Meet You, Again!

Meet You, Again!
YOU Bab 63


__ADS_3

Elvano melangkah gontai memasuki rumahnya. Kini perasaannya sedikit lega. Meski sakit itu masih saja terasa. Melepaskan seseorang yang berarti itu teramat sulit. Namun cinta pun tak bisa dipaksakan.


Elvano hendak menapakkan kakinya di anak tangga, saat tiba - tiba sebuah suara lembut terdengar menyapanya. Hingga langkahnya terhenti, dan menurunkan kembali kakinya yang hampir berpijak di anak tangga.


"Van ... Kamu sudah pulang? Ada Sasha di halaman belakang. Temui dia." Ujar Mama Maria.


Elvano mengangguk pelan.


"Van, kamu baik - baik saja kan?" Sembari menelisik raut wajah putranya.


"Mama tau, kamu sudah mengembalikan semua milik Anjas. Itu keputusan yang tepat. Sebenarnya, Papa kamu marah dengan apa yang kamu lakukan." Tambahnya.


Elvano sedikit terkejut, menatap mamanya dengan dahi mengerut. Apa yang dilakukannya memang tanpa persetujuan papanya. Pasalnya nominal yang dia keluarkan tidaklah sedikit. Dan dia menyerahkannya begitu saja pada Anjas. Tentu saja papanya marah.


"Tenang saja. Mama sudah mengatasinya." Sembari mengulas senyum.


Elvano pun refleks menghambur ke pelukan mamanya.


"Makasih Ma. Mama memang yang terbaik."


"Kamu akan selalu menjadi anak Mama yang terhebat. Tidak ada yang sanggup membuat keputusan seperti ini selain kamu. Meskipun kamu harus mengorbankan cintamu. Mama yakin, Tuhan sudah menyiapkan seseorang untuk kamu. Seseorang yang lebih baik. Yang mencintai kamu dengan tulus." Sembari mengusap lembut punggung Elvano.


Elvano pun melepas pelukannya. Kemudian beranjak ke halaman belakang untuk menemui Sasha.


"Ada apa lagi?" Tanya Elvano seolah kurang suka dengan kedatangan sepupunya itu.


"Kenapa aku merasa rencana ku kali ini gagal." Sasha menatap tajam Elvano. Karena memang rencananya gagal total. Apa yang diharapkannya tidak terjadi. Dan Elvano sendiri yang menggagalkannya.


"Apa kamu pikir aku sepicik itu? Aku memang laki - laki brengsek, suka meniduri wanita manapun yang aku inginkan. Tapi untuk Mita, aku tidak mungkin melakukannya." Sinis Elvano.


Malam itu, Sasha sengaja memberi Mita obat tidur lalu membawanya ke hotel. Dia berharap Elvano akan melakukan apa yang dia minta, yaitu menodai Mita. Agar Mita tidak bisa lagi kembali pada Anjas. Lagipula pria mana yang sudi menerima kekasihnya yang telah dinodai oleh pria lain. Dengan begitu dia bisa mendapatkan kembali Anjas.


Namun siapa sangka, Elvano justru mengabaikan permintaannya. Dan lebih memilih merelakan Mita kembali ke pelukan Anjas. Dan yang lebih gila lagi, Elvano juga mengembalikan Winata Group ke tangan Anjas. Dengan percuma.


Wow! Sungguh hebat Elvano. Harta tak bernilai dimatanya selain persahabatan dan cinta.


"Bodoh! Benar - benar bodoh! Kamu sudah menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Kalau saja malam itu kamu mendengarkan kata-kataku, mungkin skarang Mita sudah jadi milik kamu. Kamu benar-benar bodoh,Van." Kesal Sasha dengan seringai tipisnya. Rahang cantiknya tampak mengetat akibat amarah yang tertahan.


"Aku tidak ingin menang dengan cara licik seperti itu. Lagipula, mungkin Mita memang bukan jodohku. Kamu juga sebaiknya menyerah saja. Anjas tidak mencintai kamu. Jadi lupakan saja dia. Berhenti mengejarnya. Itu hanya akan membuat kamu terkesan murahan."


"Tidak akan. Aku tidak akan menyerah."


