Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 16


__ADS_3

Pagi harinya, Mita berusaha berangkat lebih awal dari biasanya. Pernyataan cinta Elvano semalam benar - benar membuat Mita susah tidur jadinya. Elvano itu benar - benar sudah gila. Baru kenal langsung bilang cinta.


Sengaja Mita datang lebih pagi, sebab satu alasan tertentu. Yang sudah di pertimbangkan nya matang - matang. Tentang rencana yang sempat melintas di benaknya baru - baru ini.


Dan Mita pun akhirnya bisa bernapas lega. Setelah mengutarakan niatnya pada kepala sekolah. Beruntung kepala sekolah mengerti dengan keadaannya. Tentu saja Mita berkilah. Mana mungkin Mita mengatakan alasan sebenarnya dia berhenti dari pekerjaannya.


Sekarang Mita akan kembali membuka lembaran baru dengan mencoba pengalaman baru. Lowongan pekerjaan yang di katakan Nayla kemarin cukup menggiurkan. Dan kini Mita akan mencoba peruntungannya dengan melamar pekerjaan di tempat yang Nayla katakan kemarin. Winata Group.


Tanpa perlu membuang - buang waktu lagi, Mita langsung bergegas menuju Winata Group menggunakan taksi online yang sudah di pesannya lewat aplikasi.


Seperginya Mita, tidak lama kemudian sebuah mobil tiba di depan sekolahan. Seorang gadis kecil turun dari mobil itu. Di susul oleh seorang pria. Anjas.


Gadis kecil itu 'Nara' memasuki ruang kelasnya. Namun dia terkejut saat mendapati guru yang berdiri di depan kelasnya bukan lagi Mita. Sontak Nara pun berlari keluar kelas dan memberitahukan hal itu kepada Anjas yang tengah menunggu di depan kelas.


"Daddy ... Bunda Mita kemana? Kok yang berdiri di depan kelas bukan Bunda Mita." Kata Nara begitu menemui Anjas.


Anjas mengerutkan dahinya. Bukan Mita ? Lalu siapa ? Memangnya Mita kemana ? Apa hari ini dia tidak masuk ? Sejumlah pertanyaan itu timbul dalam benak Anjas seketika.


"Nara ... Ayo masuk sayang, pelajarannya akan di mulai." Seru seorang guru yang menggantikan Mita.


Merasa penasaran, Anjas pun bertanya, "maaf sebelumnya, apa Bunda Mita hari ini tidak masuk? Apa dia sakit? atau ijin mungkin. Maaf jika saya terlalu banyak bertanya."


"Mita sudah berhenti. Baru saja."


Anjas terkejut mendengarnya. Mita berhenti ?


"Kalau boleh tahu, kenapa dia berhenti."


"Kalau soal itu saya kurang tahu. Mita tidak mengatakan apapun. Dia berhenti begitu saja."


"Begitu ya. Makasih."


Anjas tampak berpikir. Kenapa tiba - tiba Mita berhenti dari pekerjaannya. Apa ini ada hubungannya dengan dirinya? Karena tidak ingin bertemu dengan Anjas, Mita sampai rela berhenti dari pekerjaannya yang sudah bertahun - tahun di jalaninya. Apa sebenarnya yang ada dalam pikiran Mita. Sebesar itukah kebencian Mita terhadapnya sampai dia rela kehilangan pekerjaannya, hanya demi menghindarinya.


Anjas semakin mengerutkan dahinya. Jalan pikiran Mita membuatnya tidak habis pikir.


___


Sementara itu, Mita tengah duduk di deretan kursi yang tersedia di depan ruangan HRD Winata Group. Mita sedang mengantre, menunggu namanya di panggil untuk melakukan interview.


Yang datang mengajukan lamaran ada begitu banyak. Yang kesemuanya rata - rata terdiri dari para wanita cantik. Maklum, posisi yang ditawarkan tidak main - main. Sekretaris Direktur. Menggantikan sekretaris yang cuti menikah sampai batas waktu tidak di tentukan.


Setelah proses yang panjang, akhirnya hanya tersisa 3 orang saja. Salah satunya adalah Mita.


"Anamita Kanaya ..."


Dan begitu namanya di panggil, Mita pun bergegas memasuki ruangan itu. Yang di sambut oleh seorang pria paruh baya dengan kumis tebal melintang di atas bibirnya.

__ADS_1


"Pagi Pak ..." sapa Mita ramah.


"Ini sudah siang kali." Seru pria paruh baya itu.


Ups ! Benar juga. Karena antriannya panjang, yang memakan waktu berjam - jam lamanya, hingga Mita tidak menyadari kalau hari sudah siang.


"Nona Anamita?" tanya pria paruh baya itu sambil menatap Mita.


"Iya Pak. Itu nama saya."


"Silahkan duduk."


Mita langsung mengambil duduk di depan si pria kumis melintang itu.


"Apa anda sudah menikah?"


Mita terkejut mendengar pertanyaan pria itu. Interview apaan ini. Masa soal Mita sudah menikah atau belum saja pake di tanya segala. Ini orang, modus atau gimana ya? Masa bunyi pertanyaannya seperti itu. Wah, sedang meledek Mita kali nih orang. Di CV kan tertulis kalau Mita singgel. Alias masih gadis, masih sendiri.


"Jangan salah paham dulu. Direktur kami tidak mau punya sekretaris yang sudah berumah tangga. Selain kerjanya tidak maksimal, juga bisa menimbulkan fitnah." Terang pria itu.


