
Pagi hari menyapa. Sinar hangat mentari pagi pun mulai menyembul dari ufuk timur.
Mita berangkat ke kantor pagi ini dengan hati riang gembira. Wah, jangan - jangan gara - gara rayuan gombal Elvano nih sampai Mita tidurnya nyenyak semalam. Hingga pagi ini Mita berangkat tepat waktu. Tidak kurang dan tidak lebih satu detik pun.
Mita sudah berada di mejanya. Duduk manis dengan wajah cerah ceria. Memeriksa jadwal si Boss aneh. Kira - kira hari ini apa saja kegiatannya. Dan wow, hari ini jadwalnya lumayan padat. Mulai dari rapat penting, kunjungan ke pabrik, ke gudang, dan lain sebagainya. Semoga saja untuk jadwalnya yang padat itu, dia tidak akan melibatkan Mita.
Anjas baru saja tiba. Mita pun berdiri dan memberi sambutan untuk atasannya itu.
"Pagi Pak?" sapa Mita sembari setengah membungkuk.
"Pagi." Anjas berlalu begitu saja tanpa melirik Mita sekalipun. Dan langsung masuk ke ruangannya.
Brak !!!
Anjas membanting pintu ruangannya cukup keras. Hingga Mita pun tersentak kaget.
"Astaga ... Itu orang kenapa ya?" Mita mengelus - elus dadanya. Kemudian duduk kembali.
Tuh. Benar - benar Boss yang aneh kan? Masih pagi - pagi udah marah - marah. Apa dia belum sarapan kali ya? Eits, bisa bahaya nih kalau Mita mendekat. Singa itu sedang kelaparan sekarang.
Tululut ... Tululut ... Tululut ..
Telepon paralel di meja Mita berdering. Mita segera menjawabnya.
"Dengan Anamita disini ... Ada yang bisa saya bantu?" dih Mita, lagaknya. Udah kayak Mbak - Mbak customer service aja.
"Apa saja jadwalku hari ini?" tanya Anjas dari sambungan telepon..
"Jadwal Bapak hari ad__"
"Ke ruanganku." Potong Anjas cepat.
Tut ! Telepon terputus. Mita pun cemberut bin manyun. Kemudian segera bangkit dan bergegas ke ruangan Anjas.
Anjas mengalihkan perhatiannya dari layar laptopnya begitu Mita masuk dan mulai menghampiri. Dan Anjas pun menatap dingin Mita. Duh, apa Anjas masih kesal ya soal semalam?
"Apa saja jadwalku?" tanya Anjas lagi.
"Jam sepuluh pagi ini Bapak ada rapat. Terus di lanjutkan dengan makan siang bersama Pak Sandy Abraham. Setelah itu Bapak akan mengun__"
"Batalkan."
Mita terkaget, "batalkan? Semuanya?"
"Makan siangnya."
"Loh, kenapa?"
"Jangan banyak tanya. Bukan urusan kamu."
"Kok malah jadi galak begini sih?" gumam Mita berkomat - kamit sendiri.
"Saya permisi dulu Pak." Akhirnya Mita memutuskan segera keluar dari ruangan itu. Anjas memandangi punggung Mita sembari mendesah panjang. Kemudian menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Seraya memijit lembut keningnya.
.
__ADS_1
.
Rapat pagi itu, Mita menemani Anjas. Memang sudah seharusnya kan? Itu adalah tugas Mita sebagai seorang sekretaris. Rapat itu pun tidak berlangsung lama. Hanya membahas tentang perkembangan respon masyarakat terhadap produk baru yang mereka luncurkan beberapa bulan yang lalu.
Selesai rapat itu, seharusnya Anjas makan siang bersama Pak Sandy. Tapi Anjas malah membatalkannya. Dan memajukan jadwal kunjungannya ke pabrik mereka yang ada di pinggiran kota. Anjas enggan makan siang bersama Pak Sandy, karena dia tahu Pak Sandy hanya akan membahas tentang hubungannya dengan Sasha.
Kini mereka sedang dalam perjalanan menuju pabrik. Sebenarnya Mita tidak mau ikut bersama Anjas, tapi Anjas terus memaksanya. Dengan selalu mengancam akan memotong gaji Mita.
"Chandra, setelah ini kita langsung kembali saja ke kantor." Titah Anjas.
"Baik, Pak." Ucap Chandra tanpa mengalihkan konsentrasinya pada jalanan di depannya.
Di sebelah Anjas, Mita duduk sambil memalingkan wajahnya keluar jendela mobil. Memperhatikan setiap objek yang mereka lewati.
Anjas melirik Mita. Mita duduknya terlalu ke tepi, sampai tubuhnya menempel di pintu mobil. Hingga tanpa sengaja tercipta jarak yang cukup lebar di antara mereka. Sebenarnya, Mita sengaja duduknya agak menempel ke pintu mobil. Alasannya cukup simpel. Anjas adalah atasannya. Antara atasan dan bawahan harus ada jarak. Yaelah ... Gak gini juga kali Mita. Tuh, muka Anjas jadi kesal kan?
"Kamu makin kurus ya?" tanya Anjas tiba - tiba. Hingga Mita pun sontak menoleh.
"Aku? Kurus? Maksudnya?" tanya Mita bingung. Plus setengah melotot.
"Nih. Masa bisa kosong begini." Anjas menepuk jok ditengah - tengah mereka.
Mita mengernyit. Lalu memandangi Anjas dan jok itu bergantian. Aneh juga ya Boss yang satu ini.
"Lagi pandemi Pak. Harus jaga jarak." Mita malah bercanda.