"Terserah kamu." Elvano pun beranjak meninggalkan Sasha seorang diri di halaman belakang rumahnya.


Sasha hanya bisa mendengus kesal. Kilatan amarah yang terlihat jelas dari matanya, menggambarkan kebencian yang teramat dalam pada Mita. Bisa - bisanya wanita itu kembali ke dalam kehidupan Anjas. Dan merebut Anjas darinya. Sasha tidak akan tinggal diam. Dia tidak ingin seperti Elvano, yang merelakan cintanya begitu saja.


Tidak!


Empat tahun dia bersabar menanti cinta pria itu untuknya. Lantas penantiannya terusik begitu saja oleh kehadiran wanita itu. Sasha sungguh geram dibuatnya.


.


.


.

__ADS_1


Anjas masih sabar menunggu jawaban Nara atas pertanyaannya. Detik berikutnya, Nara terlihat kurang senang.


"Trus Mommy nya Nara gimana?" Tanya anak itu polos.


"Emmm ..." Anjas bingung harus menjawab apa.


"Nara maunya Mommy Sasha. Bukan orang lain." Dengan kesalnya Nara pun beranjak ke kamarnya. Menaiki anak tangga dengan tergesa - gesa.


"Nara ..." Panggil Anjas. Namun anak itu tak menghiraukan.


Sementara Mita, semakin canggung, semakin tak enak dibuatnya. Ini adalah kenyataan baru yang ada di depan matanya. Anak kecil itu tidak suka ada orang lain yang menggantikan Mommy nya.


Nara ... Seandainya saja anak kecil itu tahu kalau Sasha itu bukan ibu kandungnya. Dan Anjas juga bukan ayahnya, melainkan pamannya. Tapi anak sekecil itu tidak akan memahaminya. Untuk itulah, mereka berusaha agar Nara tidak mengetahui kebenarannya.


"Nara ... Dengarkan Daddy dulu." Seru Anjas.


"Kak, biar aku saja yang bicara dengan Nara. Aku akan berusaha membujuknya. Kakak tenang saja. Aku yakin, Nara ngambeknya cuma sebentar." Usul Anjani, kemudian berlalu, menyusul Nara ke kamarnya.


Sementara Oma Lidya yang menyaksikan semuanya pun bangun dari duduknya dan hendak meninggalkan Anjas dan Mita yang terlihat canggung.


"Kamu sudah dengar kan apa kata Nara? Mama ikut dengan keputusan Nara." Ucap Oma Lidya kemudian berlalu.


"Ma ... Tunggu Ma." Panggil Anjas sambil menyusul langkah mamanya. Hingga terhenti tepat di depan pintu kamar mamanya.


"Tolong dong Ma, hargai aku." Pinta Anjas.


"Mama sudah cukup menghargai kamu. Masih untung Mama hanya diam saja. Kalau tidak Mama sudah mengusir perempuan itu."


"Mita. Namanya Mita. Dan Mama sudah mengenalnya. Ma ... Aku hanya minta restu Mama. Aku akan segera menikahinya."


"Mita adalah wanita yang ingin aku nikahi empat tahun lalu. Aku mencintainya. Mama tau itu kan?"


Oma Lidya membuang muka.


Di seberang, Mita masih menunggu Anjas dengan sabar.


Ya Tuhan, gini amat rasanya ditolak ya? Rasanya seperti Mita sudah kehilangan mukanya saat itu juga. Kesannya dia seperti bukan wanita baik-baik. Yang sabar ya Mita. Semoga saja ada keajaiban.


"Vano sudah mengembalikan semuanya."


Oma Lidya pun terkejut mendengarnya. Masa iya semudah itu Elvano mengembalikan Winata Group.


"Tanpa imbalan apapun. Dan semua itu karena Mita." Imbuhnya.


Oma Lidya pun memalingkan wajahnya, memandangi Mita yang jauh di seberang. Tatapannya pun berubah. Kemudian kembali memalingkan wajahnya, menatap Anjas datar.


"Mama ikut apapun keputusan Nara. Jika kamu bisa membuat Nara merubah keputusannya." Kemudian mendorong daun pintu dan bergegas masuk ke kamarnya.