Mita mengangguk kecil pertanda mengerti.


"Kebetulan saya masih single Pak."


Pria itu menarik sudut bibirnya, kemudian kembali berkata,


Hah? Semudah itu? Mita sungguh tidak percaya.


"Maaf Pak, apa saya tidak salah dengar nih?" Mita tampak ragu - ragu. Mungkin saja kupingnya salah dengar tadi.


"Pelamar sebelumnya, kebanyakan sudah berkeluarga. Ada yang masih gadis, tapi tidak memenuhi kriteria. Dan hanya anda yang cocok dan sesuai dengan kriteria yang kami inginkan. Dan yang terpenting, anda belum menikah. Karena Direktur sangat menghindari berurusan dengan wanita yang sudah menikah."


Mita kembali mengangguk kecil tanda mengerti dengan penjelasan pria kumis melintang itu.


"Ya sudah, kalau begitu, sekarang saya akan bawa kamu bertemu Direktur. Baru saja saya di beri tahu, bahwa Direktur baru saja kembali." Ucap pria itu kemudian bangkit dari duduknya.


"Tapi sebelum itu, tolong kamu tanda tangan dulu di sini." Pria itu menyerahkan sebuah pulpen dan sebuah surat kontrak pada Mita.


Tanpa berpikir panjang lagi, Mita pun segera membubuhkan tanda tangannya pada surat kontrak itu tanpa membacanya terlebih dahulu.


"Mari ikut saya." Ajak pria itu. Setelah Mita selesai membubuhkan tanda tangannya.


Mita pun bangkit lalu berjalan mengekori langkah pria itu menuju ke ruangan Direktur.


Rasanya seperti mimpi saja. Secepat dan semudah itu dia di terima bekerja di perusahaan ini. Akh, Mita sungguh beruntung. Baru saja dia berhenti dari pekerjaan lamanya, dan kini secepat kilat dia mendapatkan pekerjaan baru. Hanya karena dia belum menikah.


Sungguh aneh. Apa sebaiknya dia tidak usah menikah saja seumur hidup. Agar bisa selalu di permudah dalam setiap urusan. Mita memang sungguh beruntung hari ini.

__ADS_1


Tok Tok Tok !


Pria kumis melintang itu mengetuk pintu.


"Masuk."


Terdengar sahutan dari dalam. Si kumis melintang pun langsung memutar engsel pintu dan mendorongnya perlahan. Kemudian melangkah memasuki ruangan itu. Dengan Mita mengekor di belakangnya.


Terlihat, seorang pria muda sedang berdiri di sisi meja. Mungkin dia adalah asisten. Sedangkan Direktur sedang duduk di kursi kerjanya dengan posisi memunggungi. Dari gelagatnya, sepertinya Direktur sedang menerima panggilan telepon.


"Ada apa?" tanya si asisten.


"Maaf Pak Chandra, saya sudah membawa sekretaris barunya. Ini dia orangnya." Si kumis melintang itu menunjuk ke arah Mita.


"Kalau begitu saya permisi dulu. Selebihnya, saya serahkan ke Pak Chandra saja. Mari Pak, saya permisi dulu."


Si kumis melintang pun segera keluar dari ruangan itu. Namun sebelumnya sudah menyerahkan surat kontrak Mita pada Chandra.


"Maaf Pak, sekretaris yang baru sudah datang Pak." Kata Chandra memberitahu atasannya.


Pria yang duduk di balik kursi itu terlihat mengangguk. Kemudian menutup sambungan teleponnya. Di saat yang bersamaan, ponsel Mita bergetar. Hingga Mita pun membalikkan tubuhnya sebentar, memunggungi pria yang sedang duduk di hadapannya. Hanya untuk menjawab panggilan dari Nayla.


"Gimana hasilnya Mit. Kamu diterima tidak?" tanya Nayla dari seberang.


"Nanti saja aku cerita. Skarang aku lagi di ruangan direktur. Aku tutup dulu teleponnya ya." Sahut Mita dengan suara berbisik.


Pria itu, Direktur perusahaan itu, Anjas. Memutar kursinya, yang semula dengan posisi memunggungi menjadi berhadapan dengan Mita. Namun sayang, yang pertama kali tampak di depan matanya adalah punggung Mita.


Mita tengah asik menerima panggilan telepon sambil berbisik - bisik. Hingga tidak menyadari Direktur tengah memperhatikannya.


"Kalau masih ingin menelfon, silahkan keluar dulu dari ruangan ini." Seru Chandra membuat Mita buru - buru menutup telponnya.


"Maaf ..." ucap Mita pelan kemudian membalikkan badannya.


Detik itu juga Mita tersentak kaget saat melihat sosok pria yang duduk di hadapannya saat ini. Pria yang duduk di balik meja Direktur.


Astaga. Anjas Winata. Itu adalah nama yang tertera di sebuah papan nama yang terletak di depan meja itu. Namun entah mengapa Mita tidak menyadarinya sejak tadi. Pandangannya seolah kabur seketika, tertutupi oleh rasa gugupnya untuk bertemu dengan Direktur. Atasannya yang baru.


Sedangkan Anjas, raut wajahnya yang semula datar kini terlihat senang. Senyumnya mengembang seketika saat melihat sosok yang berdiri di hadapannya saat ini.


...*...


...*...


...*...


...-Bersambung-...

__ADS_1


Terima kasih sudah membaca 🤗


__ADS_2