
"Gimana dengan pekerjaan baru kamu? Cocok kan?" tanya Nayla sambil mencet - mencet tombol remote TV. Seperti biasa, saat ada waktu luang, Nayla selalu menyempatkan diri mampir ke rumah Mita. Sekedar icip - icip kali aja Mama Retno bikin resep baru.
"Cocok sih cocok ..." sahut Mita sambil menaruh dua gelas jus jeruk buatannya dan sepiring brownies buatan Mama Retno itu di meja di depan Nayla. Lalu Mita mengambil duduk di sebelah Nayla.
Nayla langsung mencomot sepotong brownies itu dan melahapnya dalam sekali suapan. Kelaparan kali nih si Nayla.
"Atasannya yang kurang cocok." Sambung Mita.
"Kullang cocok gimana?" tanya Nayla sambil mengunyah kue. Jadinya kurang jelas omongannya.
"Nay ... aku boleh pinjam uang sama kamu tidak?"
Nayla terkejut sambil menatap Mita dengan dahi mengerut.
"Tumben kamu pinjam uang. Buat apa?"
"Buat bayar ganti rugi."
"Ganti rugi? Memangnya kamu melakukan kesalahan apa? Atau kamu tidak sengaja merusak barang orang?"
"Bukan itu."
"Lah, trus?"
"Ada deh. Nanti aku cerita."
"Memangnya kamu mau pinjam berapa?" kemudian mengambil segelas jus dan mulai menyedotnya.
"Seratus juta."
Byurrrr ...
Semburan jus dari mulut Nayla menyembur tepat di wajah Mita. Asli, wajah Mita belepotan cairan jus. Hilang sudah kecantikannya.
"Naylaaaaaaa ..." pekik Mita sejadi - jadinya. Sedangkan Nayla nyengir kuda sembari menaruh kembali jus itu di meja.
"He he he, sorry, sorry Mit." Cengirannya makin lebar saat Mita memelototinya.
"Uuukh ... jorok tau. Udah sikat gigi belum kamu?" gerutu Mita sembari bangkit dari duduknya.
"He he he, udah dong. Abisnya kamu bikin kaget aja. Mau pinjam duit seratus juta sgala. Aku mana punya duit sebanyak itu."
"Uuukh ... udah sikat gigi tapi masih aja bau."
"Jangan gitu dong Mit sama sahabat sendiri."
"Tau akh kamu." Wajah Mita cemberut berat.
"Ada apa sih Mita? Anak gadis kok treak - treak begitu." Mama Retno datang dari arah dapur karena mendengar suara teriakan Mita.
"Nayla tuh. Udah kayak mbah dukun aja. Main sembur sembarangan." Mita masih kesal dengan ulah Nayla.
__ADS_1
"Cuma gitu doang Mit. Udah sana, bersihkan diri kamu."
"Selamat malam ... Permisi ..."
Terdengar suara bariton dari arah ruang tamu.
"Liat dulu Mit, siapa tamunya. Mama lagi masak. Nanti masakan Mama gosong semua lagi." Titah Mama Retno kemudian beranjak ke dapur.
Dengan wajah cemberut, Mita pun bergegas ke ruang tamu. Ini malam minggu, kira - kira siapa yang datang ke rumahnya. Apa Mama nya punya penggemar? Maklumlah, janda kembang. Eh bukan, udah peyot begitu juga. Bukan janda kembang, tapi janda kembung. He he he, bisa aja Mita pikirannya tentang mamanya sendiri.
Sesampainya di ruang tamu, Mita melihat tamunya sedang berdiri di ambang pintu membelakanginya. Dari tampangnya saja, Mita bisa melihat kalau tamunya ini orang yang mempunyai selera fashion yang up to date. Keren. Semoga saja tampangnya juga up to date.
"Maaf, cari siapa ya?" tanya Mita mengagetkan tamunya malam itu.
Tamu itu memutar tubuhnya menghadap Mita. Dan seketika, Mita pun terbelalak kaget. Kira - kira siapa tamu Mita di malam minggu ini? Ada yang bisa tebak?
Yes (ya)
You are right (kamu benar)
Anjas. Si pria up to date. Dan tampangnya pun up to date. Sesuai harapan Mita.
Waduh ... Waduh ... Gawat. Mana wajah Mita belepotan jus lagi. Meskipun Mita membencinya, tapi setidaknya Mita harus terlihat cantik di depan Anjas. Kan malu - maluin kalau tampang Mita seperti ini.
Si pria up to date itu, Anjas, tersenyum melihat Mita. Tetapi sekaligus mengerutkan dahinya heran.
"Hai ... Apa kedatanganku mengganggu?" tanya Anjas sedikit ragu. Sembari mengamati tampilan Mita dari ujung kaki hingga ujung rambut.
Hanya butuh lima menit, Mita sudah mencuci wajahnya, memakai pelembab, dan sedikit lipstik. Kemudian mengganti pakaiannya. Udah lumayan cantik, di banding belepotan jus tadi.