Anjas membuang napas kasar. Sembari melangkah perlahan menghampiri Mita, otaknya berpikir bagaimana caranya dia bisa membuat anak kecil itu mengerti dan mau menerima Mita.


"Aku rasa Nara tidak salah. Dia tidak ingin ada orang lain yang menjadi Mommy nya." Ucap Mita lesu.


"Dia hanya seorang anak kecil. Dia belum bisa memahami apapun. Jangan cemas, aku percaya Nara dan Mama pasti bisa menerima kamu." Hibur Anjas.


Mita mengulas senyum hambarnya. Ada rasa yang tak bisa diutarakan saat ini. Namun entah kenapa perasaan itu mulai terasa menusuk hatinya secara perlahan.

__ADS_1


Anjas bisa memahami perasaan Mita saat ini. Anjas pun meraihnya kedalam pelukannya.


Mita melingkarkan lengannya di pinggang Anjas dan menyandarkan kepalanya di dada bidang Anjas. Merasakan kehangatan pelukan itu. Entah kenapa Mita seakan enggan berada jauh dari Anjas. Mita pun semakin mempererat pelukannya.


Anjas merasakan pelukan Mita yang semakin erat. Dan Anjas pun hanya bisa memberikan kecupan lembut di puncak kepala Mita. Sekedar meluruhkan kegundahan dihatinya. Sekedar memberinya kekuatan untuk bisa bertahan.


"Apapun yang terjadi, aku akan selalu disisimu. Kamu tau itu kan?" Ucap Anjas.


Mita mengangguk pelan.


Sementara di seberang, Oma Lidya tengah memperhatikan keduanya dari balik dinding. Oma Lidya sengaja keluar lagi dari kamarnya hanya untuk mengamati Anjas dan Mita secara diam-diam. Dan apa yang disaksikannya saat ini, membuat perasaannya sedikit terharu. Belum pernah dia melihat Anjas sebahagia ini. Meski dia belum memberikan restunya, namun Anjas terlihat bahagia. Keduanya saling bercanda dalam pelukan masing-masing.


Namun sejurus kemudian, terdengar suara Nara memanggil Daddy nya sambil berlari menghambur ke pelukan Anjas.


Anjas pun melepaskan pelukan Mita dan menyambut Nara kedalam pelukannya.


"Daddy ..." Seru Nara. Di belakangnya Anjani mengikuti.


"Daddy, Nara mau kok kalau Bunda Mita jadi Mommy nya Nara." Ujar Nara begitu melepaskan pelukannya.


Anjas pun terkejut mendengarnya. Sama halnya dengan Mita. Sedangkan Anjani tersenyum-senyum sendiri sembari menaik turunkan kedua alisnya, begitu Anjas mengalihkan pandangan kepadanya.


Anjas pun menyunggingkan senyumnya. Dia tahu, Anjani selalu bisa diandalkan. Adiknya itu selalu punya cara tersendiri untuk menangani Nara.


"Daddy tidak salah dengar kan?" Tanya Anjas memastikan.


Nara pun menggeleng cepat.


"Nara mau Bunda Mita yang jadi Mommy nya Nara. Bunda kan orangnya baik. Kata Aunty, Bunda adalah orang yang akan membuat Daddy bahagia. Dan Nara ingin Daddy bahagia." Ucap anak kecil itu dengan polosnya.


"Benarkah?"


Nara kembali mengangguk mantap.


Anjas pun tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Diraihnya kembali anak kecil itu kedalam pelukannya.


"Makasih ya sayang ..." Lirih Anjas sembari memberikan kecupan sayang di puncak kepala gadis kecil itu.


Di seberang, Oma Lidya masih menyaksikan semuanya. Seperti ucapannya tadi, dia akan mengikuti apapun keputusan Nara. Dan Nara sudah merubah keputusannya secepat itu. Lalu Oma Lidya bisa apalagi? Dia sendiri sudah menyaksikan betapa bahagianya Anjas saat ini. Apalagi yang bisa dilakukannya selain memberi mereka restu.


.......


.......


.......


...Bersambung...


Mohon maaf baru bisa update🙏


semoga masih bisa menghibur reader semua.


Saranghae❤️


^^^Salam Hangat^^^

__ADS_1


^^^Otor Kawe^^^


__ADS_2