayla bingung.
"Si kedondong malah datang mendekat lagi."
"Bagus dong."
"Bagus apaan. Kalau dia tau sampai skarang aku masih menjomblo, malu-maluin. Dia akan mengira aku belum bisa move on lagi."
Mita berpikir cepat bagaimana caranya dia bisa menghindari Anjas. Kalau Anjas melihatnya sendiri, bisa-bisa Anjas akan menyangka yang bukan-bukan tentang dirinya.
Pucuk di cinta ulam pun tiba.
Di depan Mita, tidak jauh dari tempatnya duduk. Seorang pria tampan tengah berjalan perlahan, dengan pandangan tertunduk sambil menatap layar ponselnya
Seketika itu juga timbul ide brilian dalam otaknya.
Secepat kilat, sebelum Anjas semakin dekat. Mita langsung bangkit dari duduknya. Dan berjalan menghampiri pria tampan itu. Kemudian menggandeng lengan pria itu mesra.
"Hai sayang ... aku menunggu kamu sejak tadi loh. Kenapa lama sekali sih sayang," seru Mita tepat saat Anjas sudah berdiri di hadapannya dan pria itu.
Sontak pria tampan itu pun terkaget. Dan mendapati seorang wanita cantik kini tengah menggelayut manja di lengannya.
"Kamu__" seruan pria itu pun tertahan. Sebab Mita memberikan kode melalui isyarat matanya agar si pria mau berpura-pura sebagai pacarnya. Mita mengedip-ngedipkan matanya sambil tersenyum manja.
Seakan tahu maksud Mita, pria tampan itu pun mengikuti keinginan Mita.
"Ah, iya, maaf ya sayang. Tadi aku sempat terjebak macet. Maaf ya?" seru pria tampan itu seolah Mita adalah kekasihnya.
Seakan gayung bersambut, Mita pun semakin mempermanis senyumnya. Memperimut mimik wajahnya. Membuat pria tampan tidak di kenal itu pun tersenyum manis menatapnya.
__ADS_1
"Untung kamu ganteng. Tidak rugi aku pura-pura jadi pacar kamu." Mita membatin.
Sementara di seberang, Nayla terbengong-bengong melihat ide gila sahabatnya itu.
"Hai Van ..." sapa Anjas pada pria asing itu.
"Hai Anjas ..." sapa pria asing itu sambil menatap Anjas.
Alhasil, Mita pun terkaget di buatnya.
Apa ini yang namanya, keluar dari mulut harimau lalu masuk ke mulut singa ?
Anjas dan pria asing itu saling mengenal ?
Celaka !!!
Mita susah payah menelan ludahnya berkali-kali. Mendadak dia mulai berkeringat dingin.
Sementara di seberang, Nayla hanya bisa menepuk jidatnya berkali-kali sambil menggelengkan kepalanya.
"Benar-benar sudah jatuh ke jurang kamu Mita." Gerutu Nayla sambil menatap tak percaya pada sahabatnya itu.
"Van ... pacar kamu?" tanya Anjas pada pria asing itu.
"Iya ..." jawab pria itu agak ragu-ragu.
"Kalian saling kenal?" tanya Mita penasaran sembari menatap mereka satu per satu.
"Elvano Abraham, temanku. Teman dekatku." Jawab Anjas mantap.
"Yap. Benar skali." Elvano menimpali.
"Mati aku !!!" Mita menggerutu dalam hatinya.
Ternyata Anjas dan pria tampan yang bernama Elvano itu saling mengenal. Bahkan teman.
Sepandai-pandainya Mita menghindar terperosot juga akhirnya.
Malang benar nasibmu Mita. Sekarang, bagaimana caranya agar Anjas tidak curiga dengan kebohongannya. Mudah-mudahan saja si Elvano ini bisa di ajak kompromi. Bekerja sama dalam kebohongan.
Perlahan, Mita pun mulai melepaskan rangkulannya dari lengan Elvan. Walau bagaimanapun, Mita tetap merasa malu.
Namun tiba-tiba, Elvano malah merangkul pundaknya sambil tersenyum mesra menatapnya.