Dengan langkah cepat Mita bergegas ke ruang tamu. Di ruang tamu itu, Anjas masih berdiri di ambang pintu. Karena Mita belum mempersilahkannya masuk. Apalagi duduk.
"Ada perlu apa sampai kamu datang malam - malam begini?" tanya Mita tanpa menghiraukan tamunya masih berdiri di ambang pintu.
"Aku pikir aku salah alamat. Ternyata, ini benar rumah kamu. Untung saja aku masih ingat. Meski sudah lama. Oh ya, apa aku tidak di persilahkan masuk?"
Mita tampak berpikir. Lalu tiba - tiba terdengar suara derum mobil yang baru saja tiba di depan rumahnya. Dari mobil itu, turun seorang pria berwajah rupawan jenis yang langka. Edisi terbatas. Siapa lagi kalau bukan Elvano.
Elvano terlihat berjalan memasuki halaman rumah. Kemudian menghampiri Mita dan Anjas dengan senyum yang menghiasi wajah rupawannya.
"Anjas?" Elvano terkejut melihat Anjas ada di rumah Mita.
Anjas terlihat salah tingkah, "eh, Van."
"Ngapain kamu kesini? Ini malam minggu, bukankah harusnya kamu bersama Sasha?"
"Kamu sendiri, ngapain kamu ke sini?" alih - alih menjawab pertanyaan Elvano, Anjas malah balik bertanya.
"Ngapelin pacar dong. Mita kan pacar aku skarang."
Iya juga ya. Anjas mati kutu sekarang.
__ADS_1
"Mita ... siapa tamunya?" tanya Mama Retno yang datang dari arah ruang tengah. Namun Mama Retno begitu terkejut saat melihat Anjas.
Dengan wajah tegang, Mama Retno menghampiri Mita sembari melirik Anjas sesekali.
"Mit, bukankah itu ..." Mama Retno tampak mengingat - ingat.
"Itu Anjas kan?" Mama Retno berbisik di telinga Mita.
Mita mengangguk pelan. Dan seketika, raut wajah Mama Retno berubah mendung. Kurang sedap di pandang mata. Namun mendadak cerah lagi begitu melihat Elvano.
"Eeeh ... ada si anak ganteng. Mit, kenapa tidak di suruh masuk tamunya. Ayo masuk anak ganteng." Seru Mama Retno sembari meraih pergelangan tangan Elvano dan mengajaknya masuk.
"Duduk. Sebentar, Tante bikinin minum dulu ya buat kamu. Kamu kan tamu spesial Tante. Tunggu sebentar ya?" Mama Retno berkata dengan suara yang sengaja di kencangkan agar terdengar oleh Anjas. Apa Mama Retno juga masih sakit hati dengan apa yang di lakukan Anjas dulu terhadap Mita?
Mendengar itu, Anjas jadi mengerti. Fix, Mama Retno masih sakit hati. Anjas hanya bisa bersabar. Bagaimanapun, reaksi Mama Retno saat ini juga karena ulahnya.
"Kayaknya, aku bukan tamu yang di harapkan." Hati Anjas mencelos saat mengatakan itu. Ambyar. Hancur berkeping - keping. Ugh, terasa menyesakkan dada.
"Maaf ya Anjas, sebaiknya kamu pulang." Titah Mita halus. Kasarnya sih di usir. Sabar ya Anjas.
Anjas tersenyum hambar. Kemudian menatap Mita sayu.
"Mungkin lain waktu aku kemari lagi. Skarang bukan waktu yang tepat." Sembari memanjangkan lehernya, mengintip Elvano yang tengah di suguhi teh hangat dan sepiring brownies oleh Mama Retno.
Ikh, Mama Retno pilih kasih ya? Tapi, salah Anjas juga sih. Kenapa dulu dia meninggalkan Mita. Bahkan tanpa penjelasan apapun. Jadi Mama Retno sakit hati dengan perlakuan Anjas. Wajar, jika Mama Retno enggan bertemu ataupun sekedar menyapa Anjas.
"Lebih baik tidak usah. Kamu lihat kan, gimana cara Mama memandang kamu?"
"Baiklah." Ngilu hati Anjas. Di tolak secara halus rasanya gimana gitu. Mita tega.
"Aku pulang dulu. Selamat malam." Pamit Anjas kemudian berlalu meninggalkan Mita yang masih berdiri mematung menatap kepergiannya.
Anjas pun melajukan mobilnya meninggalkan rumah Mita. Dengan hati yang terasa perih. Rasanya seperti di anak tirikan oleh Mama Retno. Wanita paruh baya itu lebih menyukai Elvano ketimbang dirinya.
Hiks ! Air mata, please jangan jatuh dulu. Setidaknya Anjas nyampe rumah dulu.
Namun, matanya Anjas ternyata bandel. Bisa - bisanya mata itu menumpahkan air matanya begitu saja. Tanpa permisi.
Mita, apa masih ada sedikit saja ruang di hatimu untuk Anjas?
.......
.......
.......
...Bersambung...
Kabar baek kan readers 🤗
.Saranghae ❤️❤️
__ADS_1
Otor Kawe