Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 34


__ADS_3

Bugh !!!


Sebuah pukulan keras dengan cepat melayang di wajah Elvano. Hingga Elvano terhuyung. Darah segar pun mulai mengalir dari sudut bibirnya.


Elvano meringis kesakitan sambil menyeka darah di sudut bibirnya. Kemudian terkekeh.


"Jadi seperti ini cara kamu melampiaskan kekesalanmu?" ejek Elvano.


Di seberang, Mita dan Sasha jadi cemas melihat apa yang dilakukan Anjas terhadap Elvano. Keduanya pun datang menghampiri.


"Anjas ... Vano ... Kalian berdua ini kenapa sih?" tanya Sasha kesal.


"Van ... Kamu tidak apa - apa kan?" tanya Mita sambil menyentuh wajah Elvano yang bonyok kena bogem mentah dari Anjas.


"Tidak apa - apa. Hanya agak perih aja nih." Sembari meringis menahan perih di bibirnya.


Sebenarnya Elvano bisa membalas pukulan Anjas. Akan tetapi, dia masih memikirkan Mita. Kalau dia berantem di depan Mita, bisa - bisa Mita ilfeel lagi. Dan rencananya untuk membuat Mita benar - benar jatuh cinta padanya bisa gatot nih. Alias gagal total.


Anjas memperhatikan mereka dengan wajah kesal.


"Anjas, kamu kok bisa kayak gini sih? Memangnya Elvano berbuat apa sampai kamu memukulnya seperti ini?" tanya Mita meminta kejelasan dari Anjas. Bahkan Mita mulai terlihat kesal pada Anjas.


"Sorry Mit, tapi ini tidak seperti yang kamu kira. Aku dan Vano memang sahabat. Tapi tetap saja ada batasan untuk bercanda. Dan aku tidak suka dengan candaan yang melewati batas." Kemudian Anjas bergegas meninggalkan mereka. Sasha berusaha menyusul langkah Anjas yang semakin jauh di depan.


Sementara Mita, terdiam memikirkan ucapan Anjas. Candaan yang melewati batas? Apa maksud Anjas?


"Mit, sorry ya. Momen malam ini jadi sedikit berantakan." Elvano mencoba meraih jemari Mita dan menggenggamnya erat.


"Maksud omongan Anjas tadi itu apa ya? Dan tadi itu ... Liza, siapa dia? Pacar kamu?" tanya Mita penasaran. Elvano pun gugup. Mita mempertanyakan kembali soal Liza. Elvano harus jawab apa sekarang?


Di teras depan, Anjas mulai menapakkan kakinya menuruni teras rumah itu. Sampai tiba - tiba terdengar sebuah suara berat yang menyapanya.


"Anjas?" sapa seorang pria. Sontak Anjas pun menoleh. Dan memutar tubuhnya menghadap pria itu. Sandy Abraham. Ayahnya Sasha.


"Anjas ..." panggil Sasha lalu menghentikan langkahnya saat melihat ayahnya.


"Kenapa buru - buru? Makan malamnya sudah selesai?" tanya Pak Sandy.


"Sudah Om. Maaf, aku harus buru - buru pulang. Nara pasti tidak bisa tidur kalau bukan aku yang menemani." Kilah Anjas. Tapi ada benarnya juga. Nara itu kan memang selalu bergantung pada Anjas.


"Kita ngobrol dulu sebentar di dalam. Ayo ..." ajak Pak Sandy lalu berjalan masuk lebih dulu. Dan di susul oleh Anjas kemudian. Sasha mengekor di belakangnya.


Di ruang tamu rumah itu kini mereka mengobrol.

__ADS_1


"Oh ya Anjas. Kira - kira, apa kalian sudah menentukan tanggal yang tepat untuk pertunangan kalian?" tanya Pak Sandy tiba - tiba, hingga membuat Anjas terperanjat.


"Pertunangan?" Anjas memastikan. Mungkin saja dia salah dengar. Anjas sih berharap seperti itu.


"Iya, pertunangan kalian. Sudah empat tahun kalian bersama. Apa kalian tidak ingin meresmikan hubungan kalian ke jenjang yang lebih serius? Atau kalau kalian mau, kalian bisa langsung menikah. Om sangat setuju jika kalian langsung menikah." Ucap Pak Sandy lagi.


Tanpa sengaja obrolan mereka itu di dengar oleh seseorang yang hendak pamit pulang.


Mita.


Mita sudah berdiri di seberang, hendak pamit pulang. Dan di susul oleh Elvano kemudian. Anjas tidak langsung menjawab. Matanya kini terpaku menatap Mita. Dan Sasha memperhatikan Anjas. Sasha tahu Anjas pasti tidak setuju dengan ide ayahnya itu.


"Baiklah Om. Akan aku pikirkan." Sebuah jawaban yang mengejutkan dari Anjas. Hingga membuat senyum bahagia Sasha terkembang seketika.


Di seberang, Elvano kaget mendengarnya. Sedangkan Mita, raut wajahnya mendung seketika. Ibarat siang hari yang cerah lalu tiba - tiba turun hujan. Seperti itulah kira - kira ekspresi Mita saat ini.


Sejak mengatakan itu, tatapan Anjas tidak pernah lepas sedikitpun dari Mita. Anjas terus memperhatikan raut wajah Mita. Sedangkan Sasha memperhatikan Anjas. Entah kenapa Sasha merasa Anjas terpaksa berkata seperti itu.