"Kamu duduknya agak ke tengah sedikit. Kalau duduknya begitu, kamu seperti orang yang belum pernah naik mobil mewah saja." Celetuk Anjas. Dan sukses membuat Mita manyun bin monyong.
Akhirnya, Mita pun sedikit menggeser duduknya agak ke tengah. Dan hanya tersisa jarak beberapa centi saja dari Anjas. Sementara Anjas, berusaha menahan senyumnya. Dengan berpura - pura tidak melihat Mita saat wanita itu menggeser duduknya.
Akibat Chandra mengerem mendadak, tubuh Mita otomatis maju ke depan dan kepalanya hampir saja menyentuh sandaran kursi di depannya. Beruntung dengan sigap Anjas menahan tubuhnya.
"Ndra ... Hati - hati." Ucap Anjas sembari menarik kembali kedua tangannya yang memegang pundak Mita.
"Maaf Pak. Ada orang yang menyeberang sembarangan. Hampir saja ..."
"Ya sudah, jalan."
Chandra mulai memacu mobilnya pelan. Menyusuri jalanan kota yang mulai terlihat ramai oleh berbagai jenis kendaraan.
"Makasih ya?" Mita tampak malu - malu.
"Makanya, duduknya jangan jauh - jauh." Celetuk Anjas.
Mita manyun lagi. Dan Anjas malah tersenyum dan langsung memalingkan wajahnya. Tak ingin Mita melihatnya sedang tersenyum. Kalau sampai dilihat Mita, dikiranya Anjas meledek Mita lagi. Tau aja kalau Mita belum pernah naik mobil mewah. Yaelah, apa hubungannya? Lagian si Chandra, ngapain ngerem mendadak coba. Begini kan jadinya. Kalau kepala Mita tadi kepentok sandaran kursi, sementara Anjas ada di sampingnya, kan malu - maluin. Idiiiih ... Kenapa juga mau ke pabrik saja harus ngajak - ngajak Mita. Anjas pasti sengaja nih mau bikin Mita capek. Huh, dasar Anjas.
.
.
Seperti biasanya, kunjungan Anjas ke pabrik hanya untuk memastikan setiap produksi yang dilakukan tidak mengalami kendala. Anjas lebih suka turun langsung. Dengan begitu dia bisa lebih memahami setiap masalah - masalah yang timbul sekecil apapun. Hal seperti ini juga biasa di lakukan oleh almarhum kakaknya dulu. Anjas hanya tinggal meneruskannya saja.
Kunjungan telah selesai. Dan kini mereka sudah bersiap untuk pulang. Tetapi Mita belum juga datang. Anjas mencoba menghubungi ponselnya, tapi ponsel Mita malah tertinggal di mobil.
"Kemana sih kamu Mita ..." keluh Anjas.
__ADS_1
Setelah beberapa menit mereka menunggu, Mita belum juga datang. Membuat Anjas cemas seketika.
"Biar saya cari Pak. Bapak tunggu saja disini." Usul Chandra.
"Tidak usah. Biar aku saja. Mungkin dia ada di toilet."
"Baik Pak."
Anjas pun berlalu hendak mencari Mita. Dan Chandra hanya bisa melongo. Sejak kapan Anjas mau menyusul karyawannya seperti itu. Mana di toilet lagi. Hal yang tidak pernah Anjas lakukan. Hal itu membuat Chandra hampir tidak percaya.
Sampai di toilet, Anjas mulai mencari - cari keberadaan Mita. Untung saja toilet wanita sedang sepi. Jadi Anjas bisa leluasa masuk dan mencari Mita.
"Mit ... Mita ..." panggil Anjas. Sembari menyapukan pandangannya di antara tiga pintu toilet.
"Iya Pak. Aku disini." Terdengar sahutan Mita dari salah satu toilet.
"Kenapa lama sekali, kita harus pulang skarang."
Salah satu pintu toilet terbuka. Kepala Mita menyembul dari dalam.
"Sssst ..." Mita memanggil Anjas. Anjas pun menoleh dan mendapati kepala Mita tengah menyembul dari pintu toilet paling ujung. Anjas pun menghampiri.
"Apa yang kamu lakukan? Kenapa lama sekali?" keluh Anjas.
Raut wajah Mita terlihat kurang enak di pandang mata. Wajahnya terlihat pucat. Anjas pun jadi cemas. Wah, jangan - jangan Mita sakit nih. Sampe pucat begitu.
"Ehem ... Ehem ... Pak, saya boleh minta tolong tidak?" Mita tampak ragu berkata.
"Di sini hanya ada kita berdua. Tidak usah sok formal. Katakan ada apa?"
"Aku ... Aku ..." Mita tampak ragu. Anjas mau tidak ya?
"Ada apa?" Anjas jadi penasaran.
"Tolong belikan aku pembalut. Bisa tidak?" Mita meringis. Anjas pasti tidak mau menolongnya kali ini. Buktinya, tuh, muka Anjas melongo begitu. Sudah pasti Anjas tidak akan mau menolongnya. Lagian, kenapa juga tamu bulanannya harus datang sekarang.
"Pembalut?" Anjas masih tidak percaya. Pembalut itu sejenis apa ya? Anjas belum pernah membeli barang seperti itu.
"Tidak mau ya? Ya sudah, tidak apa - apa. Kalau begitu, aku pulang naik taksi saja." Kalau darah Mita meleber kemana - mana di mobil Anjas nanti, kan malu - maluin.
"Iya, iya. Akan aku belikan."
Mita tersenyum sambil menatap Anjas.
"Makasih ya?"
Kalau bukan Mita yang minta, sudah pasti Anjas tidak akan mau. Ini pertama kalinya dia membeli pembalut wanita seumur hidupnya.
.......
.......
.......
...Bersambung...
__ADS_1