"Sayang ... kita duduk di meja itu saja ya. Boleh kan kamu temani aku ngobrol bareng Anjas? Kebetulan kami akan membicarakan masalah penting." Kata Elvano sambil menatapnya mesra.
Gluk !
Lagi-lagi Mita hanya bisa menelan ludahnya susah payah.
Sementara Anjas, justru memperhatikan Mita dengan seksama.
Ada rasa tidak percaya di hatinya, bagaimana bisa Mita berpacaran dengan Elvano. Pria yang terkenal playboy itu.
Wajah tampan rupawannya itu menjadi modal utamanya dalam memikat hati banyak wanita. Di tambah lagi harta yang berlimpah. Bukan tidak mungkin banyak wanita yang akan jatuh ke dalam pelukannya. Bahkan coffeshop tempat mereka bertemu saat ini adalah milik Elvano.
Dan Mita ?
Apakah Mita juga termasuk salah satu korban Elvano ?
Tidak ada pilihan lain lagi. Sudah terlanjur kepalang basah. Jika Mita menolak, maka Anjas akan curiga kalau dia hanya berpura-pura. Kalau dia turuti, maka situasi canggung pun tak kan terelakkan lagi.
Ibarat pepatah, maju kena mundur pun kena.
Tidak ada pilihan lain lagi, selain menjatuhkan diri ke dalam jebakan yang dia buat sendiri.
Mita ... Mita ...
__ADS_1
Nayla kembali menggelengkan kepalanya sambil menepuk jidatnya.
"Mampus kamu Mita !" gerutu Nayla.
___
Canggung ?
Jelas situasinya sangat canggung.
Mita tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya. Apa lagi saat ini Anjas tengah memperhatikannya. Tatapan Anjas tidak pernah lepas dari Mita.
Sementara Elvano sedang memesan kopi untuk mereka bertiga. Setelah selesai, dia kembali ke meja tempat mereka bertiga duduk. Tepat di sebelah mejanya Nayla.
"Oh ya Van, sudah berapa lama kalian pacaran?" tanya Anjas sambil terus menatap Mita.
"Emm ... baru kemarin, iya kan sayang?" kali ini Elvano yang terlihat lebih agresif.
Mita hanya tersenyum canggung menatapnya. Elvano ini ternyata tanggap di segala situasi. Tahu aja kalau Mita sangat membutuhkan bantuannya saat ini. Bantuan untuk membohongi Anjas.
"Iya, baru kemarin." Akhirnya Mita pun mengiyakan.
"Oh ya, isteri kamu mana Anjas?" tanya Mita cepat demi mengalihkan pembicaraan.
Namun Anjas malah menatap Mita dingin. Rasanya dia enggan menjawab pertanyaan wanita yang pernah dia cintai itu. Bahkan hingga sekarang pun. Mungkin perasaan itu masih ada.
"Anjas ini belum me__" ucapan Elvano terpotong. Sebab dengan cepat Anjas menyelanya.
"Kami sedang pisah ranjang. Tapi kami sedang mempertimbangkan untuk rujuk kembali." Anjas berbohong sambil menatap tajam Elvano. Memohon pengertian Elvano.
Sadar tidak sadar, Elvano kini terjebak di antara kebohongan Mita dan Anjas.
"Iya, benar." Elvano mengangguk tanda setuju.
Seketika raut wajah Mita pun berubah.
Rujuk ?
Entah kenapa seolah Mita kesal mendengar kata itu.
Dan perubahan raut wajah Mita pun sempat tertangkap oleh penglihatan Anjas sekilas. Dan entah kenapa Anjas justru senang melihat perubahan raut wajah Mita. Yang semula terlihat senang kini menjadi murung.
Apakah Mita cemburu ?
Anjas berharap, seperti itu perasaan Mita saat ini.
*
*
*
...-Bersambung-...
**Hai 🤗 readers yang budiman ...
Boleh dong minta dukungannya ...
Jangan lupa tinggalkan jejaknya ya 🤗
Agar otor kawe ini makin semangat update nya.
So love u all 🤗
Salam ...
Fhatt**
__ADS_1