"Van ... Kita pulang yuk." Ajak Mita dan di angguki oleh Elvano.


"Ayo." Kemudian menggandeng tangan Mita.


"Om, Sasha, Anjas ... Kami pamit pulang dulu ya? Trima kasih banyak untuk makan malamnya. Maaf, kami tidak bisa berlama - lama." Pamit Elvano.


"Pacar kamu Van?" tanya Pak Sandy kemudian melirik Mita.


"Yang serius ya? Jangan main - main lagi. Ingat, usia kamu itu sudah pantas untuk berumah tangga."


"Iya Om. Kalau gitu, aku permisi dulu Om."


"Salam ya untuk Papa Mama kamu."


Elvano menanggapinya dengan acungan jempol. Kemudian berlalu sambil menggandeng tangan Mita. Sementara kedua bola mata Anjas senantiasa mengikuti sampai bayangan mereka hilang di balik pintu.


Anjas memalingkan wajahnya sembari menghembuskan napas panjang. Anjas sengaja berkata seperti itu hanya untuk melihat reaksi Mita. Anjas tidak benar - benar akan memikirkan soal pernikahannya dengan Sasha. Mau seperti apapun Sasha, Anjas tetap tidak bisa mencintai Sasha. Dalam hatinya hanya ada Mita.


.


.


"Mit ..." panggil Elvano sambil menahan lengan Mita.


Mita yang hendak melangkah masuk ke dalam rumah, terpaksa menghentikan langkahnya. Lalu memutar kembali tubuhnya menghadap Elvano.

__ADS_1


"Sorry sekali lagi. Aku tidak tahu harus bilang apa. Makan malamnya jadi rusak gara - gara aku." Ucap Elvano dengan tatapan sendu.


"Tidak apa - apa. Lagian ini bukan salah kamu kok. Anjas saja yang terlalu emosi."


"Anjas itu adalah sahabatku. Jujur, aku bahkan kaget tiba - tiba dia seperti itu. Mungkinkah dia ..." maksud Elvano adalah mungkinkah Anjas cemburu? Tapi kata itu telah terlanjur tertelan.


Elvano tidak mengatakannya pun, Mita tahu, Anjas tidak suka melihat sikap Elvano. Sangat jelas kalau Anjas cemburu. Anjas sudah mengakui perasaannya kepada Mita. Tapi Mita masih aja ngeyel.


"Ya udah Van, aku masuk dulu ya. Kamu sebaiknya pulang. Udah larut malam juga kan?"


"Mit ..."


"Hm?"


Elvano terfokus menatap Mita. Semakin lama tatapannya semakin dalam. Perlahan Elvano pun meraih jemari Mita ke dalam genggamannya. Lalu mengecup punggung tangan Mita dengan lembut. Membuat Mita tertegun menatap Elvano.


"Aku sayang sama kamu. Apa boleh aku meminta tolong?" pertanyaan Elvano aneh. Mau minta tolong apa nih si Elvano?


Mita mengangguk, " boleh. Asal jangan yang aneh - aneh."


Elvano mengulum senyumnya, "tidak aneh kok. Aku hanya minta tolong sama kamu. Tolong jangan tinggalkan aku. Tetaplah disisiku. Karna tanpamu hidupku tidak berarti."


Aciyeeee ... Ciyeee ... Itu toh maksudnya? Aduuuh Mita bisa baper ini. Elvano so sweet deh. Bisa klepek - klepek si Mita. Emang ya, yang namanya playboy itu emang paling pintar merayu. Tuh buktinya. Pipi putih mulus Mita aja sampe merah merona begitu. Dikiranya Mita pake blush on nya ketebelan kali. Alias menor. He he he, menor cinta.


Aduh Anjas. Bisa kalah bersaing nih si Anjas kalau begini jadinya. Rayuan maut Elvano cukup sederhana. Tapi bisa bikin hati melayang - layang. Kalau Elvano modenya begini terus, Mita bisa jatuh cinta beneran ini. Dan rencana Sasha otomatis berjalan mulus. Menang banyak dong si Sasha.


"Gombal." Mita tersipu malu dengan wajah bersemu merah.


"Serius. Sumpah. Aku serius."


Mita pun kembali tersenyum dengan tatapan terfokus ke Elvano. Yang kini mulai mendekatkan wajahnya perlahan. Pelan tapi pasti, wajahnya semakin dekat ke wajah Mita. Hanya tinggal beberapa inci saja. Bibir keduanya akan saling bersentuhan. Sampai tiba - tiba ...


"Eeeeeeh ... Ada tikus. Awas ada tikus ..." suara cempreng Mama Retno menggema di udara. Berlari kesana kemari mengejar seekor tikus. Otomatis, aksi Elvano gagal sudah.


Huffft !


Elvano mendesah panjang. Kemudian memalingkan wajahnya sembari mengusap wajahnya. Dasar ibu - ibu cempreng. Gak kira - kira treak - treak tengah malam begini. Kalau kedengaran Mak Kunti gimana? Kan malah tambah panjang urusannya?


Sabar Elvano. Punya calon mertua model rempong begitu, memang harus ekstra sabar. Fighting!


.......


.......

__ADS_1


.......


...Bersambung...


__ADS